Sebelumnya, izinkan kami menjelaskan mengapa kata paling dalam judul artikel ini diberi tanda petik. Hal ini untuk menghindari segala macam bentuk rasisme, karena tulisan ini bukan ditujukan untuk melihat suku mana yang superior dan inferior. Begitu juga dengan penyebutan Agama Kristen dan Islam dalam konten tulisan di bawah. Ini hanya sebagai bentuk apresiasi atas pengalaman yang kami temui selama melakukan riset di lokasi terkait.

Kami yakin, banyak di antara kita yang tidak mengenal suku Dayak Ketungau, oleh karena tak setenar Dayak Iban, Dayak Kenyah, atau Dayak Lundayeh. Masyarakat Dayak Ketungau mayoritas hidup di sebuah desa bernama Mungguk Gelombang, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Desa tersebut berada di kawasan perbatasan utara NKRI-Malaysia, yakni Serawak (BPS Kabupaten Sintang, 2012). Letaknya yang cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten membuat masyarakat Dayak Ketungau terbiasa hidup susah, tak pernah mengeluh, dan tetap tanggung jawab dengan hidup mereka sendiri. Meskipun teras negara tetangga lebih indah, akan tetapi nasionalisme masyarakatnya tak pernah usang sedikitpun.

Mereka justru tumbuh menjadi masyarakat yang ulet, arif, pekerja keras, dan semangat. Ada banyak hal yang membuat masyarakat Dayak Ketungau dapat dikatakan sebagai Bangsa paling tangguh di Indonesia.

1. Kehidupan yang terisolir dan gaji yang tak lancar, tak lantas membuat pamong desa bekerja asal-asalan.

Walau terisolir, para aparat tidak bekerja asal-asalan. (dok. pribadi) via Hipwee.com

Advertisement

Jarak dari Desa Mungguk Gelombang menuju pusat kecamatan sekitar 40 km. Sementara, untuk ke pusat kabupaten dibutuhkan waktu sehari bahkan sehari semalam jika sungai utama sedang mengalami arus deras. Hal ini tentu saja menyulitkan koordinasi dan komunikasi dalam rangka pembangunan desa.

Meski demikian, para pamong desa justru bersemangat untuk terus memperjuangkan kemajuan desanya, rapat seminggu sekali pun mereka jalani, walaupun banyak pengorbanan (tenaga, uang, dan waktu) yang harus mereka lakoni. Meski gaji perangkat desa tak lancar, masalah urus-mengurus desa tetap menjadi prioritas.

Pemerintah Desa seperti Kades, Sekdes dan Kaur tidak pernah masa-bodoh dengan warganya. Tak hanya itu, demi memajukan desanya, Pak Kades tak jarang mengikuti berbagai workshop dan studi banding sampai ke Yogyakarta dan Solo (Berdasarkan Wawancara dengan Pak Kades). Pak Kades juga selalu mengajak warganya untuk terus mengutamakan gotong royong dalam setiap penyelesaian masalah.

2. Kondisi infrastruktur yang rusak parah telah menempa mereka menjadi bangsa yang tak kenal keluh kesah.

Meski infrastruktur rusak, mereka tak mudah mengeluh. (dok. pribadi) via Hipwee.com

Kita tentu membayangkan betapa enaknya hidup di negara sebelah dibanding hidup di desa Mungguk Gelombang. Jalan aspal halus dan transportasi lancar pun bukan mimpi di siang bolong. Namun demikian, tak pernah ada rasa iri dan cemburu di antara masyarakat Dayak Ketungau dan Dayak Iban di Malaysia.

Sikap protes mereka justru diaktualisasikan dalam etos kerja yang bagus, karena mereka pikir justru diri mereka sendirilah sumber penghidupan yang mereka harapkan. Jembatan berupa batang kelapa tanpa pengolahan yang berarti, lumpur tanah liat selutut, kontur wilayah yang terjal, bebatuan tajam, menjadi teman hidup mereka sehari-hari. Jika masyarakat Dayak Ketungau tampil di ajang kompetisi offroad, kami yakin mereka akan adalah pemenangnya.

3. Jangan salah, meski tinggal di pedalaman, mobil mewah ala arang Jakarta tentu kalah keren dengan mobil-mobil orang Ketungau!

Mobil orang Dayak Ketunggu juga mewah lho! (dok. pribadi) via Hipwee.com

Masyarakat Dayak Ketungau yang mempunyai penghasilan tinggi rata-rata menginvestasikan kekayaannya bukan pada benda tetap (tanah atau properti), melainkan pada benda-benda bergerak seperti mobil dan sepeda motor besar. Selera mobil mereka tentu tak asal-asalan, hal ini tentu bukan untuk gengsi namun karena kondisi jalan desa yang menuntut ketangguhan bagi kendaraan yang mereka tunggangi.

Mobil yang dapat beroperasi di sana hanya mobil-mobil model 4WD (double handle/double gardan) macam Toyot* Hilu*, rata-rata mereka beli dari Malaysia. Mobil 4WD selain harganya yang sangat mahal, perawatannya pun harus ekstra ketat dan benar-benar menguras rekening (tak sekedar kantong). Medan yang berat mengharuskan stamina mobil yang oke agar bisa dibawa kemana-mana.

Mereka membutuhkan sarana transportasi yang aman dan nyaman, mengingat sulitnya fasilitas bengkel dan pom bensin, belum lagi wilayahnya yang rata-rata berupa hutan. Kebayang kan kalau malam-malam mobil tiba-tiba mogok di tengah hutan? Oleh karena itu, mereka tak segan mengeluarkan uang rausan juta untuk membeli mobil 4WD.

4. Bagi masyarakat muslim, meskipun mereka adalah pemeluk agama minoritas, tak ada kata lelah untuk beribadah.

Kalau mau sholat Jumat harus jalan kaki puluhan km dulu. via palingaktual.com

Mayoritas masyarakat Dayak Ketungau beragama Kristen, di satu desa hanya ada sekitar 8 orang beragama Islam (saat riset dilakukan). Mereka kesulitan saat hendak melakukan shalat Jumat atau saat hari besar. Walhasil, pengorbanan besar untuk menjalankan ibadah ini mereka jalani setiap minggunya.

Mereka pergi ke masjid kecamatan dengan jarak kurang lebih 30 km. Belum lagi jika hujan datang. Hal ini merupakan tamparan keras bagi kami yang tak pernah bersyukur dengan segala kecukupan dan kelebihan yang kami punya. Sebenarnya ada masjid yang lebih dekat, yakni di Serawak, namun mereka harus menembus hutan dan malas berurusan dengan masalah administrasi seperti pengurusan surat merah/Surat Perjalanan Lintas Batas.

5. Keseharian berladang dan bertani lada adalah ciri khas dari masyarakat Dayak Ketungau.

Orang Dayak Ketungau banyak bertani lada (dok. pribadi) via Hipwee.com

Untuk menuju ke kebun tempat mereka biasa bertani lada, dibutuhkan waktu tempat sekitar satu setengah sampai dua jam dengan berjalan kaki. Mereka juga tak jarang menginap di pondok kebun. Berhubung jarak kebun dan rumah yang sangat jauh, rata-rata setiap kepala keluarga mempunyai gubug singgah yang digunakan untuk menginap dan menyimpan hasil bumi. Melelahkan sekali ya?

Eitss.. tapi jangan salah, pengorbanan mereka ini terbayar dengan hasil panen lada yang tak jarang melimpah ruah. Ada beberapa keluarga yang dalam waktu satu tahun, mereka bisa memanen ladanya hingga tiga kali, dan sekali panen omzet-nya bisa mencapai 400 juta rupiah. Wahh luar biasa bukan? Kendati demikian, tak semua warga Dayak Ketungau mempunyai lahan sendiri untuk berkebun lada, ada di antara mereka yang hanya menyewa atau bahkan menjadi buruh.

6. Masyarakat Dayak Ketungau juga mandiri soal perrkonomian. Mereka tak hanya melakukan distribusi ke daerah lokal saja, tapi juga ke lintas negara juga.

Mereka melakukan transaksi jual-beli lintas negara via www.fahmina.or.id

Jika mayoritas masyarakat di Jawa belum terbiasa melakukan transaksi lintas negara secara langsung, lain hal dengan masyarakat Dayak Ketungau. Tukar menukar di antara dua entitas dengan mata uang berbeda ini merupakan hal biasa bagi mereka. Hasil bumi terutama lada biasanya didistribusikan melalui jalur Sintang untuk skema lokal, sementara untuk jalur lintas negara melalui pintu Kabupaten Entikong.

Hal unik dan lucu yang kami temui pada saat itu adalah soal masyarakat kota yang terbohongi dengan istilah kuliner mewah lada hitam. Padahal terciptanya lada hitam dan putih ini menurut mereka adalah pada saat proses pembakaran lada (untuk memisahkan biji lada dengan kulitnya). Pembakaran lada yang tidak merata mengakibatkan sebagian lada menjadi gosong. Nah, lada yang gosong ini dipisahkan dari lada yang normal agar tidak mengurangi kualitas dan nilai jual lada pada umumnya.

Lada-lada gosong ini dijual lebih murah, bisanya dua pertiga dari lada yang normal. Ternyata eh ternyata lada gosong inilah yang disulap oleh pakar kuliner menjadi lada hitam dengan berbagai olahan, yang tak lain dan tak bukan hanya untuk mengangkat citra si lada gosong. Hehehe

7. Meski bangunan sekolah tampak seperti gubuk reot, di sana tersimpan permata bangsa yang punya semangat tinggi.

Tetap semangat walau kelasnya seperti gubug (dok. pribadi) via Hipwee.com

Jangan pernah menyesal jika mayoritas siswa berprestasi berasal dari daerah Jawam Sulawesi, dan Sumatera. Lihat saja, gedung sekolah mereka tak ubahnya hanya sebuah gubug reot. Tembok dari kayu (bahkan kulit kayu), masih untung ada beberapa bagian yang dibangun dengan papan rapi. Atapnya pun ada yang terbuat dari daun rumbai atau pandan hutan, ada juga sebagian yang menggunakan genteng tanah liat, dan itu hanya di sekolah induk.

Pembangunan kelas tambahan saja, mereka lakukan secara swadaya, dan benar-benar seadanya. Meski demikian, tak ada alasan bagi anak-anak Dayak Ketungau untuk tidak sekolah. Meski jarak rumah dengan sekolah bisa mencapai 7 km, mereka tetap semangat belajar. Di balik keterbatasan sarana-prasarana pendidikan di desa Mungguk Gelombang, tersimpan generasi cemerlang.

Banyak di antara murid lulusan SD Mungguk yang melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang universitas, bahkan ada yang lolos masuk ke Taruna Nusantara dan IPDN. Satu hal yang juga membuat kami meleleh, guru tidak tetap di sana meski hanya digaji puluhan ribu, namun semangat mengabdinya benar-benar membara.

Tak jarang pemuda Dayak Ketungau yang mengambil kuliah di luar kabupaten. Berhubung jarak rumah mereka dengan kampusnya sangat jauh, para orang tua biasanya membangun rumah/membeli rumah agar anaknya tidak kesulitan mendapat tempat tinggal atau harus bolak-balik ke kampung.

8. Saat tubuh terserang penyakit, itu adalah fase hidup paling menderita bagi mereka.

Cuma ada satu orang perawat (dok. pribadi) via Hipwee.com

Bagaimana tidak? Di sana hanya ada satu Puskesmas Pembantu (Pustu) dengan satu perawat Pegawai Tidak Tetap, yang wilayah tugasnya meliputi 4 anak dusun. Belum lagi kualitas bangunan Pustu dan ketersediaan obat yang juga sangat terbatas. Jika ada warga yang sakit parah (seperti tekanan darah tinggi atau penyakit kulit akut), terpaksa harus di bawa ke rumah sakit Kota Sintang yang notabene memerlukan waktu seharian.

Beruntung, masyarakat Dayak Ketungau punya kebiasaan hidup sehat, bangun pagi-pagi langsung beraktivitas, kualitas makanan mereka juga masih alami sehingga tak banyak warga yang sakit. Kalau pun sakit, paling-paling karena luka terkena parang atau batuk pilek. Perawat di sana juga hebat, ia mengabdi dengan sepenuh jiwa raga, dengan hidup ala kadarnya.

9. Penjual sayur menjadi sosok paling legendaris yang ditunggu kedatangannya oleh Ibu-Ibu saat hari Rabu mulai datang.

Tukang sayur yang selalu dinanti ibu-ibu (dok. pribadi) via Hipwee.com

Boro-boro belanja ke mall atau pasar segar, hari Rabu yang tak hujan saja menjadi anugerah terbesar bagi mereka, karena menjadi pertanda bahwa tukang sayur akan datang ke desa mereka. Sungguh, pengorbanan besar bagi si tukang sayur. Bayangkan saja, ia datang jauh-jauh dari Sintang pagi hari, kemudian sampai di Desa Mungguk petang hari. Sehingga, ia pun harus menginap di rumah salah satu warga, baru pagi harinya bisa menjajakan dagangannya.

Biasanya, sayur yang ia jual adalah sawi, pete, tahu-tempe, tomat, dan ikan. Hal yang cukup mencengangkan bagi kami, harga pete satu kg mencapai seratus ribu rupiah. Tahu per-butir nya dua ribu lima ratus rupiah. Bahkan, ikan yang satu kilonya biasa hanya dua puluh lima ribu rupiah, di sana dijual seharga seratus lima puluh ribu.

Seolah warga dipaksa untuk kaya, jika tidak kaya maka tidak makan. Kendati demikian, hukum alam memang adil, pendapatan mereka yang tinggi juga diimbangi dengan pengeluaran yang tinggi, jika mereka ingin merasakan makanan yang cukup mewah (bagi mereka).

11. Lain ibu-ibu lain juga anak-anak, es krim putar adalah sebuah kenikmatan paling istimewa bagi anak-anak Dayak Ketungau!

Anak-anak di Ketungau. via setoenggal.blogspot.com

Jika tukang sayur adalah sosok legendaris bagi ibu-ibu desa, lain hal dengan anak-anak Dayak Ketungau. Mereka setia menanti kedatangan tukang es krim dari Merakai (pusat kecamatan) setiap hari Kamis. Bukan es krim macam campina atau walls, karena es krim macam itu hanya ada di dunia khayalan bagi mereka.

Sungguh luar biasa, es batu serut dengan kucuran sirup arumanis, dengan kemasan gelas plastik ala kadarnya sudah menjadi jajanan termahal bagi anak-anak Dayak Ketungau. Meski tak selezat Magnum, tawa dan bahagia mereka mengalahkan kenikmatan es krim jenis apapun.

12. Bagi masyarakat Daya Ketangau, hujan emas di negeri orang masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri.

Hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri. (dok. pribadi)

Meskipun negeri sebelah menawarkan kehidupan yang jauh lebih baik, tapi tak pernah ada keinginan dari mereka untuk beralih kewarganegaraan. Mereka setia terhadap Indonesia, karena mereka menganggap bahwa Indonesia adalah tumpah darah mereka. Ya, meskipun segala kesulitan harus ditanggung oleh mereka, nyatanya mereka tak pernah menuntut apa-apa dari negeri ini.

Mereka hanya menjalankan hidup dengan cara yang terbaik. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah supaya tidak lalai untuk lebih memperhatikan nasib rakyatnya.