Pengaruh budaya Korea melalui Hallyu (Korean wave) di Indonesia saat ini semakin deras, oleh sebab itulah semakin banyak pula orang-orang yang berminat untuk mempelajari bahasa Korea. Tak hanya tempat les Bahasa Korea yang kebanjiran peminat, jurusan Sastra Korea (atau Bahasa dan Kebudayaan Korea) juga mendadak banyak diminati oleh para lulusan-lulusan SMA.

Jurusan Sastra Korea di Indonesia saat ini hanya ada di beberapa universitas saja, yaitu UI, UGM, dan UNAS. Rata-rata jurusan ini hanya menampung 100-200 orang saja setiap tahunnya, padahal peminat jurusan ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Uniknya, masih banyak para calon mahasiswa yang salah paham dengan jurusan ini meski yang meminatinya makin banyak.

Banyak anggapan-anggapan salah kaprah yang menjadi motif mereka untuk menimba ilmu di jurusan ini. Nah, supaya kamu tidak termasuk salah satu yang salah kaprah, simak yuk penuturan salah satu pembaca Hipwee tentang seluk-beluk jurusan Sastra Korea yang sebenarnya! Dia kini sedang menempuh studi S-2 di Kyunghee University, Korea Selatan. Apa saja sih yang mau dia tuturkan?

1. Di jurusan ini, kamu akan diajari bahasa Korea dari nol. Jadi tak usah cemas jika kamu belum bisa — pastikan saja kamu mampu menyingkirkan para pesaingmu di SBMPTN.

Suasana Ujian di Kampus (dok. pribadi) via Hipwee.com

Banyak adik-adik SMA yang menganggap bahwa syarat utama untuk kuliah di jurusan Sastra Korea adalah bisa berbahasa Korea. Banyak yang bertanya kepada saya mengenai materi ujian bahasa Korea, ada pula yang bertanya minimal level TOPIK (Test of  Proficiency in Korean) yang harus didapatkan sebelum masuk kuliah.

Advertisement

Padahal semua itu salah besar! Untuk memasuki sebuah universitas, syarat utama semua calon mahasiswa itu sama, yaitu harus mengikuti ujian saringan masuk dari kampus tersebut atau mengikuti SNMPTN. Jadi gak ada tuh ujian bahasa Korea sebelum kuliah. Sama halnya dengan jurusan-jurusan yang lain, saat kamu ingin kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, kamu juga nggak akan menghadapai ujian mengenai public speaking atau marketing communication.

2. Dosenmu bukan promotor konser. Kuliah di Jurusan Sastra Korea tak memberimu jaminan bahwa kamu bisa dapat tiket gratis nonton konser K-Pop!

Jarang dapat tiket gratis konser Kpop via forum.detik.com

Percaya atau tidak, ada lho calon mahasiswa yang termotivasi masuk jurusan Sastra Korea supaya bisa mendapatkan tiket konser KPOP gratis. Kalau motivasinya secetek ini sih kamu benar-benar salah besar! Jangan sekali-sekali menjadikan hal ini jadi motivasimu untuk kuliah di jurusan ini, karena jika motivasimu hanya sesepele ini maka kamu termasuk golongan orang yang merugi.

Kami memang banyak mendapatkan tiket nonton gratis, tapi bukan tiket konser artis-artis K-Pop, melainkan tiket menonton kesenian tradisionalnya Korea. Dapat tiket nonton konser KPOP bisa dihitung dengan jari doang. Sekalinya pernah mendapatkan tiket gratis nonton konser, kami pun perginya juga harus dengan penuh perjuangan.

3. Kalaupun sudah mulai mahir berbicara Bahasa Korea, tak ada satupun yang menjamin kamu bisa dengan mudah bertemu artis Korea

Belum pasti bisa mudah ketemu artis Korea kecuali Raline Shah via www.spdi.eu

Menimba ilmu di jurusan Sastra Korea bukan berarti kamu bisa ketemu artis Korea dengan mudahnya. Jurusan ini ‘kan bukan industri hiburan dimana banyak artis berseliweran. Kalau kamu berharap bisa ketemu Big Bang, Suju, atau SNSD lebih baik kamu menabung untuk nonton konser mereka saja.

Memang kadang-kadang ada yang menawari untuk bekerja sampingan sebagai penerjemah konser artis Korea, tapi biasanya kamu tidak akan jadi penerjemah sang artis — tapi jadi penerjemah bagi staf musiknya atau staf barangnya. Nah lho… kuliah di jurusan ini nggak se-selo yang kamu pikirkan. Kuliah di jurusan ini yang paling utama adalah belajar, bukan semata-mata karena artis dan konser K-pop!

4. Jangan menggeneralisir bahwa semua mahasiswa Sastra Korea adalah pecinta K-Pop dan K-Drama garis keras. Bahkan kami terkadang sudah muak dengan hal-hal ini!

Gak semu suka Kpop dan pastinya nggak alay via www.hellokpop.com

Oh please, ini dia yang paling saya benci. Ada pandangan negatif terhadap para mahasiswa jurusan Sastra Korea. Banyak yang bilang kalau penghuni jurusan Sastra Korea adalah alay-alay pecinta K-pop dan K-drama. Tidak dipungkiri memang, banyak yang suka dengan Kpop dan Kdrama, tetapi tidak sedikit juga yang masuk jurusan ini karena salah masuk jurusan.

Sangat disayangkan pula jika menggeneralisir orang-orang yang menyukai K-pop dan K-drama adalah orang-orang yang alay dan norak. Kami suka, tapi bukan berarti alay dan nggak semua mahasiswa Sastra Korea adalah pecinta K-Pop. Sebagai informasi, banyak mahasiswa yang awalnya masuk karena suka K-pop dan K-drama namun pada akhirnya mereka malah merasa eneg dengan hal-hal berbau Korea.

5. Banyak yang kamu pelajari justru tak ada hubungannya dengan K-Pop atau K-Drama. Hallyu ‘kan baru berlangsung beberapa tahun belakangan, sementara sejarah negeri ini sudah ratusan tahun membentang…

Drama Spring, Spring Spring yang Diambil dari Novel Tahun 1930an via m.nocutnews.co.kr

Enak ya kuliah jurusan Sastra Korea. Kuliahnya belajar Kpop sama Kdrama. Pasti asik banget!

Siapa bilang kita belajar Kpop dan Kdrama di sini? Duh, salah total! Memang ada mata kuliah “Pengkajian Drama Korea”, tapi jangan bayangkan drama yang dikaji adalah drama-drama populer seperti Full House, Princess Hours, dan sebagainya. Kalau kamu mau belajar mengkaji drama itu, lebih baik nonton di rumah saja sendiri, hehehe.

Drama-drama yang kami pelajari disini adalah drama-drama berbau sastra yang diangkat dari novel-novel terkenal di Korea. Mahasiswa Sastra Korea sama sekali tidak meneliti drama-drama yang popular di kalangan anak muda. Jadi, jangan bilang lagi ya kalau kuliah di jurusan ini asyik karena “bisa nonton drama Korea”!

6. Tak hanya sebatas mempelajari sastra, kamu juga akan menemui mata kuliah yang berhubungan dengan ekonomi, bisnis, dan perusahaan!

Daftar Mata Kuliah di Tahun Ketiga (dok. pribadi) via Hipwee.com

Jangan pikir kalau mahasiswa Sastra Korea itu hanya berkutat mempelajari sastra, sastra, dan sastra. Mahasiswa jurusan Sastra Korea belajar hal lain di luar sastra, seperti sejarah, ekonomi, linguistik, dan sebagainya. Jadi kami tidak melulu belajar tentang bahasa korea saja.

Bayangkan bagaimana kagetnya mahasiswa yang tadinya berpikir akan belajar bahasa Korea tapi saja tiba-tiba disuguhi mata kuliah Bahasa Korea Bisnis, dimana kami belajar mengenai Bahasa Korea dalam dunia bisnis dan tata karma dalam dunia bisnis Korea.

Masih mau bilang kalau kuliahnya anak Sastra Korea itu tentang K-pop dan K-drama? Kalau mau buktinya, kamu bisa lihat nih mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa jurusan Sastra Korea di sini: part 1, 2, & 3

7. Jangan mau jadi korban film drama korea. Berharap punya dosen oppa-oppa dan nuna-nuna yang mulus seperti porselen? Silakan gigit jari!

Yah, ada aja sih yang cantik begini. Yang dosen yang pakai baju Kuning yak! (dok. pribadi) via Hipwee.com

Jangan harap deh kamu bakal diajar oleh oppa-oppa atau nuna-nuna yang ganteng, cantik, dan mulus kayak porselen. Dosen-dosen kami lebih banyak orang Indonesia daripada orang Korea. Dosen-dosen Korea yang ada pun biasanya adalah dosen tamu.

Di Korea sendiri, seseorang bisa jadi dosen apabila sudah menempuh pendidikan sampai jenjang S3. Jika dosen-dosen itu sampai di Indonesia sebagai tamu, bisa dibayangkan dong usianya minimal berapa? Ya, kamu bakal diajar oleh ahjumma dan ahjussi. :p

8. Belajar adalah sebuah proses, begitu juga belajar Bahasa Korea. Baru semester awal kuliah, bukan berarti kita bisa paham nonton film Korea tanpa subtitle

Saat menonton kuliah khusus dari video (dok. pribadi) via Hipwee.com

Belajar bahasa asing pasti butuh proses yang panjang untuk bisa ahli dengan bahasa tersebut. Jadi, bukan mentang-mentang diterima kuliah di jurusan Sastra Korea, secara otomatis kami bisa langsung mahir berbahasa Korea. Salah besar kalau kamu menganggap anak-anak Sastra Korea kalau nonton film Korea pasti bisa paham walau tanpa menggunakan subtitle.

Kalau mahasiswa dan mahasiswi tahun terakhir mungkin iya, tapi ini tidak realistis bagi anak semester awal. Sebagian besar belajar bahasa Korea dari nol sehingga tidak bisa memahami sebagian besar pembicaraan dalam bahasa Korea yang memakai logat daerah atau bahasa zaman dulu seperti di drama-drama kuno. Kalau drama-drama modern yang memakai latar belakang kota Seoul sih biasanya bisa dipahami mahasiswa dan mahasiswi dari tahun ketiganya berkuliah.

9. Nggak ada kuliah yang gampang. Belajar Sastra Korea juga akan memaksamu untuk menjalin hubungan asmara yang pelik dengan sukce!

i love sukce via ghiboo.com

“Ya elah, sastra kan kuliahnya gampang, gak ada tugas pula.”

Siapa bilang? Kuliah apa sih yang gampang? Jangan menganggap enteng salah satu jurusan kuliah tanpa tahu yang sebenarnya dulu. Mahasiswa jurusan Sastra Korea tuh semenjak semester pertama pasti sudah pacaran dengan sukce. Apa itu sukce? Sukce berarti tugas dalam bahasa Korea.

Sama saja dengan mahasiswa jurusan-jurusan lain yang juga punya jadwa penuh dengan tugas. Selama masa perkuliahan, kami tidak memiliki hari tanpa berkencan dengan sang sukce tercinta, malah makin hari semakin mesra!Dan pada saat lulus, biasanya kami akan mengumumkan status baru kami, yaitu kami akhirnya putus dari sang sukce!

10. Jumlah mahasiswa pria di jurusan Sastra Korea memang sedikit. Tapi, bukan berarti mereka adalah “cowok-cowok cantik”!

Para Lelaki Sastra Korea dan Satu Bidadari Sastra Korea (dok. pribadi) via Hipwee.com

Banyak yang bilang, karena jumlah mahasiswanya sedikit, maka laki-laki yang ada di jurusan Sastra Korea adalah para lelaki cantik dan kemayu. Sekali lagi ini salah besar!

Jangan coba-coba meremehkan mereka. Karena jumlahnya yang sedikit, cowok-cowok ini justru menjadi incaran perusahaan-perusahaan Korea saat mereka lulus. Bahkan tidak jarang para lelaki mendapatkan gaji hingga dua kali lipat dari para wanita. Bagaimana? Kamu yang cowok, berminat kuliah di jurusan ini? :p

11. Di sini juga tak ada yang namanya tiket gratis beasiswa ke Korea. Untuk mendapatkannya, kamu harus bersaing dengan banyak mahasiswa lainnya

Saya dan mahasiswa asing lainnya yang menerima beasiswa di Korea (dok. pribadi) via Hipwee.com

Bisa berbahasa Korea tidak menjamin bisa dengan mudah mendapatkan beasiswa Korea.  Memang banyak beasiswa ke Korea yang ditawarkan di jurusan, tetapi kami tentu saja harus memenuhi berbagai macam persyaratan yang ada, seperti TOEFL dan TOPIK. Jadi, bukan semata-mata karena kamu masuk jurusan Sastra Korea, maka kamu sudah pasti mudah mendapat beasiswa ke Korea.

Sebagai mahasiswa kita juga harus berusaha keras selama kuliah agar bahasa Inggris dan bahasa Korea bisa mencapai target minimal syarat untuk mendapatkan beasiswa ke Korea. Selain itu, untuk mendapatkan beasiswa tersebut juga harus mampu bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa lain.

12. Anak Sastra Korea punya banyak peluang untuk berkarier kok! Profesi guru dan penerjemah hanya salah dua dari puluhan kemungkinan karier yang kita punya

Saya pun sempat bekerja sebagai seorang banker (dok. pribadi) via Hipwee.com

Banyak yang bilang kalau nantinya anak-anak Sastra Korea pada akhirnya cuma mentok bekerja sebagai guru Bahasa Korea dan penerjemah saja. Padahal kami tak hanya bekerja sebagai penerjemah atau guru saja. Lapangan pekerjaan dan peluang bagi jurusan Sastra Korea itu banyak.

Lagipula semakin spesifik jurusan kuliahmu, kamu akan terlihat menonjol dan peluangmu untuk berkarir akan terbuka lebar. Banyak kok di antara lulusan Sastra Korea yang berakhir sebagai banker, wiraswasta, penulis, wartawan, manajer, dan sebagainya.

Itulah tadi 12 kesalahan yang terkadung dipahami banyak orang mengenai jurusan Sastra Korea. Dengan membaca artikel ini, semoga pembaca Hipwee menjadi tahu dan melek mengenai apa itu Sastra Korea yang sebenarnya. 🙂

Featured image bysosbud.kompasiana.com