Hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) belakangan ini memang sedang ngehits (lagi). Semakin hits ketika beberapa musisi menciptakan lagu dengan tema LDR yang seolah-olah mewakili perasaan para pelaku LDR. Sebut saja Bruno Mars – Long Distance, Raisa yang mengeluarkan lagu yang berjudul LDR, dan RAN mengeluarkan lagu yang berjudul Dekat di Hati. Lagu-lagu tersebut bagaikan pelipur lara bagi para pelaku LDR.

Ada yang melakukan LDR secara sukarela — biasanya mereka yang bertemu di dunia maya — yang jaraknya memang pada awalnya sudah jauh lalu memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan, dan ada juga yang menjalin LDR karena keadaan yang memaksa. Misalnya karena tuntutan pekerjaan ataupun pendidikan. Contohnya ceweknya bekerja di Bandung, cowoknya bekerja di Malang. Atau ceweknya kuliah di UI, cowoknya kuliah di UGM.

Ada beberapa pelaku LDR yang menikmati hubungan jarak jauhnya itu, tetapi ada juga yang bersedih ria, yang galau setiap hari apalagi setiap malam minggu tiba. Ada orang yang menganggap LDR adalah hubungan yang tidak akan berhasil dikarenakan hal-hal tertentu, tetapi ada juga yang optimis bahwa LDR akan berhasil karena jarak tiada artinya.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang harus kamu tahu bahwa para pelaku LDR itu adalah orang yang hebat dan kuat. Kok bisa sih? Inilah beberapa alasan sahih yang membuktikan membuktikan bahwa pelaku LDR adalah orang yang hebat.

1. Komunikasi yang membuat pelaku LDR (masih) merasa punya pacar. Itulah kenapa mereka sangat ahli soal urusan komunikasi jarak jauh!

LDR ya jago komunikasi jarak jauh via shinchandiary.blogspot.com

Advertisement

Komunikasi adalah hal yang harus dijaga dalam sebuah hubungan. Dalam LDR, komunikasi adalah hal yang sangat krusial, sebab bisa jadi itulah satu-satunya hal yang dapat membuat pelaku LDR merasa punya pacar. Tanpa komunikasi apalah arti sebuah hubungan, terutama yang dijalin jarak jauh!

Pelaku LDR tidak bisa ketemuan sesuka hati, setiap waktu, dan setiap hari. Itulah kenapa para pelaku LDR sangat berterimakasih kepada para penemu telepon dan video call. Meski tak bisa sewaktu-waktu bertemu, mereka tahu bagaimana cara menyiasati hubungan komunikasi dengan sang pacar. Manajemen komunikasinya layak diacungi empat jempol!

Dengan adanya teknologi komunikasi yang kini sudah maju pesat dan modern, para pelaku LDR tidak perlu bingungdalam berkomunikasi. Mereka dapat berkomunikasi dalam keadaan apapun, dimanapun, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya asalkan…. punya pulsa! :p

2. Para pelaku LDR adalah orang yang mandiri dan nggak manja. Mereka bukan tipe pasangan yang saling ketergantungan.

Orang LDR-an itu mandiri via www.gala.de

Ketika orang yang pacaranpada umumnya bisa makan pagi, siang, ataupun malam berdua bareng pacarnya, pelaku LDR hanya bisa gigit jari makan sendiri. Ketika orang lain yang tidak menjalin LDR setiap minggu bisa jalan bersama pacarnya, pelaku LDR hanya jalan-jalan sendiri.

Ketika orang yang pacaran umumnya bisa melakukan kegiatan apapun bersama pacarnya, pelaku LDR bisa melakukan kegiatannya sendiri. Ibaratnya adalah pacaran tapi rasa jomblo. Semuanya bisa dilakukan sendiri, miris memang, tetapi hal tersebut berarti bahwa LDR tidak membuat pelakunya menjadi ketergantungan terhadap pacarnya. Semua bisa dilakukan tanpa bersama atau dengan pacar. Tanpa disadari, ini membuat para pelaku LDR jadi orang yang nggak manja!

3. Para pelaku LDR adalah orang yang bebas. Dia tak pernah mengekang pacar dan juga teguh dalam menjaga komitmen!

LDR itu memberi kebebasan via www.micasa.lt

Kalau yang LDR itu adalah orang bebas, berarti yang tidak LDR bukan orang bebas dong? Hmm… bukan seperti itu. Semua manusia bebas, orang yang pacaran tidak LDR pun bebas, tetapi kadar kebebasannya lebih besar yang negjalanin LDR! Dan yang kebebasannya paling tinggi diantara yang lain yang sudah pasti yang jomblo, hehehehe.

Pelaku LDR punya banyak kesempatan untuk bebas melakukan kegiatan apapun yang ia suka dan dengan siapapun yang ia mau, selama komitmen masih dipegang dan saling menjaga kepercayaan.

Kebebasan ini bukan berarti LDR bisa senang-senang, justru ini adalah tantangan yang lumayan berat. Di satu sisi dia bisa bebas, tapi di sisi lain dia juga harus tetap berpegang teguh dengan komintmen dengan pacar. Kalau imannya nggak kuat, bisa-bisa bubuar jalan. Itulah kenapa para pelaku LDR yang bisa sanggup setia dengan pasangannya adalah orang-orang yang luar biasa.

4. Para pelaku LDR adalah pemilik hati yang sabar. Meski banyak sindiran dan nyinyiran pedas, mereka tetap tabah menjalan hubungan jarak jauh ini.

Banyak sindiran dan nyinyiran via memegenerator.net

Para pelaku LDR biasanya jadi sasaran empuk bully-an oleh teman-temannya . Mereka dibully dengan celotehan-celotehan yang bisa membuat hati sakit dan menggoyahkan iman arah, seperti:

“Pacaran kok sama handphone?”

“Katanya punya pacar tapi kok gak pernah malam mingguan?”

“Yakin dia setia sama kamu? Rajin-rajin berdoa ya semoga aja dia gak selingkuh.”

Ya, bully-an tersebut memang hanya candaan saja, tapi terkadang jadi beda tipis dengan sindiran sinis, hehehe. Meskipun kadang rasanya nyesek disindirin seperti itu, para pelaku LDR tetap tabah dan berjuang mempertahankan hubungannya!

Bisa dibayangin gimana rasanya, udah harus pacaran jarak jauh, jarang kencan, masih aja harus terima nasib jadi bahan bully-an. Siapa lagi coba yang bisa sesabar, seiklhas, dan sekuat para pelaku LDR?

5. Para pelaku LDR adalah orang yang paling mengerti esensi dari pacaran dan mencintai. Mereka adalah pasangan yang jauh di mata tapi dekat di doa!

Walau jauh di mata, tapi dekat di doa via ebrownie.blogg.se

Pacaran atau menjalin suatu hubungan bukanlah hubungna ketergantungan antara dua orang. Ada yang bilang kalau pacar kita hadir untuk melengkapi kita. Hhmm… apa iya begitu? Coba kita pikir-pikir lagi yuk! Kalau kata Dewi Lestari:

“Apa yang harus dilengkapi dari sesuatu yang sudah utuh?” 

Yap, sesungguhnya kita yang sekarang ini adalah manusia yang sudah utuh dengan diri kita sendiri. Mencintai orang lain berarti kita sedang membagi keutuhan kita terhadap orang tersebut, begitupun sebaliknya.

Nah, hal terpenting yang bisa kita petik dari LDR adalah kita jadi tidak tergantung kepada orang lain, khususnya pacar. LDR mengajari kita bahwa kita tak perlu orang lain untuk melengkapi diri kita, dan juga bagaimana seharusnya kita menghargai sebuah komitmen dalam sebuah hubungan itu.

Selain itu, menjalin LDR tanpa saling membebaskan satu sama lain akan menjadi hubungan yang sulit, maka pelaku LDR pastilah mengerti bagaimana rasanya bebas dan membebaskan. Itulah esensi pacaran dan mencintai sesungguhnya, membagi keutuhan serta membebaskan. Bukan saling tergantung atau saling mengekang.

Satu hal lagi yakni mendoakan. Ada teman yang pernah berceloteh renyah, katanya bukan yang penting jauh di mata dekat di hati tetapi yang penting jauh di mata dekat di doa. Inilah yang paling penting sebenarnya. Mencintai orang lain dengan mendoakannya meskipun jauhnya jarak, sulitnya bertemu, atau susahnya sinyal, semua akan menjadi terasa mudah dan indah apabila saling mendoakan. Jadi, jangan bersedih lagi karena menjalin LDR. Selamat ber-LDR ria!