Dalam setiap langkah kehidupan, kita pasti melewati momen-mome jehidupan tertentu, baik itu momen kebahagiaan dan kesedihan. Di setiap momen yang kita lewati, juga memilki makna tersendiri bagi diri kita.

Kamu pasti sering mendengar kalimat “Just enjoy every moment”. Yup, kalimat yang sangat mudah dilafalkan, tapi nggak mudah ‘kan untuk melakukannya? Karena hidup ini terlalu singkat, banyak yang menyarankan kita untuk selalu bisa menikmati setiap kejadian yang terjadi pada kita. Ya, kalau sedang melalui masa-masa bahagia, seperti jatuh cinta, liburan, kesuksesan, dan sejenisnya mungkin kita bisa dengan mudah menikmatinya, bukan? Tapi bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya?

Mencoba untuk menikmati setiap kejadian buruk atau musibah menimpa kita memang bukanlah hal yang mudah. Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa kita merasa “enjoy” di hari terburuk dalam hidup kita? Ya, tentu saja sulit, dan seolah-olah mustahil. Tapi sadarkah kamu kalau kejadian itu nantinya juga akan menjadi kenangan bagi diri kita? Ini tentang bagaimana cara kita menghadapi hari buruk tersebut, dan bagaimana cara “menikmati” setiap proses kehidupan di dunia ini tanpa terlalu cemas dan takut untuk menghadapinya.

1. Harapan yang tak sejalan dengan kenyataan pasti membuat kita kecewa. Bukan berarti kita tak boleh berharap, hanya saja kita juga tak boleh lupa untuk memiliki rasa berlapang dada.

Kekecewaan berasal dari ekspektasi via www.youtube.com

Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang sepanjang hidupnya ingin terus terpuruk dalam kekecewaan. Kecewa merupakan emosi global yang timbul akibat dari setiap kejadian yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Seperti rasa kecewa karena pacar ketahuan selingkuh, itu karena ekspektasi kita mengatakan bahwa pacar kita harusnya setia. Atau rasa kecewa karena gagal mencapai nilai tinggi dalam ujian, itu karena ekspektasi kita besar terhadap nilai ujian.

Advertisement

Besarnya ekspektasi ekuivalen dengan besarnya kekecewaan yang akan kita petik jika ia meleset. Karena itu, jadikan ekspektasi hanya sebagai perkiraan kecil semata. Tentu saja tak ada salahnya untuk berekspektasi setinggi mungkin terhadap sesuatu, namun yang perlu kita ingat adalah sudah siapkah dengan kenyataan yang seringkali meleset dengan harapan kita?

Tak bisa disalahkan, sebagai manusia biasa, harapan adalah salah satu hata dan penyemangat hidup yang kita miliki. Namun jika harapan yang kita miliki tak disambut baik oleh kenyataan hidup, kita harus mau menerimanya dengan lapang dada. Tetap berikan yang terbaik dan ikhlas merupakan pilihan tepat agar kita siap menerima kekecewaan yang kapan saja bisa tiba-tiba menyergapmu.

2. Kegagalan adalah hal yang paling mengecewakan. Namun, apakah kita akan menyerah dan jatuh dalam keterpurukan, atau berdamai dengan kekecewaan itu lalu bangkit kembali?

Kegagalan hanya bagian dari proses via www.favim.com

Berusaha dan kemudian gagal merupakan perpaduan sebab akibat yang sangat buruk. Sudah pasti kamu menginginkan hasil yang setimpal dengan usaha yang sudah kamu lakukan. Lagi-lagi tentang harapan. Ya, tak mudah memang untuk menerima bahwa harapan kita tak sesuai dengan kenyataan.

Tapi sebagai manusia biasa, kita harus sadar bahwa ada tangan lain yang mengatur kehidupan kita ini. Ada hal-hal lan yang di luar kuasa manusia. Dan semua itu kembali pada diri kita. Bagaimana kita menanggapinya, akankah kita akan menyerah lalu membiarkan diri ini terjerembab dalam kesedihan? Ataukah kita akan berlapang dada dan berdamai dengan kekecewaan dan kenyataan, lalu bangkit kembali untuk berusaha mendapatkan jawaban dari Sang Maha Kuasa?

Mungkin suatu hari nanti kita akan mendapatkan jawaban mengapa Tuhan belum mewujudkan harapan kita. Ingatlah bahwa “Tuhan mendengar dan menunggu”. Menunggu untuk menempatkan kebahagiaan bagi kita di waktu yang pas. Bukankah es krim akan lebih nikmat jika dimakan pada saat kemarau dan coklat hangat akan lebih nikmat diminum saat hujan turun?

3. Kemarin, hari ini, dan esok adalah kado terindah untuk kita. Berikan yang terbaik semampu dirimu, nikmati dan bersyukurlah atas kesempatan yang kamu dapat di hari ini.

Aku berada di hari ini via www.cogniview.com

Kemarin adalah kenangan, esok adalah masa depan, dan hari ini adalah hadiah. Pernah mendengar ungkapan itu? Maksud dari ungkapan itu adalah bahwa kita wajib menikmati hari ini dan memperjuangkan hari esok, serta melupakan hari kemarin. Tapi sadarkah kamu bahwa hari ini adalah esok dari hari kemarin dan sejarah dari hari esok? Ternyata waktu memainkan banyak hal untuk kita.

Ia adalah kumpulan detik dan dirangkai dalam menit, jam, hari, minggu, dsb. Setiap hari merupakan kesempatan bagi kita untuk memperjuangkan kehidupan. Jadi hiduplah hari ini dengan sebaik-baiknya agar tidak menyesal di esok, dan tidak iri dengan kemarin. Seburuk apapun hari ini kamu hadapi, ini tetaplah bagian dari sejarah hidupmu. Seakacau apapun harimu, setidaknya kamu bisa memetik sebuah pelajaran berharga darinya dan berbuat lebih baik untuk masa depan.

Bersyukurlah atas kesempatan untuk hidup di hari ini. Nikmatilah dengan penuh syukur jika hari ini terlewati dengan bahagia dan sesuai rencana. Namun jika hari ini adalah hari yang buruk, bersabarlah dan berlapang dada, pasti ada hikmah yang bisa kamu petik demi hari esok.

4. Tak perlu terlalu cemas dan khawatir akan ketidakpastian di hari esok. Toh, selama ini kamu selalu berhasil melewati masa-masa tersulit dalam hidupmu ‘kan?

Tak perlu terlalu khawatir menjalani hari esok. via bibo.kz

Saat kita merasa di titik terendah dalam kehidupan, yakinlah apa yang terjadi sekarang merupakan kenangan yang akan membuat kita tersenyum di masa depan nanti. Mungkin saat ini kita tsedang terpuruk, misal sulitnya menyelesaikan skripsi, beratnya mencari pekerjaan, atau susahnya bertemu dengan jodoh yang tepat. Yakinlah bahwa setiap kesulitan memiliki tanggal kadaluarsanya sendiri, sehingga kita tidak perlu terlalu cemas untuk menghadapinya. Bukankah setiap kesulitan pasti ada kemudahan?

Ingat saat SD dulu kita harus berusaha keras untuk belajar membaca dan menulis, atau saat SMP kita merupakan individu baru yang sedang mengalami pubertas sehingga hampir-hampir setiap kejadian buruk terasa sebagai hari terakhir kita hidup di dunia? Bagaimana dengan saat SMA? Saat kita mulai merekah dengan kehidupan remaja, kesedihan saat si dia ternyata suka dengan sahabat kita sendiri, atau saat nilai ulangan kimia, fisika, dan matematika kita jeblok sehingga harus mengikuti remidi.

Saat kuliah, tentu kita juga tidak terlepas dengan kekhawatiran dan kesulitan. Masalah organisasi, penemuan jati diri yang baru, dan akhirnya kita pun dihadapkan pada skripsi. Setelah berkali-kali hanya titip absen pada teman dan bolos kuliah, melalui skripsi kita mau tidak mau harus belajar agar dapat menaklukan hati dosen pembimbing. Dan hingga perjuangan kita berakhir dengan “wisuda”. Sebuah acara seremonial yang penuh haru, bahagia, dan lagi-lagi bertemu dengan kekhawatiran akan pekerjaan.

Hitunglah berapa banyak kekhawatiran yang mesti kita lewati dalam kehidupan ini? Sebenarnya kita tak perlu terlalu khawatir akan sesuatu yang belum kita hadapi, karena toh dengan khawatir atau tidak, segalanya akan terlewati apapun hasilnya nanti. Khawatir hanya pengejawantahan atau refleksi terhadap rasa ketidaktahuan dan bercampur takut akan menghadapi sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita lewati.

So, jadikan khawatir hanya sebagai kerikil dalam perjalanan panjang menuju kesuksesan kita, kerikil itu tidak akan menjadi penghalang karena sewaktu-waktu kita dapat dengan mudah menyingkirkannya.

5. Masa depan dan kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu. Apakah kamu memilih untuk menikmati setiap proses dalam hidupmu atau tidak? Semua itu ada di tanganmu sendiri.

Berani untuk bermimpi dan melangkah. via www.conduongphiatruoc.com

Apa cita-cita masa kecilmu? Guru, dokter, astronot, pilot, dsb. Saat memasuki usia remaja kebanyakan dari kita mulai berganti cita-cita, yang tadinya ingin jadi guru SD, akhirnya memilih untuk menjadi guru SMP. Saat SMA cita-cita pun berganti kembali, karena ikut teman atau menyesuaikan dengan gejolak masa muda. Dan saat kuliah, saat kita telah menjadi manusia dewasa kita pun sadar akan adanya kata “realistis”.

Saat dewasa, kita mulai bangkit dari mimpi indah masa kanak-kanak, hingga kita menemukan mimpi baru yang sesuai dengan kemampuan dan keadaan kita. Apapun mimpi yang kita pilih, besar atau kecil, rumit atau sederhana, logis atau tidak, kita memiliki kewajiban pada diri sendiri untuk mewujudkannya.

Kita sendiri yang bertanggung jawab membahagiakan diri kita, bahagia tidak melekat pada kebersamaan dengan orang lain atau hadirnya orang lain. Bahagia adalah tugas pribadi yang mesti kita kerjakan. Takut melangkah berarti siap untuk menyesal, jadi jangan takut akan kejamnya kesulitan dan kekhawatiran yang mencoba untuk menghentikan kita meraih mimpi karena perjuangan ini akan dibayar dengan tawa di esok hari.

Meskipun sulit, mulailah untuk menikmati setiap momen yang kita alami hari ini, sekarang. Karena momen ini akan menjadi kenangan manis di masa depan kita. Buruknya hari ini hanya menjadi coretan kecil bagi buku diary kita di masa depan. Yang perlu kita lakukan adalah mencoba untuk bersahabat dengannya. Terapkan dalam hati bahwa yang kita lalui sekarang harus bisa kita syukuri nantinya. Jadi, masih khawatir untuk melangkah?