Tempo hari, Hipwee telah mengulas mengenai perbedaan antara seorang backpacker dan flashpacker. Di antara para pejalan perdebatan soal gaya traveling memang tak bisa dihindari. Atas alasan kecintaan pada hobi yang satu ini nampaknya ada saja yang harus diributkan diperbincangkan sampai tuntas.

Kali ini, salah satu kontributor Hipwee yang merupakan seorang traveler sekaligus travel blogger, Farchan Noor Rachman, atau yang biasa dipanggil Efenerr ini akan menuturkan beberapa perdebatan sengit yang terjadi di dunia perjalanan yang tak kunjung usai hingga saat ini. Simak yuk!

Dunia para pejalan selalu menawarkan banyak pilihan. Mau pergi ke mana, naik apa, sampai menginap di mana, dan melakoni apa di destinasi impian jadi perbincangan yang tidak ada habisnya. Tapi di antara pilihan-pilihan tersebut ada juga perdebatan yang tak kunjung usai: saya menyebutnya perdebatan klasik di dunia perjalanan.

Sebenarnya sungguh menarik untuk melihat perdebatan-perdebatan ini dari dua sisi yang berbeda, berikut beberapa ulasannya menurut pendapat Mas Efeneer:

1. Backpacker vs Turis. Dua tipe traveler yang bertolak belakang, memilih antara kebebasan atau kenyamanan

Advertisement

Ala backpacker atau turis? via www.girisimcilerokulu.com

Ini perdebatan yang mungkin tidak akan ada ujungnya. Para Backpacker menganggap perjalanan mereka murah meriah dan penuh kebebasan, sementara Turis menganggap perjanan mereka penuh kenyamanan. Backpacker menganggap jika menjadi Turis tidak akan mendapatkan banyak pengalaman dan diatur-atur, sedangkan Turis menganggap Backpacker adalah orang yang kurang kerjaan karena bersusah-susah di perjalanan.

Sebenarnya Backpacker dan Turis masing-masing adalah 2 gaya perjalanan yang berbeda. Backpacker identik dengan budget rendah dan ketidakteraturan, sementara Turis identik dengan biaya mahal dan kenyamanan. Masing-masing tentu punya kelebihan dan kekurangannya — Backpacker lebih bebas atau Turis lebih nyaman.

Sebenarnya perdebatan ini bisa saja usai asalkan masing-masing saling mengerti kerakter perjalanannya. Toh, tidak semua orang punya banyak waktu seperti Backpacker dan tidak semua orang punya banyak uang seperti Turis. Intinya, selama mereka melakukan perjalanan, baik Backpacker maupun Turis akan tetap disebut sebagai Traveler.

2. Ransel vs Koper. Karena mahal-murahnya perjalananmu tak bisa ditentukan oleh jenis tas yang kamu tenteng

Ransel vs Koper via www.wayfaringpanda.com

Soal ransel vs koper sebenarnya nyambung dengan perdebatan Backpacker vs Turis. Ransel identik dengan bawaan para Backpacker, dan Koper adalah bawaan para turis. Tapi lambat laun Ransel dan Koper malah jadi lambang atau cap bagi dua gaya perjalanan yang berbeda itu tadi.

Nggak cuma soal gaya berjalannya, ransel dan koper juga banyak yang memperdebatkan fungsinya. Mungkin ransel memang lebih efisien dan mudah dibawa, tapi koper walaupun ribet, lebih aman dan melindungi barang bawaan.

Banyak juga yang mengasosiakan kalau berjalan dengan Ransel itu pasti pejalan yang irit atau cari yang murah-murah, dan yang pakai koper sebaliknya. Padahal jika dilihat-lihat belum tentu, wong kadang harga Ransel sekarang ini bisa jauh lebih mahal daripada Koper. Bisa jadi koper dan ransel sesungguhnya sama — sama-sama mahal!

3. Solo Trip vs Group Trip. Tak semua orang berani berjalan seorang diri, dan tak semua orang nyaman berjalan bersama-sama

Solo atau group traveler? via motivbasi.wordpress.com

Lebih enak sendiri atau lebih enak rame-rame? Penganut solo trip dan grup trip pun masing-masing punya keyakinannya sendiri-sendiri.

Solo trip biasanya dianut mereka yang ingin bebas dan gak ingin diatur-atur di perjalanan, dengan Solo trip seorang pejalan bebas menentukan ke mana dia akan melangkah. Sementara group trip biasanya disukai bagi mereka yang bersama-sama.

Ada enak dan nggak enaknya, kalau Solo Trip lebih bebas karena kita sendiri yang menentukan tujuan, tapi tentunya seluruh ongkos perjalanan ditanggung sendiri. Sedangkan Group Trip bisa membuat perjalanan lebih murah dengan sharing ongkos, tapi kurang bebas karena destinasi-destinasi ditentukan berdasarkan kesepakatan.

Sebenarnya tidak ada yang benar atau salah, kembali ke personal masing-masing. Tidak semua orang berani melakukan trip sendirian, namun tidak semua orang juga nyaman melakukan trip bareng-bareng.

4. Gunung vs Pantai. Dua destinasi yang memiliki tantangan dan keindahan yang bergantung pada selera penikmatnya

Gunung dan pantai sama-sama indahnya via lumajangsatu.com

Sekarang beralih soal perdebatan destinasi, yaitu antara Gunung dan Pantai. Pendaki gunung kelas kakap tentunya akan menganggap bahwa menaklukkan gunung yang tinggi adalah sebuah kebanggaan, sementara pecinta pantai akan bicara pantai berpasir putih dan kedamaian suara nyiur angin dan deburan ombak.

Masing-masing punya argumennya sendiri-sendiri dan terkadang bisa timbul perdebatan hanya karena satu hal, ingin ke gunung atau ke pantai? Ke gunung atau ke pantai masing-masing memiliki tantangan dan keindahannya. Gunung membutuhkan persiapan yang detail dan fisik yang kuat untuk mendaki namun, dikompensasi dengan pemandangan dan perjuangan di puncak gunung.

Pantai memang lebih santai, namun juga butuh effort lebih jika pantai yang terpencil, juga harus betah-betah menahan sinar mentari yang terik dan udara yang membuat kulit lengket. Walaupun memang pemandangan biru laut dan putih pasirnya akan membuai.

Jika masih memperdebatkan soal gunung dan pantai, lebih baik kita ingat-ingat lagi peribahasa Indonesia, asam di gunung dan garam di laut bertemunya di belanga juga.

5. Indonesia vs Luar Negeri. Yaelah, toh tujuan wisatamu tak akan mempengaruhi jiwa patriotismemu

Traveling ke luar negeri gak berarti tidak nasionalis via blog.iyaa.com

Perdebatan pamungkas adalah soal apakah akan keliling Indonesia atau keliling dunia. Perdebatan ini bahkan melebar sampai membawa-bawa nasionalisme. Sungguh ini adalah perdebatan seru dan mungkin tidak akan berakhir.

Ada yang sampai bilang seseorang tidak nasionalis dan tidak cinta Indonesia jika tidak keliling Indonesia dulu.

“Ngapain traveling ke luar negeri? Indonesia kan nggak kurang tempat wisata.”

Tapi begini, Indonesia kurang lebih terdiri dari 13.000 pulau, dengan asumsi jika setiap hari berpindah satu pulau seseorang baru bisa tuntas keliling Indonesia selama 35 tahun. Atau ada yang bilang:

“Lebih baik keliling Indonesia dulu lah sebelum keliling dunia.”

Tapi sesungguhnya, traveling ke luar negeri pun sebenarnya bukan berarti tidak nasionalis, tapi memandang dunia lebih luas akan memperkaya hidup kita. Bisa jadi, ke luar negeri mendapatkan wawasan baru atau keliling dunia untuk melihat dan mencontoh sesuatu yang bisa membuat Indonesia jadi lebih baik lagi.

5 Perdebatan-perdebatan itu tadi yang mewarnai dunia perjalanan di Indonesia. Sebagian menarik, sebagian menjurus tidak konstruktif. Namun jika ingin melangkah lebih jauh, lebih baik lupakan perdebatan-perdebatan tersebut dan terus langkahkan kaki kemanapun ingin melangkah.

Tabik

Tertarik mengirimkan karyamu untuk Hipwee? Sila cek syarat-syaratnya disini!