Saat kita baru saja memulai menimba ilmu di perguruan tinggi, seringkali terbesit keinginan untuk cepat-cepat kerja di perusahaan-perusahaan yang keren dan bergaji besar, seperti BUMN, pertambangan, atau di instansi pemerintahan. Keinginan untuk buru-buru kerja ini mungkin karena adanya tuntutan ekonomi, ingin segera punya uang sendiri, dan keinginan untuk bisa segera membalas budi dan membahagiakan orangtua.

Saat kita masih kuliah, sering kita menganggap bahwa status sudah bekerja itu jauh lebih keren dan menyenangkan. Tetapi saat kita sudah meniti karir sebagai seorang pekerja, tanpa kita sadari kita sering merindukan masa-masa kuliah mereka yang penuh kebebasan.

Di sini kita akan membahas beberapa fase hidup yang kita alami saat kita menyandang status mahasiswa hingga berganti status bekerja. Langsung simak aja yuk!

1. Kamu merasa bahwa status mahasiswa itu lebih dipandang ketimbang status bekerja. Terlebih lagi jika kamu kuliah di universitas bergengsi

Kamu lebih merasa dipandang via www.unpad.ac.id

Sadar atau tidak, status mahasiswa itu lebih dihormati oleh masyarakat. Terebih lagi dalam pandangan masyarakat di daerah-daerah, seringkali mereka lebih menganggap kalau mahasiswa adalah generasi muda yang pintar, cerdas, dan berpendidikan. Lebih-lebih kalau kuliahnya di universitas favorit, semacam UI, ITB, UGM, ITS, UNPAD, UNAIR, IPB, dll .

Advertisement

Masyarakat: “Kuliahnya dimana, Dek?”

Kamu: “Kuliah di UNPAD, Pak.”

Masyarakat: “Wah, pinter ya. Hebat kamu bisa kuliah di universitas bagus.”

Kamu: *Senyam-senyum *Padahal semester ini ada 3 mata kuliah yang nilainya D

Bakal berbeda percakapannya kalau kita sudah bekerja, meskipun kita adalah alumni universitas yang cukup bergengsi

Masyarakat: “Kerja dimana, Dek?”

Kamu: “Di PT. Indojaya Suka Makmur, Pak”

Masyarakat: “Itu perusahaan apa ya? Kok nggak terkenal? Bergerak di bidang apa?”

Kamu: *Langsung pura-pura nelepon pacar *Padahal gak punya pacar

2. Tapi jika kamu tergolong mahasiswa angkatan tua, kamu mulai tak nyaman dengan lagi status mahasiswamu. Yang ada di pikiranmu cuma lulus dan kerja!

Kamu mulai tak nyaman dengan status mahasiswamu via www.hipwee.com

Kalau mahasiswa tingkat 1 sampai 4, masih bisa santai dan santai pas ditanya orang-orang sekitar rumah atau teman yang baru kenal. Tapi beda kasusnya kalau status kita adalahi mahasiswa tingkat akhir, dimana kita sedang jatuh bangun menjalani hubungan dengan dosen pembimbing dan terjebak dengan skripsi atau tugas akhir.

Tetangga: “Kuliah dimana sekarang?”

Kamu: “Di UNPAD, Pak.”

Tetangga: “Udah semester berapa?”

Kamu: Udah semester akhir, Pak.” ( Kamu lebih memilih menggunakan kata “semester akhir” biar gak malu nyebutin semester 11).

Tetangga: “Wah kapan lulusnya?”

Jika dibandingkan antara mahasiswa tingkat akhir dan orang yang udah bekerja, tentu orang yang sudah bekerja bisa dibilang lebih bisa percaya diri menjawab pertanyaan dalam situasi seperti ini. Ya, meskipun orang-orang tak pernah tahu apa jenis pekerjaanmu.

3. Setelah lulus kamu masih harus dihadapkan dengan realita yang sesungguhnya. Menyandang status sarjana tapi belum bekerja ternyata jauh lebih menakutkan

Nganggur itu lebih gak enak via www.youtube.com

Mungkin para mahasiswa sangat ingin segera lulus cepat atau setidaknya lulus tepat waktu. Tapi ingat, ada status yang kemungkinan akan menunggu saat kita lulus, yaitu status pengangguran.

Status ini paling serem, apalagi kalau kita adalah lulusan PTN berkualitas, dan setelah lulus kita tidak bisa langsung mendapatkan pekerjaan, alias pengangguran. Meskipun status ini sementara, tapi ini sangat mengerikan. Status ini bisa bikin kita putus asa, minder, dan takut keluar rumah demi menghindari pertanyaaan-pertanyaan yang nyerempet ke pekerjaan.

Tetangga: “Kuliahnya udah lulus, Dek?”

Kamu: “Sudah Pak, Alhamdulillah.”

Tetangga: “Sekarang kerja dimana?”

Kamu: “Ini masih nyari-nyari lowongan kerja, Pak.”

Tetangga: “Lho, belum dapet kerja? Padahal lulusan universitas bagus lho!”

Kamu: “Iya Pak. Belum rezekinya Pak..” *Pulang ke rumah lari-lari sambil nangis.

Orang-orang (terutama yang sudah berumur) kebanyakan menganggap bahwa lulusan perguruan tinggi pasti gampang mencari pekerjaan dan dijamin gak nganggur. Mungkin ini dikarenakan pada zaman mereka masih muda, seorang sarjana itu punya banyak kesempatan bekerja. Tapi, sayangnya itu sudah nggak berlaku lagi di zaman sekarang. Sekarang cari kerja itu nggak segampang yang mereka pikirkan.

4. Saat kamu sudah bekerja, kamu mulai menyadari bahwa status mahasiswa itu ternyata membawamu pada hidup penuh kemudahan dan keistimewaan

Mahasiswa punya banyak kesempatan untuk besiswa atau study exchange ke luar negeri via nengkoala.com

Meskipun dulu pengen cepet cepet lulus dan meninggalkan status mahasiswanya, tapi gak bisa dipungkiri kalau banyak sekali orang yang udah kerja ingin mengulang masa-masa kuliahnya lagi. Banyak sekali keistimewaan yang didapat saat menyandang status mahasiswa jika dibandingin dengan orang yang udah kerja.

Mau jalan-jalan ke luar negeri aja tinggal ngajuin proposal dengan alasan conference, udah bisa jalan-jalan ke luar negeri. Atau banyak kesempatan untuk ikut beasiswa kuliah di luar negeri. Beda dengan orang yang udah kerja. Gak semua pekerja bisa ngajuin proposal buat study banding atau jalan-jalan. Kalau mau dari dana sendiri, pasti harus nabung bertahun-tahun untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri, dan itu pun lama.

Selain kemudahan dalam berbagai hal, status mahasiswa juga tidak terlalu sibuk dibanding orang yang udah kerja. Gimana enggak, tiap habis ujian, pasti ada libur panjang. Kalau udah kerja, mana ada jatah libur sampai sebulan. Bisa dapet jatah cuti pun kalau udah setahun kerja, dan itu pun cuma 12 hari!

5. Kamu pun baru menyadari betapa saktinya KTM-mu dulu. Sayangnya, kamu tak lagi bisa merasakan keajaiban dari kartu itu setelah bekerja

betapa saktinya KTM via ray-march-syahadat.blogspot.com

Setelah kerja semuanya seakan menjadi mahal, padahal nyatanya bukan semata-mata karena harga bahan pokok naik, tapi karena status kita yang sudah bukan lagi sebagai mahasiswa.

Status mahasiswa itu sangat istimewa sekali, apa-apa dapat diskon. Naik travel ada harga khusus mahasiswa, mau main-main ke Dufan atau Trans Studio, ada potongan harga bagi mahasiswa, di beberpaa restauran atau kafe mahal juga menyediakan harga murah bagi mahasiswa selama menunjukkan kartu mahasiswanya.

KTM menjadi senjata ampuh buat mendapatkan beraneka ragam diskon. KTM sungguh sangat berharga untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas yang memudahkan hidup mahasiswa. Beda cerita dengan para pekerja. Nggak ada ceritanya harga khusus atau potongan harga untuk pekerja.

6. Setelah bekerja, kamu mulai rindu dengan kebebasan dan kesempatan untuk berkreativitas dan mengembangkan diri seperti di masa kuliah. Kamu rindu dengan status mahasiswamu!

Kamu rindu dengan status mahasiswamu via bemfema.lk.ipb.ac.id

Ketika kita menjadi mahasiswa tentu kita bukan cuma disibukkan dengan tugas kuliah yang banyak, tapi ketika menjadi mahasiswa sebagai ajang untuk mengembangkan diri kita di organisasi yang ada di kuliahan. Beda dengan orang yang sudah kerja tentu kesibukannya sudah beda dan sangat sulit untuk dapat mengembangkan diri sebagaimana selagi masih menjadi mahasiswa.

Ah, status mahasiswa itu ternyata begitu enak. Ya, meskipun pasti kita disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang cukup banyak dan kegiatan organisasi yang menyita waktu, tapi diakui atau tidak kita sangat merindukan menjadi seorang mahasiswa kembali. Kebebasan berkreatifitas tanpa batas, cuma bisa kita lakukan ketika kita menjadi seorang mahasiswa.

Tapi ini lah hidup teman. Kita harus senantiasa menjadi orang yang terus berkembang dan move on untuk kehidupan kita yang lebih baik ke depannya. Menyandang status baru sebagai seorang pekerja bisa memberikan kita kesempatan dan pengalaman baru untuk memberikan kontribusi lebih pada diri sendiri maupun orang banyak.

Bahwa hidup itu mirip dengan jenjang sekolah. Ada pelajaran sulitnya, ada pelajaran menyenangkannya. Ada guru baru/berbeda di tiap kelasnya. Ada tes dan ujiannya. Serta tentu saja ada perubahan materi pelajaran tiap semesternya.

Kredit gambar andalan: genta.petra.ac.id