Fasilitas dan kualitas pendidikan yang belum merata di Indonesia menjadi alasan utama bagi para pelajar di bagian timur Indonesia untuk melanjutkan studinya ke Indonesia bagian barat, khususnya di Pulau Jawa. Banyak orangtua juga merasa perlu untuk menyekolahkan anaknya jauh-jauh dari rumah supaya anaknya bisa belajar mandiri.

Bagi para pelajar yang berasal dari timur Indonesia, menjadi pelajar di Pulau Jawa memberikan kesan tersendiri. Beragam tantangan, suka, dan duka harus dijalani selama kami menimba ilmu di Pulau Jawa. Perbedaan bahasa, budaya, waktu, dan kondisi lingkungan di tempat tinggal kami yang baru membuat kami harus menyesuaikan diri. Kadang, hal itu bahkan bisa menjadi proses panjang yang tidak mudah, dan mungkin saja sampai sekarang ini masih kami rasakan.

Seperti apakah sepak terjang kehidupan para pelajar dari timur Indonesia selama menimba ilmu di tanah rantau? Berikut ini adalah hal-hal yang pasti dan hanya dirasakan oleh para pelajar dari bagian timur Indonesia!

1. Kamu Lelah dengan Berbagai Pertanyaan Ajaib dan Konyol, Seakan-akan Asalmu dari Daerah Antah Berantah

Adek lelah bang! via www.up4b.go.id

Saking banyaknya pulau dan suku di Indonesia, pertanyaan tentang daerah asalmu pastilah akan menjadi hal pertama yang kamu perbincangkan dengan orang yang baru pertama kali kamu temui. Ya maklum saja jika sebagian dari orang masih ada yang belum banyak tahu tentang daerahmu, tapi  terkadang kamu sampai bingung bagaimana caranya agar orang-orang bisa tahu bahwa daerah timur Indonesia tidak seprimitif yang mereka pikirkan.

Advertisement

Walaupun sekarang sudah mau memasuki 2015, kamu masih sering mendapat pertanyaan-pertanyaan konyol dan menyebalkan tentang daerah asalmu, seperti “Itu letaknya di mana, ya?”, “Dari sana ke sini pakai apa?”, “Di sana kalau mau makan harus berburu dulu ya?”, atau “Di sana masih pakai koteka ya?”. Sungguh melelahkan, tapi bagaimanapun juga harus dijawab dengan terpaksa kesabaran penuh.

Duuh, lelah Adek, Bang! Adek ingin lari ke hutan, lalu belok ke pantai, Bang!”

2. Tawa, Logat, dan Perawakan Orang Timur yang Khas Akan Menarik Perhatian dan Mengundang Berbagai Komentar

Tawa dan logatnya yang unik via suarapapua.org

Ketika kamu berkumpul dengan teman-teman yang berasal dari daerah yang sama, mungkin sebagian orang akan merasa risih atau terkejut karena suaramu yang lantang dan logat yang unik. Bahkan dua orang yang sedang asyik mengobrol terkadang bisa terdengar seperti ada sepuluh orang yang mengobrol.

Cara berbicara kita yang cenderung cepat juga kadang membuat orang lain pusing mendengarkan ocehan kita. Akibatnya, seringkali membutuhkan perjuangan ekstra bagi mereka yang logat berbicaranya masih ketal untuk menjelaskan apa yang mereka maksudkan.

Gelak tawa orang timur yang rata-rata cetar membahana juga membuat orang-orang di sekitarmu terkejut dan sontak mengarahkan pandangannya kepadamu. Tidak hanya itu, perawakan orang timur yang khas, sering menjadi perhatian orang-orang di sekitarmu.

Orang-orang di sekitarmu tidak akan melepas pandangan takjub darimu hingga kamu menghilang di ujung jalan. Kalau sudah begini, kamu jadi risih dan bertanya-tanya, “Ini sebenarnya saya yang aneh apa mereka yang aneh sih, sampai saya dilihatin begitu?” 😀

3. Perbedaan Waktu Membuatmu Sulit Berkomunikasi dengan Orang-Orang Tercinta di Tanah Kelahiranmu

Jadwal kuliah padat membuat komunikasi dengan ortu jadi terkendala via prasetya.ub.ac.id

Kegiatan kampus yang padat dan menyita waktu membuatmu sering pulang malam. Akibatnya, ketika kamu selesai dengan urusanmu pada pukul 9 malam, tidak bisa menghubungi ibu dan ayahmu karena kemungkinan besar mereka sudah terlelap tidur.

Sedangkan di pagi hari, orangtuamu mungkin ingin menyempatkan untuk menelepon untuk sekadar menanyakan kabarmu. Tapi apa daya, jam 7 pagi Waktu Indonesia Timur sama dengan jam 5 pagi di Indonesia bagian barat, dimana kemungkinan besar kamu belum benar-benar tersadar dari tidurmu, sehingga percakapanmu dengan mereka hanya selintas dan ala kadarnya, setelah itu lanjut tidur lagi. Udah, gitu aja terus… Huh!

4. Harga Makanan yang Relatif Lebih Murah Membuatmu Banyak Jajan

Makanan seperti ini masih dapat terjangkau dengan Rp 15.000,- di Pulau Jawa via www.madangwae.com

Ini mungkin paling dirasakan oleh mereka yang suka makan, hehehe… Di Yogyakarta misalnya, dengan Rp 10.000,- saja kamu sudah bisa makan paket komplit. Sedangkan di daerah asalmu, dengan Rp 10.000,- boro-boro paket komplit, untuk beli makanannya saja kadang belum cukup. Karena harga di sini serba terjangkau, tak ayal hasrat untuk jajan semakin meningkat. Mumpung murah ‘kan? hehhehe

Di lain sisi, perbedaan harga yang cukup signifikan ini menimbulkan pertanyaan bagi orang-orang di sini, seperti “Berarti orang-orang di sana duitnya banyak, ya?” Padahal tidak juga. Memang dasar biaya hidup di sana aja yang tinggi sehingga harga barangnya relatif lebih mahal dibandingkan dengan wilayah barat Indonesia. Jadi di sanapun kamu tetap biasa-biasa saja, nggak begitu banyak jajan hehehe… Semoga program maritim Presiden kita berhasil supaya kesenjangan harga itu bisa dikurangi, ya!

5. Beberapa dari Kamu Pun Harus Ikhlas Melewatkan Hari Raya di Tanah Rantau Karena Mahalnya Harga Tiket

Merayakan Ntal bersama teman-teman senasib via www.stockpholio.com

Inilah adalah hal yang paling nyesek yang kamu rasakan selama merantau. Ketika teman-teman pelajar dari daerah lain bisa sepuas hati wira-wiri pulang kampung — bahkan ketika weekend sekalipun — kamu dengan terpaksa merayakan hari raya di tempatmu menimba ilmu. Beruntunglah jika ternyata orangtuamu yang malah bertandang ke tempatmu tinggal. Jika tidak, maka hari raya yang biasanya penuh dengan sukacita itupun menjadi kelabu dalam sekejap.

Pertanyaan yang awalnya membuat kamu tiba-tiba galau seperti “Natal kamu pulang nggak?” lama-kelamaan menjadi biasa bagimu. Tidak jarang kamu juga bingung mau merayakan hari raya dengan siapa, terutama jika kamu tidak memiliki saudara di tempatmu merantau. Alhasil, kamupun janjian dengan teman-temanmu yang senasib untuk merayakannya bersama.

6. Citra Buruk Bisa Saja Menempel Padamu, Hanya Karena Beberapa Konflik yang Melibatkan Orang-Orang dari Tempat Asalmu

Banyak konflik yang melibatkan orang dari timur via investigasiberita.blogspot.com

Tidak dapat dipungkiri, beberapa konflik yang terjadi di tempatmu merantau terkadang melibatkan orang-orang dari timur Indonesia. Sehingga kamu pun seringkali kena imbasnya, padahal kamu sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Niat melibatkan diri dalam sebuah konflik saja kamu tidak punya.

Sebagian orang jadi memandangmu sebagai individu yang patut diwaspadai dan ditakuti. Karena itulah tanggung jawabmu menjadi lebih berat untuk menjaga nama baik tempat asalmu.

7. Di Atas Semua itu, Kamu Bangga Menjadi Generasi Penerus Bangsa yang Berasal dari Daerah Timur Indonesia

Kamu bangga jadi pelajar dari Indonesia timur via www.identitasonline.net

Mendengar ketidaktahuan orang-orang tentang daerahmu membuatmu boleh berbangga. Di daerahmu, kamu mengenal dan berteman dengan berbagai orang dari berbagai latar belakang suku di Indonesia, sehingga kamu lebih tahu banyak tentang keberagaman suku budaya di Indonesia.

Tujuanmu datang ke bagian barat Indonesia adalah untuk menuntut ilmu sebanyak dan sebaik-baiknya agar kamu bisa membawa perubahan bagi tanah kelahiranmu saat kembali ke rumah. Kedatanganmu di tanah rantau pun memberikan warna dan pandangan baru bagi orang-orang yang sebelumnya tak tahu bahwa mereka memiliki saudara setanah air dari belahan timur Indonesia.

Selain itu, kamu juga bangga bercerita pada orang-orang tentang kerinduanmu akan keindahan alam di daerahmu yang lengkap. Mulai dari keindahan laut, pegunungan, danau, dan sungai hanya bisa ditawar dengan kembali langsung ke sana, karena keindahan alam di tempat tinggalmu saat ini tidak bisa dibandingkan dengan di daerahmu berasal.

Itulah tadi beberapa hal yang mungkin dirasakan oleh kamu para pelajar yang merantau dari timur Indonesia. Apa kamu juga merasakan hal yang sama? 🙂