Pada faktanya, Fakultas Kedokteran — khususnya Jurusan Pendidikan Dokter– memang selalu menjadi primadona di setiap universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Para calon mahasiswa berbondong-bondong mendaftarkan dirinya ke Jurusan Pendidikan Dokter dengan beragam alasan : karena memang ingin jadi dokter, biar keren, asal aja karena bingung mau masuk jurusan apa, dan  disuruh orang tua (ini banyak!).

Ada beragam alasan yang jadi motif para calon mahasiswa untuk mendaftar ke Fakultas Kedokteran, tapi sayangnya masih banyak yang memilih untuk kuliah di jurusan ini tanpa memikirkan tentang proses-proses yang akan dihadapi selama menuntut ilmu di sini.

Nah, jika kamu adalah salah satu orang yang berniat untuk kuliah di Jurusan Pendidikan Dokter, berikut ini adalah beberapa informasi yang bisa menambah wawasanmu tentang jurusan yang termasuk favorit ini. Seperti apa sih proses pendidikan demi mendapatkan titel “Dokter” itu?

1. Masuk FK itu kombo susahnya. Biayanya mahal, kamu yang punya niat besar pun harus siap gagal

Cukup untuk beli mobil sejuta umat via rri.co.id

Fakta yang satu ini sepertinya sudah diketahui oleh masyarakat luas. Ya, orang tua harus menyediakan uang ratusan juta rupiah untuk menyekolahkan anak tersayangnya di Fakultas Kedokteran dengan harapan akan anaknya bisa lulus menjadi seorang dokter.

Advertisement

Fakta satu ini berlaku khususnya untuk universitas swasta, tetapi perlu diketahui apabila masuk FK di universitas negeri dengan jalur mandiri pun biayanya hampir sama hanya beda tipis.

Namun jika kamu bisa lolos seleksi melalui jalur SBMPTN, biaya untuk masuk di Fakultas Kedokteran masih terjangkau, tetapi ini juga tergantung pada kebijakan tiap-tiap universitas. Bukan cuma soal biaya saja, perkara persaingan masuk ke FK juga bukan perkara mudah. Saingannya bok….liat aja udah mules.

2. Demi bisa menyandang status mahasiswa Fakultas Kedokteran kamu harus siap bersaing dengan ratusan dan bahkan ribuan orang dari seluruh Indonesia

Bersaing dengan ratusan calon mahasiswa via birounmasdenpasar.blogspot.com

Hampir di semua universitas di Indonesia, Fakultas Kedokteran selalu masuk ke dalam 10 besar jurusan yang paling diminati. Udah pasti jumlah pendaftarnyapun bejibun. Terutama untuk Fakultas Kedokterna di universitas negeri, bersiaplah untuk bersaing dengan ribuan orang lainnya!

Tetapi bukan berarti masuk Fakultas Kedokteran di universitas swasta itu mudah dan cuma modal uang aja, lho! Masuk Fakultas Kedokteran swastapun harus menjalani rentetan tes yang nggak gampang. Terbukti banyak calon mahasiswa yang harus tes berkali-kali di FK swasta dan baru bisa keterima. So, adik-adik persiapkanlah dirimu sungguh-sungguh ya! 🙂

3. Kesenangan setelah berhasil diterima sebagai mahasiswa Pendidikan Dokter hanya bertahan sementara. Setelahnya ucapkan selamat datang pada kehidupan mahasiswa FK yang sesungguhnya

Selamat datang di dunia Kedokteran. via candidafkhub.blogspot.com

Jika sudah dinyatakan diterima sebagai mahasiswa FK negeri ataupun swasta, SELAMAT! Sesungguhnya perjuangan kalian barulah dimulai. Selama berkuliah di FK  setiap hari kalian akan dituntut untuk belajar dan ditemani dengan berbagai buku-buku dengan ketebalan yang berbeda-beda.

Mulai bersahabatlah dengan tumpukan buku-bukumu, karena merekalah yang akan membantumu untuk bisa melewati berbagai tantangan maupun rintangan selama menjadi mahasiswa Kedokteran!

Sudah diterima, kemudian bisa hidup dengan bahagia? Oh…tidak begitu ceritanya….

4. Berbeda dengan fakultas-fakultas lain pada umumnya yang menggunakan sistem KRS, di Fakutas Kedokteran menggunakan sistem BLOK.

Sistem blok via fk.unand.ac.id

Fakultas Kedokteran menggunakan sistem blok, jadi tidak ada yang namanya pengisian KRS seperti di fakultas-fakultas lain, karena mata kuliah yang akan kita ambil semua sudah ditentukan pihak kampus. Di dalam 1 blok terdapat bermacam-macam mata kuliah, dengan segala praktikum, tuga,s dan ujian yang berbeda-beda.

1 blok biasanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 bulan, dan bisa 7 kali atau bahkan lebih ujian yang harus dijalani,  dari mulai ujian praktikum, skills lab, ujian blok, dan belum lagi nanti ada presentasi dan lain-lain. Dan ini akan terus dihadapin sampe nanti sudah jadi dokter! Huaaaa… nikahin adek sekarang aja bang!

5. Model belajar Program Based Learning (PBL) membuatmu tidak bisa berleha-leha. Malas belajar sedikit, siap-siap saja mati kutu di depan teman satu kelompok

Model pembelajaran menggunakan PBL via elearning.yarsi.ac.id

PBL adalah diskusi terarah, kita belajar bersama dengan kelompok kecil dan juga didampingi oleh tutor pembimbing yang akan mengarahkan kita. Di PBL kita akan membahas kasus-kasus yang sering dijumpai di dalam dunia kedokteran.

Sebelum menghadapi PBL, pastinya otak kita harus sudah terisi dulu, karena jika disaat diskusi berlangsung kita hanya diam saja, tutor akan memberi nilai kurang. Setelah kita kupas kasus itu dari segala aspeknya, pertemuan selanjutnya kita diberi tugas untuk membuat makalah lalu mempresentasikannya.

PBL ini akan diakhiri dengan pleno. Dimana pada pleno 1, angkatan berkumpul dan jika kita kurang beruntung, kita harus mempresentasikan materi berdasarkan kasus yang kelompok kita bahas di hadapan para dosen pakar, moderator, dan juga teman 1 angkatan. Presentan akan dipilih secara acak oleh moderator, jadi untuk berjaga-jaga sebelum pleno pun kita harus  BELAJAR (lagi, lagi, dan lagi),

6. Dalam Skills Lab (SL), kamu akan belajar dan berakting menjadi seorang dokter yang sesungguhnya.

pura-pura jadi dokter yang sesungguhnya via fk.unand.ac.id

Di SL ini kamu akan belajar tentang ketrampilan-ketrampilan untuk menjadi seorang dokter, dan disaat ujian kita berpura-pura sudah menjadi dokter.

Jadi, nanti diujiannya ada dokter dan pasien simulasi yang datang dengan keluhan-keluhan, lalu kita harus beraksi entah cek tekanan darahnya atau mungkin harus ada yang dicek dengan cara diinspeksi (lihat), palpasi(sentuh), perkusi (ketuk), auskultasi (dengar), lalu nanti diakhir kamu juga harus memberikan resep obat kepada pasien. Semua ini dilakukan dengan waktu yang sangat minim, waktu yang minim ini melatih kita untuk menjadi dokter yang sigap!

Lalu,ketrampilan-ketrampilan seperti sirkumsisi(sunat), antropometri, dan lainnya juga kita pelajari di SL ini. Dan untuk ujian SL, kamu nggak boleh nggak belajar, kamu benar-benar harus BELAJAR!

7. Setelah melewati ujian SL, kamu akan menghadapi yang namanya Objective Structure Clinical Examination (OSCE).

Ujian OSCE via www.unpad.ac.id

Ujian OSCE ini adalah kumpulan dari semua ujian SL yang sudah dipelajari selama beberapa semester. Prinsipnya sama dengan ujian SL, tetapi jika ujian SL kita hanya mempelajari 1 kasus yang memang sedang kita pelajari di blok tersebut, dalam ujian OSCE kita tidak tahu kasus apa yang akan diuji, jadi mau tidak mau kita harus kerja lebih ektra lagi untuk mempelajari semuanya!

Patinya kamu nggak boleh males untuk BELAJAR! Kenapa harus serius dan benar-benar belajar, karena kalau tidak lulus, kamu harus ngulang lagi, bayar SPP lagi, keluar uang lagi! 🙁

8. Setelah kamu berhasil lulus jadi dokter muda, kamu masih harus melanjutkan perjalananmu untuk menjadi dokter yang sesungguhnya melalui KOAS!

KOAS dulu baru sah jadi dokter! via fk.unand.ac.id

Jika sudah lulus menjadi Sarjana Kedokteran (S.Ked) yang biasa ditempuh paling cepat 3,5 tahun, mahasiswa kedokteran harus mengikuti KOAS di rumah sakit dengan berbagai stase.

Contoh stase yakni anak, kulit kelamin, mata, penyakit dalam, dan lain-lain. Setiap stasenya ada ujian, presentasi, dan lain-lainnya juga, yang pastinya  kamu juga masih harus belajar juga setiap harinya. Oh iya, konon katanya di KOAS ini banyak mahasiswa yang menemukan pasangannya, lho! 😀

9. Setelah lulus jadi dokter pun perjuangan belum berhenti. Kamu masih harus berhadapan dengan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI)!

Ujian Kompetensi Dokter Indonesia via ndinandina.wordpress.com

Selesai mengikuti KOAS selama 1,5 tahun (kalau lancar dan tidak ada halangan),  mahasiswa Fakultas Kedokteran masih harus menghadapi Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang akan menentukan kelulusan dan kelayakannya untuk menjadi dokter. UKDI ini semacam UAN, dan pastinya harus BELAJAR BANGET!

Setelah lulus UKDI, seorang dokter juga masih wajib untuk mengikuti internship selama satu tahun, barulah kemudian bisa mendapatkan Surat Izin Praktik (SIP). SIP ini digunakan sebagai bukti bahwa kamu sudah layak dan bisa membuka praktik secara resmi untuk mengobati para pasien.

Oh iya,  walau sibuk dengan kuliah, anak FK juga tetap harus bersosialisasi. Bergabung dengan kegiatan sosial guna mengasah jiwa empati, sehingga nanti kita bisa menjadi dokter yang memiliki rasa empati yang tinggi.

Semangatlah calon mahasiswa kedokteran, semangat calon teman sejawat! Jika memang cita-cita kalian untuk menjadi seorang dokter kejar dan berusahalah! Jangan khawatirkan tugas, ujian dan apapun rintangannya, kalian pasti akan mampu melewatinya! 🙂

Mau menulis untuk Hipwee? Yuk, kirimkan karya tulisanmu ke redaksi Hipwee! Untuk informasi lengkapnya, silakan mampir ke sini!