Menjadi travel blogger adalah impian banyak orang saat ini. Rasanya ada kenikmatan tersendiri jika tulisan mengenai perjalanan kita bisa dibaca banyak orang. Syukur-syukur pembaca mendapatkan sesuatu yang berguna dari tulisan kita.

Tapi ingat, tak semua orang bisa mendapatkan informasi jalan-jalan lewat blog. Walaupun gegap-gempita media online kian mewabah, media cetak tetap punya pasar tersendiri, begitu juga rubrik jalan jalan di majalah/koran yang tidak pernah sepi peminat.

Bagi saya, melihat tulisan tersendiri di media cetak nikmatnya dobel karena untuk men-gol-kan tulisan, kita perlu berkompetisi dengan ratusan orang lainnya. Belum lagi ditambah honor jika tulisan kita dimuat.

Apakah kamu berambisi menerbitkan tulisannya di majalah? Atau malah kamu sudah patah hati karena tulisannya nggak pernah direspon editor? Simak tips saya ini yuk!

1. Tentukan media cetak apa saja yang jadi target incaranmu, dan ikuti semua tata cara pengiriman naskah telah yang mereka tentukan

Tentukan media cetak incaranmu (dok. pribadi) via Hipwee.com

Advertisement

Buat daftar media cetak yang ingin kamu sasar beserta kontak info serta tata cara pengiriman yang mereka inginkan. Sedapat mungkin mematuhi permintaan mereka supaya naskah kita tidak terkena eliminasi.

Bagi yang belum berpengalaman, ada baiknya pertama-tama mengirimkannya ke media yang tidak terlalu ngetop, seperti koran atau tabloid lokal karena saingannya lebih dikit dan tentunya standar yang mereka terapkan belum terlalu tinggi.

Tetapi jika kamu yakin artikelmu sangat layak dan cukup menarik untuk diterbitkan di majalah atau koran ternama yang oplahnya nasional, jangan ragu untuk mengirimkan karya tulismu!

2. Kamu wajib kepoin habis-habisan media cetak tersebut. Cari tahu bagaimana gaya bahasa dan jenis tulisan seperti apa yang mereka sukai

Kepoin habis-habisan via commons.wikimedia.org

Disarankan untuk membeli koran atau majalah yang ingin kamu kirimi tulisan. Dengan begitu kita bisa mengira-ngira jenis tulisan apa yang cocok dikirimkan ke majalah atau koran tersebut, dan juga ada rubrik apa saja yang tersedia.

Bisa sih mencari info ini lewat website atau media sosial mereka, tetapi ada beberapa media yang tak punya websitenya atau hanya menyediakan info tersebut di edisi cetaknya. Siapa tahu ada kuis atau lomba menulis dari mereka yang dapat kita ikuti, dan syukur-syukur kalau menang bisa membuat kita selangkah lebih maju.

Jika tak punya uang atau malas membelinya, mampir saja ke toko buku yang rela kita tongkrongi berjam-jam buat baca gratisan! 🙂

3. Ingatlah, kamu menulis untuk para pembaca dari media tersebut. Posisikan dirimu selayaknya seorang editor yang sudah paham dengan para pembacanya

Posisikan dirimu seperti seorang editor via imgkid.com

Bepikirlah layaknya kamu seorang editor in chief, dimana kamu harus memprioritaskan pembaca. Siapa yang akan membaca tulisan ini? Berapa usianya? Apa pekerjaannya dan gaya bahasa apa yang digunakan. Jika mengirimkan untuk rubrik travel untuk majalah lifestyle wanita muda, pakai bahasa ringan dengan foto-foto yang cute dan mempesona.

Tapi kalau kamu ingin mengirimkan untuk majalah yang dibaca oleh kalangan bapak, ibu, atau orang yang telah berkeluarga, masukkan tips-tips berwisata bersama anak, atau kegiatan apa yang dapat dilakukan ketika berwisata di suatu destinasi.

Dengan ini, dijamin tulisanmu bisa lebih lebih memikat dan telah memenuhi kebutuhan informasi untuk media yang jadi incaranmu. Tidak ada alasan lagi bagi mereka buat menolak ceritamu!

4. Fokuslah menulis hanya pada satu jenis media cetak saja, supaya kamu bisa berkonsentrasi menulis dengan gaya bahasa yang sejenis

Fokus pada satu jenis media cetak via www.hercampus.com

Untuk awal mulanya, saya sarankan untuk fokus menulis hanya pada satu media cetak saja dulu, agar gaya bahasa serta informasi untuk pembacanya sesuai dengan media tersebut. Misalnya, jika kamu menulis untuk majalah, tentu akan berbeda jika kamu menulis untuk koran.

Kalau kamu mencoba menulis untuk beberapa jenis media sekaligus, gaya bahasa yang kamu pakai bisa saja tercampur-campur sehingga bisa mengurangi kualitas tulisanmu.

5. Perhatikan tulisan-tulisan seperti apa yang menjadi favorit media cetak tersebut, lalu buatlah artikel yang unik dan sesuai dengan seleranya

Buat artikel yang sesuai dengan seleranya via fathomaway.com

Tulisan menarik tentu saja sangat subjektif. Tergantung yang bacanya. Nah lebih bagus lagi kalau kita tahu siapa editor yang akan membaca dan menyeleksi tulisan kita. Dengan begini kita tahu selera mereka. Misalnya untuk tulisan perjalanan apakah mereka suka yang one day trip, tips perjalanan, atau travel journal.

Selain itu, tidak perlu minder jika tulisan perjalanan kita hanya berkisar dalam negeri. Masih banyak kok media-media yang lebih suka menerbitkan destinasi wisata dalam negeri karena lebih aplikatif dan bisa diikuti oleh para pembacanya. Lagipula, masih banyak juga sudut-sudut negeri ini yang belum terjamah.

Hanya saja kita harus panda-pandai mengangkat sebuah tema yang memang jarang diberitakan. Jika pun ingin menulis tentang Bali lagi, coba riset dulu artikel seperti apa yang pernah dimuat, dan apa yang belum sehingga bisa jadi ide artikel anda berikutnya juga.

6. Rajin-rajinlah mengecek kalender di rumahmu dan cari hari atau momen spesial yang mempunya nilai informasi yang tinggi. Ini bisa jadi ide bagus untuk tulisanmu!

Rajin mengecek kalender via ircprep.tumblr.com

Lebaran, Natal, Imlek adalah salah satu perayaan hari besar di Indonesia yang selalu punya nilai berita yang menarik jika diulas. Media cetak pastinya tidak akan melewatkan momen-momen penting semacam ini. Mereka pasti membutuhkan tulisan yang berhubungan dengan perayaan-perayaan besar yang sedang dirayakan oleh banyak orang.

Hal ini juga tentunya jangan disia-siakan. Jika kamu dapat menulis tentang tradisi mudik di kotamu atau perayaan khusus natal, maka kamu punya peluang yang cukup besar. Tapi tentunya kamu harus bisa mengemasnya dalam benuk tulisan yang berbeda dan tidak klise.

Hal ini tentunya harus dipikirkan baik-baik beberapa bulan sebelumnya, dan minimal mengirimkannya sebulan sebelum hari H momen-momen besar tersebut.

7. Punya foto bagus bukan jaminan pasti tulisanmu bakal dimuat kok. Meskipun foto jepretanmu cuma amatiran, yang terpenting adalah kualitas kontennya

Yang penting kualitas konten via www.photographytalk.com

Tak punya foto bagus? hanya bisa menjepret dengan kamera saku? Nggak terlalu bermasalah. Memang dengan keterbatasan ini tentu kamu tak bisa mengirimkannya ke rubrik khusus yang menonjolkan fotografi. Tetapi selama kamu punya cerita menarik, masalah foto bisa teratasi kok.

Beberapa tulisan saya kerap menggunakan gambar yang dibeli dari website berbayar. Kamu juga bisa kok mengirimkan 3-4 foto dengan low resolution terlebih dahulu agar tidak memberatkan email.

8. Baik media cetak maupun online sangat menyukai hal-hal yang baru dan orisinal. Jangan terburu-buru mempublikasikan karya tulismu ke blog pribadi

Jangan dimasukin ke blog dulu via themenulled.net

Hal ini dimasukkan untuk menjaga orisinalitas tulisan. Jika terlanjur, masukkan kembali ke draft. Biasanya media cetak dan media online lebih menyukai tulisan yang fresh dan belum banyak orang ketahui. Tentu mereka tak mau bersaing dengan tulisan tersebut dengan blog milikmu.

Bisa saja menampilkan destinasi yang sama tetapi dengan konten dan angle yang berbeda. Misalnya kamu jalan jalan ke Jambi, naskah tulisan yang anda kirim ke media adalah tentang Komplek Percandian Muara Jambi. Lalu boleh kok di blog anda membahas tentang candi terluas se-Asia tenggara ini dari segi eksistensinya bagi umat budha.

It’s hard but its worth it! Dengan rajin mengirimkan tulisan ke media-media bisa mengasah bakat menulismu. Saat tulisanmu bisa dimuat dan dibaca banyak orang, kamu pun akan lebih terpacu lagi untuk terus berkarya. Melalui tulisanmu, kamu bisa berbagi gal-hal yang bermanfaat kepada banyak orang. Ayo mari kita gempur media media tersebut dengan cerita-cerita kita yang menginspirasi. SEMANGAT!