Setiap hari kita menciptakan persepsi tentang hal-hal yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Tentu ini wajar. Yang jadi masalah adalah saat persepsi ini dibentuk oleh informasi-informasi yang salah dan dangkal. Akibatnya, tercipta stereotip yang kurang tepat dan bisa merugikan orang di sekitar kita.

Sadar ataupun tidak, kita terkadang — sering, bahkan — menilai seseorang yang baru kita temui dari stereotip tentang daerah asal mereka. Jika tidak terkontrol, hal ini bisa jadi bentuk penghakiman, diskriminasi, dan rasisme, lho!

Berikut ini adalah pengalaman dan juga pendapat dari kamu yang sering menerima anggapan aneh, unik, lucu hingga menyakitkan hanya karena stereotip dari daerah asalmu. Stereotip apa saja itu? Simak, yuk!

Jakarta dan Bekasi

Anak gaul Jakarta via www.riaupos.co

“Tukang kawin dan pemalas, begitu kata mereka saat mendengar aku orang Betawi. Padahal nyatanya sama sekali gak begitu. Orang Betawi jarang ada yang mau keluar dari kota tempat tinggalnya, bukan berarti malas. Dan kalau kebetulan ada yang nikah lebih dari satu kali, bukan berarti mereka tukang kawin toh?”

Eaf, 36 th, Jakarta

“Anak Jakarta sering dibilang gaul, sombong, banyak gaya, nggak pedulian. Biasa sih, orang-orang suka berpandangan negatif kayak gitu mungkin karena Jakarta kota metropolitan. Itu sih belum kenal aja sama kita.”

Mike, 24 th, Jakarta

“Orang berpandangan kalau orang Bekasi (mereka anggapnya Bekasi itu bagian DKI Jakarta) itu kaya, rumahnya gedongan, gaul, doyan shopping dan ngerti merek-merek ternama. Mereka anggep kami perusak budaya lokal. Karena pemakaian kata lu-gue di anggap sangat kasar dan tidak santun.”

Benny R. A Lubis, 23 th, Malang

Bali

Advertisement

Gadis bali pasti pandai menari via ayotradefx.com

“Kata “Bali” akan dikaitkan dengan wanita berambut panjang dan bisa menari. Padahal gak semua perempuan Bali kaya gitu. Hidupku jauh dari kehidupan Bali yang sebenarnya, dan aku tidak tertarik untuk belajar menari. Orang-orang gak bisa men-judge orang lain cuma karena dia berasal dari satu daerah..”

Ayu Jessy, 22 th, Cimahi

“Saya dari Bali, tepatnya Denpasar. Yang lucu itu, ada dua pandangan kontras tentang Bali yang datang dari orang Indonesia dengan orang luar negeri. Kalo orang Indoneisa, seringnya nyebut Bali sebagai kota! Tapi kalo orang Eropa atau Amerika, banyakan ngira kalo “Bali is a country!” dan kepisah sama Indonesia. Parah!”

Linda, 19 th, Denpasar

Bandung

Orang Bandung itu ganteng-ganteng dan cantik-cantik via www.hulkshare.com

“Kata orang: “Kamu dari sana? Pasti disana lebih adem yah, tapi sinyalnya pasti susah. Soalnya aku juga punya nenek yang tinggal disana dan aku tidak begitu betah dengan sinyal di sana.” Kataku, tidak ada yang lebih indah dari tempat asalku. Dan bila mendengar orang tidak menyukai desaku, aku tak terlalu menanggapinya.”

Byw, 23 th, Bandung

“Mereka akan bilang “Iya atuh, kumaha, damang?” dengan logat Sunda yang diperhalus. Biasanya teman-teman di kampus pasti tiba-tiba berbicara dengan halus dan sangat sopan. Namun, stereotip lain dari dosen saya, perempuan Bandung itu suka dandan dan makan daun. Ya, memang lalapan itu enak, tapi bukan daun juga. Dan tidak ada salahnya untuk enak dipandang dan berdandan, ‘kan?”

Sandra, 21 th, Bandung

“Paling sering dibilang kalau orang-orang Bandung itu ganteng dan cantik-cantik, kulitnya putih-putih dan mulus. Itu mungkin karena banyak artis dari Bandung yang terkenal dan pas kebetulan mereka emang pada cantik/ ganteng. Tapi cantik gak nya itu tergantung nasib aja sih, hehehe… Kalau dibilang ganteng syukur alhamdulillah! Aminin aja yang baik. Kalau anggapannya jelek, ya tinggal dikasih tahu aja kalau mereka salah.”

Aldi, 26 th, Bandung

Nusa Tenggara Timur

Orang dari NTT nggak semua berkulita gelap dan berambut keriting via sosbud.kompasiana.com

“Kulit hitam, rambut keriting, kalau bicara suka cepat kayak dikejar setan, suaranya keras, dialek yg terdengar aneh, daerah gersang dan kekurangan air, lalu dengan gaya bicara salah satu iklan “sumber air su dekat”.

Hanya karena salah satu iklan di TV , kami langsung di-judge demikian. Saya cuma mau bilang bahwa tidak semua itu benar. Tidak semua orang NTT kulit hitam dan rambut keriting. Saya selalu menanggapinya dengan santai. Hahah…lucu juga sih, karena rata-rata pada terkejut jika bertemu kami yang adalah anak NTT, namun tidak seperti bayangan mereka. ”

Dolly Reinhart, 23 th, Kupang

Palu

Selalu dikaitkan dengan kerusuhan Poso via metro.news.viva.co.id

“Kami yang berasal dari Sulawesi sering dianggap perusuh, sadis, dan mudah tersinggung (karena kasus tragedi Poso). Yang sering saya dapatkan adalah pertanyaan tentang keadaan Poso dan sekitarnya. Mereka menganggap daerah kami adalah tempat yang harus dihindari.

Padahal keadaan sekarang sudah sangat kondusif, tak ada lagi yang perlu ditakutkan. Kami sama dengan warga Indonesia lainnya yang cinta damai. Mungkin kami tak sebaik yang kalian ucapkan, tapi kami tak seburuk seperti yang terlintas di pikiran kalian.”

TJ, 22 th, Palu

Sumatera Utara (Batak)

Orang batak selalu dikira keras dan suka marah-marah via anissyahirahtimeline.blogspot.com

“Kalau orang tahu saya orang Batak, pasti mereka menganggap saya jutek, gampang marah, dan keras. Padahal gak semua orang Batak seperti itu. Kami juga manusia. Saya wanita yang punya perasaan halus. Hanya karena kami bersuara keras bukan berarti kepribadian kami keras.

Namun yang terpenting bagi adalah bagaimana cara kita merespon penilaian itu. Kita gak bisa mengontrol pikiran dan pendapat orang lain, yang bisa kita lakukan adalah tetap menjadi diri sendiri dalam versi terbaik.”

Meilyanti, 26 th, Bandung

“Katanya suka marah-marah. Padahal kan emang bahasa kami aja yang agak kaku dan suara yang besar. Nasib jadi orang Batak, hehehe…”

Eva, 21 th, Sibolga

“Sering dibilang galak dan keras kayak preman di Pasar Rebo sama teman-teman. Biasa aja sih, saya tahu mereka cuma bercanda. Tapi ada untungnya juga, mereka jadi nggak berani macem-macem sama saya. Yang penting kita nggak macem-macem dan jaga attitude aja sih, mereka bakal paham sendiri kok nanti.”

Aldo, 25 th, Jakarta

Batam

Batam banyak barang black market via indolah.com

Black market, barang elektronik murah, tapi biaya hidupnya mahal.”

Ella, 29 th, Batam

“Kalau mau pulang ke Batam, banyak banget yang mau nitip handphone black market. Ada juga yang bilang kalau orang Batam pasti sering ke Singapura gara-gara jaraknya deket banget. Hahaha.. suka kaget kalau dititipin barang black market. Aku aja nggak mau beli, eeehh.. ini malah pada mau gara-gara harga murah. Aku sih ogah banget beliin barang selundupan gitu… Aneh banget!”

Shelly, 26 th, Batam.

Padang

Orang padang selalu dibilang pelit via nibrasengarde.wordpress.com

“Orang Padang ya? Jago masak dong! Padahal — apapun itu — soal jago atau gak jagonya kita dalam sesuatu hal, kembali lagi pada diri kita sendiri.”

Syara, 23 th, Padang

“Pandangan negatif yang sudah beredar adalah daerah yang hampir setiap penduduknya memiliki ilmu hitam. Karena itu membuat orang yang baru kita kenal menjaga jarak dari kita. Entah itu diajak ngobrol ataupun bercanda dengan kita.”

Dea, 20 th, Padang

“Sering banget dibilang pelit dan nggak mau rugi. Karena banyak orang Padang yang merantau ke Jawa buat berdagang, kami sering dibilang gitu deh. Otak dagang lah, pelit lah, nggak mau rugi lah, perhitungan lah! Sebel sih kalau di-judge kayak gitu, tapi yaudahlah.. terserah mereka. Tunjukin aja kalau kita bukan orang Padang yang seperti mereka pikirkan.”

Fadhil, 25 th, Padang

Surabaya

Orang Surabaya sering dibilang kasar via www.hipwee.com

“Aku berasal dari Surabaya, kota terbesar ke-2 di Indonesia. Tapi orang Medan menganggapku orang ndeso. Surabaya rindang, bersih, orangnya gerak cepat, gak cocok langsung bilang. Jangan samakan dengan orang dari daerah Jawa lain hanya karena aku gak bisa ngomong pelan.”

Fransisca, 28th, Surabaya

“Kalau ngomong kasar, suka misuh (mengumpat, red.), kulitnya item, dekil, suka keringetan…banyak deh! Surabaya emang panas, tapi nggak semua orang terus jadi item, kan? Heran juga sih sama orang-orang yang masih punya pandangan kayak gitu. Anggep aja lucu-lucuan, toh kalau mereka udah kenal baik pasti sadar kok kalau anggepan mereka dulu salah. heheh..”

Deny, 25 th, Surabaya

Yogyakarta

Katanya orang jogja itu klemar-klemer via www.hipwee.com

” Suka ngomong di belakang dan gak terus terang. Ngomong di belakang adalah cara untuk tidak menyinggung dan mencari tahu apa yang sebaiknya kita lakukan. Itu adalah cara untuk menghindari konflik. Walaupun terkesan berbelit-belit, itu adalah cara yang diambil agar kita bisa menyampaikan sesuatu dengan lebih halus.”

Farinadila, 22 th, Yogyakarta

“Setiap kali orang tau aku dari Jogja, kebanyakan orang bakal kasih komentar kayak gini: klemar-klemer (lelet), ngomongnya pelan-pelan, kalem, sukanya makan gudeg. Padahal orang Jogja nggak gitu juga kali… Nggak semua orang Jogja klemar-klemer dan setiap hari makan gudeg. Hahaha.. komentar-komentarnya emang suka nyeleneh. Saya sih ketawa aja, jadi lucu malahan.”

Nandiwardhana, 28 th, Yogyakarta

Tegal

Orang Tegal dikenal dengan bahasa ngapaknya

“Ngapak! Tegal terkenal dengan bahasa ngapak yang ‘aneh’ dan terdengar lucu. Bahkan ada yang tega ngomong: “wah, cantik-cantik/ganteng ngomongnya ngapak, jadi ilang deh cantik/gantengnya. But, honestly i am proud of coming from Tegal. Orang gampang inget kita karena ‘beda’. Kenapa harus malu? To be yourself is the best thing in the world.”

Tantri, 22 th, Tegal

Nah, itulah tadi beberapa pengalaman dan opini mengenai stereotip kedaerahan di Indonesia. Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini? Apakah kamu sering berpikir stereotipikal juga? Apakah kamu juga punya pengalaman serupa seperti di atas? Kalau kamu punya, tunggu apalagi? Bagikan pendapat dan pengalamanmu di kolom komentar, ya!

(Catatan Editor: Agar lebih mudah terbaca, opini-opini di artikel ini telah kami sunting. Kami berhati-hati agar tidak sampai mengubah pesan yang ingin disampaikan tiap opini. Kami juga ingin berterima kasih kepada seluruh pembaca yang telah bersedia mengirim opini mereka. Sampai jumpa di artikel opini pembaca yang selanjutnya!)