Dulu Hipwee pernah menulis tentang serba-serbi kehidupan arek-arek Jawa Timur, nah, jadi kenapa kali ini kita tak berfokus saja pada penduduk Surabaya, ibukotanya? Arek-arek Suroboyo pasti punya segudang cerita unik dan ‘nyeleneh’ mengenai kehidupan mereka!

Di dalam artikel ini, Hipwee telah merangkum jawaban-jawaban dari arek-arek Suroboyo secara langsung tentang sisi menarik dari hidup mereka. Gimana sih rasanya jadi arek-arek Suroboyo itu? Apa tanggapan orang lain ketika pertama kali mendengar kota asalmu? Nggak usah panjang lebar deh, langsung baca aja yuk rek!

1. Asalmu sudah langsung bisa diketahui dari logatmu. Medhoknya Arek Suroboyo itu khas banget deh!

Pernah dengar Anang dan Dhani ngobrol? via www.cumicumi.com

“Kita sebagai orang Jawa Timur punya aksen bahasa Jawa yang beda dari orang Jawa yang lain. Jadi dimanapun kita berada, kalo denger orang dengan aksen medhok khas Jawa Timuran, pasti langsung berpikir “Hmm.. Suroboyo iki…

Yuli, 22, Jakarta

Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta boleh sama-sama berbahasa Jawa, tapi yang namanya daerah pasti punya ciri khas bahasa dan dialek yang berbeda. Jangankan dengan Jawa Tengah atau Yogyakarta, yang sama-sama dari Jawa Timur aja bisa beda logat dan aksen bahasanya.

Advertisement

Aksen Suroboyoan adalah aksen yang paling identik dengan Jawa Timur. Kalau kamu mau tahu gimana cara mudahnya membedakan antara bahasa Jawa ala Suroboyoan dan Jawa Tengah atau Jogja, perhatikan dari kata sapaannya saja!

Yogya: Cah-cah Jogja (Anak-anak Jogja)

Surabaya: Arek-arek Suroboyo (anak-anak Surabaya)

2. Tapi karena logat Suroboyoanmu itu, kamu sering dibilang kasar dan ceplas-ceplos!

Ngmongnya ceplos-ceplos dan kasar via www.hipwee.com

“Dianggep kasar. Emang sih logat ngomongku kasar, tapi ‘kan hatiku Hello Kitty…”

Fitria Handayani Meilanasari , 25, Surabaya

“Orang asli Suroboyo kalo ngomong suka nyeplos!”

Mochamad Nurchasan, 19, Surabaya

Bahasa Jawa selalu diidentikkan dengan bahasa yang sopan, halus,kalem, dan pelan-pelan layaknya Putri Solo. Padahal ya nggak juga. Buktinya arek Suroboyo kalau ngomong ceplas-ceplos, cepat, nyaring, dan (kedengarannya) kasar.

Tak jarang kamu jadi sering dibilang Jawa kasar karena cara bicaramu yang ceplas-ceplos. Padahal belum tentu memang kamu orangnya kasar!

Arek Suroboyo juga bisa ngomong bahasa Jawa halus. Sama seperti bahasa daerah lainnya kok, ada kasar dan halusnya. Kalau lagi ngumpul bareng teman-teman pasti bahasa yang digunakan yang kasar, tapi kalau udah berbicara kepada orang yang lebih tua, sudah pasti tahu diri menggunakan bahasa Jawa halus!

3. Ada satu kata yang bisa mewakili puluhan emosi yang kamu miliki: “JANCUK”!

jangan kaget, jancuk itu cuma ekspresi via vanzimi.wordpress.com

“Tiap kali ngeluarin kata mutiara asli Suroboyo, kayak “jancuk”, nyapa temen pake “cuk”, dikirain nantang. Padahal bercandaaaa.”

Theresia, 20, Surabaya

“Tiap hari denger “Cak-cok”nya Suroboyo braayyy… woohhoo udah jd bahasa sehari-hari..”

Lithania Intan, 19, Surabaya

Jangan kaget dengan kata sakti yang satu ini. Bagi arek-arek Suroboyo, ‘jancuk” itu punya beribu-ribu makna!

Manggil teman = Woy cuk… ayo melok aku yo mlaku-mlaku nang TP!

Bercanda = Jiancuk…. ndagel ae koen rek! Ojo ngguyu ae koen!

Marah = Arek iku pancen jancuk!

Berantem = “Ojo mlayu koen, cuk! mrene lek wani ayo gasak’an karo aku!

Bahagia = Cuk cuk… Arek wedok iku ayune gak nguati rek!

Ya.. Jancuk itu punya banyak makna bagi arek-arek Suroboyo. Dari sedih, marah sampai bahagia pun nggak afdol rasanya kalau nggak sebut kata “Jancuk”. Kalau mau menafsirkan makna di balik kata jancuk yang terucap pada mulut Arek Suroboyo, apakah “jancuk positif” atau “jancuk negatif”, kamu wajib melihat ekspresi wajah dan intonasi suaranya.

Jadi jangan keburu menilai jelek kata jancuk, karena jancuk bisa memang berarti jelek, bisa juga sebagai simbol persaudaraan/ persahabatan bagi Arek-arek Suroboyo! 🙂

4. Permasalahan semua orang Jawa itu sama: dibilang medhok dan ndeso. Apalagi kalau kamu biasa ngomong po’o, opo’o, se, tah, a ala orang Suroboyo.

Opo’o rek karo boso Suroboyoan? via www.hipwee.com

“Sering banget dikatain omonganku medok. Kata orang-orang, aku medok dan ndeso banget waktu bilang “opo’o? Iyo a?” (artinya: kenapa? Iyakah?).”

Nita Felianda, 21, Yogyakarta

“Kata yang paling aneh bagi orang lain itu “po’o”.”

Muhammad Alif Hamonangan, 18, Surabaya

Gimana nggak mau medhok? Namanya juga bahasa daerah yang sedari kecil sudah akrab di lidah. Tapi bagi orang-orang yang masih asing dengan Suroboyoan, ada beberapa kata atau imbuhan yang terdengar sangat menggelikan di telinga mereka, yaitu: po’o, opo’o, se, tah, dan a.

“Opo’o seh rek karo bosoku? (Kenapa sih dengan bahasaku?)

“Lho, iyo tah? Mosok seh?” (Lho, iya kah? Masa sih?)

“Awakmu gelem a melok aku?” (kamu nggak ikut aku?)

“Heh koen, tangio diluk po’o!” (heh kamu, bangun sebentar kenapa!)

Bahkan orang Jogja atau Semarang yang sama-sama berbahasa Jawa pun bisa merasa aneh mendengar kata-kata tersebut. Padahal, kata-kata imbuhan ini nih yang jadi ciri khas aksen bahasa Suroboyoan!

5. Arek Suroboyo itu juga doyan ngelawak, lho! Lawakan mereka jauh lebih lucu dibanding lawakan di TV!

Dibalik kata kasarnya terselip arti yang lucu via entertainment.kompas.com

“Guyonan Suroboyoan itu lucu-lucu deh. Meskipun kedengarannya kasar, tapi itu lucu. Asal jangan dimasukin ke hati aja..”

Nia, 25, Yogyakarta

Nggak cuma Urang Sunda yang jago melawak. Arek-arek Suroboyo juga punya sisi humor yang sangat tinggi lho. Meskipun humornya terdengar kasar, tapi memang begitulah ciri khas lawakan Suroboyoan, bahasanya kasar dan tanpa basa-basi. Dalam setiap percakapan seringkali diselipi leh kata-kata yang kasar tapi bermakna lucu, sepert:

Arek Suroboyo kalau nyebut istilah banyak banget = taek ndayak

“Walah.. sing numpak sepur sak taek ndayak!”

(Walah.. yang naik kereta banyak banget)

Kalau udah lama nggak ketemu teman…

Koen nang endi ae rek? Wes suwi gak ketemu! Jek urip tah koen? Tak kiro wes 100 dinoan!”

(Kemana aja lo? Udah lama nggak ketemu! Masih hidup lo? Gue pikir udah 100 harian!)

Kalau lagi ada cowok ganteng atau cewek cantik…

“Mbook mbokk mbookk.. arek iku ngguuuuantenge rek! Bapak’e mbien sunate nang endi iku?”

(Beuhh… cowok itu kok ganteng banget! Bapaknya dulu sunat dimana tuh?”

“Jancuk.. arek wedok iku ayune rek, mentolo tak gowo moleh ae!”

(Gila… cewek itu cantik banget, jadi pengen bawa ke rumah aja deh!)

6. Ngobrol sama teman dari Jogja atau Jawa Tengah nggak jarang bakal dibumbui salah paham

Meski sama-sama jawa, belum tentu sama via iwan-hafidz.blogspot.com

“Arek Suroboyo: tugasmu wis mari? (Tugasmu udah selesai?)

Wong Jogja: hey, tugas kok mari. tugas iku ora lara. (Hey, tugas kok sembuh. tugas itu nggak sakit)

Arek Suroboyo: *ndongkol*”

Mahy, 20, Malang

Ya.. begitulah kira-kira ketika arek Suroboyo bertemu dengan Wong Jogja. Sama-sama Orang Jawa, belum tentu sama semua-muanya. Ada banyak kosa kata bahasa Jawa Timuran dan Jawa Tengahan yang sangat berbeda arti. Pada percakapan di atas, bagi arek Suroboyo, “wis mari” itu berarti sudah selesai, sedangkan bagi Wong Jogja, “wis mari” itu berarti sudah selesai sakit.

Karena perbedaan itulah kadang seringkali terjadi kesalahpahaman. Tapi kesalahpahaman seperti kejadian yang dialami oleh pembaca itu malah justru jadi hal-hal unik dan lucu! Memang ya, Indonesia itu kaya akan bahasa dan buadaya! 🙂

7. Selama orang-orang tahu kamu Arek Suroboyo, kamu pasti bakal dikira BONEK MANIA!

Pasti dikira bonek via news.okezone.com

“Kalau kenalan gitu pas aku jawab asli Surabaya pasti dianggap bonek. Padahal meski aku arek Suroboyo, aku gak pernah ikut-ikutan bonek.”

Fitria Handayani Meilanasari , 25, Surabaya

Arek Suroboyo pasti dikira pendukung setianya klub bola Persebaya, alias Bonek Mania. Setiap kali berkenalan dengan orang baru, dan dia tahu kamu orang Surabaya, entah kenapa kamu selalu dianggap sebagai seorang bonek garis keras. Duh rek.. rek.. yok opo iki rek? :p

8. Mau suka bola atau nggak, kamu bakal takut pakai kendaraan plat L di kota rival Persebaya.

Mending nebeng temen aja via beritabolajatim.blogspot.com

“Waktu merantau ke Malang yang notabene kotanya Aremania, sering di-bully sama temen-temen. Sampe-sampe kalo Aremania lagi ada pertandingan, aku ga berani keluar. Kalaupun mau keluar kosan, kudu minta jemput temen yang platnya bukan plat “L”.”

Rindri Andewi Gati, 21, Surabaya

Gak cuma harus terima dibilang bonek, tapi kamu juga harus bersabar saat kamu merantau ke kota yang menjadi rival abadi Persebaya, yaitu Malang yang menjadi markas klub Aremania. Kamu harus rela pergi tanpa menggunakan motor atau mobil pribadimu yang menggunakan plat nomor Surabaya.

9. Saat merantau, kamu berharap teman-temanmu bakal tanya apa yang indah dari Surabaya. Eeeh mereka malah nanya: “Rumahmu sebelah mananya Gang Dolly?”

Ditanyain gang dolly via simomot.com

“Hampir semua temen yang tahu asalku pasti nanya, “Rumahmu sebelah mana-nya Dolly?” Sewot ‘kan, jadi aku bilang aja: “Belakang rumah ada jalan tembus ke Dolly, kenapa? Mau mampir?””

Rindri Andewi Gati, 21, Surabaya

Surabaya itu Kota Pahlawan, tapi kenapa orang-orang lain malah sering nanyain lokasinya gang Dolly?!?!?! Ya, tapi nggak bisa dipungkiri juga sih kalau di Surabaya sempat ada tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Walaupun sekarang sudah ditutup, namanya masih melegenda~

10. Surabaya itu nggak jauh beda sama Jakarta. Kota besar, macet, dan puaaaanas rek!

Puanase rek! via rizaldp.wordpress.com

“Panasnya itu yang gak bisa nahan. Apalagi pas di jalan. Udah panas, kena macet lagi. Asap-asap knalpot kendaraan jadi satu ama keringat di badan. Parfum satu botolpun ga bisa ngilangin bau kringat plus asap knalpot. Hahaha..”

Teguh Sastra, 25, Surabaya

Sebagai kota terbesar ke-2, Surabaya juga termasuk kota metropolitan yang padat penduduk. Ibu kota Jawa Timur ini juga mengalami permasalahan yang sama dengan Jakarta, yaitu macet! Soal udara, karena letaknya juga berada di pesisir pantai, membuat kota Surabaya memiliki cuaca panas dan sinar matahari yang terik! Gerah dan panasnya iku lho rek.. gak nguati!

11. Di Surabaya nggak banyak tempat wisata alam. Tapi kalau ngomongin mal, jangan tanya lagi..

Banyak Mall via rizaldp.wordpress.com

“Kalo mau jalan ketemunya mal melulu, yang nyaman dan gak panas. Kalau mau yang alami harus berwisata ke Malang.”

Bayu, 26, Solo

Ya.. Di Surabaya memang nggak banyak tempat wisata alam yang bisa dikunjungi. Kalau mau jalan bareng teman-teman atau keluarga ya ke Mall aja.. Kalau mau cari tempat wisata alam, kota yang paling terdekat yang bisa dikunjungi adalah Kota Malang. Eh.. tapi bukan berarti nggak ada tempat wisata alam sama sekali lho! Sekarang di Surabaya ada tempat wisata alam hutan mangrove!

12. Arek Suroboyo nggak suka sama yang namanya nongkrong. Buat mereka yang paling asik itu ya cangkruk’an!

Waiki.. cangkruk, remi, ngopi, karo mangan ote-ote! via pemberianalam.blogspot.com

“Budaya cangkruk di warkop.”

Coy, 25, Surabaya

“Meskipun bukan asli Suroboyo, rasanya sudah jadi bagian Kota Buaya ini karena enam tahun tinggal di sini. Sukanya, disini lengkap, kotanya bersih, orangnya yo nyantai-nyantai karo enak diajak cangkruk’an.”

Benny, 23, Surabay

Kalau orang Jakarta suka nongkrong, wong Jogja suka angkringan, arek Suroboyo ya cangkruk’an! Kegiatan cangkruk ini adalah kegiatan ngumpul-ngumpul bareng konco-konco. Cangkruk bisa dilakukan dimana saja, asalkan ngumpul bareng sama teman. Mau di warung kopi, warung tenda pinggir jalan, atau di teras rumah teman sendiri pun nggak masalah.

Kongkow ala arek Suroboyo ini bisa dibilang sebagai budaya turun temurun yang masih lestari sampai sekarang. Meskipun sekarang Surabaya sudah bertransformasi menjadi kota besar dan padat, budaya cangkruk ini masih terus dilakukan oleh arek-arek Suroboyo. Cangkruk bukan sekadar ngumpul-ngumpul gak jelas, tapi juga sambil menjaga silaturahmi dan solidaritas dengan teman-teman!

13. Nggak kalah dengan masakan daerah Sumatera, makanan khas Suroboyo juga uenak!

Nasi rawon, rujak cingur, lontong balao! via njomany.deviantart.com

“Sukanya jadi arek Suroboyo ialah bisa makan nasi rawon yang uenak tenan, bebek goreng sama pecel lele yang rasanya maknyusss. Aku arek Suroboyo!!”

Marlina , 22, Jakarta

“Suroboyo gak ada matinya… kulinernya itu lho, top bgt poool… dari segala macam penyetan, rujak cingur, lontong balap, sampe makanan-makanan yang bikin orang-orang ngomong ‘jan*uk’ hahaha…”

Anies, 24, Surabaya

Makanan khas yang paling terkenal di Surabaya adalah rawon! Tapi jangan salah, nggak cuma rawon aja lho yang makanan khas andalan Surabaya. Masih ada banyak lagi, seperti semanggi, rujak cingur, lontong balap, tahu tek, dll. Wes.. pokoke makanan khas Suroboyo tuh bikin kamu pengen bilang:

“Jancuk.. enak puoll reeek!” Huehehehehehe

14. Suroboyo itu kota terbesar ke-2 di Indonesia, masih ada yang bilang kalau Surabaya itu ndeso?

Masih kurang gede apa lagi coba Surabaya? via bjorngrotting.photoshelter.com

“Saat pertama kali aku merantau ke Bandung, pas teman-teman baruku pada tahu aku orang Surabaya, mereka ngira kalau Surabaya itu ndeso. Padahal Surabaya sama Bandung juga lebih gedean Surabaya! Aneh…”

Devi, 22, Bandung

Entah kenapa orang Jawa selalu dikaitkan dengan hal-hal yang udik dan ndeso. Begitu juga dengan Surabaya, yang notabene adalah ibu kota provinsi Jawa Timur, dan juga kota terbesar ke-2 di Indonesia, masih banyak lho yang mengira kalau Surabaya itu ndeso!

“Jadi penduduk salah satu kota terbesar di Indonesia yang sekaligus jadi pusat perdagangan di Indonesia Timur. Fasilitas lengkap mulai mall, cafe, dan sarana publik!”

Rindri Andewi Gati , 21, Surabaya

Surabaya adalah kota besar yang sangat modern di Jawa Timur. Pembangunan kota dan pertumbuhannya adalah yang paling pesat di Jawa Timur. Fasilitas kota saja sudah terbilang cukup lengkap. Apapun yang kamu butuhkan selama tinggal di Surabaya, bisa kamu temukan dengan mudah! Kalau belum pernah datang ke Surabaya, jangan bilang deh Surabaya itu ndeso. Dijamin kamu bakal kaget dengan kemegahan kotanya! 🙂

15. Wajah Kota Surabaya sekarang jadi lebih indah, bersih dan teratur. Kota ini sekarang memperlakukanmu dengan lebih ramah.

Suroboyo saiki resik! via detta-priyandikawardhana.blogspot.com

“Banyak taman-taman yang ditata secara bagus di Surabaya. Kotanya jadi lebih bersih dan segar soalnya lagi banyak ditanami tumbuhan-tumbuhan hijau di penjuru kota. Jalan pedestriannya juga bagus hehe.”

Rindri Andewi Gati , 21, Surabaya

Dibandingkan Surabaya 5-7 tahun yang lalu, kota ini tentu sudah jauh berbeda. Dulu Surabaya memang dikenal dengan kota yang jorok dan semrawut. Sekarang wajah Kota Pahlawan ini sudah mulai terlihat tertata rapih, bersih, dan tertib.

Hampir semua taman-taman di sudut Kota Surabaya sudah terawat jadi lebih indah. Tak ada lagi yang namanya pedagang kaki lima membuka lapak di trotoar jalan, trotoar sekarang sudah jadi jalur pedestrian sesuai dengan fungsinya. Kali Mas yang dulu terkenal jorok dan penuh dengan sampah, sekarang benar-benar sudah terbebas dari sampah! Sekarang Kota Surabaya sudah mulai mempercantik diri, dan tentunya jadi lebih manusiawi!

Tuh, walau arek-arek Suroboyo keras dan kasar, bukan berarti mereka nggak mau diatur dan ditata. Buktinya, justru arek-arek Suroboyo bisa membuat dan menjaga kotanya sendiri menjadi kota yang nyaman untuk mereka sendiri.

16. Arek Suroboyo pun sangat hormat dan cinta pada pemimpinnya sendiri. Mereka bangga dengan Wali Kotanya!

Punya Wali Kota yang superwoman via jwsasongko.com

“Bangga punya walikota superwoman kayak Bu Risma, yang tegas tapi tetap sederhana. Indonesia butuh pemimpin seperti beliau.”

Imer Agustin , 20, Surabaya

Arek-arek Suroboyo patut berbangga dengan pemimpin mereka, yakni Ibu Tri Rismaharini. Wali Kota Surabaya yang tangguh dan hebat ini berhasil membuat Kota Surabaya kembali indah dan teratur. Tak hanya soal tata kota saja, beliau sangat menomor satukan kepentingan rakyatnya.

Semenjak Surabaya dipimpin olehnya, Surabaya menjadi salah satu kota terbaik di Indonesia. Karena jasanya itulah, Arek-arek Suroboyo sangat mencintai dan menghormati pemimpinnya. Siapa coba yang nggak bangga punya Wali Kota superwoman seperti beliau?

17. Surabaya juga punya segudang prestasi. Banyak penghargaan tingkat nasioal maupun internasional yang berhasil disabet kotamu ini!

Surabaya memenagnkan berbagai macam penghargaan bergengsi via kanalsatu.com

“Bangga, soalnya Pemerintah Kota Surabaya sendiri dapet beberapa penghargaan nasional dan internasional terkait keberhasilannya menata kota.”

Rindri Andewi Gati, 21, Surabaya

Di bawah kepemimpinan Ibu Tri Rismaharini, Surabaya benar-benar disulap menjadi kota yang menakjubkan. Banyak penghargaan yang berhasil disabet oleh Kota Pahlawan ini, baik tingkat nasional maupun internasional.

Beberapa di antaranya adalah penghargaan internasional sebagai City of Future dalam ajang penghargaan Socrates Award 2014 di London. Surabaya juga berhasil menyabet penghargaan ASEAN Environmentally Sustainable City Award, karena keberhasilannya dalam penataan lingkungan berkelanjutan terbaik.

18. Surabaya juga kota yang masih manusiawi. Biaya hidup disini sangat terjangkau untuk ukuran kota megapolitan.

Dibanding kota besar lain, masih terjangkau via tugupahlawan.com

“Buat biaya hidup sehari-hari lumayan terjangkau lahhh :)”

Nurul, 19, Surabaya

Meski menyandang sebagai kota terbesar ke-2 setelah DKI Jakarta, tak lantas membuat Kota Surabaya ini jadi kota termahal setelah Jakarta pula. Biaya hidup di Surabaya terhitung lebih terjangkau dan nyaman di kantong jika dibandingkan dengan ibu kota-ibu kota provinsi lainnya, lho! Kalau nggak percaya, boleh deh bandingkan sendiri, monggo mampir ke Suroboyo!

19. Tinggal di Suroboyo membuatmu belajar menjadi orang yang penuh toleransi. Banyak pendatang, tapi kamu masih bisa hidup berdampingan!

Hidup saling toleransi walau banyak etnis, suku, dan budaya via capos.000space.com

“Banyaknya pendatang seperti dari Madura, Papua, ada juga dari Ambon dan beberapa penduduk Jawa lainnya yang semakin meramaikan warna rupa warga Surabaya. Itulah sepenggal kisah mengenai Kota Buaya!”

Syanaz Eza, 20, Surabaya

Sebagai kota besar dan pusat perdagangan wilayah Indonesia timur, banyak para pendatang dari berbagai etnis, daerah, suku, dan budaya yang tinggal di Surabaya. Mulai dari etnis Tionghoa, Arab, Madura, Papua, Ambon.. semua hidup berdampingan penuh toleransi.

20. Cara berbicara mereka memang ceplas-ceplos, tapi bukan berarti Arek Suroboyo itu orang yang kasar!

Arek Suroboyo apik’an kok! via detta-priyandikawardhana.blogspot.com

“Walaupun Orang Surabaya omongannya kasar, hati sama kelakuannya baik loh. Mereka lebih suka to the point daripada basa basi.”

Indra, 24, Batam

“Walaupun bukan asli Arek Suroboyo, yang saya rasakan Orang Suroboyo ramah-ramah.”

D.W.A, 19. Mojokerto

Anggapan bahwa Arek Suroboyo adalah etnis Jawa yang kasar dan keras pasti sudah jadi makanan sehari-hari buatmu. Kamu sering dibilang kasar dan kurang sopan hanya karena lagak berbicaramu yang ceplas-ceplos, cepat, dan sering mengucapkan kata “jancuk”.

Tapi stereotip negatif tentang Arek-arek Suroboyo ini seperti halnya pepatah “tak kenal maka tak sayang”, sebelum orang-orang lain mengenalmu dengan baik mereka tak akan tahu bahwa dibalik karaktermu yang keras, kasar, dan ceplas-ceplos tersimpan keramahan dan kebaikan sebagaimana seharusnya manusia.

Kamu nggak masalah dengan anggapan kasar dan keras itu, karena itu adalah karakteristikmu sebagai Arek Suroboyo! Hanya arek-arek Suroboyo yang bisa membuat kata umpatan menjadi alat pemersatu bagi sesama. Arek-arek Suroboyo iku apik’an kok! (arek-arek Surabaya itu baik-baik kok!)

21. Kamu nggak peduli dibilang kasar atau keras. Yang terpenting, dengan watak kerasmu itu, kamu terbentuk menjadi Arek Suroboyo yang berani dan tegas!

Arek Suroboyo iku pemberani! via www.suryaonline.co

“Suroboyo itu terkenal orangnya yang wani, terus arek Suroboyo itu solidaritasnya tinggi. Itu yang aku suka.”

Fitria Handayani Meilanasari, 25, Surabaya

Watakmu sebagai Arek-arek Sroboyo yang keras memang sudah mendarah daging hingga membentuk karaktermu sebagai pemuda-pemudi yang pemberani, tegas, cekatan, dan tak pantang menyerah. Semangat dari para pemuda-pemudi Surabaya di jaman penjajahan dulu terus kamu pertahankan sampai sekarang.

Arek Suroboyo memang keras dan berani. Bukan berani karena mereka bonek, tapi mereka berani untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Kamu nggak peduli dengan label kasar yang menempel padamu. Kamu bukanlah orang yang kasar, melainkan kamu adalah pemuda-pemudi yang berani, tangguh, dan penuh semangat!

Nek aku arek Suroboyo, koen kate lapo? :p

Ya. Indonesia memang punya beragam suku, etnis, dan budaya. Artikel ini tak bermaksud untuk mengkotak-kotakkan etnis atau suku tertentu kok. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan kita tentang kehidupan saudara-saudara kita di Indonesia ya! 🙂