Sepakbola, kamu adalah hobi yang paling digemari oleh sebagian besar orang dibelahan dunia manapun, terutama oleh para lelaki. Kamu tak mengenal sekat-sekat untuk membatasi orang memainkan kulit bundarmu, tak ada batas golongan, ras, suku, ataupun agama bahkan juga jenis kelamin. Kamu adalah sesuatu yang bisa menyatukan segala perbedaan saat orang-orang asyik memainkanmu.

Aku ingat pertama sekali aku menyukai sepakbola saat umurku masih 6 tahun, waktu itu aku menyukaimu karena tontonan kartun masa kecilku — Captain Tsubasa. Sejak saat itu aku sangat menyukai sepakbola dan ingin selalu memainkannya setiap saat, aku juga mulai membeli baju bola pertamaku, tak ketinggalan juga poster-poster pemain-pemain idolaku ku pajang dari ruang tamu hingga kamarku sehingga membuat orang tuaku geleng-geleng kepala.

Masa kecil bersamamu adalah masa kecil terbaik yang pernah aku rasakan. Tanpa sepakbola, mungkin masa kecilku kurang bahagia.

Masa kecilku tak akan bahagia tanpa sepakbola via kfk.kompas.com

Sejak saat itu aku mulai sangat menggemari permainan sepakbola, waktu terasa begitu membosankan dan kaki terasa gatal jika tidak memainkan si kulit bundar bersama teman-teman di sore hari. Kami mulai menyisihkan uang jajan untuk membeli bola plastik, dan karena terbuat dari plastik usianya pun tak bertahan lama.

Jika itu sudah terjadi, bagaikan pepatah “tak ada rotan akar pun jadi”, kami akan memanfaatkan apa saja untuk jadi objek yang bisa menggantikan si kulit bundar itu. Mulai dari botol minuman plastik, kaleng minuman, kaos kaki yang kami gulung, hingga kertas-kertas bekas yang sudah tidak terpakai lagi, kami bermain tanpa aturan yang jelas, tanpa waktu yang jelas, tak ada kartu, gawang yang kami buat pun kadang hanya dari beberapa sendal yang ditumpuk.

Advertisement

Saat yang paling menyebalkan tentu saja saat bola yang ditendang masuk ke kolong mobil orang. Mengambilnya dari kolong mobil adalah hal yang sangat menyebalkan — Duh! Belum lagi jika bola terkena kaca rumah tetangga, maka tanpa komando aku dan teman-teman dengan secepat kilat berpencar mencari tempat persembunyian masing-masing. Ah, sungguh menyenangkan mengingatnya.

Bocah lelaki dan sepakbola adalah sahabat tak terpisahkan. Bermain di tanah lapang sepanjang hari hingga lupa waktu, tak peduli meskipun ibu sering mengomeliku.

Main bola hingga larut via www.kaskus.co.id

Dulu sewaktu pulang sekolah bersama teman langsung pergi ke lapangan sepakbola untuk memainkanmu lagi. Dengan masih memakai pakaian sekolah lengkap, tanpa pikir panjang aku dan teman-teman langsung menuju tanah lapang untuk memainkanmu. Dan seperti biasa, kami pasti lupa waktu dan main hingga larut. Ya, larutlah yang kadang membuat kami berhenti jika skor terus imbang dan tidak ada yang mau mengalah.

Pulang-pulang ke rumah dengan membawa baju seragam sekolah yang kotor, badan kumal, dan kaki yang setengah pincang karena terkilir. Hal itu membuatku sering kena omelan oleh ibu. Tapi, beruntunglah tim yang kalah, karena biasanya tim yang kalah di pertandingan pertama akan bermain kembali dengan membuka baju, sehingga bajunya tidak akan kotor.

Walaupun begitu, haram bagi kamu rasanya untuk jadi tim yang kalah. Kalah itu sangat memalukan bagi kami, rasanya seperti kehilangan martabat. Biarpun sering kena omelan oleh ibu, aku tak pernah kapok untuk terus memainkan si kulit bundar, karena aku sangat mencintainya. Bersyukur, orangtua mulai memakluminya — mungkin karena ibuku sudah capai mengomeliku. Hehehe…

Kulit bundarnya yang mulus selalu menggodaku untuk menendangnya, hingga perabot rumah milik ibu pun porak poranda tak berbentuk.

Bermain bola di manapun, termasuk di rumah. via awardeean.wordpress.com

Rasanya memainkanmu hanya dilapangan atau dihalaman rumah tak jua memuaskan hasratku yang selalu ingin bercumbu denganmu, dan rumah pun menjadi tumbal untuk melampiaskannya. Aku pun mulai memainkanmu didalam rumah, tak lupa mengajak teman-temanku juga.

“Prakkkk!!!” Lampu meja belajarku tersambar bola dan pecah, pot tanaman ibu pun bergulingan di halaman. Diomelin lagi, dipotong uang jajan lagi, dan itu terjadi berulang kali. Tak ada sedikitpun rasa kapok terlintas di pikiranku, hingga suatu hari aku terlalu kencang menyepak bola keayanganku hingga memecahkan meja hias baru milik ibuku. Ibuku memarahiku, hingga

Tapi yang paling parah itu sewaktu ibu baru saja membeli meja hias baru dan aku bersama temanku bermain sepakbola dirumah. Prakk. Kaca meja hias itu pecah. Aku takut, dan langsung kabur dari rumah. Aku kemudian dicari dan setelah ketauan aku diomelin habis-habisan. Yah sudahlah.

Hasratku bermain sepakbola makin tak terbendung. Saat beranjak dewasa aku bergabung dengan sekolah sepakbola dan tim futsal di sekolah.

Gabung tim futsal dan sepakbola di sekolah via twitter.com

SMP aku mulai masuk sekolah sepakbola di dekat rumah. Unutk pertama kalinya aku belajar bagaimana caranya memainkan bola secara baik dan benar, baik dari segi teknis maupun dari segi mental. Aku juga diajarkan bagaimana caranya menjaga kedisiplinan dalam bermain sepakbola dan banyak lagi.

Tak bisa diungkapkan betapa bahagianya aku saat itu bergabung dan bermain bersama orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama denganku. Kemudian aku mulai mengikuti beberapa turnamen sepakbola dan futsal sewaktu sekolah maupun saat sudah kuliah, dan syukurlah ada juga beberapa yang kami juarai.

“Bangga dan bahagia rasanya, bisa merasakan euforia kemenangan dari hobi yang paling aku cintai di dunia ini.”

Aku mencintai sepakbola demi apapun, hingga terkadang aku rela menduakan pacarku hanya demi bermain futsal atau nobar pertandingan sepakbola.

Demi sepakbola, aku sering bertengkar dengan pacarku. via www.marriageacademy.us

Saat beranjak dewasa, aku mulai mengenal yang namanya pacar. Pacarku sangat memahamiku sekali, dan dia tahu betul kalau aku suka sekali dengan sepakbola. Namun, tak jarang aku dan pacarku sering bertengkar gara-gara aku lebih memilih untuk pergi malam minggu ke lapangan futsal ataupun nonton pertandingan bola di televisi daripada kencan dengan dia.

Setiap kali malam minggu datang, yang sering terjadi adalah perang batin memilih antara sepakbola atau pacarku. Tentu saja aku sangat menyayangi pacarku, tapi sungguh aku tak kuasa memendam hasrat untuk bercumbu dengan si kulit bundar lagi.

Pacar: Sayang kemarin diceritain temen kalo makanan di restoran X enak banget lho, kita ke sana malam ini ya.

Aku: (MAMPUSSS GUE!) Sayang, gimana bilangnya ya, malam ini ada bigmatch. Aku udah janji sama temen-temen dari kemarin mau ikut nonton bareng, kita pending minggu depan ya?

Dia: Kamu pilih aku atau bola?

Aku: (Wajahku pun berubah menjadi pucat pasi seketika)

Hal-hal seperti ini sering mewarnai kisah cintaku, tapi tetap saja, sepakbola pemenangnya. Aku tidak tahu mengapa, aku tak bisa mengalah untuk urusan yang satu ini. Aku tetap mencintai pacarku, tapi aku tak bisa hidup tanpa bola.

Sempat terpikir untuk menjadikan sepak bola sebagai jalan hidupku, tapi ternyata takdir berkata lain. Meskipun begitu, sampai kapanpun sepakbola akan menjadi napas hidupku.

Sepakbola adalah nafas hidupku via twitter.com

Karena cintanya aku kepada sepak bola, sempat terbesit untuk menjadikannya sebagai jalan hidupku. Aku ingin bekerja sebagai pemain sepakbola hingga kaki ini melemah seiring dengan bertambahnya keriput di dahiku.

Namun ternyata gayung tak bersambut dengan baik cita-citaku ini. “Mau makan apa dari sepakbola?”, Kata-kata itu selalu melemahkan semangatku. Dan perlahan, aku pun mulai mengubur mimpiku itu dan berusaha untuk mulai menggeluti bidang lain yang juga aku sukai.

Tapi meskipun begitu, apapun pekerjaanku nanti aku tak akan lupa dan akan selalu memainkannya — dimanapun aku berada. Karena sepertinya aku dan sepakbola sudah mempunyai ikatan batin yang sangat kuat. Perlahan akupun sadar, sepakbola memang bukan jalan hidupku, namun dia adalah nafas hidupku. Hehehe…