Alangkah senangnya hatimu ketika kamu tahu bahwa judul penelitian yang kamu ajukan diterima menjadi tugas akhir atau skripsi, tetapi hatimu tiba-tiba ciut ketika kamu mendapatkan kabar bahwa dosen pembimbingmu adalah dosen yang terkenal “killer” di kampus. Saking takutnya, hatimu bergumam: 

“Kenapa harus bapak ini? Apa gue mampu? Ah, nyesel gue ngambil judul ini!”.

Dosen pembimbing skripsi punya pengaruh yang besar dalam kesuksesan skripsimu. Karena dialah yang akan membimbingmu, memberikan masukan, ide-ide, dan di tangan dialah kamu bisa sukses atau tidak dalam sidang pendadaran. Karena itulah wajar rasanya jika kita takut setengah mati jika kita mendapat dosen pembimbing yang “killer”. Tetapi tenanglah bahwa sebenarnya kau akan mendapat banyak hikmah dari perjalanmu bersama dosen pembimbing yang kau sebut “killer”.

1. Meskipun banyak coretan kecil akan memenuhi lembaran skripsimu, namun itu akan membantumu untuk menambah bobot dan kualitas pada skripsimu.

Banyak revisi supaya skripsimu lebih berbobot via norgeografi.blog.ugm.ac.id

Ketika kamu memulai bimbingan pertama kali, kamu pasti akan mendapkan coretan-coretan tangannya yang khas yang pastinya akan memenuhi draft-mu. Pastinya ini akan membuatmu merasa kecewa dan sedih. Tak jarang karena perfectionist-nya dosen pembimbingmu, kamu merasa tak pernah dianggap benar olehnya sampai-sampai skripsimu molor demi sebuah data atau pembahasan yang keren di matanya.

Advertisement

Tetapi semakin berjalanya waktu, kamu akan sadar bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh dosen pembimbingmu semata-mata untuk membuat skripsimu lebih berbobot. Kamu pun harus sadar bahwa dosen pembimbingmu juga mempunyai tanggung jawab atas skripsimu sehingga ia harus memastikan bobot pembahasannya.

Cobalah untuk terus berpikir positif padanya, agar percaya dirimu tak lagi menciut tiba-tiba. Bukankah kamu juga bangga jika skripsimu lebih berbobot dibandingkan dengan teman-temanmu yang lain?

2. Tak jarang kamu harus kembali membuka “kitab” EYD, tetapi di balik itu sesungguhnya kamu sedang belajar kembali untuk menjadi penulis yang andal.

Belajar teknik peulisan yang lebih baik lagi via adity4ha.blog.amikom.me

Ketika kamu mendapat kritikan pedas mengenai teknik penulisan skripsimu maka kamu harus bersyukur, artinya selama ini ternyata kamu belum cukup piawai dalam menulis, terutama soal teknik penulisan. Kamu akan dipaksa oleh dosen pembimbingmu untuk melihat kembali buku EYD yang pernah kamu pelajari saat SD  dan format penulisan skripsi yang sesuai.

Mungkin hatimu akan kembali bertanya “teman-teman saya yang lain enggak gitu-gitu amat”, tetapi sadarilah bahwa dengan kamu mempelajari EYD dan format penulisan kembali akan membuatmu belajar menguasai teknik penulisan yang lebih baik, bahkan akan membuatmu menjadi penulis yang baik pula.

Kamu akan merasakan ketika kau telah selesai dan mendapatkan pekerjaan nanti. Tidak perlu khawatir lagi ketika kau diminta oleh pimpinanmu untuk menulis laporan, surat atau yang lainya. Atau saat kamu melamar pekerjaan sebagai penulis di sebuah media, tentu kamu bisa menunjukkan kemampuan menulismu yang terbaik.

3. Ketegasannya membuatmu semakin bersabar dan terus belajar bagaimana cara berbicara dengan cara yang baik dan bersikap penuh sopan santun.

Belajar untuk bisa berbicara dengan baik dan sopan santun via zahratulkamila.wordpress.com

Ketegasanya dalam berbicara akan membuatmu belajar merangkai kata-kata yang baik dan sopan untuk memulai pembicaraan atau sekadar menanyakan kehadiranya di kampus. Tak jarang pula ketika kau telah memulai dengan kata-kata yang manis, dosen pembimbing mu malah menjawabnya dengan “juteknya”.

Kamu                : “Selamat pagi Pak, mohon maaf apakah sekiranya bapak hari ini ada waktu untuk bimbingan?”

Dosbing           : “Saya sedang sibuk hari ini, coba besok telepon lagi ya.”

Hal tersebut terkadang membuatmu merasa kesal, tetapi dengan terus menerus ditempa oleh dosen pembimbingmu, kamu akan menjadi pribadi yang lebih sabar dan setidaknya kamu akan mendapatkan gambaran bagaimana cara menghadapi dan berbicara yang baik dengan pemimpin atau pra klien di tempat kerjamu kelak.

4. Di balik molornya skripsimu, kamu akan lebih paham dan menguasai isi skripsimu, dan ini akan memudahkanmu menghadapi sidang skripsi dengan tenang.

Meski molor, kamu bisa paham dan menguasai skripsi lebih dalam via economy.okezone.com

Apakah tidak senang dirimu ketika saat sidang skripsi kamu mendapat nilai yang maksimal? Memang semua orang menginginkan menjalani skripsi dengan cepat terlebih lagi dengan yang nilai maksimal, tetapi apakah bahagia itu akan semakin tak terkira ketika kerja keras dan kesabaranmu selama ini pada akhirnya berbuah manis?

Mungkin dengan molornya skripsimu, kamu jadi lbih punya banyak waktu untuk mempelajari dan menguasai lebih dalam isi penelitianmu. Saat sidang skripsi nanti, kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, kritikan, hingga hujatan dari dosen pengujimu dengan cara yang cemerlang.

Teman-teman disekitarmu pun akan ikut bahagia menyaksikan bagaimana kamu harus jatuh bangun dan akhirnya bisa selesai dengan nilai yang maksimal. Oleh sebab itu ketika kau mendapatkan dosen “killer” jangan membuatmu menjadi malas, akan tetapi harus kamu tanamkan dalam hati,

“Aku harus berjuang lebih keras dan membuktikan bahwa aku bisa melewati ini.”

5. Di balik setiap perkataan pedasnya, sesungguhnya beliau sedang menguji mentalmu. Secara tak sadar ini akan melatihmu menjadi orang yang tangguh di dunia kerja kelak.

Sebenarnya dosen pembimbingmu sedang menguji mentalmu via www.hercampus.com

Perkataan yang pedas akan sering terlontar dari dosen pembimbingmu yang “killer” jika ada yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Setelah berjalannya waktu, kamupun akan merasa biasa dengan perkataan-perkataan pedas yang kerap terlontar dari mulutnya. Anggaplah saja dia sedang menguji mentalmu. Nada tinggi dan perkataan pedas yang kamu terima akan membuat mentalmu terlatih sehingga kamu tak mudah menyerah dan tak mudah hilang kepercayaan diri.

Hal ini bisa menjadi modal yang baik ketika kamu masuk dunia kerja dan menempati posisi staff atau bawahan. Kau akan merasa sudah terbiasa jika pimpinanmu memberikan perkataan-perkataan yang pedas jika ada yang tidak sesuai dengan jalan pikirannya. Tak jarang banyak karyawan yang tak mampu bertahan karena perkataan-perkataan yang pedas dari pimpinanya.

Selagi perkataan dosen pembimbingmu benar, apa salahnya menerima semua itu dengan lapang dada meskipun ia menyampaikannya dengan pedas? Kerasnya dunia kerja membutuhkan mental baja jika ingin bertahan. Bersyukurlah kamu karena telah mengalami masa-masa “pedas” itu sebelum masuk dunia kerja. Artinya kamu mempunyai tambahan modal untuk bisa bersaing dan bertahan di kerasnya dunia kerja.

6. Jika kau menjalani prosesnya penuh dengan kesabaran, setelah kamu mendapat gelar sarjana kamu akan sadar betapa banyak hikmah dan pelajaran hidup yang kamu dapatkan.

Kamu akan sadar ada bayak ilmu dan pelajaran yang kamu ambil via genta.petra.ac.id

Setelah kamu mendapatkan gelar sarjanamu, hikmah itu baru akan benar-benar kamu rasakan. Pada awalnya kamu mungkin merasa bahwa tuhan tidak adil dengan memberikanmu dosen pembimbing yang killer, tetapi setelah semuanya selesai kamu akan bersyukur  betapa beruntungnya dirimu mendapatkan dosen “killer”.

Ilmu yang luar biasa ketika kamu dapat menulis yang benar, memahami bagaimana mengerjakan sesuatu tidak boleh dengan “asal jadi”, tapi harus dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Kamupun akan menjadi pribadi yang lebih bersabar menghargai kerja keras dan masih banyak lagi hal yang akan kamu rasakan nanti tanpa pernah kamu duga sebelumnya.

Ilmu yang luar biasa yang kamu dapatkan akan menjadi modal yang berharga untuk menghadapi dunia luar. Percayalah bahwa setiap hal yang terajadi di dunia ini adalah kehendak Tuhan dan selalu ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Kita hanya perlu menjalaninya dengan penuh keyakinan, keikhlasan, kegigihan, dan kesabaran. Yakinlah, selalu ada hikmah di setiap kejadian yang terjadi.