Sebelumnya Hipwee sudah pernah membahas suka duka sebagai mahasiswa Sastra Inggris. Salah satu dilema yang dihadapi oleh mahasiwa Sastra Inggris tak lain dan tak bukan adalah soal TOEFL.

Isu TOEFL ini kadang menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa Sastra Inggris, bahkan ada stigma jika tes TOEFL lebih susah dibanding dengan sidang skripsi! Nah, diantara kamu adakah yang memiliki latar belakang sebagai mahasiswa Sastra Inggris? Pasti kamu nggak asing lagi dengan cerita suka duka tentang tes TOEFL ini!

1. Menyandang status sebagai mahasiswa Sastra Inggris membuatmu dianggap tahu segalanya. Bahkan beberapa teman akan menyindir kalau kamu nggak tahu apa kepanjangan dari TOEFL

Masa anak Sastra Inggris gak tahu TOEFL? via pusattoefl.blogspot.com

Tahukah kamu jika mahasiswa Sastra Inggris juga manusia yang tak luput dari adanya kesalahan. Jika anak Sastra Inggris nggak tahu apa itu TOEFL beserta kepanjangannya secara baik dan benar, maka secara otomatis dia akan mendapat sanksi sosial dari orang-orang di sekitarnya.

Walau hanya singkatan, kadang singkatan menjadi legitimasi sebagai bahan ejekan terhadap mahasiswa Sastra Inggris.

Advertisement

Teman: “Eh, TOEFL itu kepanjangannya apa sih?”

Kamu: “Uhhmmm.. bentar, Test of English For Language.. Eh salah.. Test Of English… ah F nya gue lupa, pokoknya terakhirnya Language!

Teman: “Lahh… gimana sih? Lo kan anak Sastra Inggris, masa anak Sastra Inggris gak tahu kepanjangan TOEFL? Ckckck. Anak SasIng abal, lo!”

Kamu: Sorry, i can’t be perfect… (nyanyi lagunya Simple Plan)

2. Karena kuliah di Jurusan Sastra Inggris, orang-orang pasti menganggap kamu jago dalam tes TOEFL

Dikira jago TOEFL via www.myfetec.net

Ini sudah jadi rahasia umum jika mahasiswa Sastra Inggris lulusannya pasti mahir dalam berbahasa Inggris. Orang-orang memang selalu menilai sesuatunya dengan menggunakan hukum sebab akibat. Seperti contohnya, mahasiswa Teknik pasti pintar matematika dan hal yang pasti dalam angka. Mahasiswa Sastra pasti pintar dalam karya-karya sastra, seperti puisi, prosa dan sejarah.

Nah, kalau mahasiswa Sastra Inggris, pasti dianggap Bahas Inggrisnya cas cis cus! Hal ini jadi berimbas pada tes TOEFL. Karena kuliahnya serba berbahasa Inggris dan setiap hari belajar bahasa Inggris, tes TOEFL pasti soal kecil, skornya udah pasti tinggi.

Teman 1: “Yah, skor TOEFL gue kecil nih! Ya maklum, baru pertama kali tes TOEFL. Skor lo berapa, Ta?

Teman 2: “Wah si Okta mah skor TOEFL-nya 700. Secara dia kan anak Sastra Inggris..”

Kamu: “Hah? ya nggak sampe segitu juga lah.. Lo pikir tes TOEFL kayak ngisi biodata?”

3. Alhasil, kamu harus siap menanggung malu jika skor TOEFL-mu di bawah standar

siap menanggung malu via upgrade-learning.com

Tekanan selanjutnya adalah rasa malu jika hasil skor tes TOEFL-mu ternyata kurang dari 500. Hal ini jadi beban yang cukup berat bagi mahasiswa Sastra Inggris dalam mengikuti tes. Padahal walaupun setiap hari kamu menggunakan Bahasa Inggris, belum tentu kemampuan bahasa Inggrismu baik secara komprehensif.

Kamu bisa kuat di listening, tapi lemah di writing. Begitu pun dengan grammar, walau setiap hari berkutat dengan Bahasa Inggris grammar-mu tak serta merta sempurna.

Anggapan bahwa skor TOEFL anak Sastra Inggris pasti tinggi tentu cukup jadi beban tersendiri. Kalau ternyata nilai skornya di bawah 500, siap-siap aja menanggung malu.

Teman: Skor TOEFL lo berapa ?

Kamu: 550 nih.

Teman: Wahh.. pantes aja, kan kamu mahasiswa Sastra Inggris.

Teman: Bro.. skor TOEFL lo berapa nih ?

Kamu: Hhhmmm… Cuma 480 nih.

Teman: Loh, kok cuma segitu? katanya anak Sastra Inggris, kok skornya cuma segitu ?

Kamu: ” Anu.. tadi lagi gak enak badan, jadi gak fokus ngerjain tesnya.” #ngeles #ambil sikap

Rasanya pengen bilang ke orang-orang yang meremehkanmu, “Woy, TOEFL gue memang nggak sempurna! Tapi kalau adu analisis novel Hemmingway gue jagonya. Lo mau apa pada, hah hah?!”

4. Karena dianggap jago, banyak teman-teman yang memintamu untuk mengajari mereka strategi tes TOEFL

Banyak yang minta diajarin TOEFL via tiotoo.com

Kamu juga sering banget diminta tolong oleh teman-temanmu dari jurusan lain untuk mengajari trik dan strategi tes TOEFL. Banyak yang memaksa meminta tolong untuk diajari gimana supaya skornya bisa langsung tinggi, meskipun Bahasa Inggris dasar temanmu itu saja masih kacau.

Tidak jarang mereka memintamu mengajari tanpa kenal waktu. Waktu mau daftar beasiswa, mereka minta bantuanmu. Saat mereka mau daftar kerja yang membutuhkan skor TOEFL, mereka mendatangi rumahmu untuk dapat les gratisan.

Padahal di waktu yang sama tugasmu dari kampus juga sedang menumpuk. Hffft….rasanya kamu ingin enyah dari muka bumi ini..

Teman: Lo ‘kan mahasiswa Sastra Inggris, gimana sih caranya biar bisa dapet skor TOEFL tinggi? Ajarin gue dong, please!

Kamu: “Waduh…. skor TOEFL gue aja nggak tinggi-tinggi amat kok.”

Teman: ” Ah bohong! Awas lo kalo gak mau ngajarin gue.. cukup tahu, pertemanan kita tipis banget!”

5. Saat tes TOEFL berlangsung kamu akan dianggap sebagai kunci jawaban oleh teman-temanmu

Kamu dimintai contekan via cltunika.wordpress.com

Saat tes TOEFL berlangsung pun kamu masih saja harus diminta untuk siap sedia memberi bantuan kepada teman-temanmu. Kadang kamu diminta untuk memberikan kode-kode saat menjawab, seperti bisikan kepada teman sebelah, melalui ketukan, atau ditulis dalam sobekan kertas. Bahkan tidak jarang mereka dengan rapi mengatur sedemikian rupa agar kalian bisa melaksanakan tes di waktu yang sama.

Kebayang ‘kan saat mengerjakan tes TOEFL yang diburu-buru oleh waktu, harus juga membantu teman untuk menjawab dengan memberikan kode-kode. Sejago apapun orangnya, pasti pecah juga konsentrasinya:

Teman: Eh.. Tolongin gue ya, nanti lo kasih kode jawaban ya pas tes TOEFL.

Kamu: “Waduh.. gimana ya…”

Teman: “Ayolah.. sama teman sendiri jangan pelit! Bantuin gue.. lo kan pasti udah jago, gak usah mikir lama-lama.”

Kamu: “Tapi..”

Teman: “Ah.. gak mau tahu pokoknya nanti lo harus kasih tahu jawabannya!”

Ini teman apa preman? ngancem melulu deh perasaan.. *elus-elus dada

6. Bahkan tak jarang kamu sering dimanfaatkan untuk menjadi joki tes TOEFL!

Dimanfaatin jadi joki TOEFL via www.myfetec.net

Kalau diminta tolong ajarin TOEFL masih oke lah ya, tapi kalau bantu mengerjakan alias jadi joki TOEFL? Wahh… ini sih lain cerita. Tapi kenyataannya nggak jarang lho mahasiswa Sastra Inggris dimanfaatkan untuk membantu kelulusan tes TOEFL. . Menjadi joki tes TOEFL adalah hal yang tidak dibenarkan!

Tidak semuanya setuju jika mau dimintai tolong seperti ini. Terlebih yang meminta tolong itu adalah teman dekat, sodara atau bahkan pacar, akan ada rasa segan untuk menolak permintaan yang satu ini. Bahkan ada juga yang sanggup membayarmu dengan bayaran yang cukup menggiurkan, lho!

Tolong dong, nanti saat tes TOEFL bantuin ya, nanti di lembar jawaban kita tukeran nama biar tidak ketahuan

Sayang, minta tolong dong. Bantuin tes TOEFL aku ya ?

“Halo, kamu Okta ya? Saya tahu nomor ponselmu dari temanmu. Mau gak nge-jokiin tes TOEFL saya? Saya bayar 1 juta deh, gimana?”

YA. SUDAH BIASA.

7. Kata siapa TOEFL mudah bagi mahasiswa Sastra Inggris? Mahasiswa Santra Inggris juga butuh perjuangan buat ngedapetin skor TOEFL yang tinggi!

Anak Sastra Inggris juga mati-matian ngedapetin skor tinggi via kampunginggris.in

Jika kamu bukan dari jurusan lain dan mengikuti tes TOEFL berkali-kali namun masih belum memenuhi standar, begitu pula dengan mahasiswa Sastra Inggris. Jangan dikira mahasiswa Sastra Inggris juga bisa langsung sempurna.

Mungkin bagi beberapa mahasiswa Sastra Inggris yang sebelumnya sudah mahir tidak ada masalah, tapi tidak semua kemampuannya sama. Tidak jarang ada beberapa mahasiswa yang susah payah berkali-kali mengikuti tes TOEFL untuk mencapai standar minimal. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi bisa juga lebih dari lima kali.

8. Kalau mahasiswa Sastra Inggris ingin mengajukan sidang skripsi, dia harus lulus tes TOEFL dengan skor yang tinggi!

syarat sidang skripsi skor TOEFL harus tinggi via www.rizafirli.com

Kebayang ‘kan susahnya mengikuti tes TOEFL dengan harus berkonsentrasi mengerjakan soal-soal yang semuanya dalam bahasa Inggris ? Pun hal ini berlaku bagi mahasiswa Sastra Inggris. Duka yang lainnya adalah mahasiswa Sastra Inggris harus mendapatkan skor di atas 550. Syarat ini wajib dipenuhi jika ingin lulus sebagai mahasiswa Sastra Inggris. Jika mau maju sidang dan lulus kuliah, harus lulus tes TOEFL dengan skor minimal 550!

Di balik duka di atas, ada juga sukanya sebagai mahasiswa Sastra Inggris

9. Ketika uang sakumu mulai mepet, keahlianmu berbahasa Inggris bisa kamu manfaatkan sebagai penyambung hidup

Jadi guru privat via ntcpare.blogspot.com

Nah ini nih yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa Sastra Inggris. Label mahir dalam bahasa Inggris bisa juga mendatangkan keuntungan. Bagi beberapa mahasiswa Sastra Inggris memanfaatkan keahliannya dalam berbahasa Inggris untuk memberikan les tambahan atau kursus privat kepada teman jurusan lain yang mau mengikuti TOEFL.

Bukannya matre atau perhitungan sama teman sendiri, tapi tahu sendiri kan buat ngedapetin ilmunya aja anak Sastra Inggris harus bayar. belum lagi waktunya banyak yang tersita untuk memberikan kursus, jadi wajar saja kalau harus diperhitungkan.

10. Skor TOEFL yang tinggi bisa memudahkanmu dalam melamar pekerjaan

Skor TOEFL mu bisa untuk melamar kerja via www.szaktudas.com

Nah, ini yang namanya setali tiga uang. Walau ada dukanya saat mengikuti tes TOEFL dan syarat skor yang tinggi 550, ternyata juga memberikan manfaat bagi mahasiswa Sastra Inggris. Sertifikat TOEFL-nya bisa dipakai untuk melamar pekerjaan yang membutuhkan sertifikat ini. Maka tak jarang syarat ini terbantu sekali dan kadang melebihi standar yang ditetapkan yang biasanya hanya 450.

11. Selain untuk melamar kerja, skor TOEFL yang tinggi memudahkanmu untuk melamar beasiswa!

untuk apply beasiswa via justudhi.wordpress.com

Keuntungan lainnya adalah sertifikat TOEFL ini bisa digunakan sebagai syarat utama melamar beasiswa. Sebagian besar syarat beasiswa memerlukan sertifikat ini. Standar skor TOEFL minimal yang diperlukan adalah 500 sebagai syarat utama. Nah, bagi mahasiswa Sastra Inggris yang telah mengikuti tes TOEFL, terutamanya TOEFL ITP bisa melampirkan sertifikatnya untuk melamar beasiswa tanpa harus mengikuti tes TOEFL lagi dan mengeluarkan uang. 🙂

Mau menulis untuk Hipwee? Silakan mampir ke sini!