Ujian, final, mid test, post test, pre-test, atau apapun itu namanya memang terasa mengerikan. Selama satu semester penuh kamu tak pernah absen hadir dikelas, betah berjam-jam di perpustakaan hanya untuk membolak-balik buku tebal, dan bahkan rela belajar mati-matian sebulan sebelum ujian demi memperoleh ilmu dan nilai yang baik di atas kertas.

Tetapi sakitnya, ada si penikung yang hanya butuh waktu 1-2 jam saja ketika ujian sedang berlangsung, membolak-balik selembar kertas contekan, lantas  berhasil menyulap nilai tinggi menjulang dan mungkin jauh melambai melampaui  apa yang kamu dapatkan. Karena merasa dihianati, seketika kamu ingin berubah jadi seekor beo, bermulut ember dan ingin memberitahu semua orang di dunia ini atas kecurangan ini.

Dari lubuk hatimu yang terdalam, sesekali mungkin kamupun sempat tergoda menghalalkan cara yang sama. Terutama  bagi dirimu yang selalu berkerja keras untuk melewati ujian tanpa sebuah kecurangan, tanpa lirik kiri dan kanan, tanpa bisik dan tanpa kode-kodean, jalanmu sudah benar. Meskipun ada jalan pintas untuk mendapat nilai yang tinggi, jangan sedikitpun tergoda. Ingatlah beberapa hal ini ketika prinsipmu mulai goyah, kawan!

Meski nilai ujianmu tinggi, bagaimanapun juga kamu tak akan pernah bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari hasil mencontek.

Fokusmu pada ilmu yang bermanfaat, nilai itu buah dari kerja kerasmu via www.pinterest.com

Tanpa kita sadar, kita memang dari dulu dituntut untuk berkompetisi mendapatkan hasil akhir yang paling bagus yang selalu disimbolkan dengan angka-angka tinggi yang tertulis pada secarik kertas ujian kita. Ya, nilai yang tinggi adalah bentuk prestasi dari usaha yang kita lakukan, tetapi apalah arti nilai yang tinggi jika kita mengabaikan proses penting di baliknya?

Advertisement

Sedari kecil bukankah kita sudah terbiasa belajar keras? Coba ingat lagi apa yang pernah kamu lakukan untuk mengenal huruf dan angka yang sederhana itu. Melafalkan, menuliskan, bahkan menyanyikannya berkali-kali hingga kini satu pun tak pernah kau lupa. Welcome dear,lakukan juga hal yang sama terhadap ilmu-ilmu yang sedang kamu dalami saat ini, agar ilmu-ilmu yang kamu timba tersebut tak akan pernah lekang dari ingatanmu.

Ilmu yang kamu pelajari dengan sungguh-sungguh jauh lebih berharga dibanding hanya sekadar nilai hasil ujian. Bayangkan nanti ketika kau terjun ke dunia kerja, menghadapi pasien yang sakit, merancang konstruksi bangunan, menganalisa laporan perusahaan, membuat suatu pemograman, hanya dengan ilmumu lah kamu mampu bekerja dan berkembang sebagai manusia. Nilai tinggimu itu sama halnya omong kosong belaka jika kamu tak mendapatkannya dari jerih payahmu belajar mati-matian.

Ada bapak ibu guru yang telah mati-matian mendidikmu dengan ilmu yang mereka punya. Manfaatkan sebaik mungkin ilmu yang sudah mereka titipkan padamu.

Hargai gurumu dan juga dirimu sendiri via smpn1dolopo.wordpress.com

Guru itu juga manusia, jadi jangan heran kalau karakter dan sifatnya juga berbeda-beda. Mungkin ada segelintir dari mereka bukan tipe pengajar idealmu, hingga tak jarang orang itu sering menjadi korban olok-olokmu. Tapi dari sekian banyak guru yang mengajarimu, setidaknya pasti ada salah seorang dari mereka yang mengerti dirimu dan benar-benar tulus mengajari ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi murid-muridnya.

Tanpa meminta pengertianmu sedikitpun, mereka bersusah payah mengulang pelajaran yang sulit kau mengerti. Memberikan jam pelajaran tambahan jika kau butuh, padahal gaji yang mereka dapatpun terkadang tak sebanding.

Mencontek sama halnya telah menikam mereka dari belakang dalam-dalam. Nilai yang tinggi memang akan membuatmu, gurumu, dan orangtuamu tersenyum lebar saat melihatnya, tapi apakah mereka akan bangga saat tahu ternyata kamu menipunya mentah-mentah? Hargai jerih payah mereka dan juga dirimu sendiri. Dengan tidak mencontek, kamu telah menjaga sportivitas dalam berkompetisi, dan yang terpenting adalah hasil yang kamu peroleh adalah murni dari hasil pemikiranmu sendiri.

Nilai bagus adalah ganjaran setimpal bagi mereka yang sudah bekerja keras. Jangan nodai kejujuranmu, kamu tak pantas mendapat nilai dari hasil mencontek.

Kemampuanmu lebih dari hanya sekadar digunakan untuk mencontek via medium.com

Mungkin kamu pernah tergoda dan mencobanya. Bagaimana hasilnya? Atau bagaimana perasaanmu setelahnya? Pasti kamu melakukannya dengan penuh ketakutan dan kegelisahan.

Lirik kiri dan kanan ke kertas jawaban teman. Kau mengisinya, menghapus jawabanmu dan mengganti dengan jawaban si teman. Eh apesnya, jawabanmu harusnya benar dan hasil contekmu ternyata salah. Belum lagi ketika si dosen atau guru mendadak berjalan ke arahmu, dan kaupun  mendadak mati kutu dan merasa kepedean.

Sudahlah, tak ada yang lebih tenang selain mengerjakan soal ujianmu seorang diri. Kamu tak perlu mengeluarkan banyak tenaga hanya untuk mencuri-curi jawaban yang juga belum tentu benar. Ayolah, gunakan otak dan tenagamu untuk hal yang lebih terhormat. Nilai yang tinggi hanya pantas diraih oleh mereka-mereka yang bekerja keras sedari awal. Dan kamu adalah orang-orang yang pantas mendapat nilai tinggi dari hasil kejujuranmu.

Orangtuamu banting tulang menyekolahkanmu agar jadi manusia yang lebih baik. Sudikah kamu membalas jasa mereka dengan hasil berbuat curang?

Untuk orang yang berusaha keras untukmu, maka berusalah untuk mereka via indohub.com

Hmm, wajah-wajah lugu nun jauh di sana itu, yang kerap kali membuatmu rindu. Dia yang selalu menitipkan pesan ketika kamu akan kembali ke peraduan. Dia yang rela kulitnya terbakar agar kamu bisa sukses. Dia yang bekerja keras mengumpulkan uang secara halal agar kamuu dapat bersekolah tanpa kebohongan dan kecurangan.

Beritakan kabar gembira itu, tentang nilaimu yang paling tinggi di kelas. Wah, lihatlah senyum bangganya yang mengembang. Lalu ceritakan padanya bahwa kamu mendapatkan nilai itu dari hasil mencontek. Apa yang akan kamu lihat? Yang ada hanya raut kecewa di wajahnya.

Bukankah itu sama saja menghancurkan hatinya? Orangtuamu memang berhasrat dapat membanggakanmu, tapi tidak dengan cara itu. Nilai bagus namu hasil dari kecurangan hanya akan mempermalukannya. Beritahu kejujuran itu padanya, katakan bahwa kamu sudah berusaha tapi tetap tak mampu mendapatkan hasil maksimal, dia akan jauh lebih mengerti dan menghargai kerja kerasmu.

“Orangtuamu siang malam memperjuangkanmu, mengapa kamu tidak mau bersusah payah ikut berjuang untuknya?”

Otakmu adalah anugerah terbesar dari Sang Pencipta. Gunakahlah untuk melakukan hal-hal positif dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Manfaatkan otakmu sebaik mungkin via www.hemensaglik.com

Tuhan menciptakanmu dengan segala kesempurnaan. Dianugrahi otak yang mampu berpikir, memori yang jauh lebih hebat dibandingkan ponsel-ponsel pintar yang kamu genggam  itu. Hargailah pemberian Tuhanmu, gunakanlah untuk hal-hal yang bermanfaat.

Ayo, kamu pasti bisa melakukan hal yang lebih hebat dari hanya sekadar mencontek. Gunakan kemampuan dan kecerdasanmu untuk hal-hal yang tak merugikan dirimu sendiri dan orang lain.

Setinggi-tingginya nilaimu, kamu tak bisa membawanya sampai mati. Hanya ilmu-ilmu yang  bermanfaatlah yang bisa jadi hartamu yang paling berharga.

Nilai-nilaimu itu tak akan kamu bawa sampai mati via wall.serbianforum.info

Masih ingatkah kamu, bahwa hal yang akan kamu bawa hingga mati nanti adalah ilmu yang bermanfaat? Bukanlah rapor sekolahmu yang berisi nilai-nilai tinggi di dalamnya. Tak ada malaikat yang akan mempertanyakan kenapa nilaimu rendah di alam kubur nanti.

Jika kertas putih dengan nilai A itu ingin kamu bawa ke kubur nanti, siapakah yang akan tertarik untuk melihatnya? Bahkan cacing dan ulat di dalam tanah akan mungkin tak bernafsu karena kertasmu itu beraroma kecurangan.

Belajar sebaik mungkin dan gunakan untuk hal-hal yang berguna, maka ilmumu pasti akan kekal hingga kamu bawa mati nanti. Tak ada harta lain yang bisa kamu bawa saat ajal menjemputmu selain ilmu-ilmu yang pernah kamu timba dengan sungguh-sungguh.

Mendapat nilai yang bagus dengan cara yang jujur memang sulit, tapi percayalah Tuhan tak akan menganiaya orang-orang yang sudah menegakkan kejujuran.

Tuhan bersama mereka yang jujur dan berusaha via www.got-blogger.com

Usahamu tidak membuahkan hasil? Sudah susah payah berjuang keras tetapi masih saja mentok di B atau mungkin C. Sialnya lagi mungkin kamu belum juga berhasil lulus sampai sekarang? Mereka mengataimu bodoh, tanpa pernah tau sesusah apa kamu telah berjuang. Percayalah, Tuhanmu tidak pernah tidur dan dia tahu apa yang terbaik bagimu.

Mengeluhlah dan memintalah pada-Nya. Karena makhluk yang jujur sepertimu adalah salah satu yang disayangi-Nya. Mungkin kamu tak bisa lulus cepat seperti teman-temanmu yang lain, jangan berkecil hati dulu, ada skenario indah yang telah dipersiapkan-Nya. Tuhan tidak akan pernah memberikan hasil yang buruk kepada orang-orang yang sudah bersusah payah menjaga kejujuran. Tuhan punya ganjaran yang lebih indah pada mereka yang terus teguh untuk tidak berbuat kecurangan.

Sadarkan dirimu bahwa tak ada hal yang lebih membanggakan selain sukses meraih impian dan cita-cita dengan cara yang jujur!

Kamu berhak lulus dengan terhormat via skullers.tf.itb.ac.id

Setelah belajar matian-matian, ujian ini ujian itu, praktek ini pratek itu, dan kelulusanmu sudah di depan mata. Seperti garis finish yang melambai-lambai memanggilmu untuk menghampirinya. Memaksamu berlari meski dengan kecepatan minimum. Tetapi yakinlah, kamu akan tetap bisa sampai pada garis finish tersebut.

Ketika kelulusan itu sudah kamu raih, maka selesai semua. Bayangkan, betapa bangganya dirimu mengenakan baju toga itu dengan cara yang jujur dan tanpa sedikitpun kecurangan. Kamu sudah menempa dan mengasah kemampuanmu akan percaya diri bahwa kau mampu menaklukannya. Kebanggaan tak hanya datang dari dirimu saja, namun dosen pemimbing dan juga orangtuamu pun akan bangga padamu. Atas kejujuran dan kerja kerasmu ini, kamu layak menjadi lulusan yang terhormat!

Sesulit dan seberat apapun ujian yang kamu hadapi, jangan tergoda untuk berbuat curang. Selalu tegakkan kepalamu dan junjung tinggi sportivitas!

Teruslah berjuang, jalanmu sudah benar via www.huffingtonpost.com

Sudah berjalan sejauh ini dengan, lantas kamu masih berencana untuk berbelok mengikuti cara pintas itu? Iikirkan baik-baik lagi. Apa yang kau lakukan sudah tepat dan benar. Mencontek itu ibarat narkoba, sekali kau coba dan efeknya berhasil bekerja maka kau akan ketagihan mencobanya lagi. Kamu pun akan seterusnya terjun dalam praktik kecurangan.

Kamu tak lagi menginginkan sebuah kompetisi yang sportif, kamu pun seterusnya akan enggan memanfaatkan ilmumu untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Percayalah, hal-hal yang kamu dapat dari hasil berbuat curang tak akan pernah membawamamu pada kebahagiaan maupun kesuksesan. Mencontek adalah cikal bakal kecurangan lain yang bisa lebih merugikan banyak orang.

Tuhan tidak akan membiarkanmu terus-terusan jatuh dan terluka. Untuk kamu yang terus teguh berusaha jujur, ajari mereka untuk mengikuti caramu. Seberat apapun jalannya, pilihlah jalan yang penuh dengan sportivitas dan kejujuran.

Mencontek adalah candu dan mencontek bukanlah sebuah budaya dalam sebuah bangsa dan manusia. Karena manusia jujur sepertimu mulai langka, tolong jangan biarkan punah. Negeri ini membutuhkanmu, calon pemimpin yang lahir dengan cara yang benar dan jujur. Kamu berhak sebal kepada para pencontek di luar sana, karena merekalah orang-orang yang merugikan banyak pihak. Hei kamu yang tidak mencontek, sadarlah prinsipmu itu keren!