Ibu, bisa kah kau lindungi aku?  Melindungiku dari gelombang suara yang terpantul kemudian merambat melalui udara dan akhirnya sampai ditelingaku? Ibu tahu suara apa yang dihasilkan dari gelombang itu? Gelombang itu menghasilkan suara tanya:

Kapan menikah?”

Suara itu terus menerobos gendang telingaku. Ibu, bisakah kamu merasakan? Gendang telingaku bergetar hebat ditembusnya — sakit telinga ini rasanya. Ibu, bisakah kau menghalangi gelombang suara yang datang dari segala penjuru arah itu? Agar gelombang itu bisa memantul dan menggema kembali ke lubang telinga mereka?

Bisakah kau mengecilkan frekuensi gelombang suara itu untukku, bu? Paling tidak, menjadi kurang dari 20Hz saja tidak apa-apa. Agar hanya hewan-hewan saja yang dapat mendengar pertanyaan itu.

Aku punya ide bagus, Bu! Bagaimana kalau Ibu hilangkan saja udara dari bumi ini? Atau kita pergi ke kerajaan langit untuk menghapus kata “menikah”?

Aku punya ide bagus, Bu… via jasonkeefer.photography

Advertisement

Bu, bisakah ibu bisa menghilangkan udara di dunia ini? Ibu tahu ‘kan gelombang suara mengalir lewat udara? Kalau tidak ada udara, tidak akan ada media yang bisa menghantarkan gelombang suara dari mulut orang-orang yang bertanya “kapan menikah?” sampai ke telingaku. Ah, tapi tunggu dulu, aku dan ibu kan masih butuh udara untuk bernapas, ya? Ah, bukan ide yang bagus ternyata, bu.

Atau, Ibu aku punya ide hebat sekali tentang ini. Ibu mau tahu ideku? Bagaimana kalau kita berdua menyelinap ke kerajaan langit, kemudian kita curi kitab sakti bahasa Indonesia, lalu kita hapus saja kosa kata “Menikah”!

Ibu yang mengintai agar kita tidak ketahuan oleh pengawal kerajaan, dan aku yang akan menghapus kosa kata itu dari kitab. Bagaimana, Bu? Ah, tapi sepertinya itu ide yang sama buruknya. Tidak akan ada aku sebagai putri ibu kalau kosa kata “menikah” dihapuskan dari dunia ini. Buruknya lagi, aku bahkan tidak tahu kerajaan langit itu berada di sebelah mana. Payah!

Ibu, aku sudah terlalu tersiksa dan muak. Lindungi aku dari pertanyaan ini, seperti dulu saat Ibu melindungiku dengan selimut amnion yang hangat

Pertanyaan ini sungguh menggangguku via rachwagner.blogspot.com

Ibu, pertanyaan ini sungguh mengangguku. Sama mengganggunya seperti bisul yang sudah memerah, membengkak, lalu tinggal menunggu waktu untuk pecah. Parahnya lagi, bisul ini letaknya di hati. Rasanya sungguh gatal-gatal dan sakit.

Ada banyak orang yang bertanya, bahkan puluhan mungkin. Ah, mereka itu bagai reporter acara gosip saja. Padahal aku ini bukan artis, masuk TV saja belum pernah! Bayangkan saja, Bu… Kalau ada satu pertanyaan mewakili satu bisul, sudah ada berapa bisul yang pecah di hatiku ini?

Aku ingat sekali,Bu. Saat kecil dan aku terjatuh, Ibu akan dengan cepat menghampiriku. Mengusap lukaku lalu meniup-niupnya. Sama halnya dengan bisul pecah ini. Aku harap Ibu juga bersedia menyembuhkannya, dan terlebih lagi mencegah bisul lainnya berpecah-belah tak karuan.

Ibu, bisakah kau melindungiku? Seperti dulu saat kau melindungiku dengan selimut amnion yang hangat dan membuat siapapun tidak bisa melukaiku. Mudah saja mereka bertanya soal “kapan menikah?”.  Tidak tahukah mereka kalau aku ini sedang berusaha menjadi putri Ibu yang baik? Iya ‘kan, Bu? Ah, terdengar seperti alibi, ya?

Ayolah Bu, Omeli mereka yang tak henti-hentinya bertanya hal ini padaku. Katakan pada mereka, aku ini masih bau kencur — belum pantas untuk menikah…

Bisakah ibu mengomeli mereka? via www.velvet.by

Bisakah Ibu mengomeli mereka untukku? Seperti dulu Ibu mengomeli teman-temanku yang jahil padaku saat masih SD. Wah, aku masih ingat sekali, kalau aku melapor ada orang yang jahat padaku atau mengolok-olokku di sekolah, Ibu pasti langsung mengomeli mereka. Ajaibnya, besok ketika aku berangkat sekolah, mereka tidak berani lagi menggangguku.

Saat ini kisahnya sama Bu. Mereka juga menjahiliku, hanya saja jahilnya berbeda. Mereka dengan teganya melontarkan pertanyaan “kapan menikah?” dengan entengnya dan memasang wajah tanpa dosa. Hanya karena usiaku sebentar lagi sudah menginjak dua puluh tiga, mereka merasa ini sudah saatnya untuk bertanya hal itu padaku. Astaga, Ibu aku masih muda sekali ‘kan untuk menikah? Angka itu belum terlalu banyak.

Bisakah Ibu mengomeli mereka untukku? Kemudian aku akan menunggu keajaibannya esok pagi, dimana mulut mereka sudah tersumpal oleh omelan Ibu dan tidak akan menanyakan pertanyaan bodoh itu lagi padaku. Ah, mereka bertanya seperti mereka hendak menyediakan pelaminan berikut jodohnya sekalian untukku saja.

Ibu bilang saja pada mereka, sambil memasang wajah cantik Ibu yang polos, katakan kalau aku ini masih terlalu muda untuk mengikat janji sehidup semati dengan seorang pria. Katakan saja aku masih bau kencur. Meski jujur, Ibu. Sebenarnya aku tidak  menyukai bau rempah-rempah yang satu itu.

Atau mungkin Ibu bisa katakan kalau aku ini masih suka mengompol. Jadi tentu belum pantas menikah. Bagaimana Ibu? Cukup masuk akal bukan? Ah, tapi jangan, Bu! Nanti aku malu!

Awalnya, pertanyaan ini sama sekali tak menggangguku. Namun, semakin lama aku semakin takut membayangkan akan datang seorang pria yang menggantikan tugasmu untuk menjagaku nanti

Awalnya aku baik-baik saja via www.topit.me

Ibu, sebenarnya pertanyaan itu tidak begitu mengangguku. Aku baik-baik saja awalnya. Tetapi setiap ada orang yang mengajukan pertanyaan “kapan menikah?”, aku dengan tiba-tiba teringat kepada Ibu — lalu aku merasa takut. Bagaimana tidak? Saat pertanyaan itu terjawab, maka akan ada orang yang mengambilku dari Ibu. Membawaku pergi jauh dari dekapan Ibu. Apa Ibu tidak merasa takut jika putrimu ini tak bisa lagi menemani hari-hari tuamu?

Karena Ibu tahu kan? Aku masih putri kecil Ibu yang paling manis. Dan akan selalu begitu, bukan? Karena aku tidak bisa kembali lagi berlindung dalam selimut amnion Ibu saat dunia di luar sana begitu kejam menyerangku. Maka, tidak bisakah orang-orang membiarkanku? Membiarkanku bersama Ibu lebih lama lagi dan terbebas dari pertanyaan “kapan menikah?” yang akan membuatku teringat hari dimana akan ada orang yang menggantikan tugas Ibu untuk menjagaku.

Aku mohon Bu, kabulkanlah permintaanku. Bukannya aku tak mau menikah, hanya saja aku masih ingin memulai karirku, mewujudkan mimpi, dan juga membahagiakan Ibu dengan keringatku sendiri

Bukannya aku tak mau menikah, tapi… via junebugweddings.com

Jadi, aku mohon Bu, kabulkanlah permintaanku, oke? Omeli saja mereka seperti halnya ibu sedang mengomeliku. Setidaknya agar mereka tahu. Bukannya aku tidak ingin menikah, tetapi pasti akan ada jawaban kok dari pertanyaan “kapan?” itu. Tapi tentu bukan sekarang.

Biarkan setidaknya aku menyelesaikan sekolahku, memulai karirku, menabung dengan baik. Itu juga penting bagiku. Aku juga ingin mengejar cita-citaku setinggi mungkin, sukses seperti banyak orang, bertualang ke berbagai tempat, dan membahagiakan Ibu.

Oh iya Bu, ada satu hal yang lebih penting lagi Bu. Tapi Ibu jangan bilang pada mereka ya? Ini hanya rahasia antar aku dan Ibu. Aku sedari tadi sewot ‘kan? Ya, itu karena aku masih jomblo sampai hari ini!