Jalan saat ini sudah bukan lagi hanya sekadar tempat lalu lalangnya sepeda, motor, mobil, dan kendaraan lain. Saat ini jalan sudah bertansformasi menjadi jantung kehidupan masyarakat, dan juga rumah kedua bagi kita semua — terutama yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Sebagai akses utama mobilitas, kita sudah menghabiskan milyaran waktu di jalanan. Kata orang-orang sih:

“TUA DI JALAN.”

Jalan sudah seperti rumah sendiri bagi kita, karena itulah kita kadang sering lupa kalau jalanan itu juga milik bersama. Tanpa sadar kita sering lupa bagaimana tata cara berkendara yang baik, bahkan sampai merugikan dan membahayakan nyawa sendiri maupun orang lain.

Kita sendiri kadang sudah terlalu muak, bahkan sepanjang perjalanan yang ada dalam hati dan yang terucap di bibir kita hanya berisi keluhan, cacian , dan sumpah serapah. Kita semua benar-benar menginginkan perubahan yang lebih baik soal ketertiban dalam berkendara. Tapi, apakah di balik keluhan dan tuntutan yang sering kita suarakan itu tercermin dalam perilaku kita saat berkendara?

Advertisement

“Jika kita selalu memimpikan bisa berkendara dengan nyaman di jalan raya seperti di negara-negara maju, maka inilah saatnya kita mengubah cara kita berkendara di jalan raya.”

1. Kita semua tahu bahwa menyalip juga ada sopan santunnya. Menyalip dari lajur kiri sama saja kita telah berkontribusi pada kenaikan risiko kecelakaan di jalan raya.

Menyalip dari sebelah kiri itu berbahaya via brctobasa.wordpress.com

Pernah nggak kamu mengalami hal kayak gini? Lagi naik motor/mobil dengan santai, tiba-tiba ada motor kencang langsung nyalip dari lajur kiri. Apalagi kalau hendak belok kiri dan sudah menyalakan lampu sein, tiba-tiba ada motor yang main serobot aja. Kamu pasti kaget dan ngerem mendadak ‘kan?

Saking kagetnya kamu ngerem mendadak sampai oleng dan keseimbangan terganggu. Paling parahnya kendaraan yang ada di belakangmu menabrak kendaraanmu, dan bisa terjadi tabrakan beruntun. Kalau sudah begini, siapa yang jadi korbannya? Kamu dan banyak orang tentunya.

Kalau dilihat sih sepertinya sepele, nyalip dari sebelah kiri dan main serobot aja. Dari aturan yang ada, menyalip itu sudah tentu harus di lajur kanan, terkecuali jika jalan tersebut searah (one way). Ya, mungkin saja orang menyalip dari lajur kiri dan main serobot-serobot itu sedang terburu-buru karena harus mengejar sesuatu yang penting, tapi kalau urusannya menyangkut nyawa banyak orang masihkah kita harus egois mendahulukan kepentingan kita saja?

2. Sampai kapanpun kita tak akan bisa menerapkan ketertiban berkendara jika kita selalu menyerobot antrean di lampu merah hingga menutupi lajur kiri yang seharusnya jalan terus.

Menyerobot hingga menutupi lajur kiri yang jalan terus via kriminologi1.wordpress.com

Mungkin kita juga pernah disengaja atau tanpa sengaja melakukan hal ini saat di jalanan. Tiba-tiba datang menyerobot antrean lampu merah sampai harus mepet-mepetin motor ke pengendara lain. Atau karena saking nggak sabarnya kita maksain diri berhenti di lajur kiri yang sebenarnya bukan ruang berhenti kendaraan. Akibatnya suara klakson berlemparan dari belakang untuk mengusir kita yang sudah jelas-jelas salah jalur.

Sayangnya hal ini seringkali kita anggap sebagai hal yang wajar, hingga saat melakukan hal ini kita tak pernah merasa telah berbuat hal yang merugikan orang lain. Kita memaksa orang lain untuk minggir dan memberikan tempat, padahal keadaannya sudah terlalu mepet dan sesak. Apapun alasannya, hal ini tidak seharusnya kita benarkan. Ini juga bisa memicu emosi pengendara lain dan ujung-ujungnya kita juga yanga jadi emosi, padahal itu akibat dari ulah kita sendiri.

Sepele ‘kan masalahnya? Tapi kadang kita suka lupa diri, bahwa karena kita menyepelekan peraturan-peraturan kecil, kita jadi nggak tertib dan malah ngerugiin orang lain. Alhasil, kita juga deh yang nambah dosa.

3. Lampu sein bukan hanya aksesoris saja, tapi itu punya fungsi yang penting. Tak menyalakan lampu sein saat berbelok, kamu bisa saja membunuh orang tanpa sengaja.

Menyalakan lampu sein adalh bentuk antisipasi terhadap kecelakaan via edorusyanto.wordpress.com

Siapa nih yang suka lupa atau mendadak menyalakan lampu sein saat hendak berbelok? Lampu sein itu diciptakan sudah pasti ada fungsinya, meskipun kecil tapi punya fungsi yang begitu penting. Kalau kita sengaja atau tanpa sengaja, lupa atau mendadak menyalakan lampu sein itu sesungguhnya kita sedang mengundang masalah dan bahaya untuk datang. Dampaknya fatal!

Sedang berada di lajur tengah dan mau belok, dan kita tahu di kanan atau kiri ada kendaraan, kita masih ngotot belok aja tanpa nyalain lampu sein atau mendadak berbelok sekaligus menyalakan lampu sein. Jangan salahkan pengendara lain jika kita dimaki-maki habis-habisan, karena nyawa mereka hampir saja melayang di tanganmu.

Siapa bilang nggak menyalakan lampu sein saat berbelok itu sepele? Sengaja atau tidak, nggak menyalakan lampu sein sewaktu berbelok itu dosa besar lho! Kita udah melanggar aturan lalu lintas, ngagetin, dan bisa bikin kecelakaan. Mau belok ke kanan ataupun ke kiri, WAJIB hukumnya menyalakan lampu sein.

4. Tak hanya pengendara kendaraan bermotor saja yang harus berhati-hati. Penyeberang jalan pun harus tahu cara menyeberang yang sopan dan tidak membahayakan.

Penyeberang jalan pun harus ikuti aturan menyeberang via www.lemhannas.go.id

Pernah kamu sedang santai mengendarai kendaraan dan menikmati jalanan yang lengang, pohon-pohon memberikan kesejukan dan angin bertiup sepoi-sepoi,lalu tiba-tiba dari pinggir ada yang nongol kayak tuyul lari menyeberang jalan. Pasti kaget bukan main ‘kan?

Kamu kaget karena hampir nabrak orang. Kamu kaget, orang yang mau ditabrak juga kaget. Tapi anehnya, seringnya malah kitalah yang dituduh ugal-ugalan. Padahal yang membahayakan adalah orang yang menyeberang jalan dengan berlari tanpa melihat kanan-kiri.

Saat kita sedag menyeberang, perlu kita ekstra berhati-hati. Kita tahu lawan kita adalah kendaraan bermotor yang memiliki laju kecepatan tinggi. Meskipun sedang menyeberang di zebra cross, kita harus berhati-hati dan pelan-pelan saja, supaya mobil atau motor punya kesempatan untuk mengendalikan arah dan kecepatannya.

5. Jeritan hati dan keluh kesahmu akan kemacetan ini tak akan pernah ada solusinya jika sampai sekarang kita masih saja parkir kendaraan di sembarang tempat.

Sampai kapanpun akan terus macet kalau parkirnya sembarangan via donnyvickly.blogspot.com

Memang ada peraturan yang memperbolehkan parkir di badan jalan, tapi meskipun begitu kita juga tetap harus memperhatikan keadaan sekitar dulu sebelum memarkirkan kendaraan kita – terlebih jika kita tahu itu adalah jalanan yang sempit. Lihat-lihat dulu, parkirnya ada di sebelah kanan atau kiri jalan. Parkirlah di tbahu jalan yang memang untuk parkir, jangan sampai bahu jalan kanan dan kiri jadi tempat parkir.

Bayangkan jika kalau yang dipakai parkir adalah badan jalan kiri dan kanan. Anggap saja lebar jalan adalah 8 meter, untuk parkir di kanan dan kiri, memakan lebar 4 meter (zona aman, spion dan badan mobil bebas geretan), jadi lebar jalan yang tersisa hanya 4 meter. 4 meter yang akan digunakan untuk lalu-lalang kendaraan, dua arah pula.

Duh, masa di jalan raya aja harus ngantri dan kalah sama mobil/motor yang parkir? Nggak nyaman kan pasti? Karena itu, mulai sekarang kita harus bisa tertib dalam hal parkir. Kalau memang tak boleh parkir ya jangan maksa parkir. Kalau tetep ngotot parkir, tahu-tahu ban mobilmu dikempesin oleh satpol PP ya jangan marah-marah.

“Jangan cuma bisa sering ngomel ke pemerintah tentang macetnya jalan raya, padahal nyatanya kita sendiri masih suka parkir sembarangan.”  

6. Masih pantaskah kita menuntut pemerintah untuk menuntaskan kemacetan di negeri ini jika kita masih sering merampas hak pejalan kaki dengan parkir dan mengendarai motor di trotoar?

Merampas hak para pejalan kaki via donnyvickly.blogspot.com

Sebagai pengguna motor yang berbudi dan bertoleransi, alangkah baiknya jika kita juga mengutamakan para pejalan kaki. Kalau jalur mereka kita rampas, mereka pasti akan turun ke jalan. Dampaknya, keselamatan dan kenyamanan para pedestrian jadi taruhannya. Banyak lho para pedestrian yang tewas karena tertabrak kendaraan.

Kalau kita masih saja parkir di trotoar, terus hak para pejalan kaki ada dimana? Kita tahu sendiri kan bagaimana keadaan trotoar di Indonesia, lebar trotoarnya sangat terbatas.

Lagi-lagi ini sebenarnya soal sepele, tapi saking sepelenya kita kadang sampai lupa diri kalau ternyata kita udah merampas hak orang lain. Kita memaksa para pejalan kaki untuk jadi tumbal demi kelancaran mobilitas kita. Kalau udah begini, secara nggak sadar kita telah sengaja mencelakakan orang lain.

7. Menunggangi kuda besi dengan kebut-kebutan, main serobot, dan berknalpot bising adalah tindakan paling kampungan. Jangan berharap ada perubahan yang lebih baik di negeri ini.

Kebut-kebutan itu kampungan. via jonsoliday.typepad.com

Kita pasti sebal banget kan kalau ada pengendara yang kelauannya seenaknya sendiri — yang nganggep jalan raya itu kayak punya nenek moyang dia? Ya, kelakuan pengendara motor yang seperti itu ngeselin banget karena benar-benar bisa membahayakan pengendara lainnya.

Ditambah lagi kalau motornya ngebut dan pakai knalpot yang berisik – makin mengganggu pasti. Berkaca dari hal tersebut, pastinya kita nggak akan mengikuti perilaku yang ‘kampungan’ seperti itu ‘kan? Kita nggak perlu menggadaikan kebaikan hati kita di jalanan hanya karena ingin cepat sampai tujuan.

8. Merokok saat mengendarai motor memang nggak berisiko terjadi kecelakaan, tapi kamu sudah menyumbang polusi dan penyakit di paru-paru pengendara lainnya.

Merokok di jalan raya merugikan banyak orang via www.kaskus.co.id

Merokok memang urusan pribadi masing-masing, tapi beda lagi ceritanya kalau merokok sampai mengganggu kenyamanan dan kesehatan orang lain. Ya memang belum ada peraturan dilarang merokok di jalanan, tetapi apa salahnya jika kita tahu diri untuk tidak merokok sembarangan — apalagi membuang puntung rokonya di jalan raya.

Sadarkah kalau asap rokok menyebabkan polusi di paru-paru pengendara lainnya? Apalagi saat sedang di lampu merah, orang yang di depan kita dengan seenaknya menghembuskan asap rokok yang begitu tebal, bahayanya lagi kalau kita sedang membawa anak kecil. Udah pasti anak, asik atau keponakan kita akan terkena paparan aspa rokok yang berbahaya. Nggak nyaman banget kan pasti?

Jika ternyata kita sampai saat ini masih suka merokok sambil naik motor atau mobil, alangkah baiknya kalau ditahan dulu. Hormatilah orang-orang yang tidak merokok, karena jalan raya bukan hanya milik kita seorang. Jangan lagi jadi orang yang acuh tak acuh dengan keadaan sekitar. Jika kita sangat menginginkan keteraturan dan ketertiban di jalan raya, harus dinulai dari diri kita sendiri.

9. Berhenti di garis zebra cross dan di ruang henti sepeda adalah bentuk nyata bahwa sebenarnya kita adalah orang yang minim kepedulian.

Berhenti di zebra cross. via metro.kompasiana.com

Kalau yang seperti ini sih biasanya disengaja. Tadinya mau mlipir kanan atau kiri antrian kendaraan di lampu merah, eh ternyata gak dapat celah buat nyerobot antrean, yaudah deh terpaksa berhenti dizebra cross. Mungkin  masyarakat kita masih belum terbiasa menyeberang di zebra cross, tapi kalau nggak dibiasakan dari sekarang kapan lagi? Kalau kita para pengendara motor mau memberi jalan pada penyeberang jalan, pasti mereka pun akan mau menyeberang jalan melalui zebra cross.

10. Jalan raya bukan tepat yang nyaman untuk mengobrol, karena memang bukan tempatnya. Tak usah menguji kesabaran pengendara lain dengan menyuruh menyimak obrolanmu di jalan.

Ngorol di cafe aja lebih nyaman via www.duniaku.net

Sepertinya kita cukup sering melakukan hal seperti ini. Ya, kadang kita asyik ngobrol dengan teman, bukan berboncengan, melainkan mengendarai motor beriringan. Iya sih, seru ngobrol-ngobrol sambil menikmati perjalanan, tapi yang kena imbasnya adalah yang di belakang kita. Nggak mungkin ‘kan mereka nungguin kita sampai selesai ngobrol?

Kalau udah denganr suaraklakson, ya itu tandanya harus segera minggir. Kalau mau ngobrol, lebih baik berhenti dulu, syukur-syukur berhenti di warung atau kafe, duduk dengan manis, sambil ngopi, terus dilanjutin deh ngobrolnya. Ya nggak ada yang ngelarang sih ngobrol di jalan, tapi setidaknya kita tahu diri saja, kalau jalan raya ini meilik bersama. Jangan egois dipakai sendiri ya!

11. Kalau mengendarai kendaraan saja masih sambil mengutak-atik ponsel, kita nggak perlu capek-capek berharap pengendara lain tertib berlalu lintas.

Berkendara dengan menggunakan telepon via test.autobild.co.id

Nah, yang terakhir ini bisa dibilang penyakit berbahaya yang sedang menjangkit para pengendara di Indonesia. Nggak dipungkiri kadang kita gatel banget untuk ngecek ponsel kita kita lihat ada sms atau chat yang masuk. Itu sih boleh saja, asalkan nggak lagi mengendarai mobil atau motor. Selain bikin nyetirnya ngawur, ini bisa berbahaya buat kita dan orang lain. Jangan deh..

“Jangan jual murah nyawa kita hanya sekadar untuk membaca sms atau chat di ponsel saat berkendara.”

Mengendarai kendaraan itu butuh konsentrasi tinggi, kalau kita memecah konsentrasi mengensarai dengan membalas sms atau chat, itu risiko kecelakaannya tinggi. Apalagi yang lebih penting selain nyawa kita sendiri? Apalagi sampai bisa menghilangkan nyawa orang lain. Secepat mungkin berhenti melakukan kebiasaan ini. Jangan nunggu sampai kecelakaan dulu baru berhenti melakukan kebiasaan buruk ini ya!

Nah, hal-hal itulah yang sebisa mungkin harus kita hindari demi ketertiban dan kenyamanan berlalu lintas. Semoga dengan memulai dari diri sendiri, kita bisa jadi contoh bagi generasi kita berikutnya. Setidaknya perilaku kita pasti akan dicontoh oleh orang-orang terdekat kita. Kalau kamu punya pengalaman buruk tentang kelakuan orang-orang berkendara yang seenak sendiri, boleh dong kita bagi pengalaman kita di sini. Demi kenyamanan dan ketertiban di negeri ini! 🙂