Sebagai orang yang mengandung dan membesarkan kita sekian lama orangtua tentu merasa punya kewajiban mengantarkan kita ke gerbang kedewasaan yang kerap ditandai dengan sebuah pernikahan. Kebebasan tentu mereka berikan, namun sebagai anak kita baru bisa melangkah tenang setelah ada restu dan keikhlasan.

Wajar saja jika orangtua memiliki kriteria yang wajib dipenuhi oleh calon pasangan putra-putrinya. Bukan karena tidak rela, hanya saja mereka tentu tak ingin kita hidup tidak nyaman setelah lepas dari atap mereka.

Berikut ini adalah jawaban-jawaban dari pembaca tentang syarat wajib dari orangtua mengenai kriteria calon suami atau istri bagi anak mereka. Kira-kira syarat apa saja sih yang seringkali diminta oleh para orangtua yang wajib dituruti oleh anak-anaknya dalam mencari calon suami atau istri? Sudahkah ini dimiliki oleh calon pasanganmu? Simak yuk!

1. Agama adalah sebuah pondasi dari sebuah rumah tangga. Tak hanya mencari pasangan yang memanggil Tuhan dengan sebutan yang sama, tapi pastikan dia juga kokoh imannya

Calon suami atau istri dari anaknya harus yang seiman! via www.4summer.net

“Harus seiman. Jangan ampe beda agama. Nanti ngurusin macem-macemnya repot, belom lagi kalo nanti ada masalah antar keluarga. Anaknya juga nanti jadi bingung mau milih agama bapak atau ibu nya. Itu kira-kira perkataan nyokap gua tentang calon istri gue nanti.”

Advertisement

Putra, 20, Depok

“Cari suami yang sholeh. Gak pernah melupakan sholat sebagai tiang agama. Sehingga hidup ada pegangannya. Rumah aja punya pondasi. Begitu juga dengan hidup.” Pesan ibu sebelum beliau meninggal. Sebab beliau tak ingin saya merasakan apa yang beliau rasakan.”

Yunika Bestari, 20, Surabaya

Di Indonesia, mayoritas sepakat bahwa pasangan yang menikah sudah sepatutnya memiliki agama yang sama. Bahkan negara ini pun tak menyediakan tempat bagi warganya yang ingin menikah beda agama. Menikah beda agama menjadi hal yang masih dianggap tabu di masyarakat kita. Banyak kerumitan yang pasti akan di hadapi. Mulai dari persoalan pernikahan, masalah antara keluarga kedua belah pihak, hingga masa depan anak-anaknya nanti.

Tapi tak cukup hanya seiman, orangtua juga akan lebih rela untuk melepaskan anak-anaknya kepada dia yang punya pengetahuan agama yang baik. Orangtua yakin bahwa agama adalah pondasi bagi sebuah keluarga. Jika seorang suami atau istri yang memiliki keimanan yang baik, orangtua percaya bahwa keluarganya memiliki tujuan dan pedoman yang kuat, dan tentu akan selalu dalam perlingungan Tuhan YME. Karena itulah, demi kebaikan keluarga anak-anaknya kelak, orang tua menginginkan dan mewajibkan anak-anaknya untuk menikah dengan sesorang yang seiman.

2. Tak ada orangtua yang ingin anaknya hidup kekurangan. Pasanganmu kelak harus punya tanggung jawab menjamin kehidupan finansial di masa depan

Pria yang sudah mapan via www.wired.co.uk

“Mapan secara finansial. Bagi saya seorang perempuan mempunyai pasangan yang mapan adalah sebuah kewajiban. Sebab, bagaimanapun juga, tidak dipungkiri, keuangan juga landasan kemapanan dan kelanggengan sebuah keluarga.”

Gwendelin, 25, Malang

Seorang menantu laki-laki yang mapan tentu adalah dambaan bagi semu mertua. Orangtua yang sudah punya pengalaman berpuluh-puluh tahun membina keluarga tentu tahu betul bahwa persoalan finansial adalah hal yang sangat krusial dalam sebuah rumah tangga. Bukan berarti mereka adalah mertua yang matre, tapi mereka hanya ingin anak perempuannya hidup dengan layak saat dia tak lagi tinggal bersama mereka.

Lelaki yang mapan secara funansial setidaknya sudah memiliki modal penting bagi mencukupi keluarganya di masa sekarang dan masa depan. Mengingat kebutuhan ekonomi saat ini semakin menghimpit, terang saja orangtua semakin khawatir jika kebutuhan putri kesayangannya tak bisa tercukupi dengan layak. Yang mereka inginkan hanya ingin anaknya bisa hidup layak, setidaknya selayak saat mereka masih hidup bersama mereka.

3. Tak masalah jika saat ini belum mapan. Tapi yang jelas seorang kepala keluarga harus punya penghasilan yang bisa diandalkan tiap bulan

Setidaknya punya pekerjaan tetap via match.profilaktika.info

“Pria yang udah punya pekerjaan tetap. Kalo udah punya pekerjaan tetap kan udah ada pegangan dalam berumah tangga. Walaupun mungkin penghasilan engga banyak tapi seenggaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Fika, 23, Jakarta

“Harus sudah kerja. Istri juga bekerja, kebutuhan hidup memang makin tak bisa dipenuhi jika tidak disokong berdua. Soal kemapanan dan kesuksesan finansial, itu urusan belakangan. Kemapanan dan kesuksesan bisa dicapai berdua.”

Dewi Ummy Lathifah, 23, Samarinda

Benar yang dikatakan oleh para pembaca di atas. Seorang kepala keluarga adalah tulang punggung keluarga, dialah yang punya kewajiban untuk menafkahi keluarganya. Orangtua mana yang rela melepaskan putri-putrinya kepada laki-laki yang belum jelas pekerjaan dan penghasilannya. Kalaupun kemapanan bukan syarat mutlak yang diminta oleh orangtua, pekerjaan adalah hal wajib yang tak akan bisa ditawar lagi.

Mereka ingin anak-anaknya setelah menikah nanti bisa hidup mandiri dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Orang tua pastinya ingin anak mereka bersanding dengan laki-laki yang bertanggung jawab, yang mau berusaha keras menafkahi anak istrinya nanti. Orangtuamu bukan banyak menuntut, tapi karena mereka berpikir realistis. Mereka hanya ingin hidup anaknya terjamin dan tak ingin melihat anaknya sengsara.

4. Mengontrak atau tinggal bersama mertua tentu tak nyaman jika dijalani terlalu lama. Rencana memiliki rumah sendiri perlu dimiliki pasanganmu saat ini

Sudah punya rumah sendiri via www.nonsportsman.com

“Punya rumah sendiri. Sudah menikah jadi harus bisa mandiri nantinya, tidak selalu bergantung ke orangtua ataupun mertua. Nggak malu sama kucing. hehehe..”

Mega, 20, Malang

Terlebih lagi jika seorang pria yang hendak meminang anak gadisnya adalah pria yang sudah mapan dan memiliki rumah pribadi. Laki-laki yang seperti ini sudah tentu jadi nilai plus bagi orangtua. Kembali lagi, orangtua hanya ingin melepaskan anaknya pada orang yang bisa menjaga putrinya dengan baik. Tak ayal jika orangtua akan sangat percaya dengan laki-laki yang sudah menyediakan rumah bagi anak dan cucunya nanti.

Lagipula, orangtua juga ingin melihat anaknya bebas membangun rumah tangga sendiri tanpa campur tangan dari mereka. Meski mereka sangat bahagia tinggal bersama anak dan menantunya, tentu tinggal bersama dalam satu atao tak akan memberi ruang gerak yng bebasa bagi anak, menantu, dan cucunya. Mereka ingin melihat anaknya hidup mandiri dan bahagia dengan keluarga kecilnya.

5. Menurut orangtua, memiliki suku yang sama berarti memiliki karakter yang tak jauh berbeda. Kecocokan karakter adalah kunci dari keharmonisan keluarga.

Orangtua senang dengan menantu yang sesuku via twendeharusini.blogspot.com

“Seiman dan satu suku. Secara gw orang Batak dan harus nikah sama orang Batak. Yang lebih ngenesnya lagi gw pacaran ama orang Jawa, tamatlah riwayat gw.”

Rizky Andri, 23, Semarang

“Orang tua aku masih memprioritaskan kesamaan suku. Bagi mereka, kalau anaknya menikah dengan pasangan yang memiliku suku yang sama, akan terasa lebih dekat dan lebih cepat berbaur. Selain itu, tidak perlu menyesuaikan kebiasaan adat dengan suku yang lain.”

Sashi, 23, Padang

Selain agama, kesamaan suku seringkali menjadi hal yang masih banyak dipermasalahkan oleh orangtua. Memiliki menantu yang memiliki ras dan suku yang sama seolah-olah memberikan rasa kedekatan yang lebih dibandingkan dengan menantu yang berbeda suku.

Di Indonesia sendiri, menikahi seseorang juga bisa berarti menikahi keluarganya. Seseorang yang memiliki suku yang sama akan dianggap memiliki kedekatan dan karakteristik yang sama, sehingga lebh mudah cocok dan dekat. Demi keharmonisan keluarga, orangtua menginginkan anak-anaknya menikah dengan orang yang punya suku yang sama.

Beberapa suku di Indonesia masih banyak yang dengan tegas menginginkan anak cucu mereka menikah dengan orang yang sesuku agar memiliki generasi penerus yang bisa melestarikan budaya dan sukunya. Mungkin bagi kita ini masih terlalu kolot, tapi jika dilihat dari sudut pandang orangtua,mungkin ini adalah salah satu faktor yang bisa membuat pondasi sebuah rumah tangga bisa kuat.

6. Orangtuamu hanya akan makin menua dan sering sakit-sakitan. Mereka akan lebih bahagia jika kalian bisa tinggal tak begitu berjauhan

Tinggal dekat dengan orangtua via www.wisegeek.com

“Suami yang mau tinggal sekota ama bokap, pasalnya gue anak tunggal.”

Niken, 22, Jogja

“Yang pernah mention itu cuma nenekku yang cerewet. beliau bilang, cari jodoh jangan jauh-jauh rumahnya, biar kalo mudik nggak repot.”

Ayu Gina Utari , 24, Jakarta

Bukan berarti mereka tidak ikhlas untuk ditinggal oleh anaknya, tapi orangtua juga ingin anaknya bisa rutin menjenguk dan merawatnya ketika mereka sudah semakin menua. Mereka juga memikirkan tentang intensitas dan kepraktisan untuk bertemu dengan anak, menantu, dan cucunya.

Jika rumah orangtua dan anaknya tak terlalu jauh, mereka pasti bisa lebih mudah dan sering untuk bisa menengok cucu mereka. Begitu juga saat momen hari raya, orangtua pasti sangat berharap jika anaknya bisa mudik ke rumah bersama-sama dengan menantu dan cucu mereka.

7. Perut adalah pintu utama menaklukkan hati suami dan keluarga. Mertuamu akan sangat bangga jika dari sekarang kamu tak keberatan masuk ke dapur dan belajar menu-menu sederhana

Istir harus bisa masak via www.lucasardellaejanira.it

“Kalo kata ortu saya : “golek bojo seng gelem sobo pawon” artinya cari istri yang suka didapur maksudnya bisa masak.”

Dwi Raharjo, 23, Jakarta

Jika menantu pria seringkali dituntut untuk bisa mencari nafkah dan memberi penghidupan yang layak bagi anak dan istri, maka seorang istri juga seringkali dituntut untuk bisa terampil di dapur. Orangtua akan lebih merasa senang jika menantu perempuannya bisa memasakkan makanan spesial bagi anak laki-laki dan cucunya kelak. Perempuan yang terampil memasak biasanya akan dipandang sebagai perempuan yang memiliki sikap perhatian dan keibuan.

8. Bukan cuma soal materi dan kepemilikan. Pasanganmu juga harus punya wawasan luas dan kecerdasan

Harus pandai dan punya wawasan yang luas via memespp.com

“Berpendidikan. Alasannya karena suami yang berpendidikan akan memberikan ilmu dan wawasannya kepada anak-anaknya.”

Indri, 24, Tangerang

Selain persoalan materi, orangtua juga akan mempertimbangkan soal pendidikan calon pendamping anak-anaknya. Mereka tentu ingin anaknya memiliki pendamping yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Terlebih jika dia adalah seorang lelaki, tentu orangtua ingin anaknya mendapatkan seorang imam keluarga yang pandai, yang bisa menjadi panutan bagi anak-anaknya kelak.

Orangtua juga pasti mendambakan calon istri yang cerdas dan pandai bagi anak laki-lakinya. Meskipun pada akhirnya menantu perempuannya itu hanya menjadi seorang ibu rumah tangga, dia juga harus punya latar pendidikan yang baik agar bisa menjadi ibu yang baik dan bisa membimbing dan memberikan contoh-contoh yang baik bagi cucu mereka nanti.

9. Karena menikah bukan cuma soal dua kepala, restu orangtua akan mudah turun saat pasanganmu mau terbuka atas latar belakangnya.

Punya asal-usul keluarga yang baik dan jelas via selandircyber.blogspot.com

“Asal-usul keluarga yang baik ssetidaknya tidak ada track record yang bakalan nyusahin kedua belah pihak nantinya.”

Dini, 23, Bandung

Latar belakang dan asal-usuk keluarga juga jadi sebuah pertimbangan matang bagi orangtua untuk memberikan restu pada pernikahan anaknya nanti. Keluarga dari calon menantu sebisa mungkin adalah keluarga yang baik dan tidak memiliki reputasi yang buruk. Orangtua tentu tidak ingin anaknya terseret dan terlibat ke dalam konflik keluarga dari pasangannya.

Ya, di Indonesia seseorang yang menikah berarti juga telah menikahi keluarganya. Karena itulah orangtua selalu mewanti-wani anaknya untuk selalu mempertimbangkan bibit, bobot, dan bebet keluarga calon pendampingnya nanti. Orangtua juga tak ingin anaknya nanti terbawa-bawa dalam permasalahan yang seharusnya bukan menjadi urusan anaknya.

10. Bagi beberapa orangtua, profesi PNS memang menjanjikan. Tapi kalau pun tidak pastikan pacarmu saat ini punya jenjang karir yang mapan

Menantu PNS via pinsta.me

“Calon suami yang jadi PNS, iya karena kalau udah pensiun masih dapet pensiunan katanya, kan lumayan gak kerja tapi dpt uang.”

Rani Rizqi M, 21, Pasuruan

Profesi sebagai PNS adalah profesi yang sangat diidamkan oleh mayoritas orangtua di Indonesia. Kalaupnun anaknya tak bisa bekerja menjadi seorang PNS, satu-satunya harapan mereka adalah mendapat seorang menantu yang berprofesi sebagai PNS. Lebih-lebih jika orantua kita dulunya berprofesi sebagai seorang PNS.

Tapi sebenarnya jika ditilik lagi bukan hanya profesi PNS yang bisa memberikan lampu hijau bagi restu orangtua. Tak masalah dia bekerja sebagai karyawan lepas, pekerja swasta, penggiat dunia kreatif, hingga wirausahawan. Yang penting jenjang karirnya bisa menawarkan kemapanan dalam jangka panjang.

Itulah tadi beberapa syarat-syarat mutlak yang biasa diminta oleh orangtua mengenai calon pendamping hidup anak-anaknya nanti. Janganlah menganggap permintaan mereka sebagai sesuatu yang membebani. Jika permintaan mereka memang baik untuk masa depanmu, kamu patut untuk menurutinya. Namun jika tak sepaham, berilah pemahaman yang baik pada mereka.

Bagaimanapun restu dari mereka adalah hal terpenting bagi rumah tanggamu nanti. Apakah orangtuamu juga punya syarat wajib seperti para pembaca di atas? Bagikan di kolom komentar, yuk! 🙂

Kredit gambar andalan: intan-forever.blogspot.com