Terkadang banyak para pendaki berlomba-lomba untuk mencapai puncak dengan cepat, tanpa mereka sadari baik-baik bahwa menaklukkan diri sendiri adalah hal yang sulit. Diri sendiri memiliki ego yang begitu kuat, sehingga terkadang mencapai puncak dengan cepat, adu kuat-kuatan membawa keril, sampai berlari-larian di gunung masih banyak suka dilakukan oleh mereka yang mengaku pendaki.

Entah apa yang didapatkan apabila cepat sampai di puncak, mungkin ada kepuasan sendiri di dalam dirinya atau mungkin ingin sampai cepat di puncak karena ingin cepat istirahat atau mau cari lahan buat pasang tenda. Ya, kita hanya bisa berpikir positif saja kalau lihat pendaki yang seperti itu.

Karena sesungguhnya esensi mendaki gunung bukanlah perkara menaklukkan dan siapa yang cepat sampai di puncak gunung, melainkan lebih dari itu. Mendaki gunung adalah untuk mencintai dan menikmati indahnya alam raya ini dengan sebaik-baiknya tanpa mengabaikan keselamatan diri kita sendiri. Apa gunanya juga jika kamu mengaku mencintai puncak gunung, tapi ternyata kamu tak sayang dengan nyawa sendiri.

Oleh sebab itulah, sebelum mewujudkan ambisimu untuk menapakkan kaki di puncak gunung, ada hal-hal penting yang harus kamu patuhi saat mencoba untuk bersahabat dengan gunung.

1. Terkadang modal nekat itu perlu, tapi juga harus dengan perhitungan yang pandai. Pastikan kamu mengecek prakiraan cuaca terlebih dahulu, dan hindari mendaki gunung di saat hujan.

Perkirakan cuacanya. Hindari mendaki gunung saat hujan. (dok. pribadi) via Hipwee.com

Advertisement

Selalu periksa prakiraan cuaca sebelum melakukan pendakian, bila diprediksi hujan dengan potensi petir, lebih baik memilih tanggal lain untuk pendakian. Itu adalah keputusan terbaik untuk diri sendiri maupun team.

Kalau dalam pejalanan di jalur pendakian turun hujan, pasti yang kita temui pada dasarnya adalah petir. Petir akan menyambar obyek tertinggi disekitar daerah sambaran, bila misalnya kita berdiri di tengah lapangan bola, petir akan lebih berpotensi menyambar kita karena diseputaran lapangan obyek tertinggi adalah kita sendiri.

Hindari berada di puncak gunung ketika mulai ada sambaran petir. Pilih posisi berlindung di celah atau didasar tebing untuk menghindari sambaran dan pastikan matikan sinyal ponsel dimanapun kalian menaruh ponsel tersebut. Semua alat yang memancarkan dan menangkap gelombang berpotensi memancing sambaran petir. Untuk ponsel lebih baik dimatikan ketimbang flight mode/ modus pesawat.

Biasanya kehadiran petir bisa diprediksi dengan memperhatikan langit sekitar. Bila sudah mulai terlihat atau terdengar suara petir, maka akan lebih baiknya bila kita segera mencari tempat perlindungan atau segera cari daerah yang lebih rendah. Lebih baik lagi jika segera turun gunung. Lebih baik menghindar bahaya di bandingkan mengantar nyawa, yang pasti jangan lupa bawa jas hujan.

 

2. Periksa juga kelengkapan logistik selama pendakian. Jangan sepelekan soal pasokan makanan, karena itu adalah bekalmu untuk menghasilkan energi selama pendakian.

Persiapkan dengan detil perlengkapan logistik. (dok. Ryan Widianto) via Hipwee.com

Bahan-bahan makanan yang dibawa haruslah makanan yang ringkas dalam pengolahan masakannya misalnya seperti ransum tentara, mie instant, sarden, kornet, susu kaleng, roti dan makanan lain yang mengandung karbohidrat/ hidrat arang, atau makanan yang banyak menghasilkan energi seperti coklat, gula merah atau yang di sebut gula jawa dan madu.

Jika diperkirakan kita membangun tenda di gunung dan memerlukan waktu yang lama, maka jangan lupa bawa beras dan sayuran untuk di masak. Masak juga bisa berfungsi sebagai acara pengusir kejenuhan, lagipula dengan mengkonsumsi nasi bisa menambah banyak kalori pada tubuh kita.

Untuk jumlahnya ya kita sesuaikan saja sama tim yang naik ke gunung bersama-sama. Jangan lupa juga sediakan pasokan air di dalam dirigen, bawa trash bag untuk membuang sisa-sisa sampah makanan kita. Ingat bawa turun sampahmu, atau kalau tidak telan saja!

Jangan sampai hanya karena kekurangan logistik pendakian, kita terkendala oleh hal-hal yang tidak diinginkan seperti contohnya kelaparan jadi lemas dan tidak bertenaga di puncak. Selain bisa merepotkan teman-teman satu tim, itu bisa mengancam nyawamu.

3. Tanggal merah adalah salah satu hal praktis penyelamat bagi sang pendaki kantoran. Tapi jika ingin pendakian yang lebih santai, jangan ragu untuk mengambil cuti.

Mendaki di tanggal merah bagi para pendaki kantoran. Dok. pibadi saya dan Rekan RIMBA Adventure) via Hipwee.com

Konon tanggal merah sangat dibutuhkan bagi para pendaki kantoran karena dengan cara ini mereka para pendaki kantoran dapat mudah melakukan perjalanan singkat menuju puncak gunung. Tanpa harus repot-repot pakai surat cuti, jadi jatah cuti merekapun tetap masih utuh dan jalan-jalan dan istirahat pun tetap berjalan dengan baik.

Tapi tidak sedikit juga kok dari para pendaki kantoran yang bela-belain mengambil cuti 1 atau 2 hari agar perjalanan mereka lebih bermakna dan berwarna alias lebih lama, santai, dan ngoyo. Dengan begitu mereka tidak terlalu diburu-buru oleh waktu, dan bisa hunting hari yang baik untuk mendaki sehingga bisa mengantisipasi keadaan cuaca dari jauh-jauh hari.

Salut juga untuk para pendaki kantoran, karena mereka tidak lari dari tanggung jawab mereka, tetap dengan tanggung jawab mereka sebagai pekerja kantoran yang pastinya setelah naik gunung tetap pada masuk kerja! Tetap bisa menyalurkan hobi tanpa harus meninggalkan kewajiban.

4. Bagi para pendaki srikandi, bawalah keril yang tidak terlalu tinggi dan berat. Perlu diingat, kesehatan tubuh kita juga jangan terlalu di paksakan, karena bisa membahayakan dirimu.

Tak perlu membawa keril yang terlalu tinggi dan berat. (dok. pribadi) via Hipwee.com

Sedikit tips buat kaum hawa, bawa carrier kalian tidak usah yang tinggi-tinggi ya layaknya kulkas. Perlu kamu sadari, kamu bukan hercules, dan kekuatanmu tak sebesar cowok-cowok. Kamu juga tidak perlu bergaya bawa begituan kok. Kenapa? Karena perempuan itu memiliki rahim. Membawa carrier yang terlalu tinggi & berat bisa berakibat merusak tulang belakang dan bisa mempengaruhi proses kehamilanmu nanti.

Keril yang terlalu berat berbahaya bagi perempuan. (dok. pribadi) via Hipwee.com

Jangan sampai setelah membawa carrier tinggi itu lalu kalian jadi terkena penyakit di tulang belakang dan berakibat susah hamil. Mendaki gunung tak hanya soal kekuatan fisik saja, tapi juga think SMART ya!

Untuk para arjuna, harap diingat juga kalau mengajak srikandinya trekking, beban carrier yang dia bawa dikurangin yah, jangan sampai beban berat di kerilnya bisa merusak masa depannya 🙂

5. Jaga kondisi fisik sebelum dan selama melakukan perjalanan ke puncak gunung. Bijaksanalah dengan waktu dan manfaatkan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya.

Gunakan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya. (dok. pribadi bersama rekan RIMBA Adventure) via Hipwee.com

Banyak para pendaki yang kurang memperhatikan kesehatan fisiknya seperti kurang istirahat saat ingin mendaki, alhasil jalan sempoyongan dan bahkan tertidur di jalur pendakian.

Waktu istirahat yang seharusnya dipergunakan dengan baik untuk tidur tidak dipergunakan dengan baik, malah mengisi dengan main kartu, dan cerita-cerita lelucuan di perjalanan, alhasil pas mau naik ngantuk di jalur, ini sungguh bahaya karena selain badan kita menjadi lemas, tubuh pun sangat kekurangan tenaga alhasil jadi lama di jalur pendakian hingga badan terasa dingin terkena kabut yang suka tiba-tiba naik di tengah perjalanan.

Jangan terlalu lama bermain kartu. (dok. pribadi bersama rekan RIMBA Adventure). via Hipwee.com

So.. pergunakan waktu diperjalanan menuju ke lokasi gunung tujuanmu agar badan fit, naik juga sesuai dengan apa yang kita prediksikan.

Satu hal yang harus selalu kamu ingat, bahwa puncak hanyalah bonus bagi para pendaki. Kembali ke rumah dengan sehat dan selamat adalah tujuan utama kita semua. Selamat mendaki.. 🙂

Kredit gambar andalan: https://masjuli.wordpress.com