Jalan-jalan ala backpacker itu memang sangat menyenangkan rasanya. Jalan ke destinasi lokal dengan harga kereta dan moda transportasi lain yang murah meriah, dan penginapan (atau tebengan nginep) juga kuliner yang murah meriah. Lalu bagi yang jalan-jalan ke luar negeri, akhirnya bisa dapat tambahan cap paspor, atau beruntung dapat promo tiket pesawat ke luar negeri hanya senilai sepuluh ribu rupiah juga hostel yang kalau dirupiahin cuma puluhan ribu rupiah — hidup tidak ada yang lebih indah dari itu!

Saat kita bisa menggapai impian kita untuk menuju destinasi baru, menabung sedemikian ketatnya, namun tetap harus berhemat saat di perjalanan, tentu bukanlah isu baru kalau ada orang-orang terdekat (bahkan yang terjauh) yang mulai berceletuk:

“Oleh-olenya jangan lupa ya… Tapi jangan gantungan kuncilah, bosen!”

Ini adalah kalimat yang berisi basa-basi namun sangat diharapkan oleh orang-orang saat mereka mengetahui kita akan memulai destinasi kita. Saya bukan sekali-dua kali mengalami celetukan ini. Ekspresi yang penulis munculkan juga beragam, dari senyum-senyum segan sampai jengkel karena si banyak yang begitu memaksa ingin dibawakan oleh-oleh.

Tak semua pejalan itu punya budget lebih untuk traveling. Jika kamu termasuk tipe pejalan yang seperti itu, kamu berhak untuk menolak permintaan oleh-oleh.

Gak semua traveler punya bujet tingi via www.pinterest.com

Advertisement

Sebelum memulai tips bagaimana cara berkelit dari permintaan oleh-oleh. sebaiknya kita bahas dulu, mengapa sih kita berhak untuk menolak titipan oleh-oleh yang sangat memaksa setiap kali akan melakukan sebuah perjalanan?

Semoga banyak yang sependapat dengan saya. Tidak semua penjejak (sebutan saya untuk si tukang jalan) adalah orang-orang yang mempunyai budget lebih untuk membelikan oleh-oleh. Selama dalam perjalanannya, mereka tercukupi oleh keramahan orang lokal yang memberikan tumpangan gratis atau murah, dengan makanan yang ala kadarnya tapi mengenyangkan bagi penjejak. Oleh-oleh bukanlah tujuan utama, tapi pembelajaran juga pengalaman mendapatkan hal yang baru selama perjalanan.

Namun tidak semua orang mengerti tujuan ini, apapun alasannya yang mereka inginkan adalah oleh-oleh dari kamu. Saya punya teman yang ke Singapura udah kayak dari ruang makan ke ruang tidurnya, saking seringnya ke sana dari kantornya di Jakarta. Lalu perjalanan dinasnya selalu antar benua, bukan antar kota antar provinsi lagi. Eropa dan US sudah dikunjungi, Afrika tinggal menunggu working permit, buku paspornya pun sampai harus diganti saking mobile-nya dia.

Tapi, dia selalu punya cara tega untuk menghadang pihak-pihak yang selalu meminta oleh- oleh,

Lo nabung, terus ke sana aja sendiri beli apa yang elu mau!

Kepercayaan dirinya mengatakan itu membuat saya terkejut dan kagum, sampai tulisan ini diturunkan pun saya sepertinya belum pernah mendengar ada yang meminta oleh-oleh lagi kepadanya. Tapi, saya jujur nggak berani seperti itu. Kayaknya kok masih nggak tega. Akhirnya setelah pikir demi pikir dan pengalaman pun membantu, penulis memberikan alasan ini agar bisa berkelit dari jeratan peminta oleh- oleh.

1. Walau bujetmu tak banyak, tetap tak ada salahnya membawakan sesuatu untuk orang rumah sebagai tanda terima kasih.

Kalau buat orang rumah, gak papa lah ya… via www.toureiffel.paris

Meski budgetmu tipis banget, tapi tak ada salahnya juga tetap membawakan sesuatu untuk orang rumah. Anggaplah sebagai rasa terima kasih sudah mengizinkan pergi menjelajah dan rasa syukur telah selamat sampai rumah. Janganlah begitu pelit dengan keluargamu sendiri. Sisakan sedikit budget untuk membeli oleh-oleh buat mereka. Bawa saja buah tangan yang murah meriah, setidaknya kamu ikhlas membawakanannya untuk mereka.

Tapi kalau memang bener-bener seret nggak ada uang lebih sama sekali, mungkin bisa sedikit merajuk dan meminta uang ke orang rumah. Tapi sebaiknya sih jangan ah — malu udah gede! Hehehe.

2. Pastikan, apakah temanmu itu mau NITIP atau MINTA oleh-oleh? Kalau nitip, jangan sungkan minta uang mukanya.

Kalau mau nitip, minta uang mukanya dulu! via www.mac5.ca

Tanyakan dulu dengan tegas kepada mereka, mau nitip sesuatu atau minta dibeliin oleh-oleh? Kenapa harus ditegasin di awal? Karena memang ada beberapa orang yang ternyata (walau jarang) sunguh-sungguh ingin menitip, bukan minta oleh-oleh. Bila benar dia mau menitip, maka jangan sungkan-sungkan untuk minta uangnya duluan, alih-alih nalangin dulu.

Ingat, keuangan kita minim. Jadi kamu berhak meminta uang untuk membeli titipan barangnya terlebih dahulu. Soalnya ada banyak yang bayarnya harus nunggu ditagih berkali-kali dulu, sampai 3x gajian baru deh dibayar. Beruntung kalau langsung dibayar lunas, kalau ternyata masih dicicil? Ya, jangan sungkan buat minta uangnya di muka. Kalau nggak bisa, ya kamu boleh menolak dengan cara yang halus.

3. Kalau kamu sebenarnya mau bawain oleh-oleh tapi duit seret, coba tawarkan baik-baik: “Heee… Foto Mau?”

Nih fotoku waktu di Paris. Aku print pake punya kantor deh. Gratis. Mau? via www.aputure.com

Yup, tawarin aja hasil foto-fotomu selama perjalanan. Hehehe… Tata cara mengucapkan kalimat ini adalah nyengir se-innocent mungkin, lalu keluarlah kalimat ini. Dan, saat mereka mulai manyun karena jawabannya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, kamu bisa memberikan pelajaran bijak mengenai konsep foto sebagai oleh-oleh.

Foto adalah kenangan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Ini adalah rekam jejak perjalanan indah kita. Adalah suatu kehormatan jika kamu dijadikan saksi atas perjalananku yang panjang dan indah ini.

Tuh, kurang bijak apalagi ‘kan? Tapi, bagaimana kalau mereka kabur meninggalkanmu? Bagus, urusan jadi selesai — problem solved! Kamu bisa terbebas dari perasaan bersalah karena tak membawa oleh-oleh. Karena kamu sudah menawari baik-baik, tapi mereka menolak. Salah siapa? :p

4. Kalau kamu tak ingin memperpanjang urusan, jawab saja dengan tegas dan jujur kalau kamu nggak punya duit.

Sorry, gak punya duit bro! via www.igrad.com

Jawab saja dengan jawaban yang jujur dan tanpa basa-basi. Misal:

Teman: “Bro, jangan lupa ya pulang bawa oleh-oleh!”

Kamu: “Sorry bro, nggak ada duit.”

Teman: Nggak ada duit kok bisa jalan-jalan?

Kamu: Ini juga pas-pasan duitnya.

Teman: Pas-pasan tapi masih bisa jalan-jalan, gue aja nggak bisa!

Kamu: “Eh, lo minta oleh-oleh apa ngajak berantem? Dibikin ribut aja gimana nih???”

Maka, urusan oleh-oleh ini akan jadi pertumpahan darah pertama kalinya di Indonesia, kamu akan masuk koran dan terkenal. Sambil menyelam, minum air keran bukan? Hehehe. Atau malah mereka udah males duluan berantem sama kamu, dan kamu pun bebas dari todongan oleh-oleh.

5. Kalau mereka masih maksa buat minta oleh-oleh dan kamu juga sungkan buat menolak, tawarin aja pasir atau batu asli dari sana!

Bawain pasir atau batu dari sana! Hehehe via www.tumblr.com

Ini sangat menyelesaikan masalah, Serius! Pertama, kamu sudah menawarkan pilihan oleh-oleh, dan itu adalah GRATIS! Bagaimana tidak? Batu atau pasir lokal bisa kamu ambil di mana saja, kamu hanya bermodalkan plastik kresek supermarket bekas ibumu belanja dan mengambil batu krikil atau pasir di pantai lokal sana dan diberikan ke temanmu yang menginginkan oleh-oleh.

Bukankah itu semua juga adalah bagian dari tempat yang kamu jelajahi? Jadi tetep oleh-oleh ‘kan namanya? Ya, syukur-syukur kalau dia mau. Kalau nggak mau, lagi-lagi kamu berhasil membebaskan diri dari teman-temanmu yang memalak oleh-oleh. Hehehe.. Ya, walaupun penulis kurang menyarankan bagian ini juga sih, selain kesannya nggak niat, juga bisa jadi pemberianmu ditolak. Tapi lumayan lah jadi alasan untuk berkelit.
Bagaimana? Cukup tidak membantu bukan? Tapi inti dari tulisan ini adalah mengajakmu untuk mengubah cara pandangmu terhadap orang-orang yang melakukan perjalanan jauh. Alih alih mengucapkan kalimat tersebut, alangkah lebih baik kalau mengucapkan:

Hati hati di jalan ya, have fun!” 😀