Bisa menikah adalah keberuntungan, penanda bahwa ada babak baru dalam kehidupan kita. Namun, dengan berakhirnya satu fase dalam hidup, wajar juga bila kita dibayangi ketakutan dan kecemasan. “Bisa nggak ya aku jadi suami atau istri yang baik?” “Bagaimana ya nanti aku membesarkan anakku?” “Gimana nasibnya hubunganku dengan sahabat dekatku?”

Ada lebih banyak dan bermacam-macam lagi ketakutan yang kita punya jika membayangkan diri membina rumah tangga. Berikut ini adalah pendapat-pendapat terbaik dari kamu. Apa saja sih yang bikin kamu takut membayangkan sebuah pernikahan itu? Simak aja yuk langsung!

Hidup berjauhan dan tidak bisa sering bertemu dengan kedua orangtua

Berpisah dengan orang tua via guillermoalessandri.com

“Harus hidup berjauhan dengan orangtua dan nggak menemani hari-hari senja mereka.”

Anita D. Purnama, 18, Semarang

“Khawatir dengan keadaan orang tua. Siapa yang bakal ngurus kalau harus ikut suami? Apa masih bisa bantu secara finansial? Sementara pas udah nikah kita juga punya kebutuhan sendiri.”

Ayu, 26, Magelang

Advertisement

“Takut jarang bisa kunjungin Ibu-Bapak di rumah, soalnya pasti udah sibuk ngurusin rumah sendiri dan keluarga sendiri. Takut Ibu sama Bapak gak ada yang jagain.”

Tutut Yunita, 20, Cimahi

“Hal yang aku takutin itu pisah dari Mamah. Gak tahu kenapa, pikiran itu selalu muncul kalau udah ngebayangin soal pernikahan. Tahu sendiri ‘kan ya, Mamah itu segalanya.”

Vaa, 20, Semarang

“Yang paling ditakutin jika harus pisah jauh sama orang tua. Wahhh, rasanya cukup waktu lama untuk bisa terima.”

Tata, 21, Batam

Harus memilih antara keluarga atau karir

Karir atau keluarga? via www.diarioeco.com.mx

“Memilih antara berkarier atau menjadi ibu rumah tangga. Kalau berkarier, takut nggak punya waktu ngurus keluarga. Kalau jadi IRT, aku takut kebutuhan hidup engga tercukupi.”

Vika, 23, Jakarta

“Membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Soalnya sekarang gak bisa mengandalkan suami aja untuk cari nafkah hehe.”

Anna, 21, Jakarta

“Takut tidak bisa berkembang dan menikmati karir pekerjaan sebagai fotografer.”

Aris Rosyadi, 22, Malang

“Takut kalau jadi gak bisa kerja karena repot ngurus rumah, padahal suka banget dengan kerjaan.”

Freya, 18, Bandung

“Tidak leluasa dalam mengerjakan profesi sehari-hari maupun meniti karier.”

Nabila, 21, Jakarta

Tak bisa menjaga komitmen dengan pasangan, alias bercerai…

Tak bisa menajaga keutuhan rumah tangga via www.dailyliberal.com.au

“Konsistensi dalam berkomitmen, bahwa dalam menjaga komitmen pernikahan tidak hanya dalam hitungan bulan maupun tahun, tetapi untuk selamanya.”

Oco, 19, Purwokerto

“Yang paling aku takuti ketika menikah itu perceraian.. Naudzubillah, jangan sampai terjadi.”

Sari, 26, Malang

“Cerai! But not that bad. aku udah lewatin fase [kecemasan] itu, dan setelahnya jadi bisa lebih hargain cinta dan kasih sayang yang benar-benar tulus.”

Ndy, 23, Bandung

“Bercerai atau selingkuh atau ditinggal mati. Saya trauma dengan perceraian orang tua saya. Dan saya bener-bener gak mau mengalami hal itu lagi.”

Na, 22, Bekasi

Punya pasangan yang tidak hormat dan melakukan KDRT

Pasangan bertindak kasar via goosemummynest.blogspot.com

“Takut punya suami sering pukul dan galak.”

Luchia Putri, 19, Karawang

“Sekarang tuh kan lagi sering banget terjadi KDRT. Ih, ngeri banget!”

Anin 22, Jakarta

“Aku takut istriku sendiri melawanku, tidak menghormatiku (suaminya sendiri) walau aku telah berjuang menjadi suami yang lebih baik untuk dirinya.”

Kevin Adi P, 20, Rangkasbitung

Kehilangan privasi dan kebebasan untuk diri sendiri

Nggak bisa sebebas dulu lagi via www.huffingtonpost.com

“Kebebasan yang gak bisa didapat ketika sudah menikah, kayak hangout bareng temen, jalan, bebas pergi sama siapa aja, dll! Harus fokus demi kelangsungan rumah tangga.”

Achilles Marcaida, 21, Jakarta

“Gak punya privasi. Apa-apa harus cerita ke pasangan. Ngerasa gak bebas, tapi mau gimana lagi? Itu ‘kan sudah kewajiban kita.”

Laily, 18, Jember

“Harus mengekang rasa ingin berpetualang. Ketika masih single tentu kita bisa bebas akan pergi berpetualang, tapi setelah menikah kita tidak bisa egois, sudah ada anak yang butuh kita 24 jam.”

Gitanandya, 23, Gresik

“Ketika tidak merasa sebebas waktu lajang. Bebas mengatur waktu, bebas memakai uang, bebas bergaul…”

Yayaq, 22, Semarang

“Gak bisa bangun siang. Haha! Kalau udah jadi istri kan musti bangun lebih pagi, nyiapin baju kerja suami, sarapan. Apalagi kalo dua duanya kerja. Hehehe…”

Ninas, 27, Surabaya

Tak becus mengurus rumah tangga dan tak bisa membuat keluarga bahagia..

Taak bisa membahagiakan istri dan anak via www.cvhospice.org

“Tak bisa membahagiakan istri dan anak nanti. Pas pacaran janjinya “akan slalu membahagiakanmu”, lha pas udah nikah takutnya tak bisa slalu nepatin.”

Achmad Yani Bachrur Rizki, 20, Surabaya

“Tidak bisa mengurus suami dan anak dengan baik, tidak bisa membersihkan rumah dan memasak. Tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga.”

Henny, 24, Kupang

“Menjadi sosok orang tua yang mumpuni yang terbaik buat anak anak ku nanti, entahlah apakah bisa atau enggak.”

Dion, 25, Bandung

“Takut tidak bisa menjadi istri yang solehah dan menaati suami, menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, dan takut menjadi mengabaikan orang tua. Naudzubillah, deh.”

Ersti, 21, Surabaya

Kewalahan dalam mengurusi finansial keluarga

Masalah finansial keluarga via zeallionaire.com

“Saya sudah menikah dan tidak ada hal yang saya takuti sekarang. Tapi dulu pas belum nikah yang paling kepikiran itu adalah bagaimana bisa memenuhi kebutuhan primer, sekunder maupun kebutuhan tersier untuk istri dan anak.”

Arya Timor, 29, Makassar

“Ketika gue ama pasangan mengalami kesulitan ekonomi disaat kami sudah punya anak. Hehe..”

Opin, 24, Karawang

“Membangun sebuah rumah, tagihan rumah tangga, selalu tentang uang,uang, dan uang.”

Aish, 23, Jakarta

“Takut jika tidak mampu memberi nafkah lahir dan batin kepada istri dan anak-anak dengan cara yang halal dan baik.”

Aji, 32, Yogyakarta

“Masalah finansial kali yah. Mikirin biaya sekolah, biaya kesehatan dan lain-lain. Walaupun ga money-oriented tapi uang itu memang penting, jangan sampe berantem gara-gara kekurangan.”

Diraasjingga , 22, Malang

Bosan dengan pasangan, dan hubungan sudah tak seindah seperti saat pacaran dulu..

Jenuh dengan suami atau istri via coach66.ru

“Takut semuanya berubah. Nggak seindah dulu waktu pacaran.”

Nita Kurniati, 18, Yogyakarta

“Hal yang paling ditakuti ketika sudah menikah adalah ketika muncul rasa bosan, namun itu pasti akan terjadi walaupun hanya sekilas saja.”

Miss Nov, 23, Yogyakarta

“Jenuh atau bosan dengan pasangan. Hubungan menjadi tidak romantis karena harus mengurus anak dan tidak sama seperti saat masa pacaran.”

Oktafian Nanda Rosyada, 19, Jember

“Bosan. Entar kalau bosan pasti jadi timbul yang namanya perkelahian kecil-kecil. Terus lama-lama perasaan atau cintanya pudar. Salut deh sama orang yang utuh sampai kakek-nenek.”

Ruth Clara Manurung , 18, Batam

“Takut bosen. Kalau gak kita yang bosen, pasangan kita yang bosen. kan jadi masalah besar tuh.”

Ray, 24, Cimahi

Menghadapi konflik dengan mertua

Urusan dengan mertua itu runyam via www.crnobelo.com

“Mertua. Banyak kasus yang bikin gue jadi mikir keras buat menghadapi mertua gue ntar. Walaupun belum tahu gimana mertua gue ntar, gue udah paranoid duluan.”

Galih, 23, Malang

“Intervensi dari orangtua dan mertua. Apalagi kalau yang dinikahin ternyata anak mami atau anak papi. Runyam sudah.”

Adisti, 25, Jakarta

“Enggak bisa jadi menantu yang baik buat mertua , huhu sedih banget deh kalo mikirin beginian. Sereeem :(”

Aninda, 21, Yogyakarta

“Hal yang paling aku takutin pas udah nikah ntar tuh kalau aku nggak akur sama mertua.”

Siti, 22, Solo

“Ketemu camer yang nyebelin, maunya bisa sayang aku kayak ortu sendiri.”

Aini, 22, Semarang

Hamil dan Melahirkan itu katanya sakit!

Hamil dan meahirkan itu sakit! via bienestarrelajacionysalud.1minutesite.es

“Hamil, melahirkan, dan mengasuh anak. Melahirkan mempertaruhkan hidup mati mengeluarkan manusia. Mengasuh anak membentuk karakter dan menentukan jadi apa jadi siapa jadi bagaimana dia di masa depan.”

Dylla Walukow, 20, Jakarta

“Mengandung dan melahirkan. Well aku masih takut dengan apa yang aku dengarkan dari mereka yang sudah pernah melahirkan.”

Bintang, 20, Batam

“Ketika melahirkan, akan banyak stretch marks dan lemak.”

Siska

“Kalau nikah saya takut hamil. Yah kalau saya hamil saya takut diceraiin, saya harus ngurus anak sndirian, dan saya takut dampaknya terhadap anak saya nantinya. Kalau.hamil pasti.badan saya gendut, jelek, dan saya gak mau. Itu kan susah diet supaya ideal. Saya berharap sih nikah jangan di usia muda. Itu aja.”

Intan Utami Alterino, 21, Padang

“Bentuk badan yang nggak ideal. Sudah rahasia umum kalo setelah menikah, khususnya setelah melahirkan, bentuk badan perempuan jadi gak ideal lagi. Gemuk dan menggelambir. Apalagi kalau buat orang yang badannya gampang banget gemuk kayak aku. Hihihihi.”

Panda, 24, Jakarta

Tapi lebih takut lagi kalau nggak punya keturunan!

Lebih menakutkan lagi jika tak punya keturunan via open.az

“Takut gak bisa punya keturunan, terus dimusuhin sama mertua gara-gara hal itu.”

Ika, 24, Depok

“Takut ga punya anak! Bayangin kalo lo udah nikah trus lo gak bisa bisa punya keturunan.”

Nara, 20, Bandung

“Gue takut nggak punya anak sama takut nggak bisa ngebahagiain istri.”

Adinata Negara, 26, Jakarta

Bagaimana menurutmu tentang pendapat-pendapat di atas? Takut dan ragu adalah hal yang manusiawi. Tapi, semoga saja ketakutan tersebut tidak membuatmu jadi paranoid terhadap pernikahan!

Kalau kamu punya pendapat lain, atau ingin mengomentari pendapat-pendapat di atas, langsung saja tulis di kolom komentar ya! 🙂