“Jatuh cinta yang paling indah itu terjadi diatas gunung.”

Saat aku dan kamu menatap setapak tanah yang berliku, menanjak, dan menurun dengan curam. Tapi kita berdua tahu bahwa bagaimanapun beratnya, jalan ini dapat kita lalui bersama. Selama jemari kami tetap bertaut, menarik dan menjaga satu sama lain saat kita terperosok maupun tergelincir.

Kita berdua tahu perjalanan ini tidak akan mudah, namun kita percaya bahwa perjuangan ini layak untuk kita lakukan. Karena pada akhirnya setiap perjuangan yang kita lakukan akan terbayar lunas. Baik oleh hamparan padang edelweiss yang sedang bermekaran abadi ataupun lautan awan yang berarakan dengan gembira dibawah kaki kita.

Pun perjuangan hati kita akan terbayar lunas, oleh pelajaran hidup yang akan kita tuai dari setiap langkah yang kita tapaki bersama menuju puncak gunung ini.

Kamu terlihat seribu kali lebih indah dalam rengkuhan hutan dan lebih gagah saat merangkak menuju puncak gunung. Mulai dari sini, aku akan mencintaimu beribu kali lebih dalam.

Kamu terlihat lebih gagah di balik rengkuhan hutan via www.backpackertroopers.com

Advertisement

Saat aku dan kamu meluruh kedalam pelukan pepohonan, berusaha menjadi bagian dari kemajestikan alam semesta. Berusaha memberi makna atas setiap langkah yang kita ambil. Mencoba menyelami, mengenali dan menguasai diri lebih dalam lagi. Setiap jejak kaki, akan menjadi cerita baru yang berisi pemahaman akan hidup.

Kamu akan terlihat beribu kali lebih indah dalam rengkuhan hutan daripada ketika kamu berada dibawah gemerlap lampu kota. Dan mulai dari sini, aku akan mencintaimu beribu kali lebih dalam.

Mendaki gunung bersamamu ibaratnya adalah perjalanan cinta kita, sedang puncak adalah tujuannya. Gunung menyadarkan kita bahwa tanpa komitmen kita tak akan pernah bisa sampai pada tujuan.

Gunung mengajarkan kita pentingnya sebuah komitmen via blogs.itb.ac.id

Saat aku dan kamu bersandar dibawah rimbun pepohonan tuk melepas lelah. Lamunan kita akan melayang, ke masa depan yang menanti kita bersama. Ekspedisi menuu puncak gunung ini membuat kita mengerti arti penting sebuah komitmen. Karena tanpa komitmen yang kuat pada diri, kita tidak akan pernah mencapai puncak teratas.

Begitu pun dalam hubungan kita, tanpa komitmen yang kuat pada diri sendiri dan pasangan, kita tidak akan pernah mencapai masa depan yang sedikit demi sedikit sudah kita rancang bersama. Pun kita juga akan berusaha untuk ikhlas dan rela ketika semuanya harus berakhir ditengah jalan. Karena gunung juga telah mengajarkan pada kita bahwa seringkali semesta memiliki kehendak lain yang tidak sejalan dengan keinginan kita, dan kita tak dapat mengubahnya atau melawan putusannya.

Kita akan mengerti, bahwa usaha dan persistensi dibutuhkan dalam perjalanan. Akan tetapi segala ambisi tersebut harus diimbangi dengan kerelaan dan sikap berserah, karena dalam hidup ini ada hal-hal lain yang diluar kuasa kita. Keseimbangan menjadi prinsip penting dalam tiap perjalanan kita — baik perjalanan dunia maupun perjalanan hati.

Magisnya malam di atas gunung membuat kita tak berdaya. Aku dan kamu seolah melebur menjadi satu. Di puncak gunung, kita mencoba memahami satu sama lain.

DI puncak gunung kita mencoba saling memahami satu sama lain via backpackercom.blogspot.com

Saat aku dan kamu duduk bersama, memandangi hamparan langit kelam berbintang, kita akan terbawa syahdunya sinar keperakan rembulan dan bercerita mengenai segala kecamuk dalam diri. Ah, magis sang malam memang selalu terasa berlipat ganda kala kita menghabiskannya di atas gunung.

Dinginnya angin dari puncak gunung, dengung suara serangga akan membius kita, dan kita merasa saling terhubung dan melebur menjadi satu. Kita akan mencoba mengisi ruang hampa di antara kita dengan bahasa. Mencoba memahami satu sama lain melalui tutur kata dan dongeng-dongeng. Dan kita akan jatuh cinta, pada tawa dan sendu yang kita bagi bersama. Hingga tak terasa malam mulai pudar, memanggil kita untuk menelisip kedalam kantong tidur dan mengucapkan selamat malam.

Tak ada yang lebih indah saat aku melihat semburat sinar mentari pagi menyulam senyummu. Di puncak gunung, berdua kita nikmati betapa megah dan indah alam semesta ini.

Terbitnya sang surya menyadarkan kita, betapa kecilnya kita di semesta ini via www.youtube.com

Saat aku dan kamu menapakkan kaki untuk pertama kalinya dititik tertinggi gunung. Saat kita lebur dalam kebahagiaan dan tak segan menitikkan air mata dihadapan alam yang begitu megah dan indah. Sinar pertama sang mentari akan menimpa sebagian wajahmu, menyinarimu dengan cahaya keemasannya. Dan pada waktu itulah kita saling jatuh cinta lebih dalam dalam lagi.

Pada momen itulah kita akan menyadari betapa rapuhnya kita dan segala emosi jiwa ini. Betapa tidak berartinya kita dihadapan semesta. Dan apalagi yang dapat kita lakukan selain menikmati tiap detik yang mengalir rapuh ini, kasih?

Gunung juga mengingatkan kita untuk saling memberi jarak. Karena meskipun kita sepasang sejoli, kita tidak akan pernah bisa saling memiliki dengan seutuhnya.

Kita menjadi sepasang kekasih yang pandai menjaga jarak via g4d4adventure.wordpress.com

Saat aku dan kamu berjalan beriringan di setapak yang rimbun, kita akan menjadi seorang yang mampu menjaga jarak yang tepat. Karena diatas gunung, tanpa jarak yang tepat kita akan berakhir mencelakai satu sama lain. Kekasihku dan aku akan tahu benar akan hal itu, karena pengalaman itulah kita akan menjadi sepasanga kekasih yang pandai dalam menjaga jarak. Memberi spasi dan menanam benih kerinduan. Dan aku akan mencintainya lebih dalam lagi karena hal itu.

Kekasihku pun akan mengerti bahwa ia tidak akan pernah benar-benar memiliki dan menguasai apapun selain dirinya sendiri, karena gunung telah mengajarkan hal itu padanya dengan keras. Pun hatiku bukan sesuatu yang bisa ia miliki seutuhnya, karena hatiku bukan hanya untuknya seorang, tapi juga untuk diriku dan alam semesta yang begitu luas ini. Dan begitupun sebaliknya, hatinya tidak akan pernah dapat kumiliki seutuhnya.

Saat kabut turun menyelimuti, perjalanan kita menjadi buram dan penuh ketidakpastian. Tetapi satu hal yang aku tahu, selama aku menjalaninya bersamamu perjalanan ini akan menjadi lebih mudah.

Di sela-sela kabut gunung, kita hadapi ketidakpastian bersama via ranselhitam.wordpress.com

Saat kabut tipis turun perlahan-lahan dan mengaburkan pandang, kita pun harus berjalan perlahan dan tertatih. Namun perjalanan yang terasa mencekam itu terasa ringan dengan adanya jemari kita yang tertaut. Kita tahu bahwa kita tidak sendiri, dan kita ada untuk satu sama lain.

Meski segala dibalik kabut merupa ketidak pastian, namun kita akan berani menghadapinya — bahkan berkali lipat lebih berani. Dan bukankah dalam hidup pula kabut sering turun? Mengaburkan masa depan, membuat kita merasa bahwa masa depan kita berdua suram bahkan buntu.

Tetapi bukankah akan lebih mudah menghadapi ketidak pastian hidup bersama seseorang yang pasti mencintaimu? Ya, bagitulah cara kabut dari gunung dan kabut memberikan petuah pada kita.

Aku bersyukur bisa merasakan jatuh cinta yang paling indah. Aku jatuh cinta padamu, padaku, dan alam semesta di puncak gunung yang indah ini.

Aku bersyukur, kita merasakan jatuh cinta di puncak gunung via johanesjonaz.wordpress.com

Saat aku dan kamu menatap ke kedalaman mata satu sama lain, kita saling terpana satu sama lain. Tersenyum, tertawa, dan bersyukur karena kita telah jatuh cinta diatas gunung. Bersyukur, karena kita telah merasakan jatuh cinta yang paling indah — jatuh cinta di puncak gunung.

Terima kasih gunung, terima kasih alam semesta, dan terima kasih Tuhan atas paket terindah ini. Aku bersyukur bisa merasakan jatuh cinta pada diriku, hidupku, dan dirinya di puncak gunung yang megah ini.