Suka banget gambar-gambar, baca-baca majalah desain interior, atau mungkin kamu sering menonton acara reality show TV tentang make over rumah, adalah beberapa hal kecil yang membuatmu termotivasi untuk serius belajar tentang interior. Jurusan ini memang nggak se-mainstream jurusan-jurusan lain di Fakultas Teknik, sehingga belum banyak orang yang tahu seperti apa lika-liku kehidupan para mahasiswanya.

Jika kamu adalah mahasiswa atau alumnus jurusan Desain Interior, berikut ini adalah sekelumit dinamika kehidupanmu selama menjadi mahasiswa Desain Interior!

1. Mulanya kamu bangga bukan main karena ternyata kamu diterima di fakultas bergengsi, Fakultas Teknik. Terlebih lagi jika kamu diterima di universitas terbaik pula!

Bangga keterima di fakultas dan universitas terbaik via hmikui.org

Semua orang pasti bangga bisa lulus  ujian masuk universitas yang notabene universitas peringkat nomor satu se-Indonesia.  Enggak hanya kamu, tapi juga keluarga kamu pun pasti bangga luar biasa. Kebayang ‘kan kalau berhadapan sama orang-orang yang pengen basa-basi.

Teman lama: “Eh, Kuliah di mana lo?”

Kamu: “Gue kuliah di UI.”

Teman lama: ” Wow, keren. Ambil Fakultas apa?” (tercengang karena kamu gak ada tampang anak pinter)

Kamu: “ Fakultas Teknik.”

Teman lama: (mata makin melotot saking kagumnya.)

Advertisement

 

2. Tapi setelah pertanyaannya menjurus ke jurusan kuliahmu, banyak yang mempertanyakan keabsahan dan eksistensi jurusanmu

Emang ada ya Arsitek interior? via satulingkar.com

Pertanyaan pun berlanjut saat temanmu bertanya jurusanmu. Saat kamu bilang “Jurusan Arsitek Interior”. Mereka pun terheran dan langsung membalas,

“Hah? Emang ada ya? Bukannya di FT cuma ada Arsitek aja?”

Sedih enggak dengernya? Dengan mental baja dan tanggung jawab promosi sebagai angkatan baru, kamu harus menjelaskan bagaimana Arsitek Interior berada di bawah naungan Departemen Arsitek.

Kamupun harus telaten menjelaskan bagaimana asal-usul jurusanmu ini. Sampai bosan kamu akan menjelaskan bahwa di jurusan ini kamu akan belajar dasar arsitektur di tahun pertama, lalu di semester berikut jurusanmu fokus dengan interioritas.

3. Saat mengikuti masa ospek fakultas dan jurusan, kakak-kakak senior memberimu tugas-tugas yang super ajaib

Tugas ospek yang nyeleneh via fsrd.isi-ska.ac.id

Sama seperti maba pada umumnya, jelas kamu dibuat syok dengan beratnya tugas-tugas yang diberikan oleh  para senior. Apalagi karena kamu  masuk Fakultas Teknik, masa ospek fakultasnya pun bisa dibilang sangat keras. Walaupun dibilang ospeknya yang paling ‘baik’, ospek jurusan juga enggak kalah nyelenehnya.

Info tugas pembuatan maket kamar baru diberikan jam sembilan malam, dan harus dikumpulkan ke senior jam setengah  tujuh pagi. Kamu pun  harus  berlapang dada buat enggak tidur demi memenuhi deadline senior. Eh, pas dikumpulin:

Senior: “Ini skala berapa? Detilnya gimana?”

Kamu: (dalam hati) Hah, emang harus gitu ya? Meneketehe!

4. Berharap kamu lagsung belajar gimana cara mendesain ruangan yang kece, tapi nyatanya kamu tetap harus mengambil mata kuliah wajib teknik: fisika dasar, kalkulus, aljabar linear, dll.

Matkul. Kalkulus via bhiryosuke.blogspot.com

Karena berada di bawah naungan Fakultas Teknik, mau nggak mau dan suka nggak suka kamu harus mengambil mata kuliah wajibnya Teknik, seperti  aljabar linear, fisika dasar, dan kalkulus. Dan setelah berjibaku dan berkutat dengan mata kuliah berhitung tadi, kamu berharap setidaknya mata kuliah fisika dasar akan berfungsi dan berguna untuk praktek saat perancangan nanti.

Tapi pada kenyataannya? Enggak ada satu pun yang kepakai pas ngerancang interior! *Mama, kenapa?? Kawinkan saja anakmu sekarang juga Ma!

5. Cowok-cowok di Fakultas Teknik itu identik “lakik banget”. Tapi, cowok-cowok di jurusan Arsitektur Interior harus mau terima risiko dicap “nggak lakik”!

Yang laki terima risiko dibilang gak lakik! via www.behance.net

Di Fakultas Teknik UI ada 12 jurusan. Anak-anak jurusan Arsitek suka menerima candaan kalau cowoknya paling enggak ‘lakik’ dibandingkan jurusan Mesin atau Elektro.

Nah, jurusan Arsitektur aja udah paling bawah, gimana cowok yang ngambil jurusan Interior yang mayoritas dikuasai oleh mahasiswa perempuan? Cap ‘enggak lakik’ pun makin kokoh menempel di tubuh kamu. Ya, setiap pilihan yang kamu ambil pasti ada risikonya!

6. Saking banyaknya tugas yang harus diselesaikan, sampai-sampai anak-anak Arsitektur Interior itu mengeluarkan fatwa bahwa “tidur itu haram hukumnya”!

Tidurnya di studio aja via logbookyanglain.wordpress.com

Kamu tersadar bahwa masa ospek kamu itu mempersiapkan kamu untuk menghadapi perkuliahan. Sejak semester awal hingga perancangan studio, kamu dihadapkan dengan adanya fatwa ‘tidur itu dosa’.

Kamu lebih baik enggak tidur supaya gambar denah yang jumlahnya puluhan, renderan, dan design report kamu bisa beres. Kopi adalah sahabat yang selalu men-supportmu, dan kamu juga jadi sadar bahwa berita di TV dari sore, malam dan pagi acap kali hanyalah pengulangan semata.

(Ngerjain tugas ditemani berita TV  sampai pagi)

“Lha, ini isinya sama persis sama yang tadi berita jam 1 subuh”

Kalaupun kamu bisa tenang tidur adalah saat kamu menginap bareng teman-teman kamu di studio. Gara-gara inilah, kamu menjadi kreatif dalam menemukan cara tidur nyaman di kursi studio.

7. Kamu sempat berpikir bahwa urusan interior tak akan serumit mendesain gedung. Ternyata kamu salah besar, karena memikirkan hal-hal kecil secara detil dalam sebuah ruangan itu tak segampang menghias kamar kostan

konsep yang detil via bandung.bisnis.com

Kamu pikir karena scoop interior lebih kecil dibandingkan arsitek yang merancang gedung, tugas kamu akan lebih sederhana. Kamu salah besar!

Justru tuntutan interior tidak kalah rumitnya. Semua aspek harus dipikirkan. Kamu tidak hanya menggambar denah-tampak-potongan ruangan, tetapi juga setiap ruangan dan furniture yang ada di ruang tersebut. Di saat orang-orang pada umumnya gambar dengan ukuran cm, kamu harus gambar dengan ukuran mm.

Kamu juga harus memikirkan sambungan lemari, mau pakai material apa, tinggi sofa berapa, kacanya berapa milimeter, dan masih banyak lagi. Kenapa sedetil itu? Karena semuanya akan berpengaruh pada rancangan kamu. Karena itu, saat lagi jalan-jalan secara gak sadar kamu menganalisis rancangan tempat yang sedang kamu kunjungi.

“Waah, dia pakai wash light ya.” “Iih, kok tinggi tangganya rendah banget sih? Enggak enak nih buat ngelangkah.” “What? Dari lantai sampai dinding pake marmer? Kan mahal gilak.”

8. Tugas-tugas kuliah memang tak jauh-jauh dari menggambar, mewarnai, dan membuat maket membuat teman-temanmu heran. Kamu pun udah terbiasa banget dengan pertanyaan “Ih, lo kuliah apa main-main sih?”

Kuliah apa mainan sih? via galeri.tribunjabar.co.id

Kamu harus nongkrong di Kemang atau Kota Tua untuk studi preseden dan melihat aktivitas di sana. Kamu juga jarang tidur karena nyelesain gambar. Badan kamu belepotan sama cat saat nyelesain tugas seni rupa. Jari kamu jadi mandi lem atau malah keiiris cutter saat bikin maket. Semuanya udah kamu lakuin demi kelancaran Perancangan Arsitek Interior kamu.

Saat kamu curhat ke temen kamu atau saat temen kamu lagi nemenin kamu bikini tugas, mereka malah berkomentar:

“Iih, lo tuh kuliah apa main-main sih?”

Kadang kamu harus bikin lima puluh sketsa free hand, nyampur cat warna buat nyelesain tugas gradasi, atau bikin maket-maket eksplorasi, dan masih banyak lagi. Tak jarang juga, saking ‘main-mainnya’ kamu juga jadi pusing sendiri mencari alasan kenapa bentuk maket yang kamu buat bisa jadi seperti itu.

9. Kalau anak Arsitektur Interior boros, itu bukan karena mereka kaum sosialita, tapi karena mereka harus keluar banyak uang buat revisi tugas berkali-kali

Keperluan pendukung tugas interior itu banyak  dan mahal, seperti alat gambar (kalo perlu  yang merek DERWENT )yang satu setnya bisa ratusan ribu, penggaris berbagai macam bentuk dari yang segitiga sampai yang bisa dilengkungin, copic (yang satu warnanya Rp 60.000,-), terutama digital printing yang mahal untuk presentasi dan design report. Kalau kamu harus survei di tempat komersil, kamu dengan berat hati harus merogoh kocek dalam-dalam supaya bisa merasakan pengalaman ruang di dalamnya.

Di semester pertama, kamu pernah disuruh ngumpulin enam puluh gambar sketsa tangan oleh dosen. Setiap kamu asistensi, dari dua puluh yang kamu kumpulkan, cuma lima yang diberi tanda OK. Kamu harus menggambar lebih banyak lagi.

Hal yang sama terjadi saat kamu asistensi denah dan sketsa ruangan. Selalu ada hal yang kurang, membuat kamu harus merancang ulang di kertas hingga fasilitator kamu meng-OK-kan rancanganmu. Entah sudah berapa ratus kertas yang kamu buang demi menciptakan ruang yang nyaman demi penggunanya.

10. Semenjak kuliah di jurusan ini, peralatan untuk membuat tugas kuliah berubah menjadi kebutuhan primermu. Kamu pun jadi lebih perhitungan dengan kebutuhan tersiermu

Mending beli ini! via copicsforbreakfast.wordpress.com

Standar kebutuhan tersier kamu pun jadi tergantung pada kebutuhan tugasmu. Budget untuk belanjamu pun harus rela kamu alokasikan untuk dana tugas.

“Apa?? Baju segini harganya Rp 250.000,-? Enggak jadi beli ah. Mending beli copic, bisa dapet 4 warna nih.”

11. Untuk membuat sebuah rancangan interior ternyata nggak langsung asal gambar aja. Kamu harus banyak ‘bersemedi’ dulu untuk menemukan konsep rancangannya!

studi lokasi via ima-g.ar.itb.ac.id

Konsep adalah hal penting dalam merancang interior. Kamu harus bekerja keras mencari inspirasi untuk konsep, dan ini membuatmu makin sering menerawang supaya menemukan kata yang bisa mewakili konsepmu dan penjelasannya.

Saat studi lokasi, kamu mau enggak mau harus duduk manis sambil memperhatikan tingkah laku dan alur aktivitas orang-orang yang melewati lokasi tersebut. Masih untung kamu enggak diusir satpam karena dikira teroris yang mau naroh bom.

Satpam: Dek, dek, mau ngapain duduk lama-lama di sini? Pake bawa kamera segala lagi.

Kamu : (*panik) Eeh, enggak, Pak. Ini buat tugas saya, Pak.

Satpam : (*makin curiga) mana KTP-nya?

12. Anak arsitektur interior kalau berangkat ngampus itu rempong. Segala jenis dan ukuran kertas gambar, penggaris, maket, tabung gambar bakal diboyong semua ke kampus!

Bawa lebih dari satu tas! via abaycosalpha.blogspot.com

Dulu kamu merasa menggambar di kertas A3 sudah sangat besar. Begitu kuliah peracangan, kamu sadar A3 itu enggak ada apa-apanya. Saat kamu ditugaskan untuk merancang kantor, kamu membutuhkan kertas A1, bahkan kalau perlu A0. Selain itu masih ada tabung gambar, map A2, design report, meteran, dan maket ruangan yang harus kamu bawa menuju studio.

*Ini kuliah apa mau pindah kostan sih?

14. Kuliah disini juga bkin kamu gak gaptek. Kamu jadi bergaul dengan program dan software untuk menggambar 3D dan renderan.

Sahabatan sama program render via denah1.rssing.com

Teknologi memang mempermudah tugas perancangan interior, tapi pasti tetap bikin mabok. AutoCad, Sketchup, 3ds max, Vray, atau program render lainnya . Kamu mendapat istilah baru gara-gara berkutat Cad.

Kamu enggak lagi bilang:

“Eh, gue mau ngeprint gambar”

Melainkan berubah menjadi

“Gue mau nge-plot”

Saking cuci otaknya, terkadang kamu secara enggak sadar malah menggunakan “command AutoCad” atau “Sketch UP” saat lagi surfing internet. Mau keluar dari google chrome, malah mencet click+ESC.

Demi menunggu renderan di laptop selesai, kamu rela mantengin layar laptop kamu dengan tatapan hampa. Kamu enggak berani pasang musik atau program hiburan lain di laptop sembari menunggu karena takut memori laptop kamu keberatan dan makin memperlambat hasil renderan kamu.

*mandangin renderan sambil menyanyi “Stop and Stareeeeee, i think i’m moving but i go nowhereeeee…”

15. Walaupun kamu anak desain interior, tak berarti keadaan kamarmu jadi lebih indah dan tertata rapi. Kenyataannya, kamarmu malah terlihat seperti kapal pecah

Dicap berantakan via crazzyong.blogspot.com

Tugas perancangan membuat kertas, maket, laptop, alat gambar berserakan di studio dan itu sudah biasa di kalangan mahasiswa arsitektur. Tapi ini menjadi masalah saat kamu membuat tugas di rumah. Komentar berikut pun muncul oleh orang-orang sekitarmu:

“Katanya anak interior, tugasnya ngerancang ruangan,kok kamarnya kayak kapal pecah gini sih?”

Kamu yang sedang dikejar deadline tidak punya waktu buat membela diri. Alhasil kamu hanya bisa melengos aja gara-gara dicibir begitu. Di dalam hati kamu berkomentar:

Duh, ya kan gue belajar ngerancang bukan ngelipet selimut. Bye!”

16. Karena duniamu lebih sering teralihkan oleh tugas-tugasmu, kamu pun jadi lupa dengan kehidupan sosialmu sendiri

dibilang anti sosial via interior.binus.ac.id

Saking banyaknya tugas yang harus diselesaikan, kamu pun terpaksa enggak punya kehidupan sosial. Saat tahun baru orang-orang sedang sibuk dengan terompetnya, kamu malah masih sibuk menyelesaikan potongan ruang yang kamu rancang.

 

17. Karena intensitas pertemuanmu dengan tugas menggambar sangat tinggi, kamu sempat merasa hampir menyerah dan fobia dengan yang namanya menggambar!

Hampir fobia dengan gambar via interior.binus.ac.id

Dulu kamu begitu bangga sama kemampuan gambarmu.  Melalui kritikan pedas para reviewer saat presentasi, kamu terpaksa menerima kenyataan bahwa kemampuan gambar tidaklah cukup kalau konsep ruangmu tidak teraplikasi terhadap gambarmu dan rancangan yang kamu buat tidaklah nyaman untuk digunakan.

Saat temanmu yang lain punya gambar dan konsep yang lebih brilian darimu. Kamu langsung menganggap karyamu adalah sampah.

Kehidupan perkuliahanmu memang kadang bikin gemes, tapi akhirnya kamu bersyukur pernah kuliah di Arsitektur Interior

Di samping kemampuan gambarmu meningkat dan  mendapatkan ilmu tentang merancang ruang dalam. Hal-hal berikut juga kamu dapatkan saat kuliah di jurusan ini.

18. Hasil karya dari tugasmu membukakan matamu bahwa ternyata selama kamu mau dan berusaha, kamu bisa melakukan hal-hal yang pernah kamu anggap mustahil untuk kamu lakukan

Gak nyangka bisa bikin kayak gini via bandung.bisnis.com

Jujur aja, kamu pasti sudah stres duluan waktu dosen kamu nge-briefing kamu untuk tugas perancangan. Disuruh bikin maket ruang transisi 1:1,  kursi dari kardus, bikin tempat publik yang masih berhubungan dengan prinsip fashion, dan masih banyak konsep aneh.

Setelah jatuh bangun saat asistensi, hasil rancanganmu pun terasa membanggakan karena akhirnya terwujud juga. Kamu enggak sangka bisa merancang toko yang konsep awalnya dari sarang lebah, ‘kan?

19. Di jurusan ini pulalah kamu menemukan teman dan sahabat yang solid dan saling mendukung satu sama lain

Teman-teman yang pengertian dan solid via alida-hamuda.blogspot.com

Kuliah di Fakultas Teknik sangat kental dengan kekompakannya, begitu juga kamu dengan angkatanmu. Merekalah yang mengerti jatuh bangun perkuliahanmu di saat mungkin keluargamu enggak mengerti dan paham pentingnya enggak tidur demi tugas.

20. Digembleng dengan tugas-tugas kuliah menjadikanmu lebih menghargai waktu. Kamu sadar bahwa sebrilian apapun konsep rancanganmu, tak akan pernah bisa terwujud hanya dalam satu malam saja

Tugasmu yang seabrek membuatmu menghargai waktu via forior.blogspot.com

Tahu bahwa tugas kamu banyak, kamu pun jadi belajar mengatur waktu. Kamu belajar menyicil dan membagi-bagi waktu antara tugas yang satu dengan yang lain supaya semua tugasmu bisa selesai tepat waktu.

21. Meskipun yang kamu pelajari adalah tentang interior, bukan berarti duniamu menjadi sempit. Justru ilmu inilah yang bisa membawamu ke dunia yang lebih luas

Ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi via www.sragenpos.com

Demi material board, kamu pun harus hunting ke toko-toko material bersama teman-teman kamu. Kalo beruntung, dosenmu punya sisa-sisa sample dari studio yang dihibahkan ke mahasiwanya. Tapi kalau barang yang kamu butuhkan enggak kamu temukan di studio maupun toko online, kamu pun harus ‘mengemis’ keluar masuk toko material.

Supaya enggak ditolak dan pasti dikasih, kamu pun mengikuti usulan fasilitator kamu supaya berpura-pura sebagai desainer beneran. (padahal lulus saja belum), atau kamu harus keluar masuk kawasan SCBD menyebarkan surat izin survei demi studi presedenmu.

Terutama kalau kamu dulunya anak rumahan yang paling banter cuma pergi ke mall. Dengan kuliah di Desain Interior, kamu jadi bisa merasakan naik kereta untuk pergi ke komplek kota tua. Kamu bisa mengunjungi museum, perkantoran, gedung arsip, atau nongkrong di jalanan Kemang demi survei lokasi.  Lebih seru lagi, kamu juga bisa  ikutan ekskursi yang diadakan organisasi jurusan. Kamu pun bisa pergi ke pelosok Indonesia untuk memperlajari arsitektur beserta cara hidup masyarakat.

22. Demi kewajiban sebagai mahasiswa kamu sering rela mengorbankan jam tidurmu. Ini adalah bekalmu saat memasuki dunia kerja nanti. Kamu tak akan kaget saat bekerja kamu masih tetap harus begadang!

Daya tahan tubuhmu kuat via www.ui.ac.id

Walau kamu begadang gak tidur semalaman, semua itu ada gunanya kawan! Kalau kamu meneruskan untuk masuk dunia interior, ada saatnya kamu harus begadang demi menyelesaikan gambar sampai tengah malam di kantor atau harus ke proyek di tempat retail. Hal ini bukan lagi hal yang mengagetkan buatmu.

23. Kuliah di isini membuat mentalmu menjadi terasah. Penolakan adalah hal yang lumrah kamu temui saat kuliah, dan ini membuatmu menjadi pribadi yang tangguh dan tak mudah putus asa

Puny mental yang kuat via logbookyanglain.wordpress.com

Penolakan tidak membuatmu cepat patah semangat karena kamu sudah terlatih lewat penolakan supplier untuk memberikan sample gratisan dan pihak gedung yang menolak memberikan izin survei.

Kamu juga belajar menerima kritikan pedas reviewer terhadap rancanganmu saat presentasi. Alih-alih kesal, kamu termotivasi untuk  menjadi lebih baik. Malah kamu pun mendapatkan ide yang lebih inovatif untuk mendukung rancangan-rancanganmu.

24. Sisi humanismu pun sedikit demi sedikit akan terketuk. Kamu jadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar hingga termotivasi untuk menghasilkan rancangan yang berguna bagi masyarakat

Kamu lebih peka via psdi.isi.ac.id

Waktu kuliah kamu belajar untuk studi preseden sebelum merancang. Kamu akhirnya belajar untuk melihat aktivitas orang-orang di sekitar kamu, menghargai personal space, dan detail.  Kamu pun termotivasi untuk menghasilkan rancangan yang berguna untuk masyarakat. Lewat eksursi, kamu pun belajar untuk menghargai kekayaan kebudayaan Indonesia.

25. Arsitektur Interior tak hanya mengajarimu soal estetika. Di sini kamu juga belajar dan memahami bahwa lewat sebuah rancangan ruangan atau furniture, ternyata kamu bisa menaikkan kualitas hidup manusia

Tak hanya estetika saja via www.uc.ac.id

Lima perancangan arsitektur interior menyadarkanmu bahwa merancang ruang dalam tidak hanya sekedar mementingkan keindahan rancanganmu. Konsep itu penting untuk menyelaraskan rancanganmu menjadi satu kesatuan.

Kamu  juga belajar bahwa fungsi dan kenyamanan tetap menjadi hal utama dalam merancang. Karena pada akhirnya, tugasmu adalah meningkatkan kualitas cara hidup manusia yang memakai ruangan atau furniture yang kamu rancang.

Kredit gambar andalan: alida-hamuda.blogspot.com