Prokrastinasi atau leyeh-leyeh melakukan hal yang gak penting sebagai alasan untuk tidak mengerjakan tugas-tugas yang lebih penting tentu sering kamu lakukan sebagai bentuk pelarian. Ya, intinya kamu menunda-nunda pekerjaan. Kamu akan tidur dengan alasan nanti bakal bangun begadang buat belajar. Tanpa kamu sadari itu adalah bentuk pelarian dari buku-buku pelajaran yang mungkin covernya sudah berubah menjadi wajah pengawas ujian kamu besok.

“Gak papa lah ya tidur dulu biar otak fresh kalo bangun, baru deh bisa belajar…” 

Namun, bukannya bangun untuk begadang, kamu malah kebablasan dan lupa belajar. Nilai ujian? Kemungkinan besar dapet C karena kamu nggak belajar samasekali! Hingga akhirnya kamu sadar bahwa prokrastinasi tidak selamanya indah. Tapi, walaupun kamu sudah tahu prokrastinasi itu buruk, kamu tetap menganggapnya sebagai hal yang sepele dan mengulanginya lagi besok. Kenapa? Karena kamu orang Indonesia? Tentu saja BUKAN, tapi itu karena kamu kurang konkret dalam bertindak!

Berbagai cara untuk mengatasi prokrastinasi seperti membuat to-do list, skala prioritas, atau menulis targetmu besar-besar, semuanya berakhir menjadi tempelan dinding belaka. Mungkin kamu harus mulai mencoba cara lain yang lebih menggugah emosimu untuk tidak ber-prokrastinasi, seperti berikut misalnya:

Camkan baik-baik di kepalamu dan selalu dengungkan di telingamu bahwa prokrastinasi itu berisiko buruk bagi kesehatan.

Jadi gampang stres dan hidup nggak tenang, kan? via www.playbuzz.com

Advertisement

Menurut Joseph Ferrarri , seorang profesor di bidang psikologi di Chicago, Amerika Serikat, para procrastinator cenderung lebih mudah pusing dan memiliki gangguan pencernaan akibat dari rasa cemas dan tidak tenang yang berlebihan. Namun, sebenarnya, tanpa harus berpikir rumit, kamu seharusnya menyadari bahwa prokrastinasi memang beresiko buruk bagi kesehatanmu.

Misalnya, kamu lebih memilih begadang nonton drama korea padahal sudah tahu besok mau bimbingan skripsi. Walhasil, kamu bakal keenakan nonton semalam suntuk dan ngerjain revisi dua jam sebelum bimbingan. Hasil yang kamu dapatkan tentu tidak akan maksimal. Setelah itu kamu akan terburu-buru berangkat ke rumah dosen pembimbing padahal rumahnya lumayan jauh.

Belum lagi rasa kantuk dari nonton korea semalam yang belum hilang. Resiko kamu naik motor ugal-ugalan dan terjadi kecelakaan akan meningkat 70%. Tentu kamu juga akan telat bimbingan. Dosen kamu bakal marah. Belum lagi ketika beliau melihat hasil revisimu yang ngaco. Risiko kamu mengalami stres berkelanjutan akan meningkat 80%.

Bandingkan kalau kamu mencoba untuk hidup lebih teratur tanpa menunda-nunda sesuatu, bagaimana perbedaannya? Mungkin pada awalnya kamu akan bingung. Bingung kenapa? Karena kamu masih punya banyak waktu yang tersisa untuk melakukan banyak hal, dan kamu tak punya tanggungan beban apapun yang bisa membuatmu cemas.

Supaya kamu bisa sadar bagaimana buruknya menjadi orang yang suka menunda-nunda segala sesuatunya, cobalah cari teman yang 2x lipat lebih malas dari kamu!

Kasihan ya, hidupnya gitu-gitu aja. Mau jadi apa nanti? via imgarcade.com

Ada perkataan bijak mengatakan “Kamu adalah apa yang tercermin dari orang-orang di sekitarmu” yang merujuk pada nasehat, “Berkumpulah dengan orang-orang rajin jika ingin jadi rajin,”. Memang benar perkataan tersebut. Tapi tidak ada salahnya untuk berpikir out of the box. Maksudnya adalah, kenapa tidak mencoba hal yang sebaliknya?

Untuk melawan prokrastinasi ada baiknya jika kamu juga mempunyai seorang teman yang lebih dahsyat prokrastinasinya daripada kamu. Kenapa? Karena dengan demikian kamu akan bercermin! Ketika kamu melihat pada temanmu yang lebih malas dari kamu, kamu akan mulai kasihan dan heran padanya. Kamu akan mulai ngebatin:

“Kasihan ya dia hidupnya gitu-gitu aja,”

atau paling parah kamu bakal suudzon

“Orang kayak gitu mah ntar mau jadi apa ya?!”

Walaupun tidak boleh suudzon, dan tidak semua orang malas berakhir malas selamanya, tapi dengan ngebatin seperti itu kamu akan mulai melakukan instropeksi diri. Ketika kamu mulai menyadari bahwa ada bagian-bagian dari sifat buruk teman kamu itu pada diri kamu, maka kamu akan seperti tersambar petir dan berpikir gimana caranya supaya gak jadi kayak dia. Tapi, ingat! Jangan banyak-banyak temen malesnya atau yang ada kamu malah akan tertular malas.

Lalu sebagai motivasi dan mengalihkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, kamu perlu berkumpul dengan orang-orang lebih rajin darimu!

Ikutan jadi volunteer mungki di LSM atau NGO . via www.profauna.net

Berkumpul dengan orang-orang rajin tetap perlu dilakukan. Selain kamu bisa berbagi semangat dan motivasi, kamu juga akan mulai membiasakan diri dengan budaya rajin. Cara paling mudah adalah dengan bergabung dengan organisasi atau komunitas positif di sekolah atau kampus kamu, atau bisa juga bergabung dengan LSM-LSM di kota kamu sebagai anggota maupun volunteer.

Biasanya, orang-orang yang menyibukkan diri dengan kegiatan organisasi adalah mereka yang tidak mau membiarkan waktu mereka terbuang sia-sia. Sangat berlawanan dengan si prokrastinasi yang suka buang-buang waktu! Bayangkan betapa banyaknya manfaat yang akan kamu dapatkan dengan mengalihkan waktu yang biasanya kamu gunakan untuk prokrastinasi kepada kegiatan-kegiatan organisasi yang jauh lebih menyenangkan.

Jika selama ini yang menyebabkan kamu menjadi seorang prokrastinator adalah smartphone, maka beranikan dirimu untuk uninstall aplikasi media sosialmu!

Uninstall media sosiamu! Berani? via www.actuallymummy.co.uk

Sebuah penelitian yang diprakarsai oleh salah satu perusahaan telekomunikasi ternama dunia mengungkapkan bahwa orang-orang modern jaman sekarang membuka smartphone-nya setiap enam menit sekali. Akuilah bahwa kamu adalah salah satunya. Kamu sering tanpa sadar buka ponsel untuk sekedar refresh home Path atau Instagram. Entah kenapa kamu jadi lebih memilih untuk nungguin ada temen kamu update lagi ngapain, sama siapa dan dimana di timeline Path, daripada berkutat dengan tugas-tugas kamu. Penting atau gak penting pokoknya kamu selalu scroll down timeline sampe bawah banget.

Perlu kamu ketahui, kebanyakan kepo akan mengurangi produktivitas kerja kamu. Kecuali, emang kamu kerjaannya sebagai social media strategist, marketer, atau data analyst. Nah, buat kamu yang kerjaannya gak ada sangkut pautnya sama media sosial dan merasa medsos itu biang prokrastinasi, coba deh beraniin diri buat uninstall! Kalo ga tega uninstall coba di-hide aja aplikasinya. Tapi yang paling hebat adalah jika kamu berani ganti smartphone kamu dengan hape jadul yang tidak smart.

Dengan demikian, kamu juga akan mulai hidup kembali di dunia nyata dan menyadari bahwa selama ini kamu lebih banyak melalui hari di media soials yang sebenarnya belum jelas apa manfaatnya buatmu.

Oke, anak-anak penerus bangsa, pemegang nasib masa depan negara, masih mau prokrastinasi? Sadarlah bahwa masih banyak cita-cita yang harus kamu perjuangkan daripada sekadar membiarkan nafsu menguasai waktumu. Sebaik-baiknya rezeki adalah rezeki yang cepat dijemput. Memang, rezeki tidak akan tertukar tapi mungkin saja rejekimu keduluan diambil orang.

Ingat juga kata tante Krisdayanti, menyesal tak pernah di awal. Dan sebagian besar prokrastinasi berujung pada penyesalan di kemudian hari. #lawanprokrastinasi.