Ini adalah perjalan saya di Tangkahan, Sumatera Utara selama 4 hari 3 malam. Saya berangkat ke Tangkahan bersama rombongan kelas, dengan maksud fieldtrip. Awalnya saya tidak tahu apapun tentang Tangkahan tapi setelah saya kesana, saya mendapat pengalaman baru yang menakjubkan. Tangkahan mungkin sudah tidak asing lagi bagi penggemar wisata alam, akan tetapi bagi beberapa orang Tangkahan masih belum familiar.

Tangkahan adalah kawasan wisata yang mengusung konsep ecotourism. Di sini kamu bisa berwisata sekaligus belajar menjadi sahabat alam.

Jalan menuju Tangkahan (dok. pribadi) via Hipwee.com

Terletak di Sumatera Utara Kabupaten Langkat diapit oleh Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang Kecamatan Batangserangan. Tangkahan merupakan kawasan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Dulunya Tangkahan menjadi sasaran bagi penebang liar, namun seiring berjalannya waktu beberapa orang yang sadar akan pentingnya melestarikan hutan mulai mengambil tindakan.

Mereka mengadakan sosialisai ke masyarakat bagaimana agar masyarakat tetap mendapat keuntungan tanpa merusak alam yaitu dengan menjadikan Tangkahan sebagai kawasan ecotourism. Ecotourism/ ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat, dan akhirnya terbentuk Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT).

Jika ingin perjalanan lebih fleksibel, disarankan untuk menyewa mobil. Jika menggunakan mobil sewaan, pastikan jendela mobil tidak rusak dan tertutup dengan baik, karena jalan menuju Tangkahan ada yang tidak beraspal dan menimbulkan debu. Kurangnya pencahayaan dan jalan yang sempit adalah tantangan bagi wisatawan Tangkahan.

Advertisement

Tangkahan The Hidden Paradise via nouvellehaitienne.blogspot.com

Tangkahan memiliki julukan yaitu “The Hidden Paradise”, dan hanya orang-orang yang sabarlah yang dapat mencapai Tangkahan. Untuk mencapai Tangkahan dibutuhkan waktu 4 jam dari Bandara Internasional Kuala Namu. Menuju Tangkahan bisa dengan kendaraan umum, naik bis dari terminal Pinang Baris, namun hanya ada 2 kali jadwal bis per hari. Kami menggunakan bus pariwisata dari Bandara Internasional Kuala Namu.

Selama perjalanan menuju Tangkahan tidak jarang kamu akan menemui mobil truk yang membawa kelapa sawit melintas, ini dikarenakan mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani sawit. Lalu lalangnya truk menjadi faktor jalanan jadi tidak beraspal.

Suhu di Tangkahan 28 -35 C, oleh sebab itu wisatawan disarankan membawa pakaian yang nyaman. Walaupun jauh dari pusat kota, listrik di Tangkahan sudah tersedia. Untuk penginapan tak perlu bingung, ada beberapa penginapan yang bisa menjadi pilihanmu beristirahat dengan nyaman.

Wajib lapor ke Tangkahan Visitor Center dulu (dok. pribadi) via Hipwee.com

Segala aktivitas wisata harus dilaporkan di Tangkahan Visitor Center, wisatawan juga dapat membeli paket wisata di TangkahanVisitor Center. Paket wisata yang dijual beragam, mulai dari harga Rp 250.000 – Rp 10.374.000. Di Tangkahan banyak aktivitas yang dapat dilakukan seperti tracking di Taman Nasional Gunung Leuser, mengunjungi konservasi gajah di CRU (Conservative Response Unit), dan tubing disungai. Selama beraktivitas di Tangkahan para wisatawan akan ditemani oleh interpreter.

Ingin mengeksplor lebih dalam lagi tentang hutan beserta isinya? Kamu bisa melakukan jungle tracking di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser

Selamat datag di Taman Nasional Gunung Leuser via tourtravellerz.com

Jika kamu penggemar tracking, Taman Nasional Gunung Leuser ini wajib untuk kamu jejaki. Tidak hanya menawarkan keindahan alam, wisatawan diberi pengetahuan baru mengenai flora dan fauna yang hidup dan tumbuh di Taman Nasional Gunung Leuser. Untuk mencapai Taman Nasional gunung Leuser harus melewati sungai Sei Batang Serangan dan juga sungai Buluh. Untuk menyeberangi sungai dapat menggunakan gethek, tarifnya Rp.3000/tiga hari.

Naik perahu gethek (dok. pribadi) via Hipwee.com

Terdapat berbagai flora dan fauna yang dapat menyegarkan mata seperti monyet ekor panjang, monyet Pedih, burung Sri Gunting, Elang Hitam, dan juga burung Cendrawasih. Untuk dapat melihat mereka, para wisatawan disarankan tidak membuat suara gaduh. Jangan lupa memakai kaos kaki panjang dan celana panjang, ini untuk menghindari lintah-lintah kecil masuk dan menghisap darah. Lintah ini tidak berbahaya mereka hanya menghisap darah dan akan terlepas sendiri.

Selain fauna, flora yang tumbuh di Taman Nasional Gunung Leuser pun tidak kalah banyaknya tumbuhan obat-obatan, sayuran liar, tumbuhan berbahaya, terdapat juga pohon Kayu Raja yang dipercaya oleh masyarakat sekitar memiliki aura mistis dimana jika ada masyarkat yang meninggal dunia arwahnya akan singgah di pohon Kayu Raja, oleh sebab itu pohon ini tidak boleh ditebang.

Tumbuhan berbahaya seperti rotan berduri sangat sering ditemukan dalam hutan. Selain rotan berduri, terdapat Jelatang yang dapat menimbulkan alergi dikulit jika daunnya mengenai kulit apalagi saat sedang berkeringat. Efek alergi yang ditimbulkan paling parah selama 3 bulan.Untuk itu disarankan mengenakan baju lengan panjang.

Terdapat beragam flora dan fauna di dalam Taman nasional Gunung Leuser (dok. pribadi) via hipwee.com

Saat berada didalam hutan, terdapat beberapa sisa pohon yang ditebang secara ilegal ini menjadi bukti illegal logging yang terjadi dulu. Di bagian tengah hutan ada sebuah aliran air yang diberi namaUning. Uning adalah sumber air bagi hewan-hewan yang hidup di Taman Nasional Gunung Leuser dan konon katanya di Uning ini hewan buas seperti harimau tidak akan memburu mangsanya.

Setelah turun dari gunung, terdapat anak sungai gambir yang akan menyambut. Di sekitar anak sungai gambir banyak tumbuh buah-buahan seperti nanas, dan pisang yang dapat disantap sambil beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari anak sungai gambir terdapat induk sungai Sei Batangserangan yang menjadi spot untuk berenang. Jika membeli paket tour, wisatawan dapat menikmati paket lunch di pinggir sungai dengan view yang indah.

Tak usah jauh-jauh ke Thailand untuk bertemu gajah di habitatnya. Di sini kamu juga bisa puas bermain, mandi, dan menyusuri sungai bersama gajah-gajah yang pintar.

Konservasi Gajah. Elephant Bathing, Elephant Feeding & Elephant Riding (dok. pribadi) via hipwee.com

Konservasi gajah di Tangkahan memiliki 8 ekor gajah satu jantan dan tujuh betina. Gajah-gajah itu didampingi oleh mahout yang berjumlah 15, jadi aktivitas bersama gajah dijamin tetap aman. Aktivitas yang dapat dilakukan di konservasi gajah antara lain Elephant bathing, Elephant riding, dan juga Elephant feeding. Elephant bathing dimana wisatawan dapat memandikan gajah dan dimandikan gajah di sungai Namogeltus.

Memandikan dan menyikat si gajah (dok. pribadi) via Hipwee.com

Wisatawan memandikan gajah menggunakan sikat yang biasanya dipakai untuk menyikat pakaian. Tenang saja, kulit gajah yang tebal tidak akan terluka saat disikat. Setelah memandikan gajah kita dapat memberinya makanan. Gajah yang sudah bersih dan kenyang pun siap di tunggangi dengan biaya Rp.30.000/orang.

Menunggangi si Gajah (dok. pribadi) via Hipwee.com

Elephant riding ini mengelilingi lokasi konservasi gajah kurang lebih 10 menit dan akan ditemani oleh seorang mahout. Seekor gajah dapat ditunggangi 3 orang termasuk mahoutnya. Untuk konservasi gajah ini hanya dibuka dari hari Senin hingga Kamis.

Nikmati hijaunya hutan, sejuknya udara, dan dinginnya air sungai di Tangkahan dengan mencoba river tubing di sungai Sei Batang Serangan.

River tubing di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser via wiwitprasetyono.wordpress.com

Tubing dilakukan dari sungai Sei Batang Serangan sampai sungai buluh. Bagi kamu yang ingin mencoba arung jeram tetapi takut dengan arus yang deras, tubing adalah alternatif yang cocok buatmu. Saat tubing anda dapat melihat keindahan hutan yang terjaga tanpa sampah.

Jika kamu belum puas dengan jalur Sei Batang Serangan-buluh, kamu dapat berjalan selama 30 menit ke spot tubing lainnya yaitu Namucecengkedi ujung sungai Buluh. Di spot ini kamu dapat berenang dan mengadu adrenalin melompat dari tebing. Terdapat dua air terjun yang berada disepanjang sungai, air terjun Kenangan dan air terjun Garut. Sayangnya air terjun Garut kurang terjaga, banyak batu sungai yang terukir oleh tangan-tangan nakal.

Air terjun di Tangkahan via pucukteam.blogspot.com

Saat menuju spot tubing di ujung sungai buluh, terdapat juga sumber air panas. Selain tubing di sungai ini kamu juga dapat memancing dan berenang, tentunya terdapat spot khusus untuk aktivitas tersebut. Yang harus diingat saat tubing, jangan turun dari tube/ban saat berada ditengah sungai dan pegang eratlah barang-barangmu jangan sampai hanyut apalagi sandal atau sepatu dan juga ban/tube yang digunakan.

Bagi saya perjalanan ke Tangkahan sangat mengesankan. Benar seperti julukannya Tangkahan, The Hidden Paradise , dalam perjalan tidak terlihat bahwa tempat yang dituju itu adalah objek wisata akan tetapi saat tiba disana semua pemikiran itu sirna.

Cobalah kunjungi objek wisata dengan konsep eco-tourism seperti di Tangkahan ini, dimana wisatawan secara tidak langsung disadarkan akan pentingnya pelestarian alam. Tidak hanya turut melestarikan alam, wisatawan akan mendapatkan ilmu dan pengalaman. Melestarikan alam sambil belajar dan juga bersenang-senang.