Keputusan-keputusan yang kita ambil setiap harinya akan menentukan hidup kita di masa depan. Dari keputusan tentang kapan kita tidur hingga jurusan kuliah apa yang kita ambil, semua itu akan membentuk siapa diri kita nantinya.

Tapi, tak semua proses pengambilan keputusan itu mudah. Tak jarang kita disodorkan pada pilihan-pilihan dilematis. Nah, apa saja sih pilihan-pilihan terberat yang pernah kamu hadapi seumur hidupmu? Dari masalah cinta sampai orang tua, simak jawaban pembaca-pembaca Hipwee di bawah ini, yuk!

Pacaran memang mengasyikkan, tapi banyak juga ujiannya!

pacaran itu banyak juga ujiannya via truephotography.com

“Memilih pacar itu paling sulit, karena bagiku memilih seorang pacar menentukan perjalanan hidup yang berikutnya. Aku mau pacaran sekali untuk seumur HIDUP. :)”

Lastri Simarmata, 23, Medan

“Udah capek pacaran bertahun-tahun dan beda agama, tahunya nggak disetujui orang tua dan keluarga. Mau gak mau, harus putus. Lebih baik ikuti kemauan keluarga selama mereka senang :)”

Septiyani Kristianingsih, 23, Jakarta

“Aku harus mengakhiri hubungan dengan orang kusayang. Harus memilih keluarga pada akhirnya.”

Lucy, 24, Medan

“Salah satu pilihan tersulitku adalah datang ke resepsi pernikahan mantan pacar yang memilih putus karena dijodohin sama orangtuanya…”

Sam, 23, Jakarta

“Aku kesulitan memilih pacar atau selingkuhan :D”

Elya, 17, Garut

Kalau pacaran saja ribet, menikah apa lagi.

Sudah mulai bisa menghadapi pertengkaran dengan baik via galleryhip.com

Advertisement

“Saat itu harus memilih menikah (dan ikut calon suami) atau melanjutkan kuliah dan menjalani karier… Ketika sudah mulai mantap untuk lebih memilih menikah, calon suami justru melepas saya, membatalkan rencana pernikahan, dan pergi begitu saja.”

Asri, 28, Depok

“Menentukan apakah harus mempertahankan rumah tangga. Aku merasa takut untuk bercerai dan mengecewakan anak-anak.”

Melky Ladjeba, 35, Poso

Berpisah dari orang tua dan merantau pun membuatmu berpikir puluhan kali

Merantau adalah pilihan sulit via PTMerantauFilms

“Pisah dengan orang tua sejak SD adalah hal tersulit yang pernah gue alamin. Ini juga karena kondisi ekonomi keluarga :(”

YAB, 18, Bekasi

“Keluar dari rumah untuk mengejar impian dan cita-cita itu adalah keputusan yang sangat sulit. Di luar sana tidak ada hangatnya kasih sayang orangtua dan perhatian seperti di dalam rumah.”

MayPrstika, 18, Jayapura

“Ketika memutuskan kuliah jauh dari orang tua, di saat orang tua mulai sakit-sakitan :'(”

Ifa, 17, Jakarta

“Saat kita harus pergi merantau jauh dari orang tua, sementara orang tua bisa dibilang sudah cukup berumur. Tapi itulah pilihan. Nasihat orang tua juga menjadi motivasi untuk tetap pergi merantau.”

Batra Saputra, 24, Palembang

“Antara bekerja di luar pulau dengan gaji fantastis dan bekerja di daerah sendiri dengan gaji yang “biasa saja”, tapi dekat dengan orangtua dan keluarga.”

Serifudin, 21, Kediri

“Aku anak terakhir dan perempuan satu satunya. Ibunda yang sudah semakin tua ingin aku kuliah di tempat yang dekat-dekat saja . Di sisi lain, aku ingin kuliah di universitas pilihanku, yang jauh dari orang tua. Aku memilih untuk kuliah di universitas pilihanku, dan Ibunda mengerti. Love you Mum, I will be back and make you smile with all I’ve got :)”

Parin, 21, Medan

Ada dari kita yang harus memilih antara Ayah atau Ibu

Ayah atau Ibu? via muftah.org

“Pilihan tersulit itu adalah saat memilih harus hidup dengan Ayah atau Ibu.”

Windy Lapian, 19, Manado

“Aku harus tinggal dengan Ayah atau Ibu?”

Sriliawati, 16, Serang

“Memilih antara Ayah dan Ibu.”

Rini Setiawati, 17, Yogyakarta

Menjadi orang yang lebih positif selalu butuh pengorbanan besar

kamu harus siap berkorban via dhaverst.wordpress.com

“Pilihan paling sulit adalah saat saya harus berhenti memikirkan hal-hal porno. Tidak dapat saya pungkiri saya akan terangsang terhadap rangsangan-rangsangan visual.”

Yudhi, 22, Bandung

“Pilihan antara membentak, memukul, melempar benda atau mendiamkan saja ketika mengajar di kelas yang muridnya tantrum dan semaunya.”

Aji Devianto, 32, Yogyakarta

“Saat harus memilih untuk tetap berada di lingkungan pertemanan yang salah, atau pergi dengan konsekuensi dimaki-maki mereka yang dulu melabelkan diri sebagai “sahabat terbaik”. Akhirnya aku memilih menjauhi mereka dan mendapat kehidupan yang lebih baik, tenang, dan membahagiakan bersama orang-orang yang tulus sayang sama aku.”

Vanyaszha, 20, Semarang

Dari SMA sampai S-2, masalah pendidikan gak berhenti-berhenti bikin galau

galau-galau sarjana via prologuepictures.sg

“Masuk jurusan IPA atau IPS waktu SMA… Menentukan masa depan banget!”

Alitya Novianda Adityaputro, 19, Surabaya

“Nentuin kuliah. Bentar lagi gue mau lulus, bingung mau kuliah apaa -___- Padahal maunya seni musik, bokap saranin gue masuk akuntansi. Gue belajarnya aja males-malesan -___-”

Aditya Katili, 16, Samarinda

“Pilihan tersulit adalah saat harus kuliah dengan jurusan yang tidak sesuai keinginan. Biasalah, pilihan orang tua. Sebagai anak yang penurut… yaaa…aku nurut aja. Kendala budget juga sih. Tapi pada akhirnya kuliahku tidak sepenuh hati.”

Nurma Fitrianingsih, 20, Purwakarta

“Pilihan masuk jurusan kuliah versi aku sama Nyokap. Aku maunya ambil Ilmu Hukum, sedangkan Nyokap minta aku masuk jurusan kebidanan. Akhirnya, aku kalah dan mengalah. Sekarang aku lulusan bidan.”

Afriyanti, 24, Pemalang

“Pilihan tersulit dalam 23 tahun hidup saya itu: penelitian skripsi di Samarinda. Saya warga NTT, cewek pula, belum pernah ke Samarinda dan tidak punya saudara disana… Ampun dah, untungnya saya bisa! :D”

Elvira Wea, 23, Kupang

“Dari lahir sampai detik ini, pilihan tersulit adalah kuliah dengan jurusan pilihan orang tua. Ya mau bagaimana lagi… orang tua tetap nomor satu, walau keinginanku bertolak belakang banget sama pilihan ortu. Masa depanku, di tangan orang tuaku. Hiks.”

Rina DJ, 23, Padang

“Ketika harus memilih jurusan kuliah yang nggak banget karena orang tua.Rasanya kuliah cuman buat nyari temen doang, sama main. Hahahaha.”

Rakha, 21, Yogyakarta

“Pilihan tersulit adalah waktu aku pilih jurusan kuliah. Aku harus tanya semua orang, tapi mulai dari orang tua, teman, kakak, adek, eyang, semuanya bilang: “Ya terserah kamu, kamu passion-nya kemana?” OMG.”

Tya, 20, Batam

“Lanjut kuliah S-2 dengan beasiswa atau bekerja setelah diterima pasca rangkaian tes yang panjang. Akhirnya dengan berat hati aku memilih untuk bekerja (atas permintaan orang tua), meskipun dalam hati lebih memilih untuk kuliah lagi.”

Rene, 33, Makassar

“Ketika harus memilih berhenti kuliah di Malaysia dan memutuskan untuk bekerja karena tuntutan kehidupan. Saya tahu orang tua kecewa karena tidak ada anaknya yang meraih gelar sarjana. Tapi sekarang aku gak menyesal dengan keputusan itu. Aku sadar bahwa sebelumnya terlalu mengejar ijazah tanpa mempunyai kompetensi bekerja di bursa asing. Now, I’m happy :D”

Suci, 21, Kuala Lumpur

Pilihan-pilihan ini juga dilematis, Bray!

D-I-L-E-M-A via hdwallpapercorner.com

“Mau makan di burjo atau di angkringan? Hahahaa… itu pilihan yang sulit, men… LOL…”

Rio, 22, Jogja

“Aku kesulitan memilih antara ngelanjutin tidur atau bangun untuk mengerjakan skripsi.”

Shelly, 21, Bandung

Nah, apa yang kamu pikirkan ketika membaca pendapat-pendapat di atas? Apakah kamu menghadapi pilihan berat yang sama dengan mereka? Semoga kamu tak salah dalam mengambil keputusan, ya! Kalau mau menyampaikan cerita lain tentang pilihan-pilihan dilematis yang pernah kamu hadapi, isi saja kolom komentar! 🙂