Hayo, kapan terakhir kali kamu menyelesaikan sebuah novel? Membaca memberikanmu begitu banyak manfaat yang tak akan bisa kamu dapatkan dari kegiatan lain, namun masih banyak dari kita yang malas membaca. Kita lebih memilih nonton sinetron meskipun isinya tak berfaedah. Kalau buku itu ada versi filmnya, kita sih lebih suka nonton filmnya saja, hehehehe.

Padahal kurangnya minat baca kita ini berakibat sangat buruk pada kehidupan sehari-hari. Logika dan alur berpikir kita jadi kurang terlatih, sehingga kita mudah termakan oleh provokasi. Debat di forum-forum internet juga sangat tidak sehat, dan tak jarang justru menyerang hal nggak nyambung seperti suku atau agama seseorang. Pengetahuan kita tentang sejarah atau dunia internasional sesempit katak dalam tempurung. Kemampuan berbahasa kita pun kacau — ingat nggak waktu kita ngos-ngosan menulis esai di semester-semester awal kuliah?

Jadi kali ini, Hipwee ingin menerbitkan sesuatu yang sedikit berbeda. Salah satu pembaca Hipwee, Rivanlee Anandar, tak hanya akan menjelaskan kenapa kita harus lebih banyak membaca, namun juga merekomendasikan padamu buku-buku apa yang sebaiknya kamu lahap sekarang juga! Buku-buku apa sajakah itu? Yuk, langsung saja kita simak tuturan Rivanlee!

Sekitar medio 2010, saya dikenalkan teman beberapa buah buku: sebuah novel teenlit beserta kisah inspiratif. Saya baca keduanya, hasilnya bagus di awal buruk di akhir. Bagus karena saya dapat kutipan-kutipan seru yang bisa saya lempar pada teman saya, buruk karena buku-buku tersebut tidak membuat saya berniat untuk membeli buku kembali.

Advertisement

Sampai kesan buruk itu membawa saya pada rasa penasaran yang teramat sangat. Masak sih tidak ada buku Indonesia yang benar-benar layak baca? Telat memang, saya baru peduli pada awal semester 5 saat kuliah. Saya mulai mencari buku-buku sastra lama Indonesia. maka dari itu, saya putuskan, semester 5 adalah waktu di mana saya bisa sepuas hati menikmati sastra-sastra lama Indonesia.

Hasilnya, tidak sia-sia. saya mengakui diri saya kuper, cepat puas, dan malas membaca. Buku-buku sastra lama Indonesia mengundang decak kagum pada diri saya. seolah saya tidak percaya, mereka, penulis-penulis Indonesia menulis dengan sedemikian bagus saat zaman perang dan penjajahan. Walau tentu, buku-buku tersebut saya katakan layak baca berdasarkan kapasitas saya sebagai pembaca biasa, bukan kritikus sastra.

Saya melihat sebuah buku bagus ketika buku tersebut ditulis tidak menyesuaikan dengan kondisi pasar. Mampu menyihir pembaca untuk mudah memvisualisasikan apa yang dibacanya, disusun dengan diksi yang baik, tidak bertele-tele, dan tentu bermanfaat untuk orang banyak.

Jadi apa sajakah buku-buku Indonesia yang wajib kita baca sebelum semakin langka? Berikut lima di antaranya.

Bumi Manusia, Titik Mula Untuk Anak Muda Indonesia yang Ingin Membaca Karya Klasik

Jangan dilihat doang. Dibaca.

Jangan dilihat doang. Dibaca. via www.djangkarubumi.com

“Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Dituduh sebagai antek Komunis karena keterlibatannya dalam Lekra kemudian dibuang ke Pulau Buru (Maluku) selama puluhan tahun tidak membuat Pramoedya Ananta Toer habis akal. Sebaliknya, ia justru mampu melahirkan karya magis yang kemudian menjadi sebuah tetralogi.

Bumi Manusia, seri pertama dari Tetralogi Pulau Buru, menjadi pilihan pertama saya sebagai buku romantis pertama yang mampu mengubah pandangan saya bahwa Sastra Indonesia tidak sedemikian buruk. Begitu manis kisah cinta Annelies, si cantik Indo Belanda-Jawa, dan Minke, seorang priyayi yang menjadi tokoh utama kisah ini, diceritakan oleh Pram. Beliau pun mampu menjungkirbalikkan stigma tentang wanita gundik dengan menceritakan kisah Nyai Ontosoroh yang kompleks.

Bumi Manusia mampu menjadi penyebab matamu berair melalui kisah cinta era kolonial. Sempat dalam hati saya mengumpat, berani-beraninya rezim Soeharto menghalang-halangi karya besar ini.

Sepotong Senja Untuk Pacarku, yang Pertama Kali Membuat Semua Pasangan Muda Indonesia “Demam Senja”

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Sepotong Senja Untuk Pacarku via perancangaksara.com

“Bersama surat ini kukirimkan sepotong senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?”

Saya menyukai senja sejak lama, ketika ia dinikmati bersama kerabat dekat, di pantai, sambil melepas lelah. Sekadar itu saja. Namun, setelah membaca buku ini, orientasi saya tentang senja bertambah. Begitu manis, surealis, Seno Gumira Ajidarma menggambarkan senja, seolah senja adalah barang hidup yang bisa kamu bawa ke mana-mana, lantas kamu berikan kepada orang tersayang.

SGA menyulap kata-kata romantis remeh temeh menjadi kalimat utuh yang tak klise. Senja menjadi surealis. Senja menjadi lebih imajinatif. Jika kamu pernah bertanya-tanya bagaimana senja kini menjadi sesuatu yang romantis bagi banyak pasangan muda, Sepotong Senja Untuk Pacarku adalah penyebabnya.

Sepotong Senja Untuk Pacarku adalah sebuah kumpulan cerpen, tapi cerpen yang akhirnya memberi judul pada kumcer tersebut bisa kamu baca di sini.

Ronggeng Dukuh Paruk, yang Akan Meningkatkan Diksi Bahasa Indonesiamu 1000 Kali Lipat

Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk via seketsaburam.wordpress.com

“Di dunia ini, tak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk.”

Saya tidak tahu kalau film Sang Penari adalah adaptasi film dari buku ini. Saya menikmati buku ini di perpustakaan umum, penasaran bagaimana Ahmad Tohari mengisahkan cerita hidup Srintil, si Ronggeng. Ternyata, hasilnya menakjubkan. Ahmad Tohari tidak menceritakan kisah ronggengnya saja, ia membangkitkan masa-masa pergolakan G30S/PKI. Tiap tokoh diberikan watak yang kompleks: Rasus, teman masa kecil Srintil dan laki-laki yang mencintainya; Sakum, penabuh gendang tuna netra yang pertama kali melihat bakat Srintil sebagai ronggeng; dan Pasangan Kartareja, yang melanggengkan karir Srintil sebagai ronggeng desa. Tiap tokoh memperlihatkan bagaimana kehidupan di masa itu dengan beragam sifat: kikir, licik, cerdas, buta politik hingga melawan akal sehat atas nama budaya.

Buku ini adalah bukti kepiawaian Ahmad Tohari dalam mendongeng. Ronggeng Dukuh Paruk merupakan trilogi, kedua lainnya ialah Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala.

Daripada Nonton Bukan Dunia Lain, Mending Baca Harimau! Harimau! yang Lebih Mencekam dan Nggak Justru Bikin Marah-Marah

Harimau! Harimau!

Harimau! Harimau! via seketsaburam.wordpress.com

Meskipun sama-sama pernah dipenjara karena alasan politik, Mochtar Lubis adalah seteru Pramoedya dalam hal pemikiran. Pram diasosiasikan dengan Lekra, sementara Mochtar Lubis adalah motor di balik Manikebu — yang secara aktif menentang pengaruh komunisme dan golongan kiri dalam seni.

Tapi tentu buku ini tidak ada hubungannya dengan pembuka di atas. Harimau! Harimau! menceritakan tentang 7 orang lelaki pencari damar dalam hutan. Di dalam hutan, kemudian mereka bertemu harimau. Kejar-kejaran antara harimau dan pencari damar menjadi kisah yang seru, suasana hutan terasa sekali, kecemasan, kegelisahan, tiap orang tergambar utuh dalam buku ini.

Mochtar Lubis dengan kuat memberikan watak yang terlihat pada masing-masing orang. Buku ini sedikit pas kalau dibaca pas malam hari, daripada kamu nonton Bukan Dunia Lain?

Robohnya Surau Kami, untuk yang Ingin Karya Berkualitas dengan Dialog dan Alur yang Nggak Bikin Pusing

Robohnya Surau Kami, AA Navis

Robohnya Surau Kami, AA Navis via isroi.com

Cetakan pertama buku ini tahun 2006, tidak begitu langka seperti buku-buku di atas. Tapi kamu akan kehilangan banyak kalau melewatkan buku ini. Robohnya Surau Kami berisi tentang beberapa cerpen. Cerpen pertama dibuka dengan Robohnya Surau Kami pandangan seorang penjaga masjid dan pemuda yang mampu mengubah pandanganmu tentang agama dan kehidupan.

Dialog yang sederhana, alurnya ringan, plot dan ending yang akan membuat kamu berkata “anjrit, gak nyangka gue!” Wikipedia menyebutkan buku ini sebagai buku sosio-religi, tapi lebih dari itu, buku ini karya sastra yang luar biasa dari seorang A.A. Navis. Sederhana namun bermakna, begitulah buku ini dapat disimpulkan.

Kalau kamu melewatkan karya sastra klasik Indonesia, kamu akan kehilangan kesempatan mengenal bangsamu sendiri. Sebaliknya, ketika kamu mulai jatuh cinta pada karya-karya ini, kamu akan rela deh berjalan menuju perpustakaan atau toko buku bekas untuk mencari karya sejenis yang kamu inginkan!

Ingin menulis untuk Hipwee? Simak caranya di sini!