Saat mendengar kata farmasi, mungkin yang langsung terlintas di benakmu adalah “obat” dan “apotek”. Hal itu juga dialami oleh para mahasiswa Farmasi, dengan berbekal pemahaman dua hal tersebut, mereka memasuki fakultas ini.

Berbekal sebuah pemahaman bahwa jurusan ini mengajarkanmu tentang obat-obatan, namun setelah memasuki jurusan ini kamu pun menyadari bahwa obat yang dimaksud ternyata tidak sesederhana itu.

Mendalami ilmu untuk meracik obat itu ternyata kompleks, seperti terjebak dalam labirin namun sulit sekali untuk menemukan jalan keluar. Butuh perjuangan berat agar bisa menemukan formula obat yang tepat. Berikut ini adalah 10 hal yang hanya dirasakan oleh para mahasiswa Farmasi!

1. Kamu masuk Farmasi kemungkinan besar karena ‘terdampar’. Awalnya kamu ingin masuk Fakultas Kedokteran, tapi ternyata Tuhan menakdirkanmu untuk masuk fakultas ini!

Terdampar di Fakultas Farmasi via www.flickr.com

Mungkin beberapa mahasiswa Farmasi adalah mahasiswa yang terdampar karena gagal masuk pilihan Fakultas pilihan pertama saat mendaftar kuliah. Pada awalnya kamu memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan pertama, lalu Farmasi sebagai pilihan yang kedua.

Advertisement

Tapi apa daya, keinginan dan harapan seringkali tak pernah sejalan dengan realita yang ada. Ya, kamu lulus tapi dengan pilihan yang kedua yaitu Fakultas Farmasi. Kamu memasuki Farmasi dengan berat hati, dan dengan penuh janji pada kesempatan berikutnya kamu akan mendaftar lagi di Fakultas Kedokteran.

Namun sepertinya Tuhan lebih tahu mana yang terbaik bagimu. Tuhan sudah menakdirkanmu untuk menjadi bagian dari dunia farmasi. Kamu adalah satu dari sekian banyak mahasiswa farmasi yang masuk farmasi karena sebuah “kecelakaan”.

2. Saat kamu mantap menjadi mahasiswa Farmasi, banyak gosip-gosip berseliweran yang mengatakan bahwa jurusan ini susah. Bahkan lebih susah dari Fakultas Kedokteran!

Setelah masuk farmasi baru tau ini hikss via twitter.com

Saat pertama kali masuk jurusan atau fakultas ini, banyak bisik-bisik dari temanmu yang mengatakan kalau Farmasi itu susah banget. Bahkan mereka menggunakan orang terpercaya sebagai narasumbernya, seperti:

“Kata kakakku yang dokter, farmasi lebih susah daripada kedokteran lho!”

 “Kata ibuku yang perawat farmasi lebih susah dari psikologi” (lho apa hubungannya?)

Saat mendengar gosip-gosip tersebut, sedikit banyak kamu merasa takut dan penasaran untuk kuliah di Farmasi.

“Apa iya sih kuliah di Farmasi sesulit itu?”

Tapi pada akhirnya kamu pun terus mantap untuk menjadi mahasiswa Farmasi. Tapi setelah menjalani masa-masa perkuliahan, pertanyaanmu tadi tak perlu lagi dijawab. Cukup lihat saja wajahmu sendiri yang kelelahan kurang tidur setiap kali bangun pagi.

3. Tiba-tiba saja kamu merasa seperti apotek berjalan. Semua orang bertanya dan berkonsultasi tentang obat-obatan padamu, padahal kamu baru saja kuliah semester 1!

Sakit ini obatnya apa? via www.iaikotakediri.net

Saat orang-orang tahu bahwa kamu adalah mahasiswa Farmasi, orang-orang seringkali bertanya padamu;

“Eh aku sakit ini nih, obatnya apa ya?”

“Ini obat untuk sakit apa ya?

Orang-orang terus mencecarmu dengan pertanyaan sejenis, padahal saat itu kamu masih kuliah semester satu. Dan pada akhirnya yang kamu lakukan hanyalah berkata:

“Nggak tahu, belom diajarin… hehehe.”

4. Siklus hidup yang dialami oleh mahasiswa Farmasi itu hanya berputar di antara laporan dan praktikum. Dan itu terus berlangsung sampai negara api menyerang!

praktikum – laporan – praktkum – laporan via www.usd.ac.id

Seperti roda yang berputar tanpa ujung dan tiada akhir, siklus ini terus menemani masa studimu. Laporan kuliah dan praktikum yang hampir setiap hari kamu lakukan, seolah-olah telah membuat hari-harimu sengsara, merenggut senyumanmu, memaksamu menikmati hari-hari panjang nan melelahkan di laboratorium.

Dan kamu pun terpaksa harus menjalani malam panjang yang penuh dengan tugas dan laporan. Ya, begitu terus hingga hari kiamat tiba…

5. Saat mahasiswa dari jurusan atau fakultas lain selalu berdo’a untuk  mendapatkan IPK tinggi, anak Farmasi cukup berdoa supaya praktikum berjalan lancar dan gak mecahin alat laboratorium!

Mahal brooo… via twitter.com

Satu do’a sederhana yang selalu kamu panjatkan sebelum praktikum adalah agar praktikummu berlangsung dengan lancar dan tidak memecahkan satu alat pun! Ya, karena memecahkan alat laboratorium ini bisa jadi urusan yang sangat merepotkan.

Mungkin kalau hanya tabung reaksi sih nggak masalah lah ya, tapi kalok kuvet? Atau kalau mikropipet? Atau seperti gambar diatas? Alat-alat tersebut harganya mahal, berkisar dari ratusan ribu bahkan sampai ratusan juta, dan itupun mungkin harus dipesan dari luar negeri!

Nasib…

Belum lagi kamu harus menahan malu karena memberikan tanggungan kepada angkatan untuk membantu membelinya. Parahnya lagi kalau angkatan nggak mau bantu gimana? Mau bayar pakai daun singkong? Hhmmmm….

6. Mahasiswa Farmasi itu memang jodohnya sama obat-obatan. Mereka tak cukup hanya mengenal nama obatnya, tapi juga harus tahu segala tetek-bengeknya

Kamu harus kenal sampai dalam-dalamnya via www.uin-alauddin.ac.id

Memang benar mahasiswa Farmasi diharuskan mengenal nama-nama obat. Tapi sayangnya bukan hanya namanya, tapi juga dari mulai mekanisme kerja, tempat kerja, indikasi, sampai efek sampingnya.

Bagi anak Farmasi, obat itu ibarat gebetan. Kamu dan dia harus saling kenal tak cukup hanya nama, tapi juga perlu hobi, makanan, minuman, film, tempat nongkrong, mata kuliah favorit dan segala tetek-bengeknya!

7. Kamu belum sah jadi mahasiswa Farmasi jika belum pernah menyakiti hewan tak berdosa ini!

Kalau nggak pernah, bukan mahasiswa farmasi namanya via farover21.blogspot.com

Tak usah mengelak lagi, mahasiswa Farmasi pasti pernah “menyakiti” hewan ini! Selama menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Farmasi pasti pernah menyuntik oral, silet-silet ekor tikus, nusuk matanya, suntik perutnya, bedah tubuhnya, pernah mutusin ekornya, pernah bikin buta matanya, paling parah pernah ngebunuh! Hhhmmm… ayo cepat minta maaf sekarang! hehehe…

Tapi mahasiswa Farmasi melakukan tindakan ‘penyiksaan’ tersebut bukan tanpa sebab. Tikus inilah yang memberikanmu banyak ilmu mengenai pemberian obat.

8. Hubungan asmaramu dengan obat-obatan itu penuh lika-liku. Meski rumit dan memusingkan, tapi kamu tetap berusaha untuk mengerti dan setia

Rumit, tapi harus tetap setia via www.ubaya.ac.id

Tak hanya hubunganmu dengan gebetan atau pacar yang complicated, tapi hubunganmu dengan obat pun tak kalah complicated. Ketika berhubungan dengan obat semua menjadi rumit dan runyam. Pemberian takaran dosis pada setiap obat itu tak semudah yang kamu bayangkan. Pemberian beberapa obat sekaligus bisa membahayakan nyawa orang yang mengkonsumsinya.

Meracik obat tentu tak boleh lalai sedikit pun. Semua-muanya harus dihitung dulu, apakah pasien obesitas atau tidak, mulai melihat fungsi ginjalnya, cek nilai serum kreatinin, cek interaksi obat, cari efek sampingnya, dan cari bukti yang benar-benar valid untuk mendukung jawabanmu.

9. Segenap waktu yang kamu punya sudah tersita habis untuk tugas dan laporan praktikum. Kamu tak punya banyak waktu untuk jalan-jalan ataupun main

Ciee yang malam minggunya bareng laporan muluu via memegenerator.net

Anak Farmasi sudah pasti terikat kontrak dengan tugas-tugas dan laporan . Karena itulah waktumu sudah habis untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai mahasiswa, dan tak tersisa untuk hal yang lain.

Pasti pernah ‘kan ngerasaian dimana pas malam minggu ada teman-teman mengajakmu untuk jalan, tapi kamu hanya bisa menjawab:

“Lagi ngerjain laporan, besok aja ya kapan-kapan”

Padahal dalam lubuk hati yang paling dalam pengen banget ikutan. Tapi apa daya, daripada tugas dan laporan nggak kelar-kelar dan semakin mencekik leher?

10. Tapi, di balik getir-pahit menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Farmasi, kamu menyadari bahwa fakultas ini keren. Kamu sadar bahwa kamu nggak pernah salah memilih kuliah di Fakultas Farmasi!

Mahasiswa farmasi keren (dokumen pribadi) via Hipwee.com

Meski pada awalnya kamu adalah mahasiswa yang salah jurusan, meski pandangan orang terhadapmu sering salah, meski kehidupan kuliah tak mudah,dan meskipun segala bebanmu begitu berat, kamu tetap merasa beruntung bisa masuk jurusan ini.

Ternyata inilah jurusan keren yang selama ini kamu cari-cari. Kenapa? Karena Farmasi itu ilmunya aplikatif, tak hanya teori tapi juga bisa dipraktikkan langsung. Kamu bisa meracik obat sendiri, kamu bisa memformulasi sediaan, mengeluarkan ide-ide brilian terkait pengobatan.

Fakultas ini mendidikmu menjadi seorang ahli obat, tak ada yang lebih tahu tentang obat dari pada kamu. Dibalik suka dukanya, kamu bersyukur karena kamu bisa tergabung dalam sebuah pekerjaan yang mulia. Dengan tangan dan kepiawaianmu, kamu bisa menyelamatkan banyak nyawa secara tidak langsung.

Bisa dibayangkan, bagaimana kehidupan ini tanpa adanya seorang farmasis? Siapa lagi yang bisa meracik obat untuk kepentingan kesehatan manusia-manusia di muka bumi ini? Singkatnya, Fakultas Farmasi itu keren! 🙂

Tetap bangga pada Farmasi. Fakultas ini keren dan kamu nggak pernah salah masuk Fakultas Farmasi!

PROUD TO BE PHARMACIST!