Kamu sudah punya pacar atau calon pendamping? Eits, jangan angkuh dulu ya! Jodoh itu benar-benar nggak bisa ditebak, jangan terlalu yakin dulu kalau pasanganmu itu adalah orang yang bakalan jadi pendamping hidupmu!

Ada beberapa hal yang bisa dijadikan tanda bahwa ternyata pasanganmu bukan jodohmu. Alexander Arrie Sadhar menuturkannya dalam artikel di bawah ini.

Jodoh adalah salah satu persoalan rumit dalam hidup manusia. Orang tua bilang, jodoh, nyawa, dan rejeki ada di tangan Tuhan. Tentu nggak sembarangan kalau jodoh ditempatkan setinggi itu.

Banyak orang terlibat dalam hubungan yang lama dan mendalam, eh…ternyata bukan jodoh. Pastinya agak nyesek atau nyesek banget ketika berpisah. Sebelum nyesek sendiri seperti itu, ada baiknya kita amati dulu tanda-tandanya bahwa pasanganmu bukan jodohmu!

1. Dia Enggan Bercerita Pada Teman-Temannya Tentang Kamu

Advertisement
Dia nggak mau cerita ke teman-temannya

Dia nggak mau cerita ke teman-temannya via johnturnerworld.blogspot.com

Teman adalah salah satu bagian terdekat dari diri kita. Ketika kita punya pacar, sudah pasti itu adalah kabar gembira, dan sudah jadi wajar ketika kabar bahagia itu bakal kita ceritakan ke teman-teman terdekat kita. Ya, kalau memang mau disimpan paling juga 1-2 minggu untuk meningkatkan kadar kejutan. Akan tetapi, kalau kemudian yang terjadi adalah kita menyimpannya hingga 1-2 bulan atau tahun, sudah jelas ada yang tidak beres.

Tanda-tanda tidak jodoh adalah masing-masing dari pihak pria atau wanita enggan memperkenalkan pasangan hidupnya kepada teman-temannya. Dan masing-masing pihak juga tidak merasa butuh untuk melakukan itu. Walaupun secara sadar hanya akan muncul perkataan, “halah, itu kan gimana nanti saja”, tapi keengganan itu sebenarnya pertanda bahwa hubungan yang ada itu nggak akan berujung maksimal. Ada hal mengganjal yang menjadi penyebab keengganan, dan bisa jadi itu kode dari hati bahwa dia bukanlah jodoh kita.

 2. Dia Menerapkan Syarat yang Ajaib dan Nyaris Mustahil

Banyak persyararatan

Banyak persyaratan via www.slideshare.net

“Kalau mau pacaran sama aku, kamu harus kayang di Monas sambil bilang pucuk pucuk!”

Nah, terkadang ada hubungan yang dilandasi syarat-syarat yang sejatinya tidak mendasar. Kita sendiri tahu akhir dari kisah Dayang Sumbi dengan Sangkuriang, ataupun Roro Jonggrang dengan Bandung Bondowoso. Kita tahu bahwa suatu syarat dibuat oleh salah satu pihak dengan alasan tertentu. Syarat bangun candi dengan deadline subuh, begitu tahu candinya sudah mau kelar, eh.. malah subuhnya dipercepat.

Jadi aneka syarat itu memang dibuat-buat sebagai cara lain untuk berkata tidak. Jadi kalau hubungan kamu mulai penuh syarat ajaib, pikirkan lagi. Syarat mungkin akan berguna dalam rentang waktu tertentu sampai akhirnya salah satu pihak tidak tahan dan lantas berkeinginan untuk melepaskan diri dari sebuah hubungan karena merasa tidak nyaman.

3. Hubungan Kalian Miskin Percakapan

hambar.. ga ada yang bisa diobrolin

hambar.. ga ada yang bisa diobrolin via www.ela-e-ele.com

Ketika lagi ngumpul, ujung-ujungnya sekadar bermesraan tapi nggak ada quality time yang diisi dengan pembicaraan berbobot. Mungkin pada saat pendekatan, ada yang bisa diperbincangkan—namanya juga baru berkenalan. Akan tetapi, ketika hubunganmu hendak dibawa kemana, baru bingung. Ya bingung kalau satu sama lain nggak pernah ngobrolin tentang hubungan pacaran yang sehat, atau tentang cara mendidik anak, atau bahkan tentang hidup di masa tua.

Topik-topik tersebut sebenarnya adalah penggalian pola pandang dari pasangan, sekadar brainstorming tapi bernilai penting buat kelanjutan hubungan. Jadi, kalau cukup banyak keadaan diam di hubungan kamu atau kalau ngobrol hanya sekadar ngomongin teman yang baru putus, pikirkan lagi.

 4. Tidak Ada Kepercayaan yang Jadi Batu Pegangan

Nggak ada rasa percaya

Nggak ada rasa percaya via listden.com

“Sayang, kamu lagi dimana?”

“Sedang di Pancoran.”

Selfie sama patung Pancoran dong, biar ada buktinya.”

Ternyata ada juga pasangan yang kelakuannya demikian. Bukan soal foto bersama patung Pancoran ya, tapi soal mengirim gambar untuk membuktikan bahwa kamu nggak bohong, atau lagi kelayapan sama selingkuhan.  Apalagi sekarang mengirim gambar itu lebih mudah daripada pipis sembarangan, makin terjustifikasilah keadaan kurang percaya ini. Sampai-sampai harus ada kewajiban memberikan informasi dan mengirim foto sedang apa.

 5. Ketika Kamu Sedang Bersama Dia, Kamu Tak Punya Gambaran Tentang Masa Depan

Mau dibawa kemana hubungannya?

Nggak memikirkan masa depan via 8tracks.com

Coba sesekali berbincang tentang masa depan. Bisa perihal rumah masa depan, hendak berbulan madu ke negara mana, hendak ambil KPR model reguler atau syariah, hendak merayakan pernikahan dengan cara bagaimana, atau hendak punya anak berapa. Kalau nggak ada bayangan sama sekali, coba deh pikirkan. Masak sih kamu bakal menghabiskan masa depan dengan orang yang nggak kepikiran mau ngapain aja sama kamu nantinya di kelak kemudian hari? Jangan-jangan orang yang kamu ajak ngobrol itu sedang membayangkan masa depannya bersama orang lain yang bukan kamu?

 6. Kamu Memaksa Diri Mentoleransi Kebiasaannya

Apa kamu bisa menerima kebiasaannya?

Apa kamu bisa menerima kebiasaannya? via testing.codigonuevo.com

Perihal jodoh ini, ada hal-hal tentang kebiasaan yang harus dipikirkan satu sama lain. Misal, nggak tahan sama asap rokok, tapi punya kekasih perokok. Pikirkan lagi bakal menghabiskan masa depan bersama dengan dia. Ada kebiasaan yang mungkin nggak akan kuat untuk diikuti sampai akhir hayat, tapi ada yang bisa.

Kalau kamu yakin kuat dengan kebiasaan itu sampai akhir hayat, berarti kalian jodoh. Jika tidak, harap ditinjau ulang. Kebiasaan mungkin bisa diubah dengan komitmen bersama, namun dalam perjalanan bahtera perjodohan nan panjang, suatu kali kebiasaan itu bisa muncul kembali. Boleh jadi dia muncul lagi di tahun pernikahan ke-35. Jadi pikirkan dulu, kemudian putuskan mau putus atau mau diputusin atau bertahan dengan keberterimaan kekal.

7. Kamu Ogah Menjemput dan Mengantarnya

Nggak mau nganterin sama sekali

Nggak mau ngejemput sama sekali via vanachewashere.wordpress.com

Maaf untuk pelaku LDR, bagian ini bukan jatah kalian. Misalkan si cewek dan cowok pengen lari pagi bersama. Si cewek minta si cowok buat menjemput, dan kebetulan jalannya agak memutar. Anggap saja rumah si cewek di Salemba, si cowok di Manggarai, mau lari pagi di Rawamangun. Bisa dikondisikan untuk menjemput, kan? Tapi kalau si cowok ogah menjemput dan meminta bertemu si cewek langsung di Rawamangun, mending nggak usah. Cuma jemput ke Salemba saja nggak mau, apalagi nganterin kalau lagi hamil besar bukaan 7? Pikirkan lagi.

8. Bukan Orang Pertama yang Kita Pikirkan

bukan orang

bukan orang pertama yang dipikirkan via ariesadhar.com

Suatu ketika kita mendapat kabar gembira, bisa ketika dapat beasiswa atau kenaikan gaji. Namanya juga kabar gembira, pasti kamu pengen langsung memberi tahu seseorang, selain ngetwit dan update status di FB. Nah, coba ingat-ingat lagi, setiap ada kabar gembira, apakah nama dia yang tercetus pertama kali—selain orangtua—di pikiranmu untuk diberi tahu? Atau justru nama mantan? Kalau pasangan menjadi nama orang kedua atau ketiga yang terpikir untuk sebuah penyampaian kabar gembira, pikirkan saja lagi. Ini adalah panggilan dari alam bawah sadar tentang seseorang yang paling penting buat kamu di dalam hidup.

Nah, begitu saja. Kalau tanda bukan jodoh nggak usah banyak-banyak. Yah, baiklah untuk dipikirkan kembali, benarkah kita akan selamanya menghabiskan waktu bersama seseorang yang sesuai aneka kriteria di atas? Pikirkan lagi, karena kata  Afgan, JODOH PASTI KEMANA… eh… jodoh pasti bertemu! :p

Tertarik menulis untuk Hipwee? Silakan klik tautan ini!