Di Indonesia, sepasang kekasih yang living together alias tinggal bersama dalam satu rumah, apartemen, atau kos-kosan tanpa status pernikahan dapat menjadi ‘fenomena’ yang sangat dipertanyakan oleh lingkungan sekitarnya. Istilah populer untuk fenomena ini adalah ‘kumpul kebo’. Entah apa sebenarnya hubungannya dengan kebo yang nggak salah apa-apa itu.

Kalau dalam Bahasa Inggris, ada beberapa istilah: domestic partnership, civil union, civil partnership, dan registered partnership. Lebih keren dikit daripada kumpul kebo. Saya akan pakai istilah domestic partnership (kemitraan domestik) untuk artikel ini, karena menurut saya pribadi, terdengar lebih netral.

Sekarang mari coba kita pikirkan, apa sih yang membuat domestic partnership ini masih dipandang buruk di negeri kita? Asumsi saya sendiri adalah, karena domestic partnership hampir selalu dikaitkan dengan hubungan seks pra-nikah yang dianggap tabu atau terlarang oleh sebagian besar masyarakat kita.

Di sini saya ingin menekankan bahwa bukan hubungan seks pra-nikahlah yang saya pentingkan. Sepasang kekasih bisa saja tinggal serumah sebelum menikah dan tetap mempertahankan keperawanan dan keperjakaan masing-masing jika memang seperti itulah prinsip yang dimiliki oleh pasangan tersebut. Sebaliknya, pasangan manapun berhak untuk melakukan seks pranikah, baik mereka serumah ataupun tidak, jika itu adalah keputusan mereka sendiri.

Dalam artikel ini, saya ingin berbagi pandangan mengenai domestic partnership. Sebenarnya ada banyak alasan logis dan positif yang membuat beberapa pasangan memutuskan untuk melakukan domestic partnership, dan bukan melulu soal seks.

Di beberapa negara, domestic partnership adalah hal yang lumrah dan bahkan negara tersebut membuat hukum tertentu untuk mengaturnya.

Advertisement

Di negara lain, ada hukum yang mengaturnya. via probit1.rssing.com

Di beberapa negara lain, sudah ada hukum yang mengatur tentang domestic partnership ini. Dalam artian, jika ada sepasang kekasih tinggal bersama minimal selama jangka waktu tertentu, atau bahkan mempunyai anak, hubungan mereka akan dianggap sah layaknya sepasang suami-istri. Ya, dengan segala aturan mengenai pembagian harta gono-gini seandainya mereka berpisah di kemudian hari, dan sebagainya.

Saya punya seorang teman dari Kanada yang berasal dari keluarga baik-baik dan masih lengkap (ayah, ibu, dan tiga anak). Saat itu kami sedang berbincang mengenai tradisi pernikahan di daerah-daerah di Indonesia. Dengan santainya ia memberitahu saya bahwa dia sama sekali belum pernah datang ke pesta pernikahan orang. Sebagai masyarakat Indonesia yang sering banget kondangan, saya tentu saja heran.

Namun, ia kemudian memberitahu saya bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang sangat lumrah di negaranya, dan sepasang kekasih tidak wajib menikah jika ingin punya anak. As a matter of fact, dia sendiri tidak yakin apakah orangtuanya dulu menikah atau tidak. Yang pasti, kakak perempuannya saat ini sedang mengandung dan sama sekali belum merencanakan pernikahan dengan pacarnya yang sudah tahunan tinggal bersamanya.

Pada awalnya saya merasa asing dan ragu, namun akhirnya saya dan kekasih sepakat untuk menjalani domestic partner karena beberapa alasan.

Memutuskan untuk menjalani domestic partnership. via www.aufeminin.com

Saat itu saya masih belum mengerti esensi domestic partnership, sampai akhirnya awal tahun lalu saya memutuskan untuk tinggal serumah dengan kekasih hati saya saat ini. Awalnya, saya hanya berencana pindah kos karena pemilik kos saya hendak merenovasi total gedung kosnya.

Saat itu saya tinggal dan bekerja di Bali, dan yang namanya cari kos itu nggak gampang-gampang amat di sana. Sudah harganya mahal, listrik dan air masih belum termasuk pula. Apalagi kalau mau kos yang sudah isi barang. Siap-siap rogoh kocek sampai jutaan per bulannya — nasib.

Setelah mencari-cari kos baru dengan segala ekspektasi di kepala, kekasih saya tiba-tiba menawarkan saya untuk tinggal bersama dalam rumah yang ia tinggali. Alasan utamanya adalah supaya kami tidak usah repot lagi kalau ingin bertemu, karena toh setiap pulang kerja akan selalu bertemu di rumah. Awalnya saya ragu, apakah ini kemungkinan yang terbaik. Akhirnya, saya mengiyakan ajakan tersebut, dengan kondisi kami berbagi pengeluaran untuk keperluan dan biaya rumah per bulannya.

Tentunya di awal saya merasa khawatir dalam menjalani domestic partnership. Pikiran-pikiran negatif sempat tersirat, seperti: apa nanti kata orang, apakah orangtua akan setuju, bagaimana kalau nanti kami tiba-tiba bertengkar dan putus, dan lain-lain. Namun, sekarang saya dapat mengatakan bahwa saya benar-benar tidak menyesali keputusan tersebut. Berikut adalah beberapa alasan mengapa saya memilih tinggal serumah dengannya sebelum kami menikah nanti:

1. Berbagi tempat tinggal bersama bersamanya membantu saya untuk berhemat, karena kami berdua berbagi pengeluaran dan tak perlu keluar banyak biaya hanya untuk kencan.

Jenis kencan yang cuma butuh biaya listrik. via lazygirl.snydle.com

Bisa kita lihat dari segi biaya akomodasi bulanan. Jelas lebih hemat karena di sini ada dua orang yang patungan membayar tagihan satu tempat tinggal.

Selain itu, dengan tinggal serumah kami tidak perlu sering-sering lagi mengeluarkan uang untuk transportasi ketika ingin bertemu, pergi ke coffee shop, atau bioskop hanya untuk kencan dua jam. Atau menghabiskan pulsa karena semalaman ngobrol lewat ponsel.

Cukup sedia TV dan sofa yang nyaman, sudah bisa kencan di rumah dengan nyaman tanpa gangguan siapa-siapa. Obrolan pun biasanya lebih mendalam ketika tidak dilakukan di ruang publik. Hubungan makin mesra, tabungan makin banyak.

2. Kami jadi saling mengetahui kebiasaan jelek masing-masing saat di rumah, dan berusaha mengerti serta memperbaiki diri sebagai bentuk kompromi terhadap pasangan.

Belajar menerima satu sama lain. via livetolist.com

Sewaktu baru saja mulai tinggal bersamanya, saya sangat terganggu ketika mengetahui bahwa dia tidak punya keset sama sekali! Tidak ada keset di depan kamar mandi dan di pintu masuk rumah. Buat saya, keset itu salah satu prioritas hidup, tapi ternyata tidak untuknya. Dia pun kesal pada saya ketika tahu kebiasaan saya yang sering sekali bangun terlambat karena kuping saya ini memang sudah kebal alarm.

Hal-hal seperti ini memang tampaknya kecil, tetapi jika tidak diketahui dan didiskusikan sejak awal, dapat menjadi hal konyol yang merusak hubungan. Kami pun berkompromi. Saya menyediakan keset dan mengajaknya agar lebih bersih dalam merawat rumah, sementara dia mengajarkan saya untuk bangun lebih pagi dan berolahraga sebelum melakukan aktivitas lainnya.

Saya merasakan hal ini sebagai sesuatu yang benar-benar positif dan membantu dasar hubungan kami menjadi jauh lebih kuat, sehingga nantinya ketika kami menikah pun kami akan merasa lebih siap.

3. Saat memutuskan untuk hidup di bawah atap yang sama, kami sadar bahwa sebuah hubungan tak melulu soal cinta, tapi juga kerja sama. Di sini kami belajar untuk membangun team work yang kuat.

Berbagi tugas dengan pasangan. via i.huffpost.com

Pada zaman ini, perempuan tidak harus selalu menjadi pihak yang mengurus segala keperluan rumah tangga, dan laki-laki pun tidak harus selalu menjadi satu-satunya pihak yang mencari nafkah (atau mentraktir). Sudah banyak perempuan yang juga memutuskan untuk berkarir, termasuk saya. So, tidak adil ‘kan kalau saya juga sudah capek-capek cari duit, dan di rumah harus saya semua yang mengurus? Di sinilah team work kami terbangun.

Saya sendiri lebih banyak mengerjakan tugas bersih-bersih seperti mencuci piring, menyapu, dan mengepel, karena saya tahu saya bisa mengerjakannya lebih bersih dari dia (ups!). Karena kekasih saya kebetulan seorang chef, saya pun sadar diri bahwa saya tidak mengerti banyak mengenai masakan seperti dia, maka ialah yang bertugas untuk berbelanja bahan makanan dan memasak. Belajar berbagi tugas seperti ini membuat kami benar-benar merasa seperti pasangan yang setara dan dapat saling melengkapi.

4. Kami berdua jadi sangat terbuka masalah keuangan, dan inilah yang membuat kami berdua belajar banyak soal mengelola uang demi kepentingan bersama di masa sekarang maupun masa depan.

Sama-sama belajar mengatur keuangan bersama. via parade.com

Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab tertinggi perceraian pada masa kini adalah perbedaan pasutri dalam menyikapi keuangan. Banyak orang yang baru mengetahui keadaan keuangan dan kebiasaan pasangan mereka dalam mengelola uang ketika sudah menikah. Para suami kaget dengan kebiasaan istri yang sulit menahan diri untuk belanja, misalnya. Atau para istri yang kaget ketika mengetahui suaminya ternyata senang main judi.

Menurut saya, dengan menjalani domestic partnership, pasangan dapat mencegah adanya ‘kejutan’ seperti itu. Dengan merencanakan dan berbagi anggaran biaya rumah tangga tiap bulannya, sepasang kekasih dapat saling mempelajari pola atau gaya hidup masing-masing sebelum melanjutkan hubungan ke pelaminan.

Saya sendiri dengan pasangan saat ini sudah pada tahap di mana kami saling mengetahui jumlah tabungan, anggaran untuk asuransi per bulan, rencana investasi di masa depan, dan bahkan pin ATM. Sejak kami berdua pindah dari Bali untuk merantau bersama di luar negeri, kami pun membuka tabungan bersama yang dapat kami monitor dan jaga bersama-sama pula. Keterbukaan ini membuat kami memiliki kepercayaan yang tinggi akan hubungan yang kami jalani.

5. Layaknya sahabat, dari hari ke hari kami selalu berusaha untuk memahami sisi baik dan buruk masing-masing. Dan kami berdua sangat menjadi diri sendiri di depan satu sama lain.

Yang kayak begini udah nggak bisa disembunyiin lagi pokoknya via a.dilcdn.com

Apa sih yang mau kamu tutup-tutupi lagi ketika sudah tinggal serumah dengan seseorang? Dia akan tahu wajah kusut kamu di pagi hari, mood jelek kamu sehabis pulang kerja dan dimarahin si bos, bahkan kebiasaan kamu ngupil sambil nonton drama Korea! In the end, we need someone who accept us for who we truly are, with all the good and the bad sides.

Saya dan sang kekasih hati sudah menjadi sahabat bagi satu sama lain, di mana kami dapat selalu berbagi cerita suka dan duka tanpa ada rasa malu atau takut di-judge. Bukankah ini hal yang terpenting ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang?

Mengontrak rumah bersama pasangan dan beberapa teman lain juga dapat dijadikan alternatif untuk pasangan yang merasa belum siap tinggal berdua saja. In fact, hal ini sudah sering kali dilakukan para mahasiswa Indonesia lho, entah karena sedang merantau di kota lain atau sekadar ingin hidup mandiri dan tidak numpang di rumah orangtua lagi.

Apakah kemudian mereka ‘dikucilkan’ masyarakat? Setahu saya sih biasanya rumah mereka malah dijadikan base camp oleh teman-temannya yang lain. So, domestic partnership can be a really great hands-on pre-marriage course. It is all about getting to know each other, sharing, and compromising… under the same roof.