• 10 November 2015
  • Redaksi Hipwee

Artikel ini adalah bagian dari kampanye Kado Pahlawan. Yuk, sama-sama kita wujudkan impian Pak Wie lewat donasi di kadopahlawan.hipwee.com dan KitaBisa untuk Pak Wie

Dari beliau, Hipwee Community Surabaya belajar bahwa pahlawan sungguh dekat dengan kita. Juga sering tidak terdengar gaung namanya. Kegigihan Pak Wie berjibaku dengan buku dan ilmu pengetahuan sering tidak terdengar di telinga kita. Namun sungguh, dedikasi beliau tak perlu lagi diragukan kuatnya.

Kali ini Hipwee Community lewat Kado Pahlawan ingin mengajakmu mengenal Pak Wie. Sosok sederhana yang sesungguhnya layak membuat kita menunduk hormat. Kegigihan dan dedikasinya menyadarkan kita: semua bukan soal uang dan pemasukan saja. Ketulusan Pak Wie membesarkan Medayu Agung sudah membuktikannya.

Dia biasa dipanggil Pak Wie. Orang di balik Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya. Bertemu dia membuat kami speechless seketika

Bertemu beliau membuay kami speechless seketika via hipwee.com

Awal mula kami mengenal Oei Him Hwie atau yang biasa disapa Pak Wie adalah dari ajakan teman untuk berkunjung salah satu perpustakaan di Surabaya. Perpustakaan Medayu Agung, namanya. Perpustakaan satu-satunya yang berfokus pada sejarah di kota Surabaya ini. Pertemuan pertama dengan Pak Wie lebih banyak speechlessnya. Pak Wie dengan telaten mengajak saya berkeliling perpustakaan dan menjelaskan buku-buku koleksinya, koleksi kenangan-kenangan yang mungkin akan menjadi bekal mati yang cukup jika terus diamalkan oleh penerusnya.

Lahir di Malang, 24 November, 80 tahun silam. Kini Pak Wie hidup berdua dengan istrinya, karena kedua anak lelakinya sering bekerja di luar kota. Keseharian pak Wie dihabiskannya di Perpustakaan Medayu Agung, dengan membaca, menulis atau mengkliping, hobi yang ditekuninya sejak kecil. Kesehatannya yang terkadang mulai menurun akibat usia dan vertigo yang dideritanya mengharuskan beliau sering ke klinik untuk check up kesehatan. Namun ketika banyak mahasiswa datang dan bertemu beliau, beliau akan menyapa dengan tangan terbuka dan bercerita panjang lebar.

Merintis karirnya sebagai wartawan, Pak Wie ikut ditangkap saat meledaknya peristiwa ’65. Beliau bahkan sempat jadi tangan kanan Pramoedya

Advertisement

Di Buru, Pak Wie bertemu Pram via hipwee.com

Pak Wie dulunya adalah seorang wartawan di Koran Trompet Masjarakat. Pada masa beliau menjadi wartawan tersebut, Pak Wie rajin mengumpulkan dokumen, foto, Koran, buku, pun mengkliping dokumen-dokumen bersejarah yang saat ini justru menjadi harta karun bagi mahasiswa-mahasiswa yang sering datang ke Perpustakaan Medayu Agung. Tak hanya mahasiswa, wartawan dan peneliti pun kerap berkunjung ke sini untuk mencari referensi dan mencari informasi.

Apa yang kini ada di perpustakaan Medayu Agung sebenarnya menyimpan banyak cerita. Buku dan seluruh kliping pun dokumen adalah sisa yang bisa diselamatkan Pak Wie saat pecah tragedi ’65. Ya, Pak Wie yang wartawan memang sempat ditangkap saat tragedi tersebut terjadi.

Namun ditangkapnya Pak Wie membawa pengalaman tersendiri. Pak Wie sempat berpindah dari satu penjara ke penjara lain mulai dari Batu, Lowokwaru, Karang tengah, Nusa Kambangan sampai Pulau Buru, pada tahun 1970 sampai 1978, dan di sana lah Pak Wie bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer, sosok penulis Indonesia yang sempat digadang untuk mendapatkan penghargaan Nobel Sastra.

Saat di penjara, Pak Wie membantu Pram dengan menyusupkan kertas-kertas perkamen dari karung pembungkus semen untuk media Pram menulis. Pak Wie membantu Pram mengedit naskah-naskahnya. Hingga pada saat Pak Wie bebas, Pram menitipkan naskah-naskahnya untuk dibawa keluar. Lalu pada tahun 1979 setelah Pram bebas, Pak Wie mengunjungi Pram untuk mengembalikan naskah-naskah tersebut.

Dengan cap Eks-Tapol di belakang nama, Pak Wie ditolak bekerja di mana-mana. Perpustakaan Medayu Agung kemudian dirintisnya. Sendiri — kini rumahnya penuh buku. Juga penuh ilmu

Kini rumah Pak Wie penuh buku. Juga ilmu via hipwee.com

Setelah keluiar dari penjara, Pak Wie mendapat KTP dengan gelar ET (Eks Tapol) di belakang namanya. Dari sini lah semua perjuangan untuk mewujudkan Medayu Agung dimulai. Dengan gelar Eks Tapol yang ditentengnya, Pak Wie kesulitan mendapatkan pekerjaan di manapun. Hidup menumpang pada adiknya membuat Pak Wie sungkan. Kesehariannya hanya mengkliping Koran saja. Status ET nya dihapuskan setelah Pak Wie berumur 60 tahun.

Kemudian Pak Wie dihubungi oleh Haji Masagung, pendiri Toko Buku Gunung Agung dan Yayasan Idayu Jakarta. Beliau meminta Pak Wie pindah dari Malang agar tidak terus menerus dipantau. Lalu pindahlah Pak Wie ke Surabaya, bekerja di Perpustakaan Sari Agung yang juga milik Haji Masagung, dan mulai mempelajari pengelolaan perpustakaan.

Pada tahun 1992, ketika Haji Masagung meninggal dan Pak Wie memutuskan untuk pensiun, Pak Wie membawa buku-bukunya yang sempat selamat ke Surabaya. Buku-buku yang banyak dipenuhi debu dan dimakan renget. Sampai pada saat ada dua orang peneliti yang ingin membeli koleksinya dengan harga 1 milyar, namun Pak Wie enggan menjualnya.

Lalu datanglah Ongko Tikdoyo yang menawarinya membuat perpustakaan dan membantunya mengontrak rumah. Pada tahun 2001, Pak Wie dan Ongko menyewa sebuah rumah di Jl. Medayu Selatan VII/22 dan menyulapnya menjadi perpustakaan yang penuh koleksi buku-buku, arsip majalah dan kliping. Sampai pak Wie menyebut rumah tersebut seperti susuh alias sarang burung. Semakin banyaknya koleksi dan buku-buku, akhirnya perpustakaan pun berpindah ke Jl. Medayu Selatan IV/42-44

Saat ini Pak Wie tak henti berpikir soal regenerasi. Medayu Agung tetap jadi prioritasnya, meski selama ini bekerja tanpa gaji. Sepakatkah kamu jika kita mesti sama-sama membantu Pak Wie?

Sepakatkah kamu jiak kita sama-sama membantu Pak Wie? via hipwee.com

Sekarang, Pak Wie menjadi pengelola utama Perpustakaan Medayu Agung dengan tanpa gaji. Saat ini, Pak Wie dengan penglihatannya yang mulai kabur, masih tekun mengkliping, tiga sampai empat Koran tiap harinya. masih meladeni orang-orang seperti kami yang bertanya dan ingin lebih banyak tahu tentang sejarah. Sejarah perpustakaan Medayu Agung tak bisa dilepaskan dari sejarah hidup Pak Wie.

Sampai saat ini, yang jadi pikiran Pak Wie adalah regenerasi. Hal yang beliau khawatirkan dan yang beliau harapkan tinggi-tinggi adalah adanya penerus. Perpustakaan ini dikelola dengan swadaya, padahal isi di dalamnya lebih dari cukup untuk mengisi otak-otak pengunjungnya. Pada akhirnya Pak Wie hanya mengakui bahwa beliau bekerja untuk sejarah, agar tidak hilang, agar tidak dibolak-balik, agar anak cucu dan generasi selanjutnya tidak buta sejarah, agar nantinya beliau bekerja untuk keabadian pengetahuan.

Seluruh dana yang terkumpul akan digunakan untuk:

Membeli rak buku

Membeli buku-buku sejarah untuk melengkapi koleksi perpustakaan Medayu Agung

Seluruh donasi yang terkumpul akan Hipwee Community serahkan pada 10 November nanti, dalam rangka memperingati hari pahlawan. Untuk berdonasi dan membaca cerita pahlawan-pahlawan lain kamu bisa mengunjungi kadopahlawan.hipwee.com dan memberikan donasimu lewat KitaBisa untuk Pak Wie.

Pak Wie gak sendirian kok membesarkan Medayu Agung. Ada kita 🙂