Main hakim sendiri tampaknya sudah makin menjadi-jadi di negeri ini. Mereka yang katanya ingin menangkap penjahat dan menegakkan keadilan, justru seringkali sama brutalnya dengan pelaku kriminal. Bahkan dalam peristiwa tragis yang terjadi di Bekasi, Selasa minggu lalu (1/8), seorang pemuda sampai dibakar hidup-hidup oleh massa karena diduga mencuri amplifier musala. Sampai saat ini sebenarnya dugaan pencurian amplifier oleh pemuda yang berinisial MA di atas, belum bisa dibuktikan. Terlepas dari semua itu, aksi main hakim yang sangat brutal dan tidak berperikemanusiaan tersebut, jelas sangat meresahkan.

Entah karena memang tidak percaya hukum yang berlaku atau ‘terbawa’ provokasi, tidak ada satu pun orang di lokasi yang menghentikan aksi pembakaran MA

Dari sekian banyak orang yang terekam dalam video mengerikan yang sempat tersebar di media sosial, polisi akhirnya menetapkan dan menahan 2 tersangka pada Senin (7/8) kemarin. Dilansir dari Kompas, 2 pelaku yang tertangkap telah mengakui telah memukul dan menendang korban pembakaran MA. Sedangkan 5 oknum yang diduga terlibat langsung dalam pembakaran, hingga saat ini masih dalam pengejaran. Itulah yang sulit dari aksi main hakim sendiri atau keroyokan massal seperti ini. Dibutakan ‘semangat kebersamaan’ ingin menangkap pencuri, sekelompok orang sepertinya tiba-tiba jadi brutal dan tidak bisa menahan diri.

Jika sudah begini, kita patut bertanya apakah memang ada yang salah dengan kultur masyarakat Indonesia sampai kejadian seperti ini bisa terjadi. Yuk ikut Hipwee News & Feature mengulik masalah ini lebih dalam!

Video mengerikan pembakaran MA yang sempat tersebar luas di medsos, menunjukkan sisi terburuk dari moralitas manusia. Orang dibakar hidup-hidup justru disambut sorak-sorai

‘Penegak keadilan’ yang sama brutalnya dengan pelaku kriminal via kriminalitas.com

Advertisement

Beberapa hari lalu sempat beredar sebuah video amatir di media sosial yang memperlihatkan seorang pria terkapar dan berlumuran darah yang dikerumuni masa. Tak lama kemudian sang pria dibakar hidup-hidup di hadapan banyak orang. MA pun tewas seketika karena mengalami luka bakar 80%. Selain tidak ada orang yang tampaknya berusaha atau berhasil menghentikan aksi tak bermoral tersebut, bahkan ada sejumlah orang yang terekam bersorak-sorai setelah membakar MA.

Kejadian tragis ini berawal dari kecurigaan pengurus Musala Al-Hidayah terhadap tingkah laku MA di saat amplifier milik musala hilang. Ketika ditegur, MA justru berusaha melarikan diri dengan motor tetapi terjatuh. Saat itulah massa di sekitar musala mengejar dan mengeroyok MA ramai-ramai. Tak berhenti sampai ditangkap, massa kemudian mulai menyiram bensin dan menyulut tubuh MA dengan api. Dari segitu banyaknya orang yang lalu lalang, mirisnya tidak ada yang menolong MA. Banyak juga yang mengaku ingin menolong tapi sudah terlalu terlambat.

Kini 2 tersangka sudah ditangkap, sementara yang lain sedang dalam pengejaran. Tapi cukupkah itu memperbaiki kultur masyarakat yang makin sarat kekerasan?

Lebih miris lagi kalau lihat reaksi netizen yang juga ingin membakar pelaku kekerasan ini. Kok jadi kayak lingkaran setan? via kompas.com

Meski pelaksanaannya seringkali mengecewakan dan tidak berpihak pada rakyat kecil, hukum di Indonesia harus tetap dipatuhi dan ditegakkan. Terduga pelaku pencurian maupun orang-orang yang membakarnya hidup-hidup pun, sudah seharusnya diserahkan kepada polisi dan diproses sesuai jalur hukum yang ada. Penjahat perang atau genosida yang secara sengaja menghilangkan nyawa ribuan atau jutaan orang sekalipun, berhak berdiri di depan pengadilan untuk membela diri sebelum akhirnya dijatuhi hukuman.

Hak itu seharusnya juga diberikan kepada MA yang diduga mencuri amplifier musala. Entah apakah massa terlalu ‘bersemangat’ menangkap pencuri hingga melupakan hak paling mendasar manusia untuk diberi kesempatan hidup. Jika saja ada sedikit upaya untuk menahan diri, pastilah tidak sulit untuk mengetahui apakah MA yang berprofesi sebagai tukang servis elektronik ini benar-benar mencuri amplifier musala. Atau fakta sederhana bahwa MA adalah kepala keluarga dengan istrinya yang sedang hamil 6 bulan dan anak berusia 4 tahun, sedang menunggunya di rumah.

Siapapun yang menonton video atau membaca peristiwa tragis ini, pasti bakal mengelus dada dan menghujat pelaku kekerasaan yang tampaknya tidak mengenal perikemanusiaan. Tapi lebih miris lagi jika melihat reaksi keras netizen di dunia maya yang sepertinya juga sama brutalnya. Banyak netizen yang berkomentar senada ‘Bakar saja pelakunya‘. Mungkin saja itu hanya omongan atau komentar kosong untuk sekadar menyampaikan opininya terhadap kasus ini, tapi tendensi kekerasaan baik di dunia nyata maupun maya ini sudah sepatutnya dihentikan.

Dalam upaya menalar peristiwa yang menurunkan moral bangsa ini, kita perlu melihat tendensi kekerasan yang katanya memang tertanam dalam diri tiap manusia

Maka dari itu punya nilai moral yang dijunjung bersama itu sangat penting via okezone.com

Beberapa ahli psikologi memang seringkali menjelaskan bahwa ada kondisi bawaan manusia dimana setiap individu berpotensi untuk bisa melakukan kekerasan. Tapi tentunya transformasi potensi tersebut hingga akhirnya menjadi aksi, sangat ditentukan oleh lingkungan sekitar. Itulah fungsi semua nilai, norma sosial, dan peraturan yang ada dalam masyarakat. Karenanya, peran orangtua, orang sekitar, dan negara yang menanamkan batasan moral tersebut, sangat penting dalam membentuk kepribadian seseorang.

Bercermin dari kejadian pembakaran yang sangat tragis di Bekasi ini, bisa jadi telah terjadi kegagalan moralitas di berbagai level. Dimulai dari sentimen masyarakat kebanyakan yang mungkin sudah tidak percaya proses hukum, kebiasaan men-judge orang hanya dari tampilan luar, sampai budaya ikut-ikutan dan tidak mau ketinggalan. Yang dalam kasus ini justru berujung tragedi.

Lalu kenapa tidak ada yang menyadari tindakannya sangat barbar dan kejam? Hal tersebut dipicu karena kesalahan tersebut dilakukan bersama-sama. Secara psikologis, individu akan jauh merasa lebih bersalah ketika memiliki pengalaman dalam menyebabkan seseorang terluka. Kasus pengeroyokan dan pembakaran terhadap korban MA merupakan aksi yang dilakukan bersama, sehingga individu tidak mengalami rasa bersalah itu sendiri dan merasa berada di pihak yang benar karena berada dalam kelompok yang lebih besar. Seseorang akan cenderung merasa benar ketika pendapatnya sama dengan orang kebanyakan.

Masih segar di ingatan kita kasus Ricko Andrean, bobotoh yang meninggal akibat pengeroyokan yang terjadi pada dirinya. Padahal, aksi pengeroyokan tersebut adalah salah sasaran. Mau sebenarnya salah sasaran atau pun tidak, aksi main hakim sendiri jelas-jelas bukan tindakan bermoral. Sama dengan pengeroyokan tertuduh pencuri amplifier ini. Benar-benar mencuri atau tidak, sebagai manusia yang bermoral dan memiliki logika, seharusnya kasus ini ditangani oleh lembaga hukum yang berwenang. Apa harus menunggu korban berikutnya agar kita sadar? Kekerasan yang dibalas kekerasan justru menimbulkan kekerasan baru.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya