Kemacetan sudah jadi bagian tak terpisahkan dari realita kehidupan kota-kota besar di Indonesia. Mereka yang akan beraktivitas harus berangkat ekstra pagi atau sibuk mencari jalan tikus. Sebelum pulang pun, mereka harus memutar otak biar tidak terjebak macet. Pemerintah juga bukannya tidak mencari solusi untuk mengatasi masalah klasik di perkotaan Indonesia. Tapi nyatanya sampai saat ini permasalahan ini belum bisa teratasi.

Sebenarnya tidak bisa cuma menunggu solusi efektif dari pemerintah, kesadaran dan inisiatif dari masyarakat untuk mengurangi kemacetan juga harus digalakkan. Pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang terus bertambah sementara infrastruktur jalanan tetap segitu saja, jadi masalah tersendiri yang harus dipikirkan bersama. Janganlah menyerah dengan menganggap kemacetan sebagai sebuah kelumrahan. Hipwee telah merangkum fakta-fakta tentang kemacetan di Indonesia, terutama di ibu kota Jakarta yang menunjukkan betapa gentingnya dan mendesaknya permasalahan ini untuk segera diselesaikan.

1. Kemacetan Jakarta yang tampak kronis ini ternyata bertengger di posisi terburuk ke-17 seluruh dunia. Semoga tahun ini bisa turun peringkat ya

Salut ya sama yang sanggup hidup di Jakarta setiap hari via okezone.com

Diambil dari Numbeo, tahun 2016 lalu ibu kota Indonesia ini menempati peringkat ke-17 riset mengenai kota termacet di dunia. Dari data tersebut diketahui, indeks kemacetan Jakarta mencapai 237,25 dengan rata-rata waktu tempuh di jalan 48,57 menit one way. Indeks kemacetan ini menunjukkan komposisi waktu tempuh di jalan, estimasi ketidakpuasan pengguna jalan terhadap waktu tempuh, estimasi emis CO2 dan ketidakefisienan sistem lalu-lintas. Semakin tinggi angka indeks kemacetan berarti menunjukkan kualitas kondisi lalu-lintas yang semakin buruk.

Sementara itu, predikat kota termacet di dunia dimiliki oleh Kolkata, India. Dengan indeks kemacetan 350,6 dan rata-rata waktu tempuh di jalan 71,5 menit one way. Ternyata, kondisi lalu-lintas Jakarta ini masih lebih baik dibandingkan tahun 2015. Pasalnya, dua tahun lalu Jakarta menempati posisi ke-11 dari riset yang sama dengan indeks kemacetan 262,18. Semoga tahun 2017 ini prestasinya meningkat ya.

2. Yang menjadi masalah krusial Jakarta ialah ‘pertumbuhan’ kendaraan bermotor yang tak berbanding lurus dengan pertumbuhan jalan. Kamu yang hidup di sana, yang sabar ya..

Advertisement

Kendaraan tambah, jalan tetap. sulit sih emang! via kompasiana.com

Berdasar data yang dikeluarkan oleh Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dan sekitarnya bertambah sebanyak 5500 hingga 6000 unit kendaraan per hari. Dari jumlah tersebut dinyatakan meningkat sebesar 12 persen tiap tahunnya. Miris juga ya?

Kendaraan yang paling mendominasi peningkatan ini ialah sepeda motor, yang mencapai 4000 hingga 4500 per hari. Sedangkan kendaraan roda empat mengalami pertumbuhan sebanyak 1600 unit per hari. Jumlah ini bisa diketahui berdasarkan Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) yang dikeluarkan setiap harinya. Pertumbuhan kendaraan bermotor yang luar biasa banyaknya ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan jalan Jakarta yang hanya 0,01 persen per tahunnya. Inilah alasan kenapa kemudian aturan three in one diberlakukan.

3. Solusi paling efektif yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta kemudian ialah melakukan penguatan transportasi umum. Walau terus melakukan perbaikan, rasanya hal ini masih jauh dari kesuksesan

Trans Jakarta pun berbenah dengan tambah 21 trayek baru via infojakarta.net

Menghadapi keruwetan lalu-lintas, beragam cara dilakukan warga kota metropolitan. Salah satu cara paling riil dan sering mereka lakukan ialah berangkat ke tempat tujuan jauh lebih awal. Mencari jalan alternatif atau ‘jalan tikus’ juga mereka tempuh sebagai salah satu pilihan. Siapa sih yang dengan ikhlas mau membuang waktu dan tenaganya untuk bermacet-macetan?

Sementara itu, pemerintah nampaknya lebih fokus mengurai kemacetan dengan perbaikan pelayanan transportasi umum. Dengan begitu, mereka merasa lebih efektif untuk mendorong warga Jakarta beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.  Bukankah tak jarang kamu mendapati mobil-mobil yang memadati jalanan Jakarta hanya berisi sopir saja? Hanya karena ingin membuat diri sendiri merasa nyaman saat berkendara, tidak terkena asap sambil mendengarkan musik, tapi ternyata malah menjadi salah satu penyebab kemacetan.

4. Kemacetan faktanya tak hanya menimbulkan kerugian sosial dan lingkungan saja, namun juga secara ekonomi. Kerugian akibat kemacetan Jakarta mencapai Rp 150 triliun per tahunnya

Kemacetan bisa membunuh produktivitas seseorang via lingkarnews.com

Kerugian yang paling nyata nampak pada pemborosan bahan bakar. Banyak biaya sosial yang dihabiskan masyarakat selama mengalami kemacetan di jalan. Mulai dari biaya bahan bakar tadi, hingga biaya kesehatan akibat dari polusi udara. Saat ini, masyarakat kawasan Jabodetabek yang rutin melakukan perjalanan di wilayah DKI mencapai 2 juta jiwa per harinya, dengan beragam kepentingan.

Dengan dana yang hilang sebesar itu, bukankah seharusnya banyak pembangunan infrastruktur yang bisa didanai untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi kota itu sendiri? Untuk membangun MRT misalnya. Bahkan ada yang menyebut kalau jumlah kerugian yang ada setara dengan biaya pembangunan 14 jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura itu. Lagi-lagi, memang butuh keseriusan pemerintah dalam menangani permasalahan khas perkotaan ini.

5. Lebih dari itu, ternyata kemacetan bisa berimbas pada kerusakan otak manusia. Hati-hati, sering bermacet-macetan bisa membuatmu lebih cepat terserang demensia

Lazimnya sih ini penyakit orang tua via www.deherba.com

Sebuah penelitian kesehatan yang dipublikasikan melalui jurnal kesehatan internasional Lancet menunjukkan, mereka yang tingal dekat jalan raya yang ingar bingar memiliki peluang lebih tinggi menderita demensia. Yakni sebuah gejala penurunan fungsi otak yang tak bisa diobati. Secara khusus, penelitian ini juga membuktikan bahwa satu dari sepuluh kasus demensia diakibatkan oleh paparan terhadap kemacetan.

Penelitian sebelumnya juga mengungkap hal yang nyaris serupa. Risiko terkena demensia bisa bergantung pada jarak pemukiman dengan jalan raya. Mereka yang hidup 50 meter dari jalan raya punya risiko 7 persen lebih besar menderita demensia. Selanjutnya, pada jarak 50-100 meter, risiko turun menjadi 4 persen. Sementara pada rentang 100-200 meter, risiko turun hingga 2 persen saja. Studi ini menunjukkan polusi udara yang masuk ke dalam otak melalui aliran darahlah yang mampu menyebabkan demensia.

Ah kemacetan, entah kapan tak lagi jadi persoalan. Semoga transportasi umum segera menjadi aman, nyaman, dan terjangkau baik tarif maupun sebarannya. Ya, untuk kemudian para warga menjadi rela beralih mengunakan transportasi massal dan bersama terhindar dari kemacetan. Semoga segera masalah pelik ini segera menemukan jalan terang ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya