Meski cara mengemudi emak-emak seringkali dipermasalahkan, tapi cewek menyetir sendiri jelas udah jadi pemandangan lumrah di Indonesia. Mungkin juga di seluruh dunia dengan satu pengecualian: Arab Saudi. Kerajaan kaya minyak di semenanjung Arab itu emang terkenal dengan kegigihannya mempertahankan hukum syariah, —yang oleh sebagian besar masyarakat internasional disebut sebagai penindasan terhadap perempuan. Tapi baru saja di tahun 2017 ini, Arab Saudi mengeluarkan dekret kerajaan yang akhirnya memperbolehkan perempuan untuk mengemudi kendaraan sendiri.

Larangan untuk menyetir sendiri sebenarnya lebih tepat disebut sebagai hukum sosial dibandingkan hukum mengikat. Lebih tepatnya lagi, selama ini perempuan tidak pernah diizinkan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Sebagaimana dilansir dari New York Times, itulah yang dijamin dalam dekret kerajaan tersebut yaitu hak yang sama untuk bisa apply dan memiliki SIM. Perempuan bahkan tidak harus meminta izin suami, ayah, atau kerabat prianya terlebih dahulu sebelum membuat SIM. Kebijakan ini jelas merupakan langkah besar yang mengubah ‘wajah’ Arab Saudi di mata dunia.

Ada yang menyebutnya kemajuan gender, tapi ada juga yang bilang ini kemunduran hukum syariah. Tapi pemerintah Arab Saudi sendiri justru menyatakan ini kebijakan yang dibuat dengan alasan logis dan justru sarat motif ekonomi. Nah lho! Buat yang penasaran dengan alasan-alasan di baliknya, yuk simak ulasan Hipwee News & Feature ini!

Pada berdebat soal hukum dan keabsahannya, pemerintahnya justru menjelaskan ini merupakan bagian reformasi ekonomi Arab Saudi ke depan. Nilai minyak dunia turun terus, penggerak perekonomian tambahan dibutuhkan

Kaum hawa di Arab Saudi kini diharapkan lebih aktif berpartisipasi dalam ekonomi via independent.co.uk

Kebijakan yang mengatur persamaan hak laki-laki maupun perempuan untuk mendapat SIM merupakan bagian dari reformasi besar Arab Saudi dalam bidang ekonomi dan sosial. Negara kerajaan ini tampaknya mulai menyadari bahwa perekonomiannya tidak bisa hanya mengandalkan kekayaan minyak yang tren harganya terus menurun. Dibutuhkan perluasan ekonomi, terutama di sektor swasta. Nah kalau ada perluasan sektor swasta tersebut, jelas dibutuhkan lebih banyak pekerja. Termasuk kaum hawa.

Advertisement

Masih dilansir dari New York Times, salah satu perluasan peran perempuan ini dimulai dengan pemberian persamaan hak politik untuk memilih pada tahun 2015. Yup, perempuan-perempuan di Arab Saudi baru bisa memilih dalam pemilihan politik pada tahun 2015 kemarin. Belum lagi terkait dengan ‘reputasi internasional’ yang selama ini selalu dipermasalahkan negara seperti Amerika Serikat atau negara-negara Eropa. Walaupun memang masalah prinsip, nyatanya pemerintah Arab Saudi menganggap langkah ini dapat sedikit banyak ‘memperbaiki’ image-nya di mata dunia.

Selama ini bukannya tidak ada perempuan yang bekerja, tapi perempuan karier di Arab Saudi mengaku gajinya sering habis karena harus menyewa sopir atau jasa pengantar

Jika tidak gaji perempuan Arab bisa habis untuk menyewa jasa sopir. via mideastposts.com

Akibat tidak boleh menyetir sendiri, semua cewek dan para ibu di Arab selalu mengandalkan jasa sopir probadi untuk mengantarkan mereka kemana-mana. Penghasilan mereka pun teralokasikan buat menyewa sopir. Biaya itu nggak murah lho, jika dibandingkan penghasilan yang didapatkan perempuan di Arab, rasanya memang nggak seimbang.

Nggak cuma masalah nyetir, beberapa tahun belakangan, kehidupan perempuan di Arab Saudi emang banyak berubah.  Seperti akhir 2015 lalu dimana untuk pertama kalinya mereka boleh ikut pemilu

Putra Mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman adalah sosok yang mendukung perubahan ini via businessinsider.com

Untuk pertama kalinya pada Desember 2015, perempuan Arab Saudi punya hak suara untuk memilih pada pemilu. Beberapa perempuan bahkan menjadi kandidat pada pemilihan. Hak ini diberikan ketika pemerintahan Raja Abdullah karena menurutnya perempuan Arab Saudi memiliki posisi demokratis dan opini yang bisa diperhitungkan. Hal ini disambut baik oleh banyak perempuan Arab yang mengaku bahwa memiliki hak suara adalah pengalaman yang luar biasa. Karena dengan itu apa yang disuarakan perempuan bisa terwakili dalam ranah politik.

Selain di bidang politik, ada juga perubahan besar lainnya yaitu di bidang olah raga. Mulai Juni tahun ini, siswi-siswi sudah bebas mengikuti pelajaran olahraga di kelas. Kebijakan ini didorong oleh tingginya obesitas pada perempuan arab, selain juga mendukung reformasi sosial ekonomi di arab untuk pemberdayaan perempuan. Sebenarnya langkah memperbolehkan cewek nyetir juga salah satu bentuk penerapan reformasi sosial ekonomi yang selama ini dirancang.  Potensi ini sebenarnya dicetuskan oleh putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman yang merencanakan perubahan di bidang sosial dan ekonomi.

Walaupun kontroversial dan banyak yang protes, pemerintah menilai masyarakatnya udah cukup siap dengan perubahan ini

Protes yang sudah ada sejak lebih dari satu dasawarsa via alarabiya.net

“Pemerintah kami percaya ini adalah waktu yang tepat karena di Arab Saudi, kami memiliki masyarakat yang muda dan dinamis.” ujar Pangeran Khaled bin Salman yang juga duta besar Arab untuk Amerika.

Kalau dari sisi pemerintah Arab Saudi sendiri justru menilai positif perubahan ini dan menilai masyarakatnya siap. Namun tak jarang juga beberapa orang yang menolak dan menilai bahwa perempuan yang mengemudikan mobil sendiri itu kurang bermoral dan tidak sesuai dengan norma masyarakat di Arab. Padahal sebenarnya protes tentang pelarangan mengemudi bagi perempuan sudah ada sejak 1990 dan baru disetujui baru-baru ini. Walaupun keputusan yang merupakan dekret Raja Salman ini baru akan diberlakukan secara resmi pada Juni tahun depan.

Bukan tanpa pegangan, pemerintahan Arab Saudi mendasarkan keputusan dari ahli agama yang berpendapat itu tidak menyalahi hukum syariah

Raja Salman via dailymail.co.uk

Negara Arab Saudi yang memiliki pemerintahan berbasis hukum syariah tentunya mempertimbangkan setiap keputusan juga berdasarkan pertimbangan para tokoh agama. Berdasarkan pernyataan kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA) yang dilansir Antara, mayoritas tokoh agama di Arab Saudi telah menyetujui dekret atau aturan yang memperbolehkan perempuan menyetir. Pertimbangannya hal ini akan membawa lebih banyak kemanfaatan bagi masyarakat dibanding ke-mudhorotan atau dampak negatifnya.

Sebenarnya keputusan ini disambut baik loh oleh banyak perempuan di sana. Banyak yang merasa bahwa keputusan ini adalah sebuah titik awal yang membawa kemajuan bagi hak-hak perempuan Arab. Sebagai negara punya hubungan baik dengan Arab Saudi, kita doakan bareng semoga keputusan ini membawa banyak manfaat bagi masyarakat maupun pemerintahnya ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya