“Kasih aja ke cewekmu – itu ‘kan tugas dia!”

Beberapa hari yang lalu media sosial sempat digemparkan oleh tagline sebuah merek jersey produksi dalam negeri. Pada label jersey produk tersebut, terdapat tata cara pencucian yang bisa dibilang “tak biasa”. Bukan hanya memberikan saran mencuci yang benar, label tersebut juga menambahkan tulisan “Give it to your woman. It’s her job.” Tulisan inilah yang membuat banyak orang geram, meski ada juga yang menganggapnya biasa saja atau bahkan lucu.

Entah kamu ada di kubu yang mana, yang mengkritik atau yang menganggapnya biasa saja. Tapi sebenarnya, banyak aktivitas yang sekarang harusnya sudah tak lagi hanya diidentikkan dengan cewek. Cowok juga boleh banget menunjukkan keahlian mereka di dalamnya. Justru sudah tak bisa lagi kita menyalahkan cewek jika mereka kalah jago dari cowok dalam aktivitas-aktivitas ini. Yuk, kita lihat aktivitas apa saja yang dimaksud!

1. Memasak adalah keterampilan yang boleh dimiliki semua orang. Toh bumbu dan bahan makanan takkan peduli kamu lelaki atau perempuan.

Semua orang boleh bisa masak! via katbevel.com

“Anak perempuan kok nggak ngerti dapur sama sekali…”

Advertisement

Menjelang Lebaran, Lita mendadak galau lantaran mesti menginap di rumah nenek. Bukannya nggak suka ketemu nenek atau saudara yang lainnya, Lita hanya sebal jika disindir nggak bisa bantu-bantu bikin kue di dapur. Apa daya? Setiap dia berusaha, kue-kue buatannya selalu saja bantat dan nggak enak. Ejekan yang semakin menjadi-jadilah yang akhirnya Lita terima. Kamu yang cewek mungkin pernah mengalami hal serupa.

Kesannya, nggak bisa masak bagi seorang cewek adalah kutukan. Padahal secara biologis, apa sih hubungannya jadi cewek sama bisa masak? Memasak itu keterampilan, dan keterampilan bisa dimiliki siapa saja. Toh bumbu dapur dan bahan makanan nggak akan peduli jenis kelamin orang yang meracik mereka.

Mungkin Lita yang cewek justru lebih berbakat dan berminat pada fotografi daripada dunia kuliner. Sebaliknya, mungkin juga ada cowok di keluarga Lita yang jauh lebih jago dalam urusan dapur. Tidak apa-apa, ‘kan? Toh semua bakat adalah pemberian Tuhan.

Kalau kebetulan kamu cewek dan memang berminat belajar masak, nggak usah malu juga minta bantuan cowok yang lebih pintar:

“Cowokku pinter banget masak. Gara-gara dia, aku jadi sedikit-sedikit belajar masak sekarang.”

– Tiwi, yang dulunya nggak mengerti sama sekali bentuk dan nama bumbu dapur.

2. Memastikan kamar bersih plus rapi adalah demi kebaikan diri sendiri. Kamar yang jorok mudah mengundang penyakit — dan sakit tak memandang jenis kelamin.

Menjaga kamar kost sendiri via blog.sewakost.com

“Iiih, kamar anak cewek kok jorok banget sih?”

“Lah, emang kalau dia cowok kamarnya jadi boleh jorok?”

Sampai sekarang, bersih-bersih masih didentikkan sebagai aktivitas yang hanya dilakukan cewek. Padahal nggak peduli cowok atau cewek, menjaga kebersihan tempat tinggal itu wajib – demi kenyamanan dan kesehatan sendiri. Yup, yang berkepentingan untuk merasa nyaman dan menjaga kesehatan itu kita semua, nggak hanya cewek saja. Kamu yang cowok nggak bisa lagi cuek dengan kebersihan lingkungan dengan alasan nggak ada Mbak yang bantu bersih-bersih!

3. “No, it’s not only her job” — karena cewek bukanlah mesin cuci yang badannya bertombol dan bisa muter sendiri.

Is it?

Seperti bersih-bersih, mencuci baju memang pekerjaan domestik. Dan lagi-lagi, pekerjaan domestik selalu dikaitkan dengan perempuan. Tapi susah juga lho jika perempuan saja yang selalu diandalkan dalam urusan mencuci baju.

Setiap orang pasti mau bajunya bersih dan wangi, termasuk cowok-cowok. Kalau para cowok tidak diajarkan untuk belajar mencuci sendiri, mereka bisa kesulitan ketika harus hidup jadi bujangan di perantauan. Nggak punya istri, nggak punya ibu… masa’ harus minta tolong pacar buat nyuci baju? Iya kalau punya.

Seiring waktu, mencuci baju juga berkembang menjadi pekerjaan profesional. Nah, coba cek deh ke laundry dekat rumahmu: apakah di sana pekerjanya cewek semua?

4. Mengurus, mendidik, dan bermain dengan anak adalah tugas bersama. Orangtua mesti berkolaborasi demi perkembangan maksimal sang buah hati.

Mengurus anak bukan hanya tugas ibu via vk.com

Perhatian seorang ibu memang sangatlah penting untuk anak. Hamil, melahirkan, dan menyusui adalah kodrat perempuan. Untuk itu, peranan ibu pada tumbuh-kembang anak tak bisa dilepaskan. Wajar jika seorang ibu dituntut untuk memperhatikan setiap tahap perkembangan anaknya.

Namun, kewajiban ibu untuk telaten mengurus anak bukan berarti mengurus anak hanya menjadi tugas perempuan. Sentuhan laki-laki atau bapak juga dibutuhkan oleh anak. Tak hanya berkewajiban mencari nafkah, bapak teladan juga harus mau berbagi beban dengan ibu dalam mengantar anak ke sekolah, menemani hingga dia tidur, mengajarkannya membaca dan menulis, hingga menularkan nilai-nilai yang penting ia junjung saat dewasa nanti. Jadi,kalau ada anak yang dianggap “salah didikan”, jangan ibunya saja yang disalahkan.

5. Tiap orang berhak membuat barang prakarya lucu. Berbanggalah jika itu sampai mampu menghasilkan uang saku, apapun jenis kelaminmu

Bukan cuma barang lucu imut gak penting yang jadi hobi cewek via coolestgalleries.com

“Bikin barang-barang lucu nggak penting. Cewek banget sih lu!”

Selain pekerjaan-pekerjaan domestik, cewek juga identik dengan pekerjaan yang unyu-unyu seperti bikin prakarya. Memang nggak dipungkiri kebanyakan yang senang sama kegiatan ini adalah cewek. Tapi sekali lagi, jangan menggeneralisasi bahwa semua cewek suka kegiatan ini. Jangan kaget juga kalau ada cowok yang justru lebih jago bikin prakarya DIY daripada cewek.

Membuat prakarya adalah kegiatan menyenangkan yang bisa dinikmati siapa saja. Lebih menyenangkan lagi jika bisa mencari uang tambahan darinya. Kamu yang cowok, sayang lho kalau menghindari kegiatan ini (padahal sebenarnya tertarik) hanya karena takut disebut “cewek banget”!

6. Kalau urusan jahit-menjahit aja juga dikaitkan sama cewek, pantesan hati kamu robek terus, Mas…

Hati Masnya pasti tidak robek. via rebloggy.com

Bukan cuma pekerjaan domestik yang dikaitkan dengan cewek, urusan jahit-menjahit juga. Padahal kalau yang cowok nggak bisa menjahit sama sekali — bahkan untuk sekadar menjahit kancing yang lepas — dirinya sendiri yang bakal susah. Nggak mungkin ‘kan bagian kancing yang lepas itu dipeniti terus, kecuali dia mau penampilannya nggak sempurna dan bajunya bolong-bolong tertusuk peniti?

Mungkin selama ini kamu menganggap jahit-menjahit sebagai urusan yang sederhana. Kalau begitu, kenapa tidak coba untuk sekalian mempelajarinya? Kalau untuk urusan sesederhana ini saja cewek terus yang diandalkan, gimana pekerjaan yang lebih kompleks, dong? Hehe.

Intinya, baik cowok maupun cewek punya kesempatan untuk melakukan berbagai kegiatan yang mereka minati. Sebaliknya, tidak ada juga kewajiban untuk menjadi ahli dalam aktivitas-aktivitas tertentu hanya karena mereka cewek. Mengerjakan segala sesuatunya berdasarkan kemampuan masing-masing — bukannya jenis kelamin — tentu jauh lebih logis dan menyenangkan. Sepakat?