Ngamplop, tentu bukan istilah yang asing lagi di telinga. Apalagi kalau sudah menjelang weekend begini, di kala undangan nikah sudah menumpuk. Di usia-usia seperti ini, kamu yang jomblo harus tabah dan tegar menghadapi banyaknya undangan nikahan dan kebutuhan menyediakan ‘amplop’. Ya selain sedih karena belum punya pasangan, sedih juga kalau undangan dari kawan baik datang tapi kamu belum gajian.

Kalau kamu nggak mau keteteran, biaya untuk ngamplop saat kondangan ini harus menjadi salah satu pengeluaran yang wajib tercantum di budget bulanan. Tapi sebenarnya budaya ngamplop itu awalnya bagaimana sih? Apa iya kita wajib membawa amplop saat kondangan kalau tak mau tatapan sinis dan omongan di belakang datang?

1. Sebelum istilah ‘ngamplop’ populer, ada tradisi menyumbang yang lebih tradisional. Bukan uang yang dikirim, tapi bahan-bahan makanan

Tas tempat membawa sumbangan via alyaahamiidah.blogspot.co.id

Tradisi nyumbang adalah kebiasaan yang sudah turun temurun dari nenek moyang dan dilakukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Bagi suku Jawa, saat ada tetangga yang punya hajat maka orang berbondong-bondong datang membawa beraneka bahan makanan seperti beras, gula, telur, mie instan, hingga hasil kebun. Apa yang dibawa ini kemudian akan dicatat oleh juru catat, lalu mereka akan membawa pulang ‘berkat’ atau bingkisan makanan.

Seiring waktu, tradisi nyumbang ini digantikan dengan budaya ‘ngamplop’. Tak perlu lagi membawa bahan makanan yang berat, cukup uang dalam amplop yang bisa dikantongi. Tapi untuk beberapa daerah pedesaan, tradisi nyumbang masih umum dilakukan. Bila kamu jeli, saat menerima undangan terkadang ada catatan: “tanpa mengurangi segala hormat, kami tidak menerima bingkisan atau hadiah dalam bentuk barang”. Maksudnya hadiahnya diuangkan saja begitu ‘kan?

2. Tradisi ini berawal sebagai bentuk kepedulian membantu dan saling bergotong royong dengan tetangga yang sedang punya hajatan

Advertisement

Tradisi ‘rewang’ via arianemeida.blogspot.co.id

Awalnya, nyumbang adalah sebuah ciri khas kehidupan yang guyup dan rukun dalam masyarakat. Rasa peduli yang besar membuat masyarakat ingin ikut serta memikul beban ataupun bahagia orang lain. Jadi saat seorang tetangga punya hajat, pasti banyak uang yang dibutuhkan. Tak hanya materi, mereka juga pasti butuh dukungan tenaga dan pikiran. Dalam bentuk tenaga, tetangga-tetangga yang dekat pun berdatangan untuk membantu persiapan hajatan. Dalam bentuk materi, gotong royong dan saling membantu itu terwujud dalam tradisi nyumbang.

3. Meski ‘ngamplop’ sebenarnya bukan keharusan, namun tradisi ini sudah menjadi semacam kebiasaan. Kotak sumbangan akan berdiri paling depan di setiap resepsi pernikahan

Kotak sumbangan pernikahan via tutinonka.wordpress.com

Jumlah uang untuk ngamplop juga beragam. Biasanya disesuaikan dengan kebiasaan daerah dan tingkat kedekatan dengan si pemilik hajat. Bila teman lumayan dekat, nominalnya pasti lebih tinggi daripada teman yang biasa saja. Meski awalnya filosofi nyumbang sangat mulia dan sama sekali tidak memaksa, kini trandisi nyumbang modern alias ngamplop seolah menjelma jadi keharusan.

Saat menghadiri resepsi, kamu pasti akan menemukan kotak sumbangan di depan pintu sebelum masuk ruangan. Terkadang ada dua kotak dengan tulisan ‘orang tua’ dan ‘mempelai’ untuk alamat pemberian undangan. Datang ke resepsi dengan tangan kosong akan menimbulkan rasa tak enak. Atau yang orang jawa sebut dengan ‘pekiwuh’.

4. Seolah jadi kesepakatan tak tertulis, si pemilik hajat harus mengembalikan di lain kesempatan. Karena itulah setiap amplop biasanya punya nama

Ada ‘kewajiban’ mengembalikan via keepo.me

Tradisi ngamplop ini tak selesai bersama berakhirnya resepsi. Dalam tradisi Jawa, ada istilah ‘mbalekne sumbangan’ atau mengembalikan sumbangan. Barangkali itulah fungsinya penamaan dalam amplop. Misalnya saat kamu punya hajat, temanmu ngamplop dengan nominal 100 ribu, maka kelak bila dia punya hajat kamu harus nyumbang minimal 100 ribu. Lagi-lagi, sebenarnya ini bukan keharusan. Tak ada pasal hukum yang menjeratmu bila kamu tidak mengembalikan sumbangan ke temanmu. Tapi lagi-lagi, rasa pekiwuh itulah yang membuatmu merasa wajib untuk mengembalikan sumbangan, bila tak mau jadi omongan di belakang.

5. Populernya tradisi ini membuat undangan yang datang saat kantong kering jadi mengerikan. Beberapa memilih untuk memasukan amplop kosong agar tak ketahuan

Tradisi ngamplop yang mendarah daging ini menjadi dilema tersendiri. Di musim-musim ‘kawinan’ dalam sebulan bisa saja ada 3-4 teman yang menikah. Bila kantong sedang kering kerontang menunggu gajian yang tak kunjung datang, sebuah undangan bisa sangat mengerikan. Mau tidak datang, rasanya sungkan karena baiknya pertemanan. Tapi datang tanpa ‘bawa sesuatu’ juga akan sangat memalukan. Mungkin karena inilah banyak fenomena amplop kosong tanpa nama yang sama PHP-nya dengan janji-janji politik. Ya, daripada ‘tengsin’ makan tanpa memasukan amplop ke kotak sumbangan?

6. Makin ke sini, nilai sosial ‘ngamplop’ sebagai simbol gotong royong makin terkikis. Tergantikan transaksi balas budi yang dihitung dengan untung atau rugi

Modal pernikahan memang besar via jadhomes.com

Ngamplop dengan tujuan saling membantu, berbagi rezeki, atau gotong royong tentu tidak ada salahnya. Namun bagi sebagian orang, pernikahan bisa dijadikan semacam transaksi bisnis. Memang sebuah pernikahan tidak murah. Terkadang untuk menggelar pesta yang wah dan mengundang decak kagum undangan, pemilik hajat harus berhutang ke sana ke mari. Harapannya, kotak sumbangan yang ditaruh di sebelah penerima tamu nanti bisa menjadi ‘penutup’ biaya-biaya yang sudah dikeluarkan. Yang merasa sudah menyumbang, tapi yang disumbang tidak mengembalikan juga bisa mengundang kecewa dan amarah. Kalau sudah begini, filosofi saling membantu berubah jari memberi dengan pamrih.

7. Ternyata tradisi ini tidak hanya di Indonesia. Di Korea bahkan jumlah ‘sumbangan’ ditulis sendiri di buku tamu

Sumbangan bahkan dicatat dan dibukukan via www.kelleewalsh.com

Apa iya tradisi ini hanya ada di Indonesia? Ternyata tidak, guys. Di Korea, tradisi yang sama juga masih berjalan hingga sekarang. Saat menghadiri pernikahan teman atau kolega, kamu juga perlu membawa hadiah dan uang dengan jumlah yang bervariasi sesuai dengan kepantasan. Kalau di Indonesia cukup memasukkan amplop di tempat yang sudah disediakan, di Korea kamu juga harus menuliskan jumlah uang sumbanganmu di buku tamu. Bakal keliatan banget ya kalau sumbangannya sedikit. Uniknya lagi, uang yang diberikan harus dalam kondisi baru. Kalau uangmu sudah lecek-lecek karena terlalu sering pindah tangan, kamu harus tukarkan dulu di bank.

Meskipun sudah dinggap tradisi yang lumrah, ada juga warga Indonesia yang tidak mau menerima sumbangan amplop jika mengadakan acara. Ada yang memang sudah terlalu kaya dan mungkin tidak butuh uang. Tapi sebagian besar yang menolak tradisi ngamplop berangkat dari keyakinan bahwa tidak sebaiknya mengambil keuntungan atau uang dari tamu, jika benar-benar tulus mengundang. Tapi lagi-lagi, semuanya kembali pada masing-masing pribadi. Menyumbang pun tak apa, asalkan dengan niat tulus untuk membantu sesama. Bukan untuk mengharapkan uang itu kembali kelak dengan nominal yang berlipat ganda.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya