Generasi millennial menjadi generasi yang paling seru dibahas saat ini. Dengan segala kemajuan industri dan teknologi, generasi yang lahir di tahun 1984-1994 atau sebagian menyebut sampai tahun 2000, diyakini memiliki karakteristik khas yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya yaitu baby boomer.

Generasi yang lahir dari teknologi. Lebih suka ponsel ketimbang televisi. Bisa mati kalau tidak bisa akses internet. Media sosial jadi sesuatu yang wajib sebagai penunjuk eksistensi.

Sebagai generasi yang merajai usia produksi sekaligus sebagai konsumen terbesar di masa modern, kaum millennial sering dijadikan subyek penelitian. Anehnya, justru karena itu karakter generasi millennial ini seringkali salah dimengerti. Inilah 7 hal yang paling sering dikaitkan dengan generasi millennial dan penelitian yang mematahkannya.

1. Ketergantungan pada orang tua tinggi. Soal karier, ini itu ditanya ke orang tua dulu

Milenial dekat dengan orang tua via www.chicagotribune.com

Banyak yang bilang bahwa kaum millennial adalah anak manja yang tergantung pada orang tua. Hal ini didasarkan pada data jumlah anak muda millennial yang masih tinggal dengan orang tua lebih tinggi daripada generasi 60-an. Tapi kesimpulan ini dipatahkan dengan argumen bahwa kita, generasi millennial masih sibuk menuntut ilmu hingga usia 20-25. Sebagian besar anak kuliah memang tinggal dengan orang tua bila lokasinya memungkinkan untuk alasan biaya. Sementara di usia yang sama, kebanyakan dari baby boomer memang sudah memasuki usia kerja karena masih minimnya akses pendidikan.

2. Generasi ini dikenal sebagai ‘Me Generation’ yang narsis. Tak peduli apapun selain diri sendiri

Advertisement

Me generation via www.theodysseyonline.com

Yang menjadi sentimen kepada generasi millennial adalah rasa egois yang tinggi hingga menjurus ke narsistik. Segala sesuatu berpusat untuk diri sendiri, sehingga kaum muda dianggap tidak bisa bekerja sama ataupun peduli para orang lain. Namun berbagai penelitian menyebutkan bahwa generasi millennial punya kemauan yang tinggi untuk bisa berbuat sesuatu. Mereka selalu ingin terlibat aktif dalam social movement yang berdampak pada dunia.

Hal ini dibuktikan juga banyaknya generasi millennial yang memilih karier di NGO dan bidang-bidang yang punya dampak sosial. Selain itu, keluarga adalah prioritas bagi generasi millennial. Dalam penelitian Pew Study, 84% dari usia 18-29 tahun saat ini, merasa bertanggung jawab atas masa senja orang tuanya.

3. Terlahir di era teknologi tingkat tinggi, membuat kita dianggap ketergantungan pada gadget dan media sosial setiap hari

Manusia media sosial via spoonuniversity.com

Tumbuh bersama perkembangan teknologi yang diwarnai berbagai aplikasi memang membuat anak muda terlihat ketergantungan dengan gadget. Apa-apa harus diabadikan di media sosial, mulai dari menu makan hingga kondisi perasaan. Generasi millennial memang lebih melek teknologi dibanding generasi sebelumnya. Kaum millennial mencintai smartphone-nya. Tapi itu tidak lantas membuat anak muda anti-pati kehidupan nyata. Sebuah penelitian di Bentley University, menyebutkan dari sejumlah responden, sebagian besar memilih bercakap langsung tatap muka kepada kolega bila situasi memungkinkan. 14% memilih via teks, dan 19 lainnya memilih email.

4. Generasi millennial dikenal sebagai kutu loncat yang hobi pindah-pindah pekerjaan. Rasa bosan dan keingintahuan besar jadi alasan

Hobi gonta-ganti pekerjaan via www.christmascasuals.com.au

Stigma yang lekat untuk anak millennial adalah keinginan untuk terus berganti pekerjaan. Baisanya 12-18 bulan sudah menjadi waktu maksimal anak kekinian untuk tinggal di satu perusahaan. Ini jelas berbeda dengan generasi pendahulu yang bisa berpuluh-puluh tahun bekerja di bidang yang sama. Alasannya sebenarnya sederhana. Generasi millennial mengingingkan karier yang ada peningkatan. Jenjang karier yang terus ke atas adalah prestasi yang layak dikejar.

5. Katanya anak millennial adalah pemalas tingkat dewa. Apa-apa maunya tak pakai usaha tapi hasil yang luar biasa

Terkenal suka leha-leha berlebihan via trololoblogg.blogspot.co.id

Yang paling menyakitkan, kaum millennial juga dianggap pemalas dan kurang motivasi untuk bekerja keras. Kaya instan, pintar instan, apa-apa maunya serba instan. Padahal banyak kaum millennial yang menghabiskan pulang kerja lewat dari waktunya dan menghabiskan akhir pekannya untuk bekerja. Kalau tidak percaya, ini dibuktikan oleh penelitian oleh Bentley University, hampir separuh dari kaum millennial mau bekerja keras dan lembur di akhir pekan untuk mengejar kesuksesan karirnya.

6. Tingkat konsumtif tinggi dan apa-apa dibeli. Karena ini terkadang gaji besar tetap tak bisa mencukupi kebutuhan

Hobi nongkrong via www.coffeemuseum.com

Selain terkenal egois dan sedikit pemalas, millennial juga terkena stigma tingkat konsumtif yang tinggi. Mulai dari belanja-belanji, sampai budaya minum kopi yang katanya lebih banyak daripada investasi untuk hari tua. Karena itulah meskipun bergaji besar, tapi menabung adalah hal paling susah buat kaum millennial. Harus diakui, anak muda memang gemar belanja dan hobi nongkrong sana-sini. Menghabiskan waktu berjam-jam di kafe untuk download film atau mengerjakan sesuatu. Tapi sebenarnya, generasi millennial justru paling peduli dengan promo dan diskon dibanding generasi lainnya. Soal tulisan ‘Beli 1 gratis 1’, generasi millennial yang paling cepat responnya.

7. Lebih suka sendiri dan kurang tertarik untuk membangun keluarga. Barangkali hanya waktunya saja yang belum tiba

Kaum millennial memilih single lebih lama via www.forbes.com

Nah, mitos yang paling populer, kaum millennial lebih suka single lama-lama ketimbang segera menyusun rencana membentuk keluarga. Kalau dulu usia 20 sudah dianggap perawan tua bila belum menikah, sekarang menjadi lajang di usia 30-an juga bukan masalah kerja. Dibanding generasi sebelumnya, millennial terkenal sebagai generasi nanti-nanti. Nikah nanti, punya anak nanti, dan beli rumah nanti. Tapi bila disesuaikan dengan zaman, rasanya masih sepadan. Pernikahan perlu banyak biaya, tentu mempersiapkannya tak bisa sekejap. Banyak generasi millennial yang memilih untuk matang secara emosi dan finansial, baru memikirkan soal pernikahan.

Itu dia beberapa hal yang katanya identik dengan anak-anak kekinian. Jadi menurutmu, itu mitos atau fakta?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya