Melihat rahang buaya yang penuh taring tajam rasanya membuat bulu roma merinding. Rahang yang kuat itu bahkan bisa merobek dan menghancurkan tulang kita dalam sekali serangan. Nggak heran kalau buaya termasuk dalam golongan binatang buas yang sangat ditakuti manusia. Banyaknya cerita soal penyerangan buaya kepada manusia juga semakin menambah kengerian karnivora ini.

Sebagaimana dilaporkan Kompas, beberapa hari yang lalu seorang warga di Kalimantan Timur hilang disungai dan penduduk menduga kuat ia diserang oleh buaya. Bahkan seorang pawang buaya di sekitar Sungai Muara Jawa Ulu, Kutai yang terjun ke sungai dan bermaksud untuk mencari warga yang hilang tersebut, juga ikut hilang diterkam buaya. Aksi ini pun sempat terekam dan viral di media sosial. Jasad keduanya kemudian ditemukan sudah tidak bernyawa dan dalam keadaaan utuh.

Terlepas dari image-nya yang mengerikan maupun mitos yang berkembang di masyarakat, serangan buaya terhadap manusia itu ternyata bisa dijelaskan secara logis dan ilmiah. Biar kejadian mengerikan seperti peristiwa di Kalimantan Timur kemarin tidak sering berulang, ada baiknya kamu pahami fakta-faktanya bareng Hipwee News & Feature!

Ternyata penyebabnya bisa jadi karena perilaku manusia sendiri. Seringnya perburuan ikan di sungai menyebabkan makanan buaya berkurang

Makanan buaya yang makin sedikit

Sebagai mahluk hidup, buaya juga hewan yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Selama ini ikan di sungai merupakan makanan alami dari buaya. Ikan bisa mereka dapatkan tanpa melakukan perburuan ke daratan. Jumlah ikan yang semakin berkurang bisa ‘memaksa’ buaya untuk memangsa makanan lain. Jika beberapa manusia kebetulan muncul di sekitar tempat tinggal buaya ketika hewan tersebut lapar, maka dengan mudah manusia akan diserangdan dijadikan santapan.

Advertisement

Bahkan sebagaimana pernah dilaporkan Kompas pada tahun 2013 yang lalu, habitat buaya di Kalimantan Timur memang telah terusik. Jadi walaupun tragis, mungkin memang tidak mengherankan jika terjadi serangan buaya terhadap manusia di daerah ini.

Selain itu, Agustus sampai Oktober adalah musim kawin buaya muara. Nggak heran kalau para buaya banyak yang berkeliaran mencari betina

Para buaya berencana melestarikan spesies via www.aboutanimals.com

Di beberapa sungai di Indonesia, populasi buaya masih berkembang pesat. Terutama di beberapa pesisir Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, dan Bangka Belitung yang memiliki banyak sungai besar. Pada musim kawin yaitu sekitar bulan Agustus hingga Oktober, buaya-buaya ini akan cenderung keluar dari sarangnya dan mencari pasangan. Sehingga di masa-masa ini lah buaya sering terlihat oleh orang yang beraktivitas di sekitar sungai. Oleh karena itu, buat kamu yang tinggal di daerah sungai yang terdapat populasi buayanya, harap menjauhi sungai untuk sementara waktu ya!

Musim kemarau juga jadi penyebab buaya jadi agresif. Sungai yang mengering membuat kontak dengan manusia semakin dekat

Sungai yang surut membuat pemandangan ini sering terlihat via riausky.com

Akibat kemarau, beberapa sungai di daerah Kalimantan mengering. Ini membuat para buaya merasa terusik dan tidak nyaman. Pada masa inilah buaya sering terlibat kontak dengan manusia. Suhu udara yang tidak menentu juga memicu buaya berperilaku agresif dan sensitif. Kenapa? Karena buaya termasuk dalam hewan berdarah dingin (ectothermic), mereka membutuhkan sinar matahari untuk tambahan energi. Dengan suhu yang makin hangat, buaya-buaya makin aktif dan sering berburu.

Jika ada manusia yang diserang namun tidak dimakan, kemungkinan manusia tersebut dianggap mengusik habitat buaya saat buaya tersebut dalam keadaan agresif. Bukan hanya di Indonesia lho, di hampir seluruh daerah Eropa dan Amerika yang ditinggali buaya mengalami peningkatan serangan oleh buaya terhadap manusia di masa-masa kemarau dan saat suhu meningkat.

Lalu kenapa seringnya buaya menyerang manusia, tetapi tidak memakannya? Seperti kasus yang terjadi di Sungai Muara Jawa Ulu, Kutai Kartanegara

Buaya di penangkaran via www.wisatatiga.com

Menjawab rasa penasaran masyarakat, Peneliti utama Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesa (LIPI), Hellen Kurniati mengatakan bahwa ini adalah soal lapar atau tidaknya buaya. Dengan kata lain buaya bukanlah hewan yang sembarangan memangsa dalam keadaan kenyang.

“Kalau lapar, korban dimakan habis. Kalau tidak lapar, itu biasanya manusia hanya dipatah-patahin. Saya belum tahu di Kaltim itu bagaimana,”

Lebih jauh lagi Hellen menyarankan kalau ada buaya yang agresif dan kedapatan memangsa manusia, sebaiknya langsung ditangkap dan dikurung untuk dibawa ke penangkaran. Bisa jadi buaya yang terbiasa memangsa manusia sudah tidak doyan lagi dengan ikan. Lah kan bahaya banget! Untuk itu hati-hati ya guys jika kalian tinggal di sekitar sungai.

Dari berbagai kasus penyerangan buaya yang pernah terjadi, kebanyakan memang diakibatkan oleh buaya yang merasa terusik atau manusia yang ‘bermain’ di sekitar habitat buaya. Bagaimana pun, kenyataannya buaya hanya menyerang manusia ketika mereka merasa terganggu. Belum ada kasus dimana buaya menyerang ke habitat manusia secara sengaja dan mengacaukan sekeompok masyarakat. Alih-alih percaya mitos soal: mandi telanjang di sungai akan diserang buaya, lebih baik memang berhati-hati untuk mendekati sungai karena alasan-alasan diatas.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya