Buat kamu yang sering belanja di mini market, mungkin sering mendapat pertanyaan demikian. Nggak kalah seringnya, kita kerap mengangguk pertanda setuju saja. Ya untung-untung beramal, cuma Rp 100 ini. Tapi minggu kemarin sempat ramai diberitakan bagaimana seorang konsumen berani menggugat mini market Alfamart atas dasar ketidakjelasan ke mana berlabuhnya uang kembaliannya yang didonasikan tersebut.

Pelit amat sih, sampai uang 100 perak aja dipermasalahkan

Bukan besaran uang yang dipermasalahkan, tapi praktik yang seharusnya tak serta merta diterima oleh khayalak luas sebagai kebiasaan. Memang bagus jika banyak orang yang ternyata peduli untuk beramal, tapi penting juga untuk memahami bagaimana akhirnya uangmu akhirnya dimanfaatkan. Atau buat kamu yang sekadar tidak peduli atau tak punya waktu mempertanyakan nasib kembalian belanjamu yang cuma Rp 100, anggaplah paparan Hipwee di bawah ini sebagai sekadar informasi.

1. Sekitar 10 hari lalu, seorang pria bernama Mustolih, melaporkan pihak Alfamart perihal uang kembaliannya. Kasus yang terdengar sepele namun penting untuk ditindaklanjuti

Mustolih menggugat Alfamart. via cnnindonesia.com

Adalah Mustolih, konsumen yang berani mengusut persoalan tentang uang kembalian di mini market besar yang kerap diminta untuk didonasikan. Bukannya pelit, Mustolih yang berprofesi sebagai pengacara tersebut awalnya hanya meminta kejelasan saja dari kembalian yang didonasikan tersebut. Ketika diminta untuk menyumbangkan kembaliannya, Mustolih justru bertanya balik pada sang kasir Alfamart. Apa sumbangan tadi masuk dalam struk belanjaan? Pertanyaan yang dijawab Tidak oleh sang kasir itu lantas membikin Mustolih enggan untuk menyumbangkan kembaliannya.

Advertisement

Terkait kembalian yang diminta untuk didonasikan tersebut, sampai bikin Mustolih mengirim surat pada direktur Alfamart yang kemudian dibalas oleh badan publiknya Alfamart. Sayangnya, jawaban tersebut nggak menuntaskan kepenasaranan Mustolih. Hingga membikin pria asal Tangerang Selatan tersebut melaporkan pihak Alfamart kepada Komisi Informasi Pusat (KIP) pada 19 Desember lalu. Wah, jadi serius gini yah masalahnya.

2. Apa yang dialami Mustolih bikin kita akhirnya sadar akan satu pertanyaan penting: ke mana sih berlabuhnya uang kembalian yang didonasikan ke mereka?

Kemana ya berlabuhnya uang donasi dari para konsumen? via blog.alfamartku.com

Pernah penasaran nggak sih siapa dan yayasan mana yang menerima donasi dari kembalian kita? Atau pernah nggak kamu berani menolak untuk nggak nyumbang? Setidaknya Mustolih membikin kita sadar bahwa sudah menjadi hak sebagai konsumen untuk mempertanyakan kemana berlabuhnya uang yang didonasikan. Supaya jelas dan nggak berburuk sangka pada pihak yang mini market yang bersangkutan. Biar kita bisa beramal dengan lega juga. Setuju nggak nih?

3. Akan menjadi melegakan bagi kita sebagai konsumen, manakala yayasan yang bakal menerima donasi juga turut disebutkan. Biar nggak menimbulkan prasangka buruk

Alfamart mengadakan ini pada tahun 2015 via ekonomi.metrotvnews.com

Diharapkan setelah munculnya kasus ini ke permukaan publik, pihak dari mini market yang bersangkutan bisa lebih mempertimbangkan untuk menyebutkan nama yayasan atau pribadi yang menerima donasi. Mungkin bisa meniru beberapa supermarket ternama tanah air yang menyebutkan nama yayasan yang bersangkutan, menyumbang untuk PMI (Palang Merah Indonesia) misalnya. Atau jika tidak keberatan, uang kembalian konsumen yang didonasikan dilaporkan jumlahnya sudah mencapai berapa tiap bulannya. Bisa dilaporkan jumlahnya melalui website resmi mini market yang bersangkutan. Agak sedikit ribet sih, tapi ini atas nama transparansi.

4. Meski demikian, nggak sedikit juga konsumen yang ngerasa santai aja mendonasikan kembalian mereka. Yah, untung-untung beramal katanya

Selama kamu ikhlas-ikhlas aja ya nggak apa-apa juga via makassar.tribunnews.com

Mungkin kamu adalah salah satunya. Yup, menyumbang tanpa perlu berpikir pusing. Yang penting niatnya beramal. Mungkin karena kamu ngerasa nggak keberatan menyumbang Rp 100 500 setiap kali belanja di mini market seperti Alfamart atau Indomaret. Bagimu, selama niatmu baik untuk beramal, nggak ada yang perlu dimasalahkan. Kamu enggan direpotkan untuk memikirkan benar atau tidaknya sistem donasi ini. Yah, yang penting gue beramal. Entah benar didonasikan atau nggak, itu udah bukan urusan gue lagi.

5. Tapi, kembali lagi pada sebuah pertanyaan sederhana. Bukankah CSR itu diambil dari keuntungan perusahaan ya? #bukannya pelit

Aneh juga meminta kembali pada pelanggan via VIVA.co.id

Tahukah kamu, kalau CSR atau Corporate Social Responsibility biasanya adalah dana yang diambil dari keuntungan perusahaan. Adapun CSR yang diberlakukan oleh minimarket Alfamart dan Indomaret sengaja melibatkan para konsumennya. Kali ini kita coba untuk berpikir positif aja ya guys. Mungkin Alfamart dan Indomaret, berusaha menerapkan sifat gemar memberi pada para konsumennya. Sekali lagi ini masih kemungkinan.

Semua kembali lagi pada diri masing-masing dari kamu. Yang masih merasa punya hak untuk tahu kemana uang kembalian yang kamu donasikan berlabuh, monggo menelisik sistem donasi ini sampai tuntas dengan melibatkan bantuan dari YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Sementara buat kamu yang nggak keberatan mengikhlaskan Rp 100 500 uang kembalianmu, ya berharap saja uang tersebut digunakan untuk kebaikan. Setuju nggak nih?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya