Berita yang membuat hati adem ini muncul dari India. Tak seperti jutawan lainnya yang tak puas bila tidak membuat pesta yang menghebohkan netizen, seorang jutawan India bernama Ajay Munot merayakan pernikahan anaknya dengan mendonasikan 90 rumah untuk tunawisma. Perayaan pernikahan yang tak biasa ini menghabiskan biaya sekitar 80 Lakh Rupee, atau kurang lebih 1,5 Milyar.

“Kita punya tanggung jawab terhadap masyarakat dan kami mencoba memenuhinya dengan ini.” kata Munot, seperti yang dilansir dari Indiatimes.

Sang anak pun mengaku senang dengan keputusan Ayahnya untuk mendonasikan uang alih-alih merancang pesta megah. Dia bahkan mempertimbangkan hal itu sebagai hadiah pernikahan. Orang tua bahagia, pengantin senang, dan tunawisma pun turut merasakan kebahagiaan mereka. Pernikahan identik dengan pesta besar yang menghabiskan banyak biaya. Semuanya demi membuat sebuah foto pernikahan besar di dinding dan album yang bisa ditunjukkan ke anak cucu kelak. Namun langkah Ajay Munot untuk merekam momen bahagia ini layaklah ditiru. Sebab berbagai kebahagiaan tak melulu harus dengan menggelar pesta besar.

1. Sementara di Indonesia, pesta pernikahan mulai bergeser pada nilai gengsi. Semuanya ingin serba mahal dan sempurna demi terjaganya nama baik

Yang bikin mahal itu pritilan gengsi via www.pinterest.com

Bila dipikir-pikir, pernikahan yang hanya bertujuan untuk mendapatkan kata ‘sah’ itu tidak mahal kok. Bahkan bila dilakukan di KUA di jam kerja biayanya nol rupiah. Yang mahal adalah pritilan-pritilan pesta. Mulai dari sewa gedung, katering, suvenir, undangan, hingga baju nikah, semua berubah jadi kewajiban pernikahan. Biaya yang tadinya nol rupiah bisa membengkak menjadi puluhan juta.

Advertisement

Semuanya harus sempurna dan tidak boleh kalah dengan yang lainnya. Kultur masyarakat kita pun terbiasa memandang sebuah pesta pernikahan sebagai status sosial. Katering yang kurang pas bisa jadi perbincangan selama berbulan-bulan. Pernikahan jadi mahal, karena tak lagi bertujuan untuk mendapatkan predikat halal, tapi untuk mengejar status sosial.

2. Pernikahan yang diharap jadi sekali seumur hidup memang harus diabadikan. Tapi tak harus dengan glamornya pakaian dan musik ingar bingar

Abadikan momen bahagia bisa dengan sederhana dan lebih berfaedah via www.mykoreanhusband.com

Tapi pernikahan itu ‘kan sekali seumur hidup? Emangnya kamu nggak mau jadi ratu sehari?

Merayakan pernikahan yang diharapkan sebagai yang pertama dan terakhir itu wajib hukumnya. Harus diabadikan karena barangkali kelak butuh kenangan yang indah-indah untuk diingat saat perjalanan rumah tangga terasa berat. Namun merayakannya bisa dengan berbagai cara. Tak harus menggelar pesta dengan hidangan ini itu dan musik yang menggema sehari semalam. Tak harus menghabiskan puluhan juta untuk merekam momen bahagia.

3. Menggalang doa bisa dengan berbagai cara. Berbagi dengan mereka yang membutuhkan, doa untuk kebahagiaanmu akan datang berlipat-lipat ganda

Deretan rumah sumbangan Munot via democratsnewz.com

“Bukannya semakin banyak orang yang datang, semakin banyak doa yang kita terima?”

Berbagi kebahagiaan adalah makna dari sebuah pesta pernikahan. Sementara orang-orang berdatangan untuk mengucapkan selamat dan mendoakan untuk langgeng sampai tua. Semakin banyak undangan yang datang, semakin banyak yang mendoakan. Itulah konsep awalnya. Padahal banyak juga yang datang karena merasa tak enak bila tak memasukkan amplop sumbangan. Cara yang ditempuh oleh Ajay Munot mungkin lebih efektif untuk menggalang doa. Sebab para tunawisma yang merasa diuntungkan, tentu tak segan mendoakan sebuah kebahagiaan yang tulus dan benar-benar dari dalam hati datangnya.

4. Pada akhirnya, semeriah apapun pestanya tidak menentukan apakah pernikahan akan selamanya atau hanya sementara

Yang penting sah! via vanya2v.com

Meski momen pernikahan pantas dirayakan, namun kemeriahan pesta tidak menentukan apakah biduk rumah tangga bisa berjalan sampai salah satu tutup usia. Setelah pesta pernikahan itu usai, sebuah hidup baru sudah menunggu. Terkadang tak sesuai ekspektasi, terkadang membawa luka hati. Bukan di gedung apa resepsi digelar atau kemewahan konsep acara, tapi komitmen atas apa yang sudah diikrarkan bersama adalah penentu selama apa pernikahan itu akan bertahan.

Menggelar resepsi yang mewah hanya akan membuat undangan berdecak wah. Padahal dana yang dialokasikan untuk pesta itu bisa digunakan untuk berbagai hal yang lebih berfaedah. Bisa untuk membantu orang yang membutuhkan seperti Ajay Munot, atau bisa juga ditabung saja demi keperluan lainnya yang lebih esensial. Mau mewah atau sederhana, yang lebih penting adalah kata ‘sah’nya bukan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya