Baru-baru ini beredarnya foto ajudan Presiden Amerika Serikat yang diebut sebagai ‘nuclear football guy’ di media sosial, menjadi perhatian dunia. Sebuah akun Facebook atas nama Richard DeAgazio mengunggah foto selfie bersama ajudan tersebut ketika Presiden Donald Trump menjamu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di properti pribadinya Mar-a-Lago. Club house yang Trump juluki sebagai ‘winter White House’ itu memang punya sistem membership eksklusif dimana anggotanya seperti DeAgazio harus membayar $200 ribu per tahun.

Lalu mengapa foto selfie ini menjadi pergunjingan pengamat keamanan internasional? Disamping permasalahan yang jelas akan muncul ketika Trump mulai mencampur kehidupan bisnisnya dengan kepentingan nasional, seperti rapat darurat top secret Korea Utara di tengah kerumunan tamu di Mar-a-Lago, ajudan yang terekspos adalah orang penting yang membawa tas nuklir. Koper hitam yang dalam sejarah dikenal sebagai ‘nuclear football‘ ini punya reputasi legendaris. Meski Perang Dingin telah berakhir pada tahun 1989, negara-negara pemilik senjata nuklir seperti Amerika Serikat dan Rusia ternyata tetap waspada. Kemana pun Presiden AS atau Rusia pergi, koper yang berisi kendali senjata nuklir paling berbahaya di dunia ini selalu menyertai.

Kemana pun Presiden AS atau Rusia pergi, koper yang berisi kendali senjata nuklir paling berbahaya di dunia ini selalu menyertai

ini bukan tas berisi dokumen biasa, ada bom di dalamnya

Bukan tas berisi dokumen biasa, ada pengendali nuklir di dalamnya via keepo.me

Bukanlah hal yang di luar kewajaran jika seorang presiden berpergian dengan sejumlah ajudan dan personil keamanan. Justru itu adalah protokol yang wajib dilakukan setiap mereka berpergian. Tapi pembawa ‘nuclear football‘ bukanlah petugas biasa. Dia bertanggungjawab membawa dan mengamankan koper yang bisa memulai Perang Dunia III dan memusnahkan sejumlah besar populasi dunia dengan sekali pencet. Kode nuklir memang hanya dimiliki presiden tapi jika koper ini hilang atau diambil alih pihak asing, jelas itu adalah pelanggaran berat terhadap keamanan dunia.

Nuclear Football atau Atom Football merupakan tas kulit berwarna hitam berisi barang-barang rahasia yang memungkinkan Presiden AS untuk mengatur serangan nuklir saat jauh dari pusat komando tetap seperti Situation Room di Gedung Putih. Walau lebih sering disebut football, namun nama resmi dari benda ini ialah ‘presidents emergency satchel’. Sebuah portabel canggih yang bisa diotorisasi oleh salah satu dari lima pembantu militer dan harus selalu dalam jangkauan panglima tertinggi, yakni presiden. Sejak zaman Presiden Kennedy, semua Presiden AS memiliki tas ini.

Tak main-main, total berat tas kulit hitam ini sekitar 18 kg. Membawanya merupakan sebuah tanggungjawab yang luar biasa besar

tasnya berat, tanggungjawabnya juga berat

Tasnya berat, tanggungjawabnya juga berat via smithsonianmag.com

Portabel ini terbuat dari logam ‘zero halliburton’ dengan berat sekitar 18 kg. Ada sebuah antena kecil menonjol dari kantong dekat pegangannya. Di dalamnya ada 75 halaman dokumen pertahanan, rencana perang, lokasi persembunyian presiden di sebuah buku hitam, 10 halaman instruksi siaran nasional mendadak, serta kode aktivitas senjata nuklir yang bisa digunakan sewaktu-waktu saat AS mengalami situasi darurat. Kode itu akan dikirim ke markas komando militer yang kemudia akan meluncurkan roket balistik lintas benua.

Dikutip dari liputan6.com, menurut salah seorang pembawa nuclear football yang bernama Pete Metzger membawa tas ini merupakan tanggungjawab superbesar. Dia harus siap sedia setiap saat, karena waktu antara waspada dan eksekusi akan begitu pendek. Dengan adanya benda ini, Amerika punya potensi besar dalam memicu perang nuklir yang bisa juga disebut Perang Dunia III atau bahkan kiamat.

The Football baru akan ‘berbicara’ ketika presiden yang memerintahkan. Amerika sendiri memiliki 900 hulu ledak nuklir yang bisa digunakan kapan saja. Apa nggak ngeri?

sebelum memutuskan untuk menggunakan isi tas ini, presiden harus berpikir berulang kali

Sebelum memutuskan untuk menggunakan isi tas ini, presiden harus berpikir berulang kali via www.jejaktapak.com

Tak bisa dipungkiri, Amerika Serikat merupakan negara dengan senjata berhulu ledak nuklir paling banyak di dunia. Total ada 900 hulu ledak nuklir yang 10 hingga 20 kali lebih kuat dibanding yang pernah menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima. Mengerikannya lagi, ke-900 hulu ledak nuklir itu bisa digunakan kapan saja. Dengan adanya fakta ini, seseorang pasti dapat membayangkan kalaupun perang dunia ketiga terjadi, pasti akan lebih hebat dibanding sebelum-sebelumnya.

Wewenang penggunaan senjata pemusnah massal ini berada di tangan presiden. Kalau presiden sudah memutuskan untuk menggunakan isi tas ini, berarti apa yang terjadi sudah tak bisa ditoleransi lagi. Bukankah begitu logikanya? Kalau presiden sedang berlibur atau sedang tidak bekerja, tas ini akan disimpan di brankas rahasia Gedung Putih. Julukan Football sendiri diberikan selama era Perang Dingin sebagai sandi rahasia terkait program nuklir berkode ‘dropkick’ ini. Artinya, jika ‘dropkick’ hendak diluncurkan, maka football harus lebih dulu diaktivasi.

Sekarang kendali ‘tombol’ nuklir ini ada di tangan Donald Trump. Semoga saja dia tidak memakainya dengan sembarangan

semoga Trump tak macam-macam

Terkenal temperamental, semoga Trump tidak terprovokasi menekan tombol ini via bbc.co.uk

Dalam masa kampanye presiden yang lalu, Hillary Clinton sempat mengatakan bahwa Trump tak layak diberi kewenangan untuk meluncurkan senjata nuklir. Meski kebijakan Trump sudah banyak yang kontroversial, namun tetap saja yang paling mengerikan adalah bahwa orang setempramental Trump punya akses utama kepada senjata nuklir paling berbahaya di dunia. Lihat saja kontroversi ‘nuclear football guy‘ ini dimana untuk pertama kalinya wajah dan identitasnya disebar luaskan di media sosial. Dunia patut waspada.

Sejak peristiwa kelam Hiroshima dan Nagasaki, dunia telah mencapai kesapakatan umum bahwa senjata nuklir memang terlalu bahaya dan tidak sepantasnya digunakan menurut aspek kemanusiaan. Meskipun secara normatif sudah tercapai kata sepakat, tidak bisa ditampik perang nuklir masih bisa saja terjadi ketika masih ada lima negara pemilik senjata nuklir dan beberapa negara yang selalu mengembangkankannya diam-diam. Semoga keteledoran macam kejadian kemarin tidak terjadi. Semoga juga Donald Trump tidak terprovokasi atau tergoda menggunakan tombol nuklirnya….