Masih hangat perbincangan mengenai kematian Oka Mahendra Putra, mantan kekasih selebgram kontroversial Karin Novilda atau Awkarin, yang diduga meninggal karena bunuh diri. Kali ini jagat maya kembali dihebohkan dengan kabar kematian vokalis band legendaris Linkin Park, Chester Bennington. Mirisnya dengan dugaan yang sama, bunuh diri. Kabar lebih lanjut menyatakan bahwa alasan keduanya mengakhiri hidup adalah karena depresi akut.

Kasus-kasus bunuh diri yang semakin sering terjadi ini, seharusnya jadi tamparan buat kita semua untuk tidak lagi menghindari atau menyepelakan pembahasan tentang kesehatan mental. Apalagi di Indonesia yang sepertinya masih menganggap isu ini sebagai sesuatu yang tabu dan memalukan. Orang dengan gangguan mental dianggap aneh dan berbahaya. Padahal sebenarnya yang mereka butuhkan adalah perawatan dan dukungan, bukan stigma negatif. Jika cara kita memandang atau menyikapi kesehatan mental tidak segera diubah, nantinya depresi pasti akan jadi lebih mematikan. Yuk simak ulasan Hipwee News & Feature ini!

Stigma negatif lingkungan justru membuat penderitanya merasa kesepian, terisolasi, dan merasa keberadaannya tidak penting lagi. Inilah yang seringkali berujung pada keinginan bunuh diri

Chester Bennington sudah berulang kali menjelaskan betapa menderitanya seseorang yang depresi via www.azquotes.com

“Ada anak-anak yang merasa depresi di rumah dan bagaimana mereka diperlakukan di sekolah, makanya mereka menyayat diri sendiri. Hal ini terjadi di seluruh dunia- anak-anak ini sebenarnya tidak mau bunuh diri, tapi karena tidak ada yang mengerti betapa menderitanya mereka, akhirnya mereka menyayat kulitnya sendiri dengan pisau cukur.”

Chester Bennington

Miris rasanya ketika keluarga sebagai lingkungan terdekat penderita gangguan mental, justru menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dibasmi dan dijauhkan dari lingkungan sosial. Kondisi ini membuat penderita akan semakin merasa kesepian, terisolasi, dan tidak dibutuhkan. Mereka akan merasa tidak layak hidup dan memilih melukai diri sendiri bahkan sampai bunuh diri.

Advertisement

Padahal seharusnya mereka mendapatkan perhatian dan penanganan yang sesuai, seperti diajak ke tempat layanan kesehatan mental, atau minimal orang-orang terdekatnya bisa menjadi tempat berkeluh kesah. Di tempat di mana pelayanan kesehatan mental sudah maju seperti Amerika Serikat saja, masih banyak penderita depresi yang tidak memiliki ‘jalan keluar’ hingga akhirnya memilih bunuh diri.

Terlebih lagi kondisi di negara-negara seperti Indonesia yang sepertinya tak menganggap gangguan mental sebagai kondisi medis tapi aib. Makanya terus ditutup-tutupi

Indonesia masih darurat pasung. Kondisi ini bisa terlihat jelas dalam foto karya Andrea Reese ini via www.boredpanda.com

Di negara berkembang, termasuk Indonesia, isu kesehatan mental masih menjadi sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan. Terlebih lagi di daerah-daerah pedesaan. Alih-alih berkunjung ke psikiater, psikolog, atau praktisi kesehatan mental lain, orang dengan gangguan mental justru lebih banyak dipasung, atau memilih mendatangi dukun dan melakukan pengobatan tradisional.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia dengan gangguan mental emosional mencapai 14 juta orang, sedangkan gangguan akut sampai angka 400 ribu orang. Dari jumlah tersebut 14,3%-nya pernah atau sedang dipasung, dengan angka pemasungan di pedesaan sebesar 18,2% dan di perkotaan 10,7%. Data tersebut jelas menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mengenai penderita gangguan mental masih sangat rendah. Padahal dengan perawatan dan pengobatan yang tepat, penderita jelas bisa sembuh bukannya jadi ‘aib’ selamanya.

Bahkan menurut WHO, sekarang depresi sudah jauh lebih mematikan dibandingkan korban yang berjatuhan dalam perang maupun kasus pembunuhan

Jadi penyakit yang sangat mematikan via www.medscape.com

Pada 2015, organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) mencatat setiap tahunnya terdapat 800.000 orang meninggal karena bunuh diri. Setiap 40 detik setidaknya ada 1 orang di dunia meninggal bunuh diri dengan rasio 11,4 per 100.000 populasi.

Di Indonesia sendiri berdasarkan laporan kepolisian, terdapat 981 kasus (2012) dan 921 kasus (2013) kematian karena bunuh diri. Dengan angka tersebut, Indonesia termasuk salah satu negara yang turut menyumbang 39% kasus bunuh diri di seluruh dunia. Bahkan kasus bunuh diri dinilai lebih tinggi jika dibandingkan angka korban perang dan pembunuhan.

Padahal kasus penduduk dengan gangguan mental bisa berdampak langsung pada kondisi ekonomi suatu negara lho

Bisa menurunkan produktivitas via www.theemotionmachine.com

Masalah kesehatan mental jika tidak segera diatasi akan menimbulkan kerugian pada negara, pasalnya produktivitas penduduk jadi menurun. WHO dan WEF (World Economic Forum) menyebutkan bahwa gangguan mental menjadi beban ekonomi terbesar di dunia dibanding isu kesehatan lain dengan menghabiskan $2,5 triliun pada tahun 2010 dan diperkirakan menjadi $6 triliun pada tahun 2030.

Kerugian jelas akan lebih terasa di negara berkembang seperti Indonesia. Disaat negara butuh tenaga produktif untuk meningkatkan pendapatan, hal itu jadi sulit dicapai jika banyak penduduknya justru menderita gangguan mental sehingga tidak bisa bekerja.

Pemerintah Indonesia sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk menghapus stigma ini. Yang kurang disini adalah sinergi antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat

Upaya pemerintah melalui kementerian kesehatan via setkab.go.id

Beberapa langkah telah ditempuh pemerintah Indonesia untuk mengatasi problematika ini, di antaranya menerapkan sistem pelayanan kesehatan jiwa yang memadai, menyediakan sarana prasarana dan sumber daya untuk pelayanan, dan menggerakkan masyarakat melalui berbagai upaya preventif. Komitmen tersebut diperkuat dengan dibentuknya UU No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Tentu saja tindakan pemerintah tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat sendiri akan pentingnya penanganan pasien dengan gangguan mental. Angka bunuh diri yang masih terus meningkat, seharusnya bisa menjadi dorongan baik bagi pemerintah maupun masyarakat untuk terus bersinergi sehingga masalah tersebut perlahan dapat terselesaikan.

Nah Guys, buat kamu yang masih memandang sebelah mata orang-orang stres atau depresi, daripada berujung pada bullying, alangkah lebih baik kalau kamu mendukung kesembuhannya. Jika itu terjadi pada orang terdekatmu, minimal jadilah tempat mereka berkeluh kesah tanpa ada stereotip negatif. Jangan sampai generasi kita dibunuh oleh penyakit mental 🙁

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya