Ekspresi pikiran dan perasaan manusia lewat kata-kata. Yup, mungkin itu jawaban paling sederhana ketika kamu ditanya “apa sih puisi itu?”

Di Indonesia, ada deretan nama-nama penyair keren dengan karya-karya mereka yang dijamin cadas, lho! Sayangnya, di sekolah jarang banget disediakan sesi khusus yang cukup untuk mengaji puisi. Kelas Bahasa Indonesia kita didominasi oleh materi tentang S-P-O-K dan “diterangkan-menerangkan” — yang tentu penting juga, tapi tetap bukan alasan untuk mengesampingkan materi-materi bahasa yang nggak kalah penting lainnya.

Nah, melihat kekurangan itu, disini Hipwee mau mengulas 10 puisi Indonesia yang seharusnya udah pernah kamu baca. Mau tahu apa aja puisinya? Yuk, simak!

1. Nyanyian Angsa (W.S. Rendra)

WS Rendra – Nyanyian Angsa via islaminindonesia.com

(Malaekat penjaga firdaus
wajahnya tampan dan dengki
dengan pedang yang menyala
mengusirku pergi.
Dan dengan rasa jijik
ia tusukkan pedangnya perkasa
di antara kelangkangku.
Dengarkan, Yang Mulya.
Maria Zaitun namaku.
Pelacur yang kalah.
Pelacur terhina).

Advertisement

Nyanyian Angsa emang nggak menggunakan banyak diksi puitis. WS Rendra yang punya julukan ‘Si Burung Merak’ sengaja memilih bahasa lugas layaknya dalam sebuah narasi. Cerita tentang pengalaman spiritual seorang pelacur tua bernama Maria Zaitun, yang meregang nyawa karena penyakit kelamin dan jantung.

Puisi ini adalah kritik sosial bagi masyarakat kita yang cenderung menilai segala sesuatu dengan uang. Bahkan, kita terbiasa merendahkan orang lain yang kita anggap hina (misal: pelacur). Tapi, setiap orang nyatanya mengalami perjalanan spiritualnya masing-masing. Ketika gagal hidup di dunia, siapa yang menyangka bahwa Tuhan ternyata mengampuni dan menempatkan Maria Zaitun di surga.

2. Berjalan Ke Barat Di Waktu Pagi Hari (Sapardi Djoko Damono)

sapardi djoko damono – berjalan ke barat di waktu pagi hari via ensiklopediaindonesia.com

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan

Satu kata buat puisi ini, ‘unik’. Singkat dan memilih kata-kata yang sering digunakan sehari-hari, puisi ini justru bisa dimaknai dengan sangat luas. Yup, kisahnya tentang ‘aku’, ‘bayang-bayang’, dan ‘matahari’ yang sedang berjalan ke Barat bersamaan di pagi hari.

Di buat tahun 1971, puisi ini bisa berarti sebuah pesan bagi umat manusia di dunia. Bahwa, waktu dan kehidupan ini terus berjalan. Sementara, manusia pun bertumbuh semakin maju dan modern. Alangkah baiknya jika kita bisa menjaga hubungan yang baik dengan alam semesta. Hidup berdampingan tanpa harus merusak dan merugikan satu sama lain.

Buat kamu yang mungkin pernah membaca dan menyukai puisi-puisi karya T.S. Eliot, pengaruh penyair peraih Nobel Sastra tahun 1948 itu sangat terasa pada puisi Sapardi yang satu ini.

3. Manusia Pertama di Angkasa Luar (Subagio Sastrowardoyo)

Subagio Sastrowardoyo – manusia pertama di luar angkasa via badanbahasa.kemdikbud.go.id

Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin lagi kembali.
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak berpisah malam dengan siang.
Hanya lautan yang hampa di lingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang.

Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri, kepada anak, kepada ibuku di rumah.
Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah.

Berisi monolog seorang astronot yang sukses sampai ke luar angkasa, puisi ini terdengar ironis karena menyiratkan kesedihan dalam sebuah  keberhasilan.

Ya, cerita tentang kesendirian di luar angkasa menciptakan nuansa sunyi dalam puisi ini. Sementara, kemungkinan hidup dan mati adalah sebuah kepasrahan. Puisi Manusia Pertama di Angkasa Luar  dimuat dalam antologi Subagio Sastrowardoyo yang berjudul Dan Kematian Makin Akrab. Sebelumnya, puisi ini juga pernah muncul di buku Daerah Perbatasan di tahun 1970.

Sebagai makhluk sosial kita nggak bisa hidup sendiri. Kesuksesan yang diraih nggak akan ada artinya tanpa keluarga, satu-satunya harta kita yang paling berharga. Cinta dan kasih sayang merekalah yang membuat kita bisa tetap hidup. Hingga ketika kita merasa kesepian tanpa mereka, Tuhanlah satu-satunya tempat kita berserah diri.

4. Surat Dari Oslo (Toeti Heraty)

Toeti Heraty – Surat dari Oslo via www.poetrytranslation.org

Aku sendiri, dahulu sesudahnya merasa sangat kehilangan
Waktu anak gadisku menikah, kemudian diboyong pergi
Di rumah lengang, kamarnya kosong tak tega kujenguk
di meja makan setiap kali, setahun lamanya
piring-gelas tetap tersedia
Lalu apa kerja kita selain tenang menjadi tua
sedangkan tenang itu soal kepuasan, tetapi
merasa waswas dituntut terus, entah oleh siapa –

Puisi yang ditulis oleh penyair wanita kelahiran Bandung di tahun 1933 ini emang menyentuh banget. Mengisahkan seorang ibu yang mulai merasa kesepian ketika anaknya beranjak dewasa, menikah, dan punya keluarga sendiri.

Melalui bahasanya yang lembut, Toeti bercerita tentang kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga. Bagaimana ia melakukan kegiatan yang ‘biasa’ seperti memasak dan melukis. Ditulis di Iowa pada tahun 1985, Toeti juga menuliskan tentang rasa rindu pada tanah kelahirannya.

Well, sukses bicara soal alam dan budaya Indonesia dalam puisinya, pendiri Jurnal Perempuan ini wajib banget dapat predikat luar biasa. Puisi ini mengingatkan kita para cewek buat merenungkan kembali siklus kehidupan. Bahwa suatu hari nanti akan tiba saat dimana kita harus ikhlas melepaskan apa yang jadi ‘kesayangan’ kita.

5. Tuti Artic (Chairil Anwar)

chairil anwar – tuti artic via katakol.com

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.

Yeah…soal cinta-cintaan emang Mas Chairil deh jagonya! Puisi berjudul Tuti Artic ini bercerita tentang sepasang kekasih yang lagi di mabuk cinta. Mereka digambarkan sedang pacaran di sebuah restoran es krim. Hmm…cinta emang bisa membuat seseorang benar-benar bersemangat dan bahagia.

Tapi, Chairil nggak lupa mengingatkan bahwa cinta pada pasangan itu belum tentu abadi. Kebahagian saat ini mungkin nggak akan kita alami di masa yang akan datang. Manusia, kehidupan, bahkan cinta itu bisa sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.

Secara eksplisit Chairil menyebutkan bahwa kekasih perempuan itu dijemput banyak pria. Ya, cewek bisa bosan atau justru memilih yang paling baik diantara yang tersedia. Nikmati saja setiap kesempatan dan kebahagiaan yang datang. Carpe diem! Jangan merasa takut kehilangan, karena toh pasti terjadi.

6. Peringatan (Wiji Thukul)

wiji thukul – peringatan via www.tempo.co

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!.

Penyair kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 ini terkenal dengan karya-karyanya yang kritis memperjuangkan keadilan. Menggunakan kalimat pendek-pendek, puisinya tajam dan sarat makna. Puisi berjudul Peringatan ini bicara tentang kondisi rakyat yang ditindas pemerintah otoriter.

Yup, Thukul adalah penyair sekaligus aktivis yang benar-benar turun ke jalan untuk menuntut keadilan bagi mereka yang tertindas. Itulah alasannya mengapa ia hilang sejak kerusuhan tahun 1998, tepatnya pada tanggal 27 Mei. Meskipun Thukul belum ditemukan hingga hari ini, puisi-puisi karyanya masih mampu menggetarkan ribuan massa.

Dalam puisi ini Thukul ingin menegaskan bahwa rakyat punya hak untuk hidup layak dan bersuara. Rakyat nggak mau ditindas penguasa yang diktator. Semakin rakyat ditekan, maka mereka akan semakin berani melawan. Rakyat akan bergerak ketika mereka nggak diperlakukan dengan adil.

7. Surat Dari Ibu (Asrul Sani)

asrul sani – surat dari ibu via hiburan.plasa.msn.com

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas!
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas!
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.

Sekilas membaca puisi ini tentu sudah bisa menyimpulkan maknanya, ‘kan? Ya, puisi Surat dari Ibu memang terbilang mudah dimengerti. Kalimat-kalimat dalam puisi di atas dengan lugas menjelaskan kerinduan seorang ibu yang ditinggal anaknya merantau.

Meskipun begitu merindukan anaknya, Ibu akan merelakan kita untuk pergi jauh. Alasannya, kita harus berjuang menuntut ilmu demi meraih cita-cita. Selagi masih muda, Ibu juga akan membiarkan kita untuk memilih jalan hidup yang memang diyakini baik. Berusaha kuat dan ikhlas, tentu saja ibu tetap berharap bahwa suatu hari kita akan pulang. Setelah sukses, kita akan kembali pada Ibu di tanah kelahiran kita.

Hmm…yang pada merantau, jadi pada kangen sama Ibu nggak nih? Percaya deh, beliau pasti sedang mendoakan kita kok, guys! Nah, puisi ini juga bisa jadi sumber semangat lho buat kamu. Ketika kamu merasa gagal atau niatmu untuk meraih cita-cita mulai goyah, ingatlah puisi ini dan ingat ibumu.

8. Pada Sebuah Pantai: Interlude (Goenawan Mohamad)

goenawan mohamad – pada sebuah pantai: interlude via forumkeadilan.com

Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal,
mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin

Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk apa.

Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga
pada sesuatu yang sia-sia. Sebab kersik pada karang, lumut
pada lokan, mungkin akan tetap juga di sana – apa pun
maknanya.

Berbeda dengan puisi cinta Chairil yang sederhana tadi, Goenawan Mohamad justru menjadikan cinta layaknya sebuah topik yang berat. Entah sedang mengenang mantan kekasih atau selingkuhan. Setting pantai yang dipilih memang memberikan efek tragis pada kisah cinta dalam puisi ini.

Goenawan Mohamad adalah salah satu penyair Indonesia yang karyanya menantang untuk diinterpretasi. Tapi dengan sedikit meraba-raba, puisi ini bisa dimaknai sebagai kegalauan manusia ketika harus merelakan. Kasarnya sih, puisi ini menceritakan tentang gimana susahnya move-on.

Yup, melepaskan apa yang kita punya emang nggak akan mudah. Tapi, menyadari dan terus berusaha adalah cara yang tepat. Lebih baik daripada harus membohongi diri sendiri dan menganggap semua baik-baik saja.

9. Bengkel Kerja (HB Jassin)

hb jassin – bengkel kerja via www.jakarta.go.id

Lengan-lengan kasar lengan-lengan tak berbelas
O demikian lapar
mengunyah kerja demi kerja
Manusia bukan lagi manusia cuma selembar gelar
perabot tua, wahai pejuang cinta

Puisi karya pria kelahiran Gorontalo, Sulawesi Utara ini cukup lugas mengkritik kondisi sosial. Bahasanya singkat dan sederhana: bicara tentang manusia yang seperti sibuk bekerja, tapi cenderung selalu merasa kekurangan.

Merasa kurang dan selalu ingin yang lebih baik sepertinya emang udah jadi sifat dasar manusia. Kurang bersyukur. Terus-menerus mengejar nilai-nilai materi duniawi dan mengabaikan kebahagian hidup. Padahal, setiap orang punya keluarga yang nilainya jauh lebih berharga daripada lembar-lembar rupiah.

10. Sebuah Jaket Berlumuran Darah (Taufik Ismail)

taufik ismail – sebuah jaket berlumuran darah via kabarkampus.com

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
Lanjutkan Perjuangan.

Pada masanya, Taufik Ismail termasuk mahasiswa yang aktif menyuarakan penggulingan Orde Lama. Puisi ini lahir di tahun 1966 ketika terjadi demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia yang memperjuangkan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura).

Puisi ini menjadi simbol keberanian para aktivis yang melawan pemerintah tirani. Sekaligus sebuah puisi belasungkawa kepada Arif Rachman Hakim, seorang aktivis mahasiswa yang tewas tertembak aparat saat berdemo.

Melalui puisi ini kita bisa belajar tentang sejarah, bahwa ketidakadilan pun bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Lalu, apa yang bisa kita lakukan saat ini?

Sebaiknya jangan jadi generasi apatis. Merasa hidup sudah enak sehingga nggak mau peduli sama politik atau negara sendiri. Perjuangan belum selesai di era para aktivis Soekarno atau Soeharto. Kita masih harus bertanya pada diri sendiri: hal kecil apa yang bisa kita lakukan untuk negara dan sekitar kita?

Masing-masing orang tentu punya cara sendiri untuk memaknai sebuah puisi. Interpretasi puisi itu sifatnya bebas. Ketika kamu punya alasan-alasan yang sifatnya logis untuk mendukung interpretasimu, maka beda pemahaman itu sah-sah aja.

Yang pasti, 10 puisi Indonesia pilihan Hipwee ini punya pesan kebaikan yang ingin disampaikan oleh penyairnya ke semua orang. Semoga ini bisa menginspirasi kita untuk lebih menghargai dan banyak menyelami puisi. Selamat berpuisi!