Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk menjalani hidup. Namun, kita sebagai orang biasa tentu bakal lebih kagum dengan orang-orang yang menjalani hidup dengan cara yang baik dan berguna bagi masyarakat banyak.

Seperti yang dilakukan Ferihana Zaujatu Yoebal. Kisahnya sungguh inspiratif dan bisa menjadi pengingat bagi rekan-rekan sejawat lainnya.

Selasa, tiga hari menjelang peringatan Hari Kartini, Hipwee sengaja sowan ke kediaman Dokter Hana, panggilan akrab Ferihana, untuk mencari tau kisahnya yang menginspirasi.

Di sebuah desa di Ngestiraharjo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, berdiri sebuah klinik kesehatan yang sederhana. Tapi, di balik kesederhanaan klinik tersebut tersimpan nilai-nilai yang bisa membuat kamu tak bisa banyak berkata-kata.

Rumah Sehat memang klinik kesehatan inspiratif. Tak mampu? Gratis!

Masih berlaku sampai sekarang. via www.facebook.com

Advertisement

Siapa yang mengira klinik tersebut memberikan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi siapa saja yang tak mampu. Bahkan bagi orang yang mampu pun, Dokter Hana tak memberlakukan biaya. Hanya sebuah kotak infak berwarna hijau yang ia sediakan di ruang kliniknya.

Rumah Sehat tidak akan memungut biaya bagi yang tidak mampu, adapun bagi yang mampu dan ingin berinfaq, kami persilahkan di kotak infaq yang telah disediakan. Tidak ada perbedaan bagi yang membayar ataupun yang tidak mampu membayar. Obat yang kami sediakan adalah obat yang berkualitas.

Orang sakit nggak harusnya dibebani biaya pengobatan. Pemikiran ini datang dari pengalamannya waktu kuliah

Ruangan pengobatan dilihat dari luar. via Dokumentasi%20Hipwee.

Setiap tindakan pasti ada asal mulanya. Dan ketika ditanya mendapat inspirasi memberlakukan klinik kesehatan gratis, Dokter Hana mengatakan terinspirasi banyak orang yang ada di keluarganya yang memang telah mengajarkannya untuk senantiasa berbuat baik kepada semua orang.

Selain itu, Dokter Hana juga terinspirasi dari kisah dosennya yang juga dokter saat zaman kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Menurutnya, dosen yang juga dokter menggunakan mobil ke kampus adalah hal yang wajar. Mobilnya pun bagus-bagus.

Tapi ada dokter yang ke kampus suka naik motor. Dan sampai sekarang katanya masih suka naik motor. Terus ada teman yang cerita kalau dokter itu gak mau dibayar, ibaratnya infak aja.

Orang sakit kok masih dibebani sama biaya pengobatan . Itu waktu saya semester awal. Dan saat itu pula, saya berharap bisa seperti itu di kemudian hari, ujar Dokter Hana.

Dokter Hana juga punya pengalaman menyedihkan di masa awal kelulusannya. Ia sempat merawat wanita yang sakit kanker stadium akhir. Keadaan wanita itu cukup memprihatinkan. Tak ada keluarga yang mengurus, statusnya janda, dan akhirnya meninggal setelah 2-3 tahun kemudian. Di hari meninggalnya, Dokter Hana menjadi saksi. Sang pasien bahkan meninggalkan cincin buat Dokter Hana.

Walau namanya Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa, siapapun akan dilayani oleh Dokter Hana

Dokter Hana saat diwawancarai. via Dokumentasi%20Hipwee.

Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa adalah nama klinik yang digawangi sendiri oleh Dokter Hana. Mengenai nama klinik tersebut, Hana mengaku kurang suka dengan penggunaan kata rumah sakit , maka dari itu, Hana pake nama rumah sehat.

Belum ditanya soal ketersediaan klinik bagi orang-orang non muslim, Hana dengan tegas mengatakan siapa pun yang ingin berobat bisa datang ke kliniknya. Tanpa pandang bulu. Pernyataan tersebut berhasil membuat awak Hipwee sungguh kagum dengan pribadi Hana.

Bagaimana tidak, ketika kamu menemukan seseorang yang bercadar di depan kamu, pikiran kamu pasti bakal menilai bahwa orang tersebut Islam yang sangat kuat. Namun, pernyataan yang langsung terlontar dari mulut Dokter Hana tersebut berhasil mematahkan pandangan banyak orang.

Saya bukan dokter buat orang muslim doang. Saya ingin semua saling merangkul, kata Hana.

Pernah seorang Nasrani tanya sama saya, Iku ono muslim-muslimne, aku oleh teko orak? Lalu saya jawab, Yo, olehlah , tambah Hana.

Hana juga bercerita tentang beberapa kesempatan kliniknya dikunjungi waria yang ingin berobat. Kebetulan ada beberapa waria yang tinggal di sekitar kliniknya. Beberapa waria malah dikenal dekat oleh Hana. Sering datang ke sini. Biasanya mereka masalahnya ada di psikis. Dan malah ngobrol-ngobrol lama, lanjutnya.

Isi amplop dari pasien yang bermobil, sampai pasien yang pura-pura sakit

Perhatikan kota berwarna hijau, Itulah kotak infaqnya, via Dokumentasi%20Hipwee.

Awalnya, awak Hipwee sempat kebingungan bagaimana cara Dokter Hana dalam membedakan kemampuan pasiennya. Bagaimana juga indikator seseorang disebut mampu atau tidak mampu. Namun ternyata, ia benar-benar menggratiskan kliniknya untuk semua orang. Penilaian mampu atau tidak mampu ternyata ia serahkan kepada para calon pasien itu sendiri.

Bukan saya yang buka kotak infak. Biasanya ibu saya yang melakukannya.

Hana bercerita satu saat waktu kotak infaq kosong, ada orang naik mobil lalu berobat seperti biasa. Pasiennya tersebut lalu memasukan amplop ke kotak infaq dan Hana dikasih tau ibunya kalau isinya Rp 1.000,00.

Sedangkan di hari lain, ada seorang ibu yang sudah tua datang jauh-jauh untuk berobat, ia malah mengisi kotak infaq. Dan cerita yang lain terlontar adalah tentang seorang polisi yang pura-pura sakit dan ingin mengisi kotak infaqnya. Setelah diketahui ibunya, jumlahnya bikin Dokter Hana keget.

Keterbatasan membuatnya menjadi sosok yang lebih tangguh

Dokter Hana ketika menunjukan salah satu ruangan tempat mengajar Bahasa Arab, via Dokentasi%20Hipwee.

Sebelum memutuskan untuk full time mengurus klinik kesehatannya saat ini, Hana pernah bekerja di beberapa kota di Jawa dan Sumatera. Kota-kota seperti Tangerang, Muara Enim, Gresik, dan Sukoharjo pernah ia singgahi untuk bekerja. Wanita kelahiran Bantul tersebut pernah merasakan bekerja di rumah sakit, klinik kesehatan dan klinik perawatan kulit.

Saya sendiri gak punya perawat. Saya gak punya temen dokter yang mau bantu atau mungkin belum.

Kalau di sini yang dicari itu materi, seperti kemapanan, gak akan ada. Pernah dulu sebulan cuma dapet 35 ribu. Saya nangis, saya gak dapet duit. Dulu, kadang betul-betul obat habis karena gak ada uang. Sekarang, alhamdulillah bisa mencukupi, ungkap Hana.

Kini, selain membuka klinik kesehatan gratis dan bayaran seikhlasnya , Hana juga berwirausaha. Ia mempunyai toko obat herbal dan klinik kecantikan muslimah.

Hana pun merasa lebih ringan bebannya ketika Forum Keluarga Aktivis Mesjid mengajaknya bekerjasama untuk memberikan pengecekan dan pengobatan gratis ke pelosok-pelosok. Hingga pada akhirnya, mereka kini mau membantu Hana khusus di hari Jumat dan Sabtu. Mereka membantu dalam masalah obat-obatan.

Siapa bilang mulus? Niat baiknya ternyata banyak tak disukai beberapa rekan seprofesinya

Di dalam ruangan inilah Dokter Hana menjamu pasiennya. via Dokumentasi%20Hipwee.

Pasca melakukan sumpah profesi pada tahun 2009, Hana ternyata sudah mulai memikirkan pengobatan gratis. Namun, Hana mengaku banyak yang memojokan sampai disingkirkan beberapa dokter.

Ada dokter yang gak suka. Ketika orang banyak yang tau (klinik kesehatan gratis), mungkin saya bisa bermanfaat buat banyak orang. Tapi ketika ada teman sejawat yang gak suka, saya merasa jadi tidak enak.

Padahal, menurut Hana, ia punya cita-cita lebih besar. Dia mengaku ingin memiliki rekan yang punya idealisme sama untuk membuat rumah sehat yang lebih besar.

Selain offline, Dokter Hana juga suka menulis berbagi cerita di blognya

Penasaran? Cek aja coba.. via ferihana.com

Hana juga ternyata seorang yang melek dengan kemajuan teknologi. Tak tanggung-tanggung, ditengah kesibukannya yang harus siap sedia 24 jam untuk klinik kesehatan gratisnya, siapa yang kira wanita kelahiran 35 tahun yang lalu tersebut sering menceritakan kisah-kisahnya selama menjadi dokter.

Saya pernah menceritakan kisah saya waktu tinggal di Muara Enim, Sumatera Selatan. Saya sampe diludahin sama masyarakat sana dan mereka gak percaya kalo saya dokter. Ada orang yang iri.

Sekarang, setelah saya di sini, orang-orang sana malah banyak yang minta maaf kepada saya.

Menurutnya, pengalaman hidup itu perlu dibagi. Kalau kita gampang termakan isu, pikiran kita akan sempit. Hana juga menekankan untuk tidak terpacu pada satu komunitas. Perbanyak teman, sahabat, organisasi sehingga pola pikir kita gak sempit.

Kecerdasan itu tidak karena menonjol di komunitas, tapi bagaimana dia bisa wawasannya luas dengan semua komunitas dia bisa.

Jangan sampai kita merasa yang paling benar. Rangkul semua orang dan ajak untuk berpikiran luas dan gak merasa paling benar.

Penting! Pesan kepada calon-calon dokter dan calon-calon anak kedokteran

Dokter Hana di salah satu bagian kliniknya. Ada perpustakaannya. via Dokumentasi%20Hipwee.

Di akhir pertemuan, Hipwee meminta pesan-pesan Dokter Hana untuk para pembaca yang saat ini berstatus calon dokter. Jawaban yang ia berikan pun sungguh luar biasa. Ia mengajak kita untuk tetap membumi.

Kalau mau jadi dokter juga jangan merasa ilmu kedokteran itu yang paling sempurna. Masih ada ilmu farmasi yang yang mendukung. Ada juga ilmu kesehatan lain, ada ilmu herbal juga. Sehingga kita gak merasa yang paling (sempurna).

Luruskan juga niat. Sehingga misal jadi dokter ke depannya, jangan ada yang punya pikiran kalau ada pasien datang pikirannya, oh ini ada duit datang . Profesi dokter itu yang utama adalah menolongnya terlebih dahulu, bukan uangnya dulu. Perhatikan dulu niatnya.

Buat kamu anak-anak SMA yang memimpikan dan menginginkan masuk kedokteran, Dokter Hana juga memberikan pesan untuk selalu menyiapkan segala sesuatu lebih awal, termasuk materi, karena biaya di kedokteran yang mahal. Persiapkan juga hati, jangan pilih jurusan buat cari kedudukan semata.