Sebagai perempuan yang beragama Islam, berjilbab memanglah sebuah keharusan dan sudah ditetapkan dalam kitab suci Al-Qur’an. Tak hanya menutupi kepala dengan selembar kain yang disebut kerudung saja, namun juga bagian tubuh lain kecuali muka dan telapak tangan. Tapi, kita juga harus mengakui bahwa masih banyak dari mereka yang belum berjilbab atau menyakinkan dirinya untuk menutupi aurat karena alasan tertentu. Baik itu karier, pendidikan atau urusan pribadi lainnya.

Tak usah menghujat, urusan surga dan neraka sudah ada yang mengatur, kok.

Kita juga tak dianjurkan untuk serta merta menamakan mereka yang belum berjilbab itu ‘kafir’ atau ‘calon penghuni neraka’, karena Tuhan sendiri sudah lebih jauh mengaturnya. Dari sini, Hipwee akan coba memaparkan, ucapan-ucapan apa yang kurang pantas kamu tujukan kepada mereka yang belum atau sedang dalam tahap awal dalam berjilbab. Take it easy and read this carefully…

“Hey, kamu berjilbab cuma buat pencitraan, ya? Mendingan lepas aja deh jilbabnya!!” Memang kalian tahu darimana kalau dia cuma pencitraan?

siapa yang tahu isi hati orang? via muslimvillage.com

Banyak di antara kita yang tak menyadari, pilihan seseorang untuk berjilbab itu berbeda-beda. Di luar kewajiban yang memang sudah ditetapkan, banyak juga dari mereka yang kurang siap membawa nama baik jilbab itu sendiri. Kita tak pernah tahu isi hati orang lain, menebak-nebak apa yang sedang ia rasakan hanya akan menyiksa batin dan menumbuhkan benih-benih kebencian dalam diri kita.

Advertisement

Coba deh sesekali kamu jangan kepo sama kehidupan orang lain, biarkan dia menjalani kehidupan yang damai dengan proses hijrahnya yang baru.

“Iya sih berjilbab, tapi pacarannya kenceng amat! Putusin atau nikahin aja gih sekalian.” Udah deh, dia kan pacaran sama pacarnya sendiri, bukan pacar kamu. So?

hah putusin? via dawn.com

Kembali lagi pada hakekat kemanusiaan, kamu nggak bisa memaksa seseorang untuk meninggalkan kisah cintanya secara tiba-tiba, meskipun secara agama berpacaran itu diharamkan. Dia yang baru memulai berjilbab juga belum tentu berlebihan dalam berpacaran, kok. Kamu juga berkewajiban membiarkan dia belajar dalam proses berjilbabnya, ya.

Kamu juga harus mengurangi prasangka buruk semacam “dia berjilbab mah ikut-ikutan style aja, abis itu juga pasti copot lagi.”

ikutan style buat berhijrah, gapapa via mirajnews.com

Tak bisa dipungkiri bahwa fenomena jilbab dengan basic style makin marak akhir-akhir ini. Kerudung dengan model beragam serta warna-warnanya yang menarik membuat banyak perempuan mengubah identitasnya sebagai perempuan berjilbab. Meski begini, mereka yang berjilbab dengan dorongan style juga tak pantas untuk kamu caci, guys.

Bukankah itu sesuatu yang patut diapresiasi? Bermula dari style, penutup kepala dan akan dilanjutkan pada tahap berjilbab yang sesungguhnya.

Tuhan menciptakan kalian untuk memupuk rasa saling menghargai, bukan untuk berkata “Allah bakal murka tuh, katanya mau berjilbab tapi masih pakai celana jeans sama make up tebel, percuma!”

don’t judge anyone via telegraph.co.uk

Sebagai sesama hamba Tuhan, saling menegur atau menasehati memang diwajibkan demi kebaikan bersama. Kamu yang punya pengetahuan agama lebih sudah seharusnya memanfaatkan ilmumu itu sebagai amalan terbaik menuju surga Tuhan. Tapi, tak ada salahnya jika caramu menasehati juga diimbangi dengan nada yang halus dan tak menyinggung siapapun, ya. Ingat, kamu berhak menasehati, tapi tak berhak menghujat!

“Calon-calon jilboob masa depan tuh! Sok-sok’an pakai jilbab segala.” Hmmm, mending doain yang baik-baik deh, misalnya calon-calon presdien gitu.

jangan dulu berkata yang tidak-tidak via sputniknews.com

Tahukah kalian, fenomena jilboob yang sempat ‘meledak’ beberapa waktu belakangan ini banyak merugikan orang Islam, khususnya kaum perempuan? Ya, fenomena yang sebenarnya bentukan dari beberapa orang tak bertanggung jawab ini dengan cepat merebak dengan mempertotonkan ‘lekukan tubuh’ muslimah dengan jilbab di media sosial. Dan sebagai orang yang beradab, tentunya kita tak boleh ikut larut dengan kejadian yang telah mencoreng nama baik wanita muslimah ini, apalagi sampai menyamakan semua wanita dengan istilah ‘jilboob’ itu sendiri.

“Dia itu berjilbab karena baru masuk sekolah Islam aja, kalau di luar juga dia pakainya mini-mini, kok.” Berhusnudzon saja, semoga lingkungan agama menjadikannya lebih baik lagi.

ia juga berhak menentukan jalan hidupnya via reflectionsoffataalibah.wordpress.com

Melihat teman atau orang lain yang mulai berjilbab seharusnya menjadi hal membahagiakan kita sebagai sesama muslim. Bukan berprasangka buruk dan selalu menimpalinya dengan kalimat-kalimat buruk yang justru akan menggugurkan niatnya untuk berjilbab. Kesadaran kita juga harusnya mulai ditingkatkan di sini, bahwa lingkungan itu sangat berpengaruh terhadap perubahan seseorang, baik perubahan positif atau yang negatif. Jadi berhusnudzon aja, yuk!

Bukan bermaksud menyepelekan jilbab beserta hijrahnya, tulisan ini hanya sedikit memberikan teguran kepada mereka yang dengan atau sengaja menghakimi mereka yang baru memulai babak baru dalam kehidupan, yakni berjilbab. Semoga Allah bersama selalu bersama kita, orang-orang dengan prasangka baik.

Kredit Featured Images by http://forum.kompas.com