Setiap rumah kelas menengah di Indonesia setidaknya punya 1 orang yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Memasak, mencuci, membersihkan griya, bahkan kadang sampai merawat balita dan anak-anak: para pekerja rumah tangga alias PRT adalah “ujung tombak” kita.

Para PRT harus tahu sampai ke detil-detilnya segala hal yang berhubungan tentang pekerjaan dan penataan rumah. Kamu pasti pernah mengutarakan hal-hal semacam ini selama hidupmu:

  • “Mbak, bajuku yang warna hitam kemana? Cariin dong!”
  • “Bik, kenapa masih masak? ‘Kan aku udah bilang nanti aku makan di luar sama temen…”
  • “Mas, Lebaran besok nggak usah pulang ya? Tamu kita banyak.”

Menyadari pentingnya eksistensi mereka dalam hidup kita, pernahkah kamu bertanya apakah kamu sudah memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya?

Di bawah ini, Hipwee akan menyajikan berbagai fakta seputar keberadaan para PRT di Indonesia. Nggak lupa, akan Hipwee sampaikan juga usul-usul sederhana yang kiranya bisa kamu terapkan, dalam kaitannya dengan hubunganmu dan Mbak, Bibi, atau Mas di rumahmu:

1. Meski berada di ranah non-formal, pekerjaan mereka tetap keras dan berat

Advertisement

Pekerjaan mereka berat via www.matichon.co.th

Para PRT sebenarnya adalah pekerja yang tidak kenal waktu. Mereka harus bangun pagi supaya kita berangkat sekolah tepat waktu, rela tidak istirahat siang supaya perut kita kenyang, dan pasang mata setiap waktu supaya rumah kita selalu rapi dan bersih. Mereka adalah pekerja dalam artian sebenar-benarnya.

Menurut Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organisation–ILO), pada tahun 2004 terdapat sekitar 2,6 juta PRT di Indonesia. Diyakini jumlah tersebut terus bertambah setiap tahunnya. Dari jutaan PRT tersebut, tidak semuanya aman dari penyiksaan, pemerkosaan, penyekapan, hingga ancaman tunggakan gaji bulanan.

Sampai saat ini, belum ada hukum positif yang secara spesifik ditujukan untuk mengatur eksistensi pembantu rumah tangga. Padahal jika ada, UU PRT tidak hanya akan menguntungkan pekerja rumah tangga, tapi juga majikan mereka. Dengan UU tersebut, bisa diatur ganjaran apa yang setimpal pada PRT yang berbuat “nakal” atau merugikan majikan.

2. Penggodokan RUU Pekerja Rumah Tangga di DPR Belum Juga Rampung

Suasana Sidang DPR via ahok.org

Pada tanggal 16 Juni 2011, ILO mengeluarkan Konvensi No. 189 mengenai Kerja Layak Pekerja Rumah Tangga (PRT). Sebagaimana namanya, konvensi ini membahas perlindungan PRT dalam lingkup dunia. Dari konvensi ini, mulai disusunlah Rancangan Undang-Undang (RUU) PRT oleh pemerintah Indonesia.

Jika RUU PRT disahkan, maka celah hukum untuk menunggak gaji atau membayar PRT dengan gaji di bawah UMR bisa tertutupi. Akan ada pula peraturan yang jelas tentang batas jam kerja, cuti, dan hari libur. Sayangnya, RUU ini belum selesai juga penggodokannya meskipun sudah memakan waktu hampir empat tahun.

Sementara itu, UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan belum mengatur secara khusus status legal PRT yang bekerja di dalam negeri. Ini walaupun UU tersebut telah mengakui buruh migran atau TKW sebagai salah satu komponen yang dilindungi negara.

Dari sudut pandang sosiologis pun, banyak PRT di Indonesia yang sebenarnya tidak bebas. Mereka harus bekerja berdasarkan permintaan si majikan dan terkadang harus mengikuti syarat-syarat tertentu yang membuat mereka tertekan secara psikis. Misalnya, banyak PRT yang tidak dibolehkan pergi ke luar rumah. Pergi ke luar dan nongkrong bersama teman-teman dianggap sama dengan melalaikan tugas dan malas-malasan. Padahal, sebagaimana pekerja pada umumnya, mereka juga membutuhkan waktu santai dan bersenang-senang agar bisa tetap produktif.

Jika mereka memperlakukan kita dengan hormat, kita juga harus bisa menghargai jasa mereka. Nggak perlu khawatir jika kamu tidak secara langsung menggaji mereka. Ada hal-hal lain, selain upah, yang bisa kita  lakukan untuk mereka.

Ini hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk menghargai para pekerja rumah tangga:

1. Ajak mereka berkelakar

Ajak mereka bercanda via anaktirex.wordpress.com

Untuk menciptakan lingkungan rumah yang hangat bagimu dan lingkungan kerja yang sehat bagi Bibi, Mbak, atau Mas yang bekerja di rumahmu, jangan segan-segan untuk mengajak mereka berkelakar. Kamu bisa bercanda tentang satpam sebelah yang mereka taksir, cantiknya rambut mereka setelah rapi disisir, atau bahkan kalau mereka lupa membereskan tugas mencuci piring.

Dengan menciptakan hubungan yang cair, kamu bisa mendorong adanya komunikasi yang terbuka antara kamu dan mereka. Komunikasi yang terbuka ini sangat penting untuk mencegah salah paham. Kamu pun tidak akan khawatir kalau si Bibi berghibah tentangmu ke tetanggamu, karena kalau beliau punya unek-unek, beliau akan langsung menyampaikannya padamu.

2. Beri mereka hari libur dan waktu khusus untuk bersenang-senang

Beri mereka waktu untuk diri mereka sendiri, seperti Mas Anca disini via twicsy.com

Ini adalah hal sederhana yang sering dilupakan oleh majikan, terutama dalam kasus live-in maid atau pembantu rumah tangga yang tinggal serumah dengan majikan. Sebagaimana pekerja pada umumnya, bibi di rumah juga manusia yang perlu waktu libur. Berikan dia hak libur paling tidak satu minggu sekali, dan berikan juga dia hak cuti sekitar 12 hari dalam setahun.

Jangan langsung beranggapan bahwa para PRT malas atau nggak betah begitu mengajukan cuti. Tentu ada banyak alasan mengapa mereka butuh rehat dari pekerjaannya. Ingat, pekerjaan yang mereka lakukan itu berat. Mereka juga manusia yang tidak bisa didefinisikan dari pekerjaan mereka saja. Ada hal-hal lain yang menjadi bagian dari diri mereka, seperti keluarga di kampung atau hobi dan kesukaan mereka.

Kalau bibi di rumahmu tidak bekerja secara langsung di bawahmu, kamu bisa mengusulkan hal ini ke orang tuamu atau orang yang secara langsung mengupah dan mempekerjakan beliau.

3. Hargai hasil pekerjaan mereka

Hargai mereka via klikdokter.com

Sebagaimana karyawan yang lain mereka juga pasti senang kalau hasil pekerjaan mereka dihargai. Rasa dihargai ini bisa membuat mereka tambah bersemangat dalam menunaikan pekerjaan mereka.

Kalau si Bibi, Mbak, atau bahkan Mas di rumahmu pandai memasak, jangan segan-segan untuk memuji hasil masakannya. Dengan begini, siapa tahu dia akan menanyakan kesukaan kita dan memasakkannya untuk kita di kesempatan berikutnya.

‘Mbak, sayurnya enak banget. Nggak hambar, nggak asin, rasanya pas!’

‘Hehe…Besok mau dimasakin apa lagi?’

Ah, senangnya!

4. Berikan hadiah-hadiah kecil

Daster: alternatif hadiah via jualdasterkatunmurah.wordpress.com

Kalau kamu berkesempatan pergi ke luar kota atau baru saja membeli sesuatu untuk dirimu sendiri di mall, boleh juga lho sekali-kali membelikan mereka sesuatu untuk mereka juga. Misalnya, baju, sepatu, atau pakaian tidur baru. Kamu juga bisa bertanya pada mereka apa kesukaan mereka. Sesuaikan juga dengan budget yang kamu punya, ya.

5. Ajak mereka bercerita

Ajak mereka bercerita via myteemingpocketofthoughts.wordpress.com

Si Bibi, Mbak, atau Mas di rumahmu pasti punya cerita menarik tentang keluarga atau latar belakang mereka. Dengan mengajak mereka bercerita, kita bisa tahu bagaimana budaya di tempat mereka lahir dan dibesarkan. Siap-siap terkejut dengan cerita atau kebijaksanaan pikiran mereka. Bahkan kalau niat, kita juga bisa belajar bahasa asli mereka, lho.

Mereka juga akan senang ketika kita tertarik dengan latar belakang mereka. Mereka akan merasa dianggap lebih dari orang yang mencuci piringmu dan menyeterika bajumu saja. Semoga dengan ini mereka bisa jadi semakin betah di rumah.

6. Ajak mereka jalan-jalan

Ajak si Bibi jalan-jalan via www.dreamworksstudios.com

Sekali-kali, ajaklah si Mbak atau Bibi untuk pergi bersama keluargamu ke tempat piknik atau tempat umum lainnya untuk menghabiskan waktu. Mereka juga butuh pergi ke luar rumah.

Dengan ini, mereka juga bisa punya kesempatan untuk berbelanja barang-barang kebutuhannya. Kalau mau, kita juga bisa memberikan mereka tips berpenampilan. Iya, dong. Jangan cuma kita yang berpenampilan kece: si Mbak, si Bibi, dan si Mas pun harus kece juga.

7. Bantu sebagian pekerjaan mereka

Mbak, aku bantu jemur ya via cinema.theiapolis.com

Jangan jadi bos yang bisanya cuma nyuruh-nyuruh. Kalau kamu lagi nggak ada kerjaan di rumah, boleh loh bantu si Mbak masak. Dengan ini, kamu bisa belajar bagaimana cara masak yang benar. Kamu juga bisa menyapu dan merapikan kamarmu sendiri. Hitung-hitung latihan untuk mandiri.

Lebih lagi, dengan ini kamu juga bisa merasakan secara langsung beratnya beban kerja mereka. Kamu pun pada akhirnya bisa lebih empatik dan menghargai keberadaan mereka.

Selain itu, memang ada beberapa hal yang mungkin sebaiknya kamu kerjakan sendiri. Misalnya, mencuci dan merawat gaun atau kebayamu yang harganya ratusan ribu. Kalau kamu tidak percaya pada si Bibi untuk menyucikan pakaian itu, lebih baik kamu sendiri yang melakukannya. Lebih gampang dan aman, ‘kan?

8. Bersabarlah

Selalu senyum dan bersabar! via www.xavierpop.com

Anggapan masyarakat tentang pekerja rumah tangga tidak selalu positif. Memang, banyak dari para PRT yang tidak berasal dari daerah urban, dan hanya mengenyam pendidikan yang sekedarnya. Status sosial yang tak mentereng inilah yang membuat para PRT menjadi rentan direndahkan. Ketika kita sedang dongkol-dongkolnya pada mereka, misalnya, mungkin ada dari kita yang pernah kelepasan mengutarakan kata-kata kasar. “Maklum aja lah, mereka ‘kan cuma pembantu!”

Ouch.

Kalau memang si Bibi, Mbak, atau Mas di rumahmu melakukan kesalahan, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah bersabar. Klise kedengarannya, tapi ini adalah hal yang benar. Sebaliknya, menyalahkan mereka karena latar belakang sosial atau pendidikan mereka adalah hal yang salah. Apalagi kalau kita sampai tidak percaya akan kemampuan mereka menjadi lebih baik.

Ketika kita menuntut mereka untuk mengerjakan sesuatunya dengan sempurna, di saat yang sama kita harus bertanya pula pada diri kita: sudahkah kita menjadi “atasan” yang baik?

Bibi, Mbak, Mas, we love you! Terima kasih sudah membantu membuat rumah kami bersih. Terima kasih sudah memasak ikan goreng dan tempe yang lezat. Terima kasih sudah membukakan gerbang saat kami pulang malam. Terima kasih, ya!