mahasiswa duduki rektorat UGM

Ada apa dengan UGM?

Momen Dua Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional menjadi titik peringatan tersendiri bagi masyarakat di negeri ini. Kampus perjuangan Universitas Gadjah Mada (UGM) pun ikut ramai. Ribuan mahasiswa dengan jas almamater terlihat memadati Gedung Balairung UGM sejak Senin pagi. Alih-alih merayakan momen Hari Pendidikan dengan seremoni, sekumpulan mahasiswa dan pegawai UGM memilih menggelar aksi lewat pesta rakyat.

Unjuk rasa ini digawangi oleh gabungan Aliansi Mahasiswa UGM, Tenaga Kependidikan UGM, dan Pedagang Kantin Sosio-Humaniora Bonbin. Tujuan utamanya adalah untuk mendesak adanya dialog dua arah tentang kebijakan rektor yang dinilai bermasalah.

Apa sih sebenarnya yang sedang diminta teman-teman kita di Balairung UGM sana?

Beberapa kronologis isu tuntutan yang diangkat dalam Pesta Rakyat ini yaitu terkait kenaikan dan penerapan Uang Kuliah Tunggal (UKT), relokasi Kantin Sosio-Humaniora alias Bonbin, serta tuntutan Tunjangan Kinerja (Tukin) Tenaga Kependidikan (Tendik) yang belum dibayarkan selama tiga semester. Dalam tuntutannya, para mahasiswa dan pegawai UGM menyatakan bahwa selama ini pihak universitas hanya mengadakan sosialisasi yang sarat dengan tekanan, sehingga belum tercipta satu pun kesepakatan yang melegakan bagi kedua belah pihak.

Advertisement

Uniknya, aksi massal ini merupakan aksi independen yang tidak membawa embel-embel bendera atau organisasi manapun. Berawal dari isu yang digembar-gemborkan di media sosial, lahirlah aksi yang murni berasal dari solidaritas perjuangan rakyat UGM bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional.

Selain itu, teman-teman UGM juga ingin menyampaikan klarifikasi…

Tuntutan-tuntutan yang disampaikan memang sudah berasal dari kronologi isu yang panjang. Dalam momen ini pula, selain menyampaikan tuntutan, mereka juga memrotes pernyataan yang dikeluarkan oleh Rektor UGM, Dwikorita, yang dianggap membohongi publik. Sebelumnya, Bu Rektor Dwikorita memang tampil dalam siaran radio pada 1 Mei 2016, menyatakan bahwa aksi ini adalah simulasi politik praktis demonstrasi untuk mahasiswa yang difasilitasi oleh UGM.

Padahal bukan.

Sementara aksi unjuk rasa dilakukan, proses negosiasi juga sedang dilaksanakan. Para pengunjuk rasa menolak bubar sebelum Rektor UGM hadir langsung menemui mereka.

Mari kita doakan saja teman-teman kita yang di sana agar tetap jaga kesehatan dan ketertiban. Semoga dialog dua arah berhasil dicapai dan memberikan kedua belah pihak manfaat. Tetap semangat!