Satu dari enam orang memiliki akun Facebook, Instagram, atau bentuk media sosial lain. Jika ditaksir dalam bentuk angka, setidaknya 1,6 miliar penduduk bumi punya akun Facebook. Di Indonesia saja tahun ini tercatat 88 juta pengguna aktif setiap bulannya. Jumlah yang ke depannya diperkirakan hanya akan terus bertambah. Update informasi terbaru lewat timeline, chatting dengan teman yang terpisah jarak, sampai jadi media untuk berjualan, medsos seperti Facebook misalnya bisa digunakan oleh kita semua sepuasnya.

Hanya dengan menyambung jaringan internet, dunia bisa saling terhubung dan dapat berinteraksi tanpa pungutan biaya lain. Sampai seringkali kita bertanya, kalau begitu bagaimana sih situs dan aplikasi macam ini membuat uang. Ketika kita semua menggunakannya tanpa membayar, kok ya bisa perusahaan teknologi seperti itu bisa jadi sukses banget. Yang sering tidak disadari, komoditi terbesar dari perusahaan-perusahaan seperti itu adalah data. Lebih tepatnya data tentang kita yang tiap hari log in atau searchingKita semua bukanlah sekadar pengguna, tapi sekaligus produk yang mereka jual.

 

Setidaknya 1,6 miliar orang di bumi punya akun Facebook, belum lagi yang ‘tanya Mbah Google’ tiap harinya. Ketika semua orang terhubung, berjuta-berjuta informasi tersebar secara online

Peta koneksi Facebook dunia. via bbc.co.uk

Satu dari 6 orang di bumi punya akun Facebook. Itu semakin memudahkanmu untuk berteman dengan siapa pun, lintas negara. Bahkan berkat Facebook, menjalin silaturahmi dengan kawan lama, bukanlah hal yang mustahil. Tinggal klik namanya di mesin pencari Facebook dan kamu bisa menemukan teman yang sudah lama putus kontak denganmu. Coba kamu bandingkan sama dulu ketika sosmed ini belum lahir, jangankan nyampah soal asmara atau berbagi foto bareng teman, berkoresponden dengan kawan lama yang udah putus kontak saja, susah banget. Beruntung deh sekarang ada Facebook. Ya, disamping beragam konsekuensi negatifnya.

Advertisement

Pun demikian dengan Google, setidaknya hampir sebagian besar penduduk bumi tak bisa hidup tanpa mesin pencari satu ini. Hal apa pun bisa kamu temukan di Google. Jadi, nggak salah sih kalau ada yang bilang bahwa Google mempermudah hidup kita.

Meski ada disclaimer sebelum sign up atau log in, hati-hati dengan apa yang kamu sebar luaskan di internet. Karena hampir semua itu sebenarnya diperjual belikan

Ruang pribadimu dihargai $12 via theonlinemom.com

Tapi tahukah kamu jika kemudahan yang kamu dapat itu segaris dengan harga yang harus kamu bayar? Bahwa kemudahan dan manfaat yang dari Facebook, Google, atau perusahaan serupa itu tak se’gratis’ kelihatannya. Tanpa disadari, kamu membayar itu semua dengan data personal yang kamu cantumkan di akun maupun history pencarianmu. Data pribadi tentang kita semua itu tak ubahnya sebuah produk. Yup setiap data personal milik seorang pengguna Facebook, dari mulai interest hingga orientasi seksualnya, hanya dihargai $12 atau sekitar Rp 150 ribuan saja. Terbilang murah untuk sesuatu yang bersifat personal bagi kita. Kamu sendiri, rela nggak nih data pribadimu dihargai segitu?

Salah satu sumber pendapatan yang jelas terlihat adalah iklan. Iklan-iklan di Facebook atau media sosial lain jauh lebih efektif daripada di TV, karena sasarannya spesifik dari orang ke orang

Iklan di akunmu biasanya sesuai dengan preferensimu via lifehacker.com

Setiap akun Facebook seseorang, menyimpan data diri orang tersebut. Dari yang bersifat umum, hingga yang personal. Facebook bisa dengan mudah mengetahui apa pekerjaanmu, interest, preferensi, orientasi seksual, jejaring pertemanan, hingga apa yang tengah kamu alami dan rasakan. Bagi kamu atau orang lain, mungkin kalian hanya sekadar bertukar informasi untuk mengobati kangen. Namun bagi Facebook, semua itu merupakan komoditi dan kumpulan data yang sangat penting.

Yup, mereka memperoleh penghasilan dari setiap data penggunanya yang dijual kepada pengiklan. Jadi, sebenarnya Facebook itu nggak gratis lho. Ada ruang pribadi yang harus kamu gadaikan demi menikmati fasilitas di sosial media satu ini.

Lantas, apa manfaatnya data kita bagi para pengiklan? Jelas penting manfaatnya, guys. Melalui data diri para pengguna Facebook misalnya, pengiklan jadi paham selera calon konsumennya. Oh, kalau millennial kelas menengah tuh sukanya ini ya.. seleranya begini ya.. dan sebagainya.

Hobi, ketertarikan, orientasi seksual, hingga satu kata atau kalimat yang diunggah di akun pribadimu, ditelaah secara detail oleh mereka

Menelaah data diri dari log in akun via pcworld.com

Setelah mengetahui data pribadi para penggunanya, perusahaan seperti Facebook atau Google kemudian akan mengelompokkannya. Misalnya, data tentang kelompok millennial kelas menengah, data tentang gaya hidup lajang usia 20-an, hingga preferensi anak muda kekinian. Data ini kemudian yang dijual pada pengiklan. Dengan membeli data pribadi para pengguna, pengiklan jadi paham selera pasar. Jadi jangan kaget ya, saat kamu mencantumkan hobi travelling di about Facebook-mu dan mendapati sering muncul iklan promo penerbangan atau hotel murah ketika membuka akunmu.

Kita memang nggak bisa sepenuhnya terlepas dari Facebook dan Google. Namun, kita punya pilihan untuk lebih bisa berhati-hati ketika posting sesuatu yang bersifat pribadi

Data dan informasi adalah komoditas menguntungkan di zaman ini via feed.merdeka.com

Bagi sebagian orang nyampah di timeline Facebook mungkin menjadi obat pelipur lara tersendiri. Pun  Google tak ubahnya udara bagi sebagian besar penduduk bumi. Agak sulit kalau kita terlalu idealis hingga memutuskan untuk menghapus akun Facebook. Apalagi sampai puasa buka Google. Tenang guys, jangan terlalu parno karena sebenarnya masih ada jalan tengah menyikapi hal ini. Kamu nggak perlu berhenti jadi ‘produk’ mereka, tapi lebih hati-hati saja dan sadar ketika posting beragam hal yang bersifat personal termasuk satu kata atau kalimat statusmu.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya