Kamis (15/12) sekitar pukul 10.00 WIB, terjadi sebuah insiden ‘menyedihkan’ di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Plafon di area kedatangan dekat pintu Kantor Kesehatan Pelabuhan tiba-tiba ambruk. Walau setelahnya petugas segera memperbaiki dan menginvestigasi konsorsium KSO, tetap saja hal ini menimbulkan ketidaknyamanan bagi para pengguna jasa bandara. Insiden yang sama telah terjadi sebelumnya, sebenarnya apa yang salah dari terminal baru ini?

Dilansir dari viva.co.id, area yang terdampak dari jatuhnya plafon ini telah secara cepat dilokalisir. Sisa-sisa reruntuhannya juga telah dibersihkan sejak pukul 10.25 WIB, agar tidak mengganggu pelayanan dan operasional bandara. Sampai saat ini, belum diketahui penyebab ambruknya atap Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta (Soetta) ini. Padahal, baru sebulan lalu atap gedung yang sama diperbaiki.

Katanya bukan karena kesalahan konstruksi tapi hanya kesalahan pekerja ketika sedang maintanance fasilitas lain

Cukup membuat panik penumpang via tirto.id

“Plafon itu roboh, karena ada kesalahan teknis pada pekerja yang sedang melakukan renovasi, bukan karena faktor kesalahan konstruksi,” terang Head of Corporate Secretary and Legal PT Angkasa Pura II, Agus Haryadi, melalui viva.co.id

Dalam hal ini, pihak Angkasa Pura II kukuh berkelit bahwa tukang yang mengerjakan renovasi salah hitung. Perkiraannya tak jitu hingga mengakibatkan plafon miring, lalu turun atau jatuh ke bawah. Project manager Pengembangan Terminal 3, Yulianto juga menyebutkan bahwa jatuhnya plafon dikarenakan beberapa waktu lalu ada pekerjaan pemeliharaan fasilitas pipa ducting.

Advertisement

Pihaknya mengaku akan meningkatkan lagi proses quality control mereka, sehingga kejadian yang sama nantinya tak terulang lagi. Walau tak menelan korban jiwa, peristiwa robohnya plafon ini tetap saja membuat panik para penumpang. Pasca terdengar suara gemuruh cukup kencang sebelum plafon ambruk, seluruh penumpang yang berada di sana berhamburan menyelamatkan diri.

Dibanding kemegahan atau fasilitasnya yang mumpuni, terminal yang baru mulai beroperasi Agustus 2016 ini lebih sering jadi headline karena atap ambruk. Pertama di bulan September, lalu kemarin terjadi lagi

Kejadian September lalu via kapanlagi.com

Sebelumnya yakni pada tanggal 18 September lalu, plafon ruangan OIC (Office In Charge ) Terminal 3 juga roboh. Agus juga mengklaim bahwa tak ada kaitan sama sekali dengan kesalahan konstruksi. Kabarnya, hal itu terjadi karena kesalahan pekerja yang sedang dalam pekerjaan renovasi. Rencananya plafon di ruangan tersebut memang akan diturunkan untuk menggabungkan dua ruangan menjadi satu. Seorang pekerja bangunan yang mengaku sudah memasang penyangga pada plafon yang akan dibongkar, namun karena tidak kuat menahan beban, plafon ruangan itu pun akhirnya roboh.

Bukan cuma plafon yang ambruk, terminal yang baru seumur jagung ini juga sudah kena musibah banjir

Baru enam hari beroperasi sudah kaya gini via instagram.com

Ya, pada 14 Agustus lalu, ada insiden lagi di Terminal 3 yang sempat tergenang banjir akibat hujan deras yang mengguyur di area bandaranya beberapa waktu lalu. Kala itu, saluran yang tersumbat disebut menjadi penyebab air yang tak dapat mengalir dengan lancar. Padahal baru enam hari beroperasi lho, katanya bandara Internasional? Setelah tiga kali terjadi insiden cukup ‘menggemparkan’ di Terminal 3, pihak manajemennya pun meminta maaf dan meminta agar pihak Angkasa Pura II lebih cermat lagi dalam mengawasi para pekerja yang direkrut oleh para kontraktor.

Sistem drainase yang buruk dan dua kali atap runtuh bahkan setelah diperbaiki. Entah apa lagi nanti, semoga permasalahan serupa tak terulang lagi

Sia-sia jika interior kinclong, tapi bangunannya ringkih via liputan6.com

Isu infrastruktur terus menghadang Terminal 3 yang baru dibuka dalam hitungan bulan ini. Manajemen menjanjikan adanya proses quality control yang lebih cermat lagi, sehingga tak ada lagi kejadian berbahaya ini di kemudian hari.

Disebutkan oleh pengamat penerbangan, Alvin Lie bahwa serangkaian insiden ini terjadi karena kurang cermatnya pihak kontraktor dalam mengawasi pekerja mereka. Hal itu bisa terjadi lantaran dikejar tenggat waktu penyelesaian gedung terminal atau ingin mengambil jalan pintas agar cepat rampung. Akibatnya, mereka mengabaikan faktor keselamatan yang menjadi poin penting dalam tiap pembangunan gedung.

Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang mulai beroperasi 9 Agustus 2016, ternyata masih banyak menyimpan masalah. Pembangunan bandara yang menghabiskan biaya senilai Rp 7 triliun ini pun masih terus berjalan hingga sekarang. Mungkin ini juga salah satu penyebab terjadinya gangguan operasional, kenapa sudah dioperasikan padahal masih ada pekerja yang naik turun, lalu lalang, dan mengerjakan pembangunan konstruksi gedung. Kalau memang belum siap, mungkin seharusnya belum pantas dibuka.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya