Aneh tapi nyata. Fenomena tidak biasa terjadi di Surabaya beberapa hari kemarin. Surabaya yang biasanya panas dan bikin gerah, kemarin justru diguyur hujan. Namun yang bikin aneh adalah hujan yang mengguyur Surabaya, Selasa kemarin bukanlah hujan air. Disertai angin kencang, Kota Pahlawan ini diguyur hujan es. Kejadian tidak biasa tersebut, bahkan sampai menimbulkan kerusakan yang lumayan parah. Mobil-mobil dan bangunan mengalami kerusakan hingga pepohonan tumbang karena terjangan badai es diiringi angin kencang.

Kok bisa sih ada hujan es di Surabaya?

Nah buat kamu penasaran dan mungkin nggak percaya kalau di Indonesia bisa kejadian hujan seperti ini, nih Hipwee News & Feature punya penjelasannya…

Penasaran seperti apa siklus yang hujan es? Sebenarnya nggak jauh beda sama siklus hujan biasanya

Siklus hujan atau siklus hidrologi secara umum ya gini via bpkpenaburjakarta.or.id

Kamu pasti dulu pernah belajar Geografi ‘kan? Nah di mata pelajaran tersebut kamu pasti belajar soal siklus hujan. Kalau kamu paham siklus hujan pada umumnya, pasti paham juga soal siklus hujan es. Berawal dari evaporasi atau penguapan air sungai dan laut, uap air tersebut kemudian mengumpul di udara. Pengumpulan uap air ini lah yang disebut kondensasi.

Advertisement

Setelah uap air yang terkumpul cukup banyak hingga awan tak kuat menahan bintik air, terjadilah persipitasi atau gampangannya hujan mulai turun. Air hujan kemudian akan berkumpul di sungai atau laut. Siklus pun berulang. Kalau kamu bertanya siklus hujan es bagaimana, jawabnya sama aja kok dengan siklus hujan pada umumnya.

Nah yang bikin beda cuma suhu dan tekanan udaranya. Hujan es terbentuk kalau awan terletak pada ketinggian 3-5 Km di atas permukaan laut

Makin tinggi awan maka akan semakin dingin suhu pembentukan hujan via www.metoffice.gov.uk

Perbedaan siklus hujan pada umumnya dan hujan es terletak di suhu dan tekanan udaranya. Jika hujan biasa kondensasi terjadi di kisaran ketinggian 1-3 Km di atas permukaan laut, maka proses kondensasi hujan es terjadi di titik yang lebih tinggi dari itu. Biasanya sih di kisaran 3-5 Km di atas permukaan laut. Bahkan ada juga yang lebih tinggi dari itu.

Nah semakin tinggi letak terjadinya kondensasi maka suhu akan semakin menurun serta tekanan udaranya akan semakin kuat. Hal ini mengakibatkan bintik air yang seharusnya jatuh sebagai tetesan air hujan berubah jadi bongkahan es. Meski ada beberapa bongkahan es yang mencair sepanjang perjalanan turun ke bumi, namun banyak juga yang tak sempat mencair dan masih menjadi es sampai menyentuh bumi karena saking besar dan padatnya. Jadilah fenomena hujan es.

Di Indonesia sendiri, fenomena hujan es pernah terjadi sebelumnya. Bandung, Jogja hingga Aceh pernah mengalaminya

Sejati membentuk hujan es di Indonesia yang terkenal daerah tropis nan panas tak bisa semudah itu. Dibutuhkan cakupan luas awan hujan yang benar-benar luas baru bisa terjadi hujan es. Awan Cumolonimbus yang biasa tak akan cukup untuk mempertahankan bentuk bongkahan es hingga turun ke bumi.

Namun, luas awan Cumolonimbus (awan hujan) yang menyebabkan hujan es di Surabaya kemarin ditaksir mencapai 20 Km. Dengan awan yang luas, maka bintik-bintik air yang ditimbun juga banyak. Maka sangat wajar jika hujan yang turun bentuknya tetap jadi bongkahan es dan tak meleleh meski diterpa suhu panas. Nah hal serupa juga pernah terjadi di Bandung pada Maret 2016, di Lhoksumawe, Aceh, pada Mei 2016 hingga Jogja pada Januari 2017 kemarin.

Untuk kasus di Surabaya kemarin, awan Cumolonimbus yang membawa uap air letaknya 4 Km di atas permukaan laut. Pantas saja terjadi hujan es

Sampai-sampai pohon tumbang, mobil rusak dan bangunan roboh via www.jawapos.com

Kamu sudah paham ‘kan bagaimana hujan es terbentuk? Untuk kasus yang berada di Surabaya kemarin pun kejadiannya sama. Dilansir dari Jawapos, kondensasi pada saat hujan es kemarin terletak pada titik sekitar 4 Km di atas permukaan air laut. Dengan titik ketinggian kondensasi seperti itu maka sangat mungkin hujan es terjadi.

Sejatinya selama hujan es yang jatuh tak terlalu besar, tidak akan timbul kerusakan yang sampai signifikan. Masalahnya, kasus di Surabaya kemarin hujan es ditambah dengan angin kencang. Hasilnya, kerusakan yang ditimbulkan bisa dibilang cukup parah.

Potensi hujan es kemungkinan besar akan terjadi lagi, tapi kami tidak dapat memastikan, kata Rendy, Prakirawan BMKG Surabaya – Dikutip dari Tempo.

Nah menurut BMKG, hujan es di Surabaya masih sangat mungkin terjadi. Kalian yang berada di Surabaya mohon hati-hati ya…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya